Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Totti, Roma, dan Cinta yang Tak Perlu Diperdebatkan

    Novitasari Dewi Salusi - detikSport
    Foto: Getty Images Foto: Getty Images
    Jakarta - 28 Maret 1993.

    Seorang remaja berambut pirang berusia 16 tahun duduk di bangku cadangan AS Roma. Saat itu, Roma sudah unggul 2-0 di markas Brescia dengan laga tersisa sekitar lima menit.

    "Pemanasan, biar kamu bisa langsung masuk," kata pelatih Roma saat itu, Vujadin Boskov, kepada anak laki-laki yang duduk di bangku cadangan itu. Tapi dia tidak melakukan apa-apa.

    "Hei, dia bicara sama kamu. Sana masuk," ucap striker Roberto Muzzi yang duduk di sebelah si anak laki-laki itu.

    Pada akhirnya, si anak laki-laki itu pemanasan selama 10 detik dan masuk ke lapangan menggantikan Ruggielo Rizzitelli. Meski cuma menyentuh bola beberapa kali, si anak laki-laki itu sudah senang bukan kepalang.

    Francesco Totti, si remaja berambut pirang itu, telah mewujudkan impian masa kecilnya: bermain untuk tim utama Roma.

    ***

    Dua puluh empat tahun berlalu sejak pertandingan melawan Brescia itu, Totti masih memakai seragam yang sama. Dua dekade lebih membela satu klub tentu bukan sesuatu yang 'biasa-biasa saja', apalagi klub itu adalah Roma.

    Bicara soal Totti akan sangat dekat dengan loyalitas. Kapten Roma itu sejatinya punya beberapa kesempatan untuk hengkang ke klub besar dan (mungkin saja) meraih kesuksesan yang lebih banyak.

    Tahun 2004 menjadi salah satu momen terdekat Totti dengan transfer. Bukan rahasia lagi, Real Madrid yang saat itu dipenuhi oleh pemain bintang -- Los Galacticos -- menjadi salah satu klub yang mengidam-idamkan Totti.

    Francesco Totti sempat berencana pindah ke Real Madrid pada tahun 2004Francesco Totti sempat berencana pindah ke Real Madrid pada tahun 2004 Foto: Newpress/Getty Images


    Dengan sederet megabintang yang dimiliki Madrid, uang yang lebih banyak, dan reputasi yang lebih mentereng, Madrid tentu bisa dengan mudah menggaet pemain manapun yang mereka inginkan. Totti pun, mendapat tawaran dari klub seperti Madrid, sempat mempertimbangkannya.

    Tapi pada akhirnya Totti memutuskan untuk tetap di Roma.

    Bayangkan jika Totti saat itu menerima pinangan Madrid. Bayangkan Totti berada satu tim dengan nama-nama seperti Iker Casillas, Roberto Carlos, Ronaldo, David Beckham, Raul, sampai Zinedine Zidane.

    "Jika saja aku memutuskan untuk bergabung dengan Real Madrid, aku mungkin sudah dapat tiga trofi Eropa, dua Ballon d'Or, dan banyak hal lainnya," ucap Totti.

    Tapi memang begitulah Totti. Roma sudah menjadi tim impiannya sejak kecil. DNA Roma memang kental dalam diri Totti, diwariskan dari keluarganya yang juga merupakan Romanisti selama puluhan tahun.

    "Saya sempat bicara dengan Presiden Roma dan itu membuat perbedaan. Tapi pada akhirnya, pembicaraan dengan keluargaku mengingatkanku tentang apa itu hidup," kata Totti soal penolakannya terhadap Madrid.

    Keluarga memang punya peran besar dalam loyalitas Totti kepada Roma. Sang ibu, Fiorella, sudah 'menjaga' Totti agar tetap di Roma sejak putranya itu berusia belasan tahun.

    Dia yang meminta pelatih akademi Roma kala itu, Gildo Giannini, agar merekrut Totti pada 1989. Padahal waktu itu Totti sudah dijanjikan oleh klub masa kecilnya, Lodigiani, ke Lazio. Fiorella pula yang menolak tawaran AC Milan untuk Totti saat masih berusia 13 tahun.

    "Roma adalah keluargaku, teman-temanku, orang-orang yang aku cintai. Roma adalah lautan, gunung, monumen. Roma, tentu, adalah orang-orang Roma. Roma adalah kuning dan merah. Roma, untukku, adalah dunia. Klub ini, kota ini, sudah jadi hidupku," ucap Totti.

    ***

    Lebih dari dua dekade memperkuat Roma tak selalu berjalan mulus untuk Totti. Scudetto musim 2000/2001 bisa dibilang adalah puncak prestasinya di level klub. Selebihnya, dia mengantar Roma memenangi Coppa Italia dua kali dan Piala Super Italia dua kali. Di level tim nasional, Totti ikut membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006.

    Francesco Totti mempersembahkan satu Scudtto untuk Roma di musim 2000/2001Francesco Totti mempersembahkan satu Scudtto untuk Roma di musim 2000/2001 Foto: Getty Images


    Di era di mana trofi terlihat begitu menyilaukan belakangan ini, apa yang diraih Totti di sepanjang kariernya bersama Roma memang terbilang sedikit. Rasanya seperti tak sepadan dengan lamanya karier yang dia dedikasikan untuk 'Serigala Ibu Kota'. Bagi yang terbiasa melihat Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang dengan 'mudah' mencetak gol dan meraih gelar juara, apa yang didapat Totti akan terlihat biasa-biasa saja.

    Tapi, itulah pilihan Totti. Roma adalah mimpinya. Meraih kesuksesan bersama tim yang dicintai sejak belia tentu rasanya akan berlipat-lipat. Apalagi tim itu adalah Roma, yang tak seperkasa Juventus di Italia atau tak sementereng, katakanlah, Real Madrid di Eropa.

    "Memenangi satu gelar liga di Roma bagiku setara dengan memenangi 10 gelar di Juventus atau Real Madrid," seperti itulah besarnya makna sebuah gelar juara di Roma bagi seorang Totti.

    Totti memang pemain langka dalam sepakbola. Kalau boleh meminjam istilah dari Daniele De Rossi, karier Totti memang 'tidak normal'.

    "Ada orang-orang yang tidak normal. Ada karier yang tidak normal. Saya melihat sebuah spanduk yang bertuliskan 'pertarungan sesungguhnya melawan sepakbola modern adalah memakai seragam yang sama selama 25 tahun'," ujar De Rossi.

    ***

    28 Mei 2017.

    Hari itu akhirnya tiba. Hari terakhir di mana Totti mengenakan seragam Roma. Genoa, yang jadi lawan Roma di hari perpisahan itu, nyaris saja merusak #TottiDay. Meski sudah selamat dari degradasi, Genoa seperti tak mau tunduk pada skenario bahwa hari itu harus sempurna untuk Totti. Dengan susah payah, Roma akhirnya mampu mempersembahkan kemenangan untuk menyempurnakan 'harinya Totti'.

    Usai pertandingan, sebuah seremoni perpisahan digelar untuk Totti. Saat memasuki lapangan usai kembali ke ruang ganti, Totti disambut guard of honour oleh para pemain Roma dan staf. Totti juga sudah ditunggu istrinya, Ilary Blasi, serta ketiga anaknya, Cristian, Chanel, dan Isabel.

    Saat memeluk Cristian dan Chanel, Totti tak mampu lagi menahan air matanya. Begitu pula ketika memeluk Ilary. Seisi stadion pun ikut larut dalam rasa haru. Olimpico kian dibanjiri air mata ketika Totti berjalan mengelilingi stadion, menyapa, berterima kasih, dan berpamitan kepada para suporter untuk terakhir kalinya. Para pemain pun ikut larut dan terlihat emosional.

    Usai berkeliling stadion, Totti menyampaikan pidato di tengah lapangan. Meski sempat merasa tidak sanggup untuk membacakannya, dan hampir meminta putrinya, Chanel, untuk melakukannya, Totti akhirnya bicara.

    Totti bersama istrinya Ilary BlasiTotti bersama istrinya Ilary Blasi Foto: Paolo Bruno/Getty Images


    Terima kasih, Roma.

    Terima kasih kepada ibu dan ayahku, kakakku, saudara dan teman-temanku. Terima kasih untuk istriku dan tiga anakku.

    Aku ingin memulai dari akhir -- dari perpisahan -- karena aku tidak tahu apakah aku bisa membaca kalimat-kalimat ini.

    Tak mungkin merangkum 28 tahun dalam beberapa kalimat. Aku ingin melakukannya dengan lagu atau puisi, tapi aku tidak bisa menulisnya.

    Selama bertahun-tahun, aku sudah mencoba mengekspresikan diriku lewat kaki-kakiku, yang sudah membuat segalanya jadi lebih mudah untukku sejak aku kecil.

    Bicara soal masa kanak-kanak, bisakah kalian menebak apa mainan favoritku? Tentu saja sebuah bola sepak! Dan itu masih jadi mainan favoritku sampai hari ini.

    Di beberapa titik dalam kehidupan, Anda tumbuh -- itulah yang telah dikatakan kepadaku dan apa yang sudah diputuskan oleh waktu.

    Kurang ajar kamu, waktu.

    Kembali ke 17 Juni 2001, kita semua ingin waktu berlalu lebih cepat. Kita tidak sabar menunggu wasit meniup peluit panjang. Aku masih merinding ketika memikirkannya lagi.

    Hari ini, waktu telah tiba untuk menepuk pundakku dan berkata:

    'Kita harus tumbuh dewasa. Mulai besok, kamu akan jadi orang dewasa. Lepaskan celana dan sepatu itu karena mulai hari ini, kamu adalah seorang pria. Kamu tidak bisa lagi menikmati aroma rumput, merasakan sinar matahari saat menyerang gawang lawan, adrenalin di dalam tubuhmu, kebahagiaan saat melakukan perayaan.'

    Selama beberapa bulan terakhir, aku bertanya kepada diriku sendiri kenapa aku dibangunkan dari mimpi ini. Bayangkan kamu adalah seorang anak yang sedang mimpi indah... dan ibumu membangunkanmu untuk pergi ke sekolah.

    Kamu ingin terus bermimpi... kamu mencoba menyelinap kembali ke dalam mimpi tapi kamu tidak pernah bisa. Kali ini, ini bukan mimpi, tapi kenyataan.

    Dan aku tidak bisa lagi menyelinap.

    Aku ingin mendedikasikan surat ini untuk kalian semua, untuk semua anak-anak yang sudah mendukungku. Anak-anak masa lalu yang sudah tumbuh dewasa dan menjadi orang tua dan kepada anak-anak zaman sekarang, yang mungkin berteriak 'Tottigol'.

    Aku ingin berpikir bahwa bagi kalian, karierku sudah menjadi dongeng untuk diceritakan.

    Sekarang itu sudah benar-benar berakhir. Aku melepas jersey ini untuk terakhir kalinya. Aku melipatnya, meski aku tidak siap untuk berkata 'cukup' dan mungkin aku tidak akan pernah siap.

    Aku minta maaf karena tidak melayani wawancara dan mengklarifikasi pikiranku, tapi tidak mudah untuk mengakhirinya.

    Aku takut. Ini bukan ketakutan yang sama ketika kamu berdiri di depan gawang untuk menendang penalti. Kali ini, aku tidak bisa melihat seperti apa masa depan melalui lubang-lubang di jaring gawang.

    Izinkan aku untuk takut.

    Kali ini, akulah yang butuh kalian dan cinta yang selalu kalian tunjukkan kepadaku. Dengan dukungan kalian, aku akan sukses dalam membuka lembaran baru dan masuk ke petualangan baru.

    Sekarang, waktunya untuk berterima kasih kepada semua teman-teman setim, pelatih, direktur, presiden, dan semua orang yang sudah bekerja denganku selama ini.

    Untuk fans di Curva Sud, cahaya pemandu untuk semua orang Roma dan Romanisti. Terlahir sebagai orang Roma dan Romanisti adalah sebuah keuntungan. Menjadi kapten tim ini adalah sebuah kehormatan.

    Kalian adalah -- dan akan selalu menjadi -- hidupku. Aku tidak akan lagi menghibur kalian dengan kaki-kakiku, tapi hatiku akan selalu ada bersama kalian.

    Sekarang, aku akan turun dan masuk ke ruang ganti yang menyambutku sebagai anak-anak dan sekarang aku tinggalkan sebagai seorang pria. Aku bangga dan bahagia sudah memberi kalian cinta selama 28 tahun.

    Aku mencintai kalian.

    ***

    Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya dipikirkan Totti. Terlalu banyak makna yang harus ditafsirkan dari air mata Totti saat dia berkeliling Olimpico untuk terakhir kalinya.

    Kalau boleh menyimpulkan dari pidato yang dia bacakan di hari perpisahannya, waktu pula lah yang membangunkan Totti dari mimpinya. Kini Totti bukan lagi seorang bocah yang sedang menjalani mimpinya bersama klub kecintaannya.

    Suporter AS Roma di laga terakhir Francesco TottiSuporter AS Roma di laga terakhir Francesco Totti Foto: Reuters


    Lewat pidato itu pula Totti memberi isyarat bahwa dirinya takut menghadapi masa depan setelah tak lagi jadi pemain Roma, memasuki sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Bisa dimaklumi, karena lebih dari separuh usianya --28 tahun dari 40 tahun hidupnya-- dia habiskan bersama Roma.

    Tapi lewat pidato itu pula, Totti seperti memohon bantuan, dukungan untuk memasuki babak baru dalam hidupnya. Mungkin saja, memang kita yang harus membantunya untuk move on?

    Momen sesakral perpisahan Totti pun tak seharusnya 'dirusak' oleh perdebatan siapa yang harus bertanggung jawab atas akhir kisah Totti di Roma. Spekulasi serta komentar dari orang-orang di luar klub bisa dibilang membuat suporter melihat perpisahan Totti dengan kemarahan. Tak bisakah kita menikmati Totti tanpa atmosfer negatif?

    Seperti motto yang tertulis di balik seragam Roma: La Roma non si discute, si ama. Roma bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dicintai.

    Tak bisakah mencintai Roma dan Totti tanpa memperdebatkannya?

    Apapun itu, terima kasih untuk segalanya. In bocca al lupo. Grazie, Totti!




    ===
    * Penulis adalah reporter detikSport. Beredar di dunia maya melalui @ndsalusi

    (nds/din)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider