Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Bola Demokrasi Catalunya

    Yanu Arifin - detikSport
    Mes Que un Club tertulis besar di tribun Camp Nou (David Ramos/Getty Images) Mes Que un Club tertulis besar di tribun Camp Nou (David Ramos/Getty Images)
    Jakarta - Sebagai klub yang dengan bangga mengusung jargon Mes Que un Club, Barcelona telah menjadi simbol perjuangan dan perlawanan Catalunya.

    Mes Que un Club. Lebih dari sekadar klub. Buat penduduk Catalunya, Barcelona memang bukan sekadar klub. Bukan cuma sebelas lelaki yang bermain-main di lapangan hijau. Barcelona adalah Catalunya itu sendiri.


    *****

    Minggu (1/10/2017), sekitar pukul 16.00 waktu Barcelona, suasana Stadion Camp Nou terasa sepi. Tidak ada penonton berjubel yang biasanya memadati stadion terbesar di Eropa itu.

    Padahal di hari itu, Lionel Messi dkk. dijadwalkan bertanding menghadapi Las Palmas di pekan ketujuh La Liga Spanyol. Ini sebuah keganjilan, apalagi jika melihat Barcelona yang tengah on fire setelah terus menang di enam pertandingan pertama.

    Barcelona kabarnya malah tidak mau bertanding pada saat itu. Penyebabnya, di luar stadion warga Catalunya justru sedang berjibaku melawan Kepolisian dan Garda Sipil untuk menyuarakan kemerdekaannya.

    Sekitar dua juta lebih masyarakat Catalunya kembali menuntut referendum untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara dilakukan di berbagai wilayah.

    Pemerintah Spanyol yang merasa keberatan Catalunya melepaskan diri, menganggap pemungutan suara tersebut ilegal. Pihak keamanan pun diterjunkan untuk menggagalkannya, dengan cara merepresi warga dengan pentungan dan peluru karet. Hampir seratus warga terluka dan sebanyak 800 lainnya disebut harus mendapat perhatian medis.

    Barcelona, yang pendukungnya sedang dibungkam kebebasan berpendapatnya, tak bisa berbuat banyak. Di satu sisi mereka ingin membantu warganya, namun ada kewajiban kompetisi yang mengharuskan mereka bertanding. Apalagi muncul ancaman pengurangan enam poin jika menunda laga tersebut.

    Bola Demokrasi CatalunyaFoto: Albert Gea/Reuters


    "Dalam konteks ini, di sini, di FC Barcelona, kami memutuskan harus mengambil tindakan untuk menunjukkan kemarahan kami kepada dunia. Ada banyak hal yang dipertaruhkan dan kami membahasnya bersama berbagai departemen klub: direktur, eksekutif, pelatih dan pemain. Akhirnya saya memutuskan kami akan memainkan pertandingan tapi dengan stadion tertutup," jelas Bartomeu.

    "Kami paham, banyak anggota dan penggemar lebih menyukai opsi kami membatalkan pertandingan. Itulah sebabnya saya harus mengatakan ini salah satu keputusan tersulit yang pernah saya buat sebagai presiden Barca. Kami sangat serius mempertimbangkan pilihan untuk menunda pertandingan, tapi kami tidak bisa mendapatkan Liga Sepak Bola Profesional untuk menyetujui permintaan kami," pria berkacamata itu menambahkan.

    Barcelona pun akhirnya bertanding tanpa riuhan penonton. Mereka tetap tampil atraktif dengan menang 3-0 lewat gol Sergio Busquets dan brace Messi.

    *****

    Apa yang terjadi di Barcelona pekan lalu bisa dibilang menjadi puncak dari rangkaian perlawanan yang berlangsung ratusan tahun lamanya. Catalan bukan baru belakangan ini saja mendesak merdeka dari Spanyol.

    Sejak Raja Philip V menjajah Barcelona pada 1714, sejak saat itu Catalunya berada di bawah kekuasaan Spanyol. Hingga kini, upaya melepaskan diri warga Catalan selalu dihalangi.

