Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    MU Kok Begitu?

    Kris Fathoni W - detikSport
    Foto: Laurence Griffiths/Getty Images Foto: Laurence Griffiths/Getty Images
    Jakarta - MU-nya Jose Mourinho masih membuat saya bergumam, "MU kok gitu?". Belum beda dengan David Moyes dan Louis van Gaal -- "sekuel" gagal setelah Sir Alex Ferguson.

    Manchester United mulai bikin saya melirik berkat kharisma Eric Cantona. Aksi-aksi 'Class of '92 lantas membuat saya benar-benar kepincut dan mulailah saya jadi penggemar 'Setan Merah'. Dari mata turun ke hati, demikian ucapan klise di film-film komedi romantis. Di masa-masa itu yang berjaya adalah Serie A Italia. Menyenangkan, karena ketika kami sekelas urunan membeli sebuah majalah mingguan olahraga, poster pin-up berisikan para pemain United pun biasanya langsung sah jadi jatah saya. Semenyenangkan prestasi MU pada masa yang sudah lalu itu.

    Ya, MU di bawah arahan Sir Alex Ferguson secara reguler menjuarai, atau paling tidak jadi pesaing utama, di Premier League. Arsenal jadi rival berat. Lewat sebuah debat "warkop", pernah pula seorang kawan berargumen bahwa The Gunners adalah yang paling atraktif di Inggris dan MU tidak ada apa-apanya. Ia mengibaratkan permainan free flowing Arsenal seperti film-film Jackie Chan -- penuh hiburan, mengundang kekaguman, membuat yang selesai menyaksikan masih terus membicarakan sampai berhari-hari kemudian. Saya tak mau kalah, menyebut The Red Devils layaknya film-film Jet Lee -- menghentak, efektif, tak perlu sampai berbelit-belit untuk bikin lawan kelenger.

    MU Kok Begitu?Jaap Stam dan Denis Bergkamp dalam duel Arsenal dengan MU di tahun 1999 (Foto: Clive Brunskill /Allsport)


    Tapi itu kenangan masa lalu. Masa ketika polesan Fergie sedemikian epiknya sampai bisa tahan lama dan terus-terusan berada di tangga teratas, tak ubahnya trilogi Lord of The Rings yang mampu menjaga ritme dan merajalela di box office. United di era kekinian, selepas era Fergie, malah membuat saya memikirkan sekuel/remake/reboot (apa pun istilahnya) yang masih kerepotan dalam usaha mengulangi sebuah mahakarya.

    David Moyes yang menjadi suksesor Fergie dinilai punya karakteristik serupa dengan pendahulunya. Sama-sama dari Skotlandia, Moyes merupakan putra mahkota yang ditunjuk raja sebelumnya. The Chosen One. Apa lacur, sekuel ini gagal total seperti layaknya Speed 2 (1997) yang minus Keanu Reeves si bintang utama dan daya tarik lakon sebelumnya -- sampai membuatnya jadi kesohor seperti sekarang, atau Dumb and Dumber 2 (2014) si long awaited sequel yang kewalahan memenuhi ekspektasi karena berusaha terlalu keras mengimitasi film originalnya -- bahkan mempertahankan duet Jim Carrey-Jeff Daniels yang sukses besar dua dekade sebelumnya.

    MU Kok Begitu?Spanduk The Chosen One di Old Trafford (Foto: Alex Livesey/Getty Images)


    Moyes yang datang tanpa konsep jelas, selain ingin merintis jalan ke kesuksesan Fergie, bukan cuma membuat saya acapkali menduga salah setel saluran televisi ketika melirik skor. Permainan tak jelas Wayne Rooney cs juga bikin saya sukses bergumam, "MU kok gitu?".

    Louis van Gaal pun demikian. Oke, filosofinya lebih jelas. Nama besarnya pun lebih mampu menarik pemain-pemain. Tapi saya tetap melihatnya sebagai sebuah usaha reboot gagal, sebagaimana Fantastic Four (2015) yang ingin tampil beda dari dua film bertajuk sama sebelumnya, atau Karate Kid (2010) yang saking bedanya justru bikin kita bertanya-tanya apa tidak berada di negara yang keliru karena berlatar di China negeri asal kungfu. Sama bingungnya saya ketika melihat permainan skuat MU-nya Van Gaal -- meneer, gawang lawan masih jauh di depan sana, lho, bukan di samping apalagi di belakang. Itu sih gawang kita!

    MU Kok Begitu?Louis van Gaal (Foto: Laurence Griffiths/Getty Images)


    Dan lagi-lagi saya bergumam, "MU kok gitu?".

    Lantas datanglah Jose Mourinho. The Special One. Si sosok spesial yang sudah punya banyak rekor dari klub-klub sebelumnya.

