Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Malam Romantis di Liverpool

    Rifqi Ardita Widianto - detikSport
    (Clive Mason/Getty Images) (Clive Mason/Getty Images)
    Jakarta - 22 pria, padang rumput, atmosfer yang bergelora, dan sebuah bola. Di sebagian kesempatan sepakbola mengukirkan momen untuk diingat, pada sebagian lainnya ia menghadirkan ingatan.

    Di Anfield, Kamis (13/4) lalu, Liverpool dan Borussia Dortmund saling berhadapan mengejar takdir. Liverpool dalam posisi lebih baik: bermain sebagai tuan rumah dan punya keunggulan gol tandang setelah menahan imbang Dortmund 1-1 di laga pertama.

    Tapi sebagaimana hidup yang tak selalu berjalan semulus yang diinginkan, Liverpool langsung mendapatkan ujian saat baru memulai. Dua kali gawang Simon Mignolet bergetar dikoyak sang lawan, belum 10 menit pertandingan berjalan.

    Liverpool goyah. Dortmund bahkan beberapa kali menunjukkan ancaman lainnya yang berpotensi gol, walaupun pada akhirnya tak ada yang berubah sampai paruh pertama itu usai.

    Di ruang ganti, para pemain Liverpool menunggu-nunggu apa yang akan 'disemprotkan' Juergen Klopp ke muka mereka. Tapi sang manajer melenggang masuk dengan santai, tenang seperti karang.

    "Akan mudah baginya saat itu untuk masuk lalu mengumpat dan membutakan dirinya, tapi dia tidak melakukannya," kata James Milner seperti dilansir Independent.

    "Tenang. Secara mengejutkan dia tenang. Tidak ada kepanikan. Tidak ada ketegangan," sambung Divock Origi.

    ***


    Pada kesempatan lainnya, Liverpool --juga tim-tim lainnya-- barangkali akan melempar handuk dalam situasi itu. Dengan dua gol itu, mereka butuh membalas tiga gol untuk membalikkan situasi. Berat.

    Apalagi lawannya Dortmund, yang Klopp tahu benar kualitasnya mengingat dengan skuat yang sebagian masih bertahan, mampu dibawanya ke final Liga Champions 2012-2013 silam. Dortmund yang beberapa pekan sebelumnya melumat Tottenham Hotspur 5-1. Spurs yang kini duduk di peringkat dua klasemen Premier League dan jadi calon juara.

    Klopp, sekalipun ia berapi-api di tepi lapangan, punya prinsip bahwa terkadang dalam hidup segalanya mengalir sesuai alur yang sudah ada.

    "Jangan selalu terlibat sesuatu terlalu aktif. Terkadang, ketika waktunya tepat, biarkan segalanya mengalir sesuai jalannya," kata Klopp suatu waktu, seperti diungkap jurnalis Jerman, Raphael Honigstein.

    Liverpool punya sebuah kisah heroik di Eropa, ketika mereka menaklukkan AC Milan di final Liga Champions 2004/2005 silam. Tertinggal 0-3 sampai paruh pertama, anak-anak Merseyside membalas tiga gol di babak kedua lantas juara usai memenangi adu penalti.

    Yang Klopp lakukan di ruang ganti kemudian adalah menggali ingatan itu dari setiap pemainnya. Bahwa sekalipun sesuatu tampak sulit terjadi, itu tetap memungkinkan untuk terjadi dan layak dicoba setipis apapun kemungkinannya.

    Origi mencetak gol balasan cepat tiga menit babak kedua berjalan. Tapi tak sampai 10 menit berselang, Dortmund membalas lagi. Satu pukulan lain untuk Liverpool, tapi saat itu Klopp sudah mencium sesuatu yang spesial akan terjadi.

    Para pemain Liverpool tampaknya punya ingatan yang baik akan pendahulunya di Istanbul 2005. Tiga gol lain dicetak di sisa waktu, satu di antaranya di masa injury time. Bergemuruhlah Anfield malam itu.

    ***


    Sepakbola bagaimanapun lekatnya dengan maskulinitas, tak pernah sekadar soal kekuatan fisik semata. Ia juga adalah produk kompleks dari kemampuan mental, gairah, dan keberuntungan.

    Betapa ingatan lebih dari sedekade lalu menggerakkan 11 pemain Liverpool membalikkan ketidakmungkinan, adalah bukti dari itu. Soal keberuntungan, seperti kata orang-orang, adalah milik mereka yang berusaha dan mengejarnya.



    "Itulah momen di sepakbola, dan dalam hidup, ketika Anda harus menunjukkan karakter. Itulah yang anak-anak lakukan dan itu cukup keren untuk disaksikan," kata Klopp usai laga itu.

    "Pada akhirnya, bangkit di sebuah laga seperti ini melawan tim dengan kualitas tertinggi, dan menang, Anda butuh sedikit keberuntungan. Tapi saya rasa semua orang yang ambil bagian di laga ini, yang menyaksikannya, harus mengatakan bahwa ini memang layak."

    Terlepas dari levelnya yang baru laga perempatfinal, laga di Anfield malam itu adalah sebuah pertunjukan indah tentang memori-memori yang tergali, tentang bagaimana masa lalu bisa menggerakkan masa depan, dan tentang ingatan yang membuat pemiliknya yakin. Ia lantas menjadi kenangan lainnya, lalu bergulir tak terhenti seiring waktu berjalan.

    "Dia (Klopp) meminta kami untuk melakukan segalanya demi membuat malam itu spesial. Menjadikannya sesuatu untuk diceritakan kepada anak dan cucu kami," kata Origi.

    Ah, bagaimana bisa kita tak romantis tentang sepakbola.


    ====

    * Penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @EkiArdito.



    (rqi/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game