Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Orang-Orang Tua dan Laut

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Foto: Getty Images Foto: Getty Images
    Jakarta - Saya membayangkan Claudio Ranieri dan Manuel Pellegrini duduk di sebuah gubuk di pinggir laut. Mereka memainkan bidak-bidak catur ketika sore sedang menjemput malam.

    Mereka sudah tidak ingat siapa yang pertama kali mengajak atau menggelar papan catur di meja itu, sebuah meja kayu yang sudah compang-camping. Matahari sudah hampir jatuh, tapi cahayanya masih sempat menerobos kolong-kolong langit untuk menyorot cat dari meja kayu itu yang mulai mengelupas.

    Betapa kurang ajarnya waktu. Mereka biasa berbuat seenaknya tanpa bisa ditawar-tawar. Rasa-rasanya permainan itu baru dimulai sebentar tadi, waktu hawa pantai masih lebih hangat dari sekarang. Ranieri masih ingat betul pria beruban di depannya menenggak bir dari botol berkali-kali. Haus rupanya, dia pikir. Sembari memikirkan langkah berikutnya, Ranieri terkekeh. Ia lalu membetulkan kacamata bergagang tipisnya dan melihat ke arah rambut-rambut putih pria di depannya itu: Mana yang lebih banyak, ubanku atau ubannya, pikirnya.

    Melihat rambut-rambut putih itu, kekeh Ranieri berubah. Tiba-tiba saja ada nada getir terselip. Ia yang tadinya dimaksudkan untuk menertawai betapa banyak uban di kepala rekannya itu, lantas begitu saja berubah menjadi kekeh menertawai diri sendiri. Ranieri memegang kepalanya sendiri; rambutnya putih semua. Waktu memang kurang ajar.

    Tiba-tiba saja Ranieri disesaki melankolia. Rambut putih itu, dan juga tubuh tuanya, adalah bukti utuh bagaimana waktu sudah menghajarnya bertubi-tubi. Ada momen-momen yang lewat sekelebat saja. Sedangkan momen-momen lainnya tinggal selamanya. Ranieri menunggu dengan sabar, entah sejak kapan, sampai akhirnya dia bisa membayar lunas momen-momen itu.

    Ranieri adalah pria tua gagal. Gagal karena ketidakberuntungan. Apes adalah teman dekatnya di laut yang berkecamuk dengan buas. Saat banyak pria-pria tua seperti dirinya sudah mendapatkan tangkapan besar demi tangkapan besar, Ranieri hanya bisa puas dengan segelintir tangkapan yang nyaris tidak ada artinya.

    Satu atau dua kali, Ranieri nyaris mendapatkan tangkapan besar. Tapi, entah datang dari mana, nasib apes selalu datang menyerobot tangkapan besarnya. Kapal bagusnya seringkali pulang dengan banyak bopeng. Sampai akhirnya, tak ada lagi tuan-tuan kapal yang mau meminjamkan kapalnya. Ranieri pun menyingkir dalam kesenyapan.

    Maka, ketika ia memutuskan untuk melaut sekali lagi dengan kapal yang jauh lebih seadanya, ia dianggap gila. Tapi, Ranieri sudah kepalang pasrah. Dapat atau tidak tangkapan besar kali ini, hidupnya adalah di laut yang berkecamuk itu. Seiring makin putihnya rambut, ia sudah tidak banyak berpikir lagi.

    Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berpusing-pusing. Ranieri paham, untuk membayar lunas apes demi apes itu, tidak ada waktunya lagi untuk berkutat memikirkan apa yang perlu dibawa dan dilakukan di laut nanti. Ia hanya harus memastikan saja bahwa harpun-nya masih cukup kuat dan jalanya masih cukup erat, supaya seumpama tangkapan besar itu muncul di depannya lagi, ia tidak membiarkannya lolos lagi.

    Harpun untuk menombak kuat-kuat, jala besar untuk menarik tangkapannya itu nanti ke kapalnya. Ini sudah cukup. Tidak perlu apa-apa lagi, ini atau itu lagi sebagai tambahannya, waktunya cuma tinggal sekarang.

    Laut hari itu sedang aneh. Banyak kapal-kapal besar pulang dengan cepat. Mereka bilang, ada badai di depan sana. Satu atau dua kapal sudah karam. Ini situasi berbahaya. Banyak yang sudah menyerah hari itu.

    Untuk seorang tua yang sudah kepalang dicap gagal, apa lagi yang tersisa? Kalaupun badai juga membuat kapalnya karam, ya, sudahlah. Jika badai sekalian menghabisi hidup apesnya, terjadilah. Kalau tidak... Ia bergantung di tipisnya asa pada harpunnya, semoga saja kapal-kapal itu melewatkan tangkapan besar yang masih berkeliaran di laut sana.

    Entah ketabahan apa yang dimiliki Ranieri, sampai-sampai akhirnya nasib baik justru berpihak kepadanya. Barangkali sekumpulan apes yang menumpuk itu adalah uang muka, serupa koin-koin yang diberikan kepada Charon untuk melintas ke dunia orang mati. Ranieri memang belum mati, tapi ia sudah membayar segala kesengsaraannya di depan. Entah ini benar atau tidak, tapi Ranieri mulai mempercayainya.

    Laut hari itu memang masih berkecamuk dengan buas. Tapi, kapalnya masih kuat untuk menahannya. Bersyukurlah Ranieri, dalam perjalanan panjangnya ke tengah laut, yang sudah menguras habis tenaganya serta menggerus otot-otot tua di lengannya, kapalnya tidak tidak terbalik dihantam badai. Saat sisa-sisa tenaganya hanya tinggal tersisa sedikit, muncullah tangkapan itu di depan mata. Menggeliat dengan liar, melompat keluar-masuk air. Ia merasa bebas hari itu, karena menyangka tidak akan ada kapal besar yang akan datang menangkapnya.

    Dengan sedikit bersusah payah karena kelelahan, Ranieri berdiri. Ia mengambil harpunnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Sedikit lagi, sedikit lagi... Tangkapan besar itu ada di depan matanya, menggeliat dengan bebasnya. Untuk kali ini, untuk berbagai kegagalan yang pernah diterimanya sebelum ini, Ranieri memilih untuk memejamkan matanya.

    ***

    Sore sedang datang menjemput malam. Ranieri masih merasakan letih luar biasa di sekujur tubuhnya. Otot-ototnya kaku bukan main. Sesekali ia berusaha menegakkan tubuhnya sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan kanannya. Tidak pernah ia merasa seletih ini sebelumnya.

    Perjuangannya di laut beberapa hari kemarin betul-betul menguras tenaga dan pikirannya. Tapi, kini ia sudah damai. Ketika suara "krak" keluar atas efek pelurusan punggungnya, yang terasa adalah rasa puas bukan kepalang.

    Dalam beberapa hari terakhir, orang-orang datang untuk melihat tangkapan besarnya; sekitar 5 meter dari ujung hidung sampai ujung ekor. Si pria tua gagal itu sudah berhasil. Ia tidak menjualnya, tapi membagi-bagikan dagingnya kepada siapa pun, entah itu kepada mereka yang pernah meragukannya dulu atau kepada mereka yang tiba-tiba saja jadi mengenalnya.

    Ranieri memilih berada di tempat lain ketika banyak orang mengagumi hasil tangkapannya. Ibunya, yang juga sama tuanya dan jauh lebih ringkih, adalah apa yang ada di benaknya ketika itu. Menghabiskan siang dengan makan sampai kenyang.

    Pellegrini datang ketika tangkapan besarnya sudah habis. Kolega tuanya itu suatu kali pernah menyebut dengan penuh keraguan, Ranieri tidak akan mampu lagi pergi ke laut dan mendapatkan tangkapan yang sama besarnya. Tapi, pedulikah Ranieri? Terkadang cukup satu kali, dan satu kali itu saja ia bisa mendapatkan sebuah tangkapan besar, ia merasa sudah membayar lunas hari-hari penuh kekecewaan itu.

    Ini bukan dongeng, katanya. Ini adalah kenyataan. Dan apa lagi yang lebih memuaskan ketimbang kenyataan --yang senyata-nyatanya-- yang mengalahkan khayalan paling liar sekalipun?

    Maka, pada sore menjelang malam itu, Ranieri dan Pellegrini bertukar kekeh. Nasib sedang menyapa mereka dengan dua rupa yang berbeda. Pellegrini masih tersenyum, meski sedikit getir. Ranieri hanya bisa menduga-duga bahwa kolega berubannya itu sedang menunggu kepergian, kepergian yang sudah pasti tanpa bisa ditunda-tunda.

    Laut hari itu jauh lebih tenang. Ranieri sudah tidak punya nafsu untuk melaut lagi, ia hanya ingin duduk saja, diam sejenak dengan lampu kecil di teras gubuknya, menghadap ke arah ombak yang baru-baru ini ia taklukkan. Mungkin ia akan terus seperti itu sampai pagi menjelang.

    Pellegrini, sementara itu, tidak menyelesaikan langkahnya. Ia sudah keburu malas. Bidak caturnya ditelantarkan begitu saja. Ia menenggak botol birnya sampai habis lalu beranjak. Malam itu, ia berniat untuk melaut malam itu juga. Waktunya sudah tidak banyak.

    "Ini sudah bukan tempatku lagi," kata Pellegrini.

    Ranieri tersenyum. Sebagian senyumnya adalah ucapan semoga beruntung, sebagian adalah sungging dari kepuasannya. Ia tidak menyangka, seberapa pun tidak pedulinya ia awalnya, tangkapan besarnya itu membuatnya melangut sedemikian hebatnya.



    ====

    *Penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.

    *Judul dan tulisan terinspirasi dari The Old Man and The Sea, sebuah novel pendek karangan Ernest Hemingway.

    (roz/cas)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game