    Sosok Mourinho adalah fenomena, juga tak biasa. Tindak-tanduknya acapkali mendobrak kelaziman. Ia membuat saya pernah memiripkan dirinya dengan sosok anti-hero Deadpool.

    [Baca Juga: Menanti Sekuel Anti-Hero Jose Mourinho]

    Di MU pun banyak tindakannya yang bikin kening berkernyit, seperti tak segan-segan mengkritik para pemain sendiri. Di sini pula terbilang jarang melihatnya dengan senyuman lebar atau tawa lepas, karena Mourinho lebih sering melipat wajah atau bermuka masam seperti sosok Rangga di Ada Apa dengan Cinta (2002).

    Bagusnya, ia disokong dana luar biasa dan itu salah satunya digunakan untuk "memulangkan" Paul Pogba dengan nilai pemecah rekor transfer dunia. Saya jadi berpikir proses perjalanan MU jadi seperti Hulk-nya Eric Bana (2003), yang lalu bertransformasi jadi Hulk-nya Edward Norton (2008), sampai akhirnya Hulk-nya Mark Ruffalo masuk ke dunia megafranchise 'The Avengers' yang booming dan bergelimang uang (dan menjanjikan banyak penampilan lanjutan).

    Pun demikian, saya belum terpuaskan. Saya masih sulit move on, secara khusus ketika 7 Mei lalu menyimak cara Mourinho menyimpan tenaga pemain ketika lawan Arsenal di liga, seolah-olah tak keberatan kalah demi fokus di ajang lain (Liga Europa). Mungkin itu realistis. Tambah masuk akal mengingat Mourinho dikenal pragmatis. Tapi saya kok tetap saja miris.

    MU Kok Begitu?Laga Arsenal vs MU di awal Mei 2917 lalu (Foto: Richard Heathcote/Getty Images)


    "Ketika Anda berada di sebuah klub seperti Manchester United, Anda memikul harapan untuk terus terlibat sampai akhir musim. Jika tidak, sesuatu jelas keliru. Tahun 1999 di bawah Alex Ferguson, Manchester United meraih treble dengan memainkan tujuh pertandingan pada bulan Mei, termasuk tiga yang terakhir dalam 10 hari. Itu karena Fergie memburu segalanya. Saat itu takkan ada yang berani menyebut-nyebut kelelahan. Dan sudah pasti ia takkan buru-buru mencoret kemungkinan finis empat besar dan bertaruh pada menjuarai Liga Europa untuk sampai ke Liga Champions," tulis Ian Wright, mantan penyerang Arsenal yang pernah sejumlah kali menghadapi MU-nya Fergie, dalam kolomnya di The Sun setelah MU kalah 0-2 dari Arsenal di pertandingan 7 Mei lalu.

    Saya kian tak nyaman setelah melihat MU memastikan tiket final Liga Europa dengan tak meyakinkan, Jumat (12/5) dinihari WIB. Menjamu Celta Vigo di Theatre of Dreams, MU cuma berimbang 1-1. Untung masih ada tabungan kemenangan 1-0 di leg pertama lalu!

    Ditambah lagi kekalahan 1-2 di markas Tottenham Hotspur, Minggu (14/5). Mourinho tampak memang sudah "membuang" laga itu karena fokus ke Liga Europa. "Yang terpenting adalah sekarang kami punya satu laga lebih sedikit untuk dimainkan. Kami tinggal punya satu laga lagi dan itu bukan di Premier League," katanya seperti dilansir BBC.

    Ya, tak terbantahkan bahwa Mourinho setidaknya sudah memperlihatkan gaya permainan lebih jelas daripada Moyes, dan belum genap satu musim telah mengantar MU menjuarai Community Shield dan Piala Liga Inggris -- lebih banyak dari sebiji Piala FA di musim kedua Van Gaal. Tapi masih terselip ketidakpuasan.

    Buat saya, MU yang (dulu) saya tahu adalah tim dengan ambisi mengejar prestasi di semua lini dan tak kenal menyerah memburu kemenangan alih-alih puas dengan hasil seri, atau malah sudah tampak pasrah dengan alasan ini-itu sebelum turun bertanding. Mungkin itu karena saya belum bisa move on dan hidup di masa kekinian. Mungkin pula itu masalah opini yang tergiring akibat masa lalu penuh prestasi. Mungkin juga ini cuma proses awal dari mahakarya dengan genre berbeda.

    Tapi sembari menanti bagaimana akhir kisah Mourinho saat full time-nya di MU nanti, tolong izinkan saya kembali bergumam, "MU kok gitu?".


    =====

    * Penulis adalah redaktur detiksport. Pemilik akun twitter @kris_fw (krs/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game