    Tapi sikap paling brutal yang dialami Catalunya terjadi di masa rezim diktator Francisco Franco pada 1939. Ketika itu bahasa Catalunya dilarang digunakan dan institusi pemerintahan diberangus. Baru ketika rezim Franco berakhir, Pemerintah Spanyol menjadikan Catalunya wilayah otonomnya.

    Bola Demokrasi CatalunyaFoto: Alex Caparros/Getty Images


    Tapi Catalan tidak akan pernah dilepaskan oleh Spanyol. Catalan adalah penyumbang 20 persen perekonomian Spanyol. Pariwisata menjadi sumber utama pemasukan.

    Tak cuma itu, Catalunya juga merupakan pabrik atlet-atlet jempolan Spanyol. Sebut saja bek Barcelona Gerard Pique, pebalap MotoGP Marc Marquez, hingga pebasket Pau Gasol.

    Kehilangan Catalan artinya tak cuma kehilangan sumber pendapatan, melainkan atlet-atlet berprestasi yang namanya berulang kali mengibarkan bendera Spanyol di dunia internasional.

    Tapi ibarat Papua yang terus diekploitasi sumber daya alamnya dan kerap melahirkan bintang-bintang sepakbola hebat untuk Indonesia, Catalan terus melakukan perlawanan. Tak peduli siapa rezim yang berkuasa, upaya merdeka terus digerakkan.

    Pada 2006, upaya yang sama dilakukan Catalunya namun digagalkan. Kemudian berlanjut pada 2010 dan di tahun-tahun setelahnya. Puncaknya terjadi di tahun 2017 ini.

    Jumlah suara yang menyatakan ingin melepaskan diri pun terus bertambah. Dari cuma 25 persen pada 2010, melonjak menjadi 90 persen warganya pada akhir pekan kemarin.

    *****

    Barcelona pun menjadi representasi Catalunya di mata dunia, lantaran selalu berada di bawah bayang-bayang Spanyol. Mes Que un Club disematkan untuk menegaskan mereka bukan cuma sekadar klub sepakbola, melainkan menjadi representasi warga Catalan yang ingin merdeka.

    Barcelona sudah terus diperlihatkan sikap Mes Que un Club-nya untuk Catalunya. Mulai dengan menerapkan taktik menyerang indahnya, yang ibarat menjadi perlawanan taktis warga menuju kemerdekaan, sampai menegaskan sikap politiknya lewat Pakta Nasional pada 2014.

    Berkali-kali Barcelona membuat bangga wargan Catalunya, dengan menjuarai kompetisi La Liga dan Liga Champions. Memenangkan rivalitas di atas lapangan hijau, khususnya dari Real Madrid sebagai representasi Spanyol sesungguhnya, seolah membuat para pendukungnya merdeka.

    Barcelona sudah begitu sering membuat warganya merdeka di atas lapangan hijau. Dengan bantuan para pemain asing mulai dari Ronaldo De Lima asal Brasil sampai Lionel Messi dari Argentina, Barcelona mampu mewakili Catalan memperlihatkan diri kepada dunia luar.

    Bola Demokrasi CatalunyaFoto: (Thinkstock)


    "Dalam posisi kami sebagai klub dengan lingkup global seperti itu, kami akan terus menceritakan kepada dunia tentang realitas apa yang terjadi di negara kami dan komitmen kami terhadap rakyat serta kebebasan mereka, sebuah komitmen di mana klub tetap setia selama 118 tahun," Bartomeu menambahkan.

    Sepakbola, dalam hal ini Barcelona, sudah jauh melampaui dari sekadar aktivitas politik belaka. Bisa dibilang, mereka adalah politik yang menggelinding lewat sepakbola, mencari gawang kemerdekaan, untuk bisa membahagiakan segenap warganya yang selama ini terus berjuang menyuarakan keadilan.

    Seperti halnya Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang merepresentasikan demokrasi ibarat bola, Barcelona juga terus menggelindingkan semangat kemerdekaannya lewat sepakbola.


    =====================

    Penulis adalah reporter detikSport. Beredar di dunia maya lewat akun @arifinyanu (din/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider