Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City

    Meylan Fredy Ismawan - detikSport
    Foto: Andhika Akbarayansyah/detikSport Foto: Andhika Akbarayansyah/detikSport
    Jakarta - Semesta mungkin memang tak mendukung Manchester City untuk menjadi juara pada musim ini. Mungkin juga Tuhan tak mengizinkan karena ada orang yang tersakiti oleh City.

    Apakah City layak disebut suram musim ini? Bukannya mereka masih berpeluang besar finis empat besar di Premier League dan lolos ke Liga Champions? Lumayan kan untuk debut Pep Guardiola di Inggris?

    Mempertimbangkan apa yang sudah diinvestasikan oleh Sheikh Mansour sejak 2008 lalu, City tentu pantas disebut suram -- jika tak boleh disebut gagal total. Maaf-maaf saja nih, City sekarang tak seperti satu klub rival yang sudah gembira asalkan bisa mempertahankan tradisi lolos ke Liga Champions tiap musimnya.

    City akan menyudahi musim ini tanpa satu pun trofi di tangan. The Citizens tak mampu mengimbangi Chelsea yang berlari kencang bersama Antonio Conte, tak bisa bicara banyak di Piala Liga Inggris, dihentikan Arsenal di semifinal Piala FA, dan harus mengakui keunggulan AS Monaco di babak 16 besar Liga Champions.

    Padahal, City sudah mempersiapkan diri dengan baik menjelang dimulainya musim ini. Guardiola yang bergelimang trofi di Barcelona dan Bayern Munich diboyong ke Etihad Stadium dan awalnya diharapkan bisa memperlihatkan sihirnya. Pemain-pemain bagus macam John Stones, Ilkay Guendogan, Leroy Sane, Claudio Bravo, Nolito, hingga Gabriel Jesus juga sudah didatangkan demi membentuk skuat yang supertangguh.

    Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City Josep Guardiola menjalani musim yang berat di Manchester City (Foto: Action Images via Reuters / Carl Recine)


    Akan tetapi, City ternyata harus melalui musim yang terjal. City-nya Guardiola belum sekuat yang diharapkan. Alhasil, klub yang bermarkas di Etihad Stadium itu mungkin hanya akan finis di posisi keempat atau paling pol di posisi ketiga klasemen akhir. Nyaris tak ada perbaikan prestasi yang signifikan dibandingkan musim lalu.

    Musim ini bahkan bisa dibilang sebagai sebuah penurunan karena musim lalu City masih sanggup menyabet gelar Piala Liga Inggris bersama Manuel Pellegrini. Ya, Manuel Pellegrini, orang yang sudah tersakiti oleh obsesi City terhadap Guardiola.

    ***

    This Charming Man menjadi julukan yang diberikan oleh suporter City kepada Pellegrini. Pria asal Chile itu memang sukses merebut hati para suporter selama tiga musim bekerja di Etihad. Pembawaannya kalem. Dia tak seperti Roberto Mancini yang meledak-ledak. Dia juga tak suka menyulut kontroversi seperti Jose Mourinho. Tapi, kehebatannya sebagai manajer terbukti lewat hasil di lapangan.

    Pellegrini sejatinya bukanlah pilihan pertama City. Setelah memecat Mancini pada 2013 lalu, City sebenarnya menginginkan Guardiola, yang sudah mereka incar sejak 2012. Akan tetapi, ketika itu Guardiola sudah diikat oleh Bayern Munich. Pellegrini pun dipilih untuk mengisi kursi manajer sembari City menunggu Guardiola puas bertualang di Jerman.

    Sebagai sebuah "rencana B", penunjukan Pellegrini oleh City adalah sebuah langkah jitu. Pellegrini mampu memenuhi janjinya untuk menerapkan sepakbola indah. City pun menjadi salah satu tim dengan permainan paling atraktif di Inggris. Selain atraktif, City-nya Pellegrini juga sangat produktif dan selalu mencetak lebih dari 100 gol tiap musimnya. Bahkan, catatan 156 gol yang dibuat City pada musim pertama Pellegrini masih menjadi rekor klub hingga sekarang.

