Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Bukan (Sepenuhnya) Salah Fellaini

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Getty Images/Michael Steele Getty Images/Michael Steele
    Jakarta -

    Marouane Fellaini disoraki oleh pendukung Manchester United ketika dia meninggalkan lapangan pada menit ke-76 tadi malam. Rasa-rasanya, separuh dari sorakan itu layak ditujukan kepada Louis van Gaal.

    Ini mengingatkan kita pada cerita beberapa hari sebelumnya" Malam hampir larut di Anfield ketika Fellaini jadi pesakitan. Van Gaal tiga kali melakukan pergantian pemain, namun Fellaini masih saja berdiri di atas lapangan. Tidak satu pun dari tiga pergantian itu ditujukan untuk pemain asal Belgia itu.

    Hal itu terbilang absurd, mengingat Fellaini tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk United --well, terlepas dari sundulan tak tepat sasarannya di babak kedua usai menerima crossing Bastian Schweinsteiger dan terlepas apa definisi "kontribusi" untuk Van Gaal sendiri. Sebab, Van Gaal sendiri memuji Fellaini sebagai 'salah satu pemain terbaik' pada laga tersebut.

    Jika yang dimaksud Van Gaal sebagai "kontribusi" adalah 1 tekel sukses dari 8 kali usaha tekel, maka Fellaini memang sudah memenuhi kriterianya. Namun, perlu diingat juga bahwa seringkali Van Gaal melihat situasi dengan cara berbeda dari penggemar sepakbola kebanyakan.

    Ketika mereka yang menyaksikan geleng-geleng kepala melihat Fellaini tidak henti-hentinya dilewatinya oleh gelandang-gelandang Liverpool, bisa jadi Van Gaal puas. Bisa jadi pula, memang begitu sistem dan gameplan yang ia terapkan: Biarkan gelandang-gelandangnya dilewati, toh nanti sepakan pemain-pemain Liverpool ditepis David de Gea.

    Kalau memang begitulah rencana Van Gaal sepekan silam, maka ia (dan timnya) sudah mendapatkan ganjarannya.



    Fellaini adalah perwujudan tepat dari permainan United di Anfield. Malam itu, Fellaini (dan United) kacau, asal terjang, seolah-olah bermain tanpa kepala. Tidak ada gelandang bertahan yang lebih buruk daripada Fellaini, yang membiarkan gelandang demi gelandang melewatinya begitu saja. Kalaupun gagal lewat, Fellaini akan berusaha menghentikannya dengan tekel yang tidak kalah buruknya.

    Alhasil, alih-alih berhasil memenangi perebutan bola dengan lawan, Fellaini lebih sering melakukan pelanggaran. Satu kartu kuning diacungkan untuknya. Maka, ketika Van Gaal bersikukuh mempertahankannya sampai jelang babak kedua berakhir, bolehlah kita menyangka ia memang sengaja dikorbankan supaya mendapatkan kartu merah dan tidak main di laga berikutnya. Sayangnya, hal itu tidak jadi kenyataan.

    Tentu, yang perlu dipertanyakan juga adalah mengapa Van Gaal memainkannya sebagai salah satu gelandang bertahan dan ditugasi untuk memenangi perebutan bola. Banyak orang tahu bahwa Fellaini kerap canggung ketika harus berduel dengan lawan. Ia juga tidak punya kecepatan dan kerap lambat menutup ruang. Ini membuatnya amat tidak layak dimainkan sebagai gelandang bertahan dalam formasi 4-2-3-1.

    Semenjak didatangkan oleh David Moyes pada awal musim 2013/2014, posisi Fellaini memang kerap jadi pertanyaan. Dipasang sebagai gelandang bertahan, ia buruk; dipasang sebagai "second striker" pun ia tidak efektif-efektif amat. Dengan tingginya yang mencapai 194 cm, amat mengherankan melihat Fellaini kerap kalah duel ketika akan menyundul bola.

    Singkat kata, Fellaini adalah pemain yang tricky. Cukup sulit untuk menemukan sistem permainan dan role yang tepat agar membuatnya tampil hidup. Di Everton dulu, Moyes kerap memasangnya sebagai "second striker" dan itu cukup efektif. Namun, perlu diingat juga bahwa gaya main Everton di bawah arahan Moyes cukup kombatif dan itu sesuai dengan karakteristik Fellaini.

    Di United, niat untuk menjadikannya pemain yang mampu bertarung memperebutkan bola dan menjadi gelandang bertahan sebagai penyeimbang tidak berjalan dengan baik. Alih-alih jadi penyeimbang, Fellaini yang dimainkan jadi gelandang bertahan malah menjadi lubang. Alhasil, barisan pertahanan United jadi tidak terlindung dengan baik.



    Meski begitu, dalam tiga musim Fellaini di Old Trafford, ada satu musim di mana permainannya amat berguna untuk tim. Fellaini memang pernah disoraki penonton pada laga persahabatan sebelum musim 2014/2015 dimulai, namun di musim yang sama itu ia justru beberapa kali jadi pahlawan 'Setan Merah'.

    Ketika musim 2014/2015 melewati pertengahan, Van Gaal menemukan sebuah formasi yang bisa mengakomodir seluruh pemainnya. Formasi itu adalah 4-3-3 yang lebih mirip dengan 4-1-4-1. Dalam formasi tersebut, Van Gaal memasang Fellaini sebagai gelandang tengah bersama Ander Herrera, tepat di depan gelandang bertahan (pemain "nomor 6"), Michael Carrick.

    Pada formasi tersebut, Fellaini memang masih suka ditugasi untuk merebut bola dari lawan, tapi bukan sebagai pelindung utama barisan pertahanan. Selain itu, posisi tersebut juga memungkinkannya untuk bergerak ke depan dengan lebih leluasa. Enam buah gol pun ia cetak selama 27 kali tampil di Premier League musim itu.

    Kolomnis Guardian, Jonathan Wilson, menyebutnya sebagai "Nomor 10 Non-Ortodoks". Ini dikarenakan posisi Fellaini sebagai gelandang tengah amat rapat ke sisi depan. Namun, ketimbang memintanya menunggu di kotak penalti untuk menyambut umpan silang, Fellaini justru lebih serang berlari atau bergerak masuk dari lini kedua sebelum menyundul bola. Ini, menurut Wilson, memberikannya momentum sebelum menyundul bola. Wilson pun menyebut Fellaini sebagai "deep-lying target man".


    Formasi United di paruh kedua musim 2014/2015

    Apes buat Fellaini, Van Gaal mengubah formasi timnya begitu musim 2015/2016 dimulai. Banyak yang menganggap, formasi 4-3-3 (4-1-4-1) adalah blueprint penting United (dan juga Van Gaal). Satu-satunya kelemahan formasi itu hanyalah ketiadaan pelapis untuk Carrick. Maka, ketika Carrick cedera, formasi itu --dan juga United-- bubar jalan.

    Namun, bukannya sekadar mencari pelapis Carrick, Van Gaal juga mengubah formasi tim menjadi 4-2-3-1. Memasangkan Carrick dengan Bastian Schweinsteiger atau Morgan Schneiderlin sebagai duet gelandang bertahan memang menggoda. Tapi, apa gunanya punya dua gelandang bertahan ketika lini tengah United dengan mudahnya diterobos dan barisan pertahanan langsung berhadapan dengan marabahaya?

    Memasang Fellaini sebagai gelandang bertahan jelas bukan solusi yang pas. Masalah United lebih dari sekadar Fellaini seorang. Masalah United ada pada sistem main yang diterapkan Van Gaal.

    Banyak tim bermain dengan 4-2-3-1 tetapi tetap bisa tampil ofensif dan cukup seimbang dalam bertahan. Ambil contoh Tottenham Hotspur, yang cukup disiplin memberikan pressing kepada lawan. Pelatih Borussia Dortmund, Thomas Tuchel, menyebut Spurs mirip seperti tim Jerman; mereka senang memberikan pressing dan bertahan sebagai sebuah unit.

    United, di sisi lain, kendati pun tampil ofensif, tidak dinamis ketika menyerang dan tidak bertahan sebagai sebuah unit. Dalam atmosfer sebuah sistem yang sedemikian buruknya, amat sulit pemain --Fellaini sekali pun-- untuk bisa hidup di dalamnya.

    Tengok saja lini depan United. Mereka punya pemain-pemain cepat dan lincah semodel Anthony Martial, Memphis Depay, Jesse Lingard, dan Marcus Rashford. Namun, ketika lini depan mereka tidak bermain sedinamis Liverpool-nya Juergen Klopp, patut dipertanyakan seperti apa sistem yang diterapkan Van Gaal dan latihan macam apa yang mereka lakukan tiap hari.

    Minggu (13/4), hari di mana Fellaini bermain selama 76 menit itu, United bermain imbang 1-1 dengan West Ham United. Fellaini memang sudah didorong lebih ke depan sehingga memberikan ilusi bahwa United bermain dengan formasi mereka musim lalu. Hanya saja, lambatnya aliran bola dan monotonnya cara mereka menekan, menunjukkan Van Gaal tidak sepenuhnya bermain dengan sistem yang sama seperti musim lalu.

    Usai pertandingan, kendati pun Fellaini bermain buruk, Van Gaal tetap membelanya. Bersama Van Gaal, yang muncul hanyalah pertanyaan demi pertanyaan, seperti "Mengapa kau tetap membelanya, Louis?" atau "Sebenarnya apa yang kau lakukan, Louis?"

    Sayangnya, berapa banyak pun pertanyaan diajukan, jawabannya tidak akan pernah muncul.

    =====

    *penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.



    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game