Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Jalan Sunyi Islandia

    Rifqi Ardita Widianto - detikSport
    Foto: Joe Raedle/Getty Images Foto: Joe Raedle/Getty Images
    Jakarta - Jika harus menyebutkan sesuatu yang terpikirkan ketika mendengar kata 'Islandia', apa jawaban Anda? Kalau saya akan menjawab lanskap yang rupawan, Sigur Ros, dan kesunyian.

    Tiga hal itu yang otomatis terpikirkan, dan juga paling mudah dipikirkan, saat saya memikirkan Islandia. Tentu saja setiap orang bakal punya pandangan yang berbeda-beda, karena persepsi akan sesuatu dibentuk dari banyak faktor.

    Bentang alam rupawan dan kesan sunyi soal Islandia saya dapatkan sekaligus saat menyelami lagu-lagu dan klip video Sigur Ros. Coba putar klip berjudul 'Route One' di Youtube, maka Anda akan mendapatkan sedikit-banyak gambaran soal Islandia dari grup musik tersebut.

    'Route One' adalah klip tentang perjalanan melalui jalan nasional Islandia sepanjang 1.332 km, oleh karena itu jangan kaget kalau durasinya sampai 24 jam. Gambaran lebih singkat tentang Islandia bisa juga didapatkan dari cuplikan film The Secret Life of Walter Mitty, ketika sang karakter utama mengunjungi gunung berapi Eyjafjallajökull dan meluncur melalui sepenggal jalanan Islandia menggunakan longboard.

    Jalan Sunyi IslandiaFoto: Joe Raedle/Getty Images


    Kesan sunyi itu bukan semata-mata karena jumlah penduduk Islandia yang minim. Seperti diketahui, hanya ada sekitar 332 ribu jiwa yang hidup di negara yang berdekatan dengan Greenland itu. Maka kepadatan penduduknya cuma 3 orang per kilometer persegi. Jika hanya ada tiga orang tiap satu kilometer persegi, ya jelas saja negaranya terasa sepi.

    Tapi lebih dari itu, saat menikmati musik Sigur Ros, ada nuansa kosong yang saya dapatkan di tengah padatnya bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Saya membayangkan ada di tengah padang rumput di Islandia atau di atas gunung es, menatap cakrawala. Terkadang duduk saja, sesekali berlari dan berjingkat menikmati suasana. Tergantung mood lagunya saja.

    Sekali lagi, kesan semacam ini berbeda-beda tiap orangnya.

    ***

    Tak ada yang tahu dan peduli soal tim nasional sepakbola Islandia sampai Piala Eropa 2016 lalu. Media-media pun tak banyak memerhatikan tim berjuluk Strákarnir okkar tersebut. Ya wajar saja, wong itu pertama kalinya Islandia tampil di turnamen besar.

    Tapi di tengah kesunyian dan minimnya perhatian untuk mereka, Islandia pelan-pelan muncul. Bahkan saat lolos dari fase grup, mereka sebenarnya belum begitu dianggap meski sudah menggugurkan tim sekelas Portugal. Saat itu Islandia cuma lolos berbekal satu kemenangan dan dua hasil imbang.

    Jalan Sunyi IslandiaFoto: Laurence Griffiths/Getty Images


    Baru kemudian saat mendepak Inggris di babak 16 besar, Islandia mulai lebih diperhatikan. Dibandingkan Inggris yang kerap disebut negerinya sepakbola, Islandia di atas kertas bukan apa-apa. Tapi dalam diam dan tenangnya, Islandia membungkam negara yang paling gaduh soal sepakbola.

    Saat tersingkir di perempatfinal oleh tuan rumah Prancis, publik sudah terlanjur menganggap mereka tim yang istimewa. Skuat besutan Heimir Hallgrimsson, pria yang merangkap sebagai dokter gigi itu, juga tersingkir bukan tanpa perlawanan, sempat membalas dua gol di laga yang berakhir dengan skor 2-5 tersebut.

    Tapi setelah itu, kesunyian lagi untuk timnas Islandia.

    ***

    Waktu Islandia terundi bersama Kroasia, Ukraina, dan Turki di Kualifikasi Piala Dunia 2018, sebagian besar takkan menyebut Gylfi