    Tak banyak manajer asing yang langsung meraih gelar ganda pada musim pertamanya di Inggris. Tapi, Pellegrini mampu melakukannya dengan mempersembahkan trofi Premier League dan Piala Liga Inggris pada musim 2013/2014. Padahal, saat itu skuat City tak semewah yang dimiliki Guardiola sekarang.

    Musim kedua memang sebuah penurunan. Penurunan yang ditandai merosotnya performa hampir semua pemain pilar, kecuali Sergio Aguero yang jadi top skorer. City melalui satu musim penuh tanpa satu pun gelar di tangan. Akan tetapi, finis kedua di Premier League tidak terlalu buruk, bukan? Paling tidak, City masih finis di atas tim tetangga.

    Pellegrini juga menjadi orang yang meloloskan City dari fase grup Liga Champions untuk pertama kalinya. Namun, City bernasib sial karena dipertemukan dengan Barcelona di babak 16 besar dalam dua musim secara beruntun dan akhirnya tersisih.

    Akan tetapi, Pellegrini juga mengukir sejarah dengan mengantarkan City menembus semifinal Liga Champions pada musim lalu. Itu adalah pencapaian tertinggi City di Liga Champions. Bandingkan dengan prestasi City di Liga Champions musim ini, di mana Guardiola hanya mampu membawa timnya hingga babak 16 besar.

    Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City Man City disingkirkan AS Monaco dari Liga Champions musim ini (Foto: Getty Images Sport/Michael Steele)


    Selain itu, Pellegrini patut diapresiasi karena beberapa rekrutannya menjadi pemain pilar City dan terus terpakai hingga era Guardiola. Dialah yang mendatangkan Fernandinho, Kevin De Bruyne, Nicolas Otamendi, dan Raheem Sterling. Bahkan, Willy Caballero yang sempat jadi kiper andalan Guardiola saat Bravo angin-anginan juga merupakan pemain rekrutan Pellegrini.

    ***

    Mungkin benar yang dikatakan Agnes Monica dalam lagu 'Tak Ada Logika'. Cinta itu memang buta.

    City tahu Guardiola bukanlah tipikal pelatih yang betah bertahan di satu klub selama puluhan musim dan selalu ingin mencari tantangan baru. Akan tetapi, karena sudah terlanjur jatuh cinta kepada Guardiola, mereka pun terus berusaha mendapatkannya. Meski sudah punya Pellegrini yang terbukti mendatangkan trofi, mereka tak lantas melupakan perburuannya terhadap Guardiola.

    Ketika Guardiola memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya dengan Bayern, City langsung bergerak cepat. Singkat kata, City berhasil meyakinkan Guardiola untuk bergabung dengan mereka mulai musim ini. City pun kemudian mengumumkan rencana kedatangan Guardiola pada awal tahun lalu. Padahal, ketika itu City masih berpeluang meraih quadruple.

    Pellegrini sejak awal tahu hati City untuk Guardiola. Dia pun sudah diberi tahu untuk siap-siap angkat kaki jika Guardiola bersedia melatih City. Akan tetapi, pengumuman kedatangan Guardiola ternyata mengganggu fokus City pada musim lalu. Terbukti, dari empat gelar yang bisa diraih City ketika berita itu muncul, cuma satu yang benar-benar jadi milik City.

    Mungkin Ada Mantan yang Tersakiti di Balik Suramnya Manchester City Foto: Reuters / Jason Cairnduff


    Pellegrini pun akhirnya harus meninggalkan City pada akhir musim lalu. Dia memberi kado manis berupa tiket Liga Champions setelah City memenangi persaingan dengan tim tetangga. Dia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan manis di hati para suporter.

    Kemudian datanglah Guardiola. Dengan reputasinya yang sangat mentereng, pemilik klub tak hanya menginginkan kesuksesan di level domestik. City diharapkan bisa menguasai Eropa, bukan cuma Premier League.

    Namun, seperti yang sudah ditulis di atas, Guardiola belum bisa memenuhi ekspektasi tersebut meski sempat menjanjikan pada pekan-pekan awal. Dia sendiri mengakui belum bisa membahagiakan bos-bos City.

    Jika ingin mencari, akan ada banyak alasan di balik suramnya City musim ini. Mulai dari cederanya Guendogan, Kompany, dan Gabriel Jesus, belum mulusnya adaptasi Guardiola dengan sepakbola Inggris, para penyerang yang terlalu hobi buang-buang peluang, bek-bek tengah yang rapuh, bek-bek sayap yang menua, keputusan wasit yang seringkali ngawur dan merugikan tim, hingga permainan ultradefensif yang menyebalkan yang diperagakan oleh nyaris semua tim lawan termasuk pada laga derby kemarin.

    Akan tetapi, Guardiola tak punya ruang untuk mencari-cari alasan di balik nihilnya gelar City musim ini. Yang harus segera dia lakukan adalah membenahi tim agar tak gagal lagi pada musim depan.

    ***

    Apa kabar Pellegrini sekarang? Setelah meninggalkan City, pria yang juga pernah melatih Real Madrid itu bertualang ke China. Dia menerima tawaran untuk menangani Hebei China Fortune. Di Negeri Tirai Bambu, Pellegrini mungkin bisa menjalani hidupnya dengan lebih tenang. Tekanan dan sorotan yang dia dapatkan tak akan sebesar di Premier League.

    Pellegrini tak terlalu terkejut ketika City memaksanya untuk minggir demi memberi tempat kepada Guardiola. Dia sejak awal sudah tahu kalau City memang mengincar Guardiola. Pellegrini juga tak merasa dikhianati oleh City dan Guardiola.

    Akan tetapi, di lubuk hati yang terdalam, mungkin ada secuil rasa sakit hati Pellegrini. Dia sudah bekerja dengan baik dan memberikan trofi, tapi tetap tak mampu mendapatkan cinta dan kesempatan lebih besar dari City. Dedikasinya belum cukup untuk meyakinkan City bahwa dirinya tidak lebih buruk daripada Guardiola. Mungkin karena obsesi City terhadap Guardiola terlampau besar. Mungkin juga City sudah terbutakan oleh nama besar Guardiola sehingga mereka tak bisa melihat betapa baiknya Pellegrini.

    "Tak mudah untuk memenangi Premier League. Mungkin banyak orang berpikir bahwa dengan kedatangan Pep, mereka akan memenangi Premier League dengan selisih 15 poin, dan tidak, di Inggris itu tidak terjadi," ujar Pellegrini kepada Marca pada bulan Februari lalu.

    Martin Demichelis, salah satu rekrutan Pellegrini di City, menyebut kesulitan yang dialami Guardiola pada musim ini membuktikan bahwa kinerja Pellegrini patut untuk lebih diapresiasi.

    "Anda cuma harus melihat City hari ini untuk mengetahui bahwa tak ada yang didapat dengan mudah, bahkan dengan seorang pelatih fantastis. Seiring berjalannya waktu, semua orang akan menghargai pekerjaan yang sudah dilakukan Manuel Pellegrini," kata Demichelis di BBC baru-baru ini.

    "Sebagai seorang pelatih asing yang memenangi titel pada musim pertamanya di Premier League, sudah sewajarnya itu membuatnya sebagai referensi penting," ujarnya.

    Tapi, sudahlah, City harus move on dan menerima konsekuensi atas pilihannya. Pellegrini akan tetap menjadi salah satu mantan terindah dengan banyak kenangan tak terlupakan, tapi sekarang mereka harus hidup bersama Guardiola.

    Beruntungnya City, Pellegrini tak bisa berbahasa Jawa dan mungkin tak tertarik membuat meme. Andai bisa, mungkin City sudah menerima pesan yang berbunyi "Isih penak jamanku to?"



    ===

    * Penulis adalah reporter detikSport. Beredar di dunia maya melalui akun Twitter @meylanfredy



    (mfi/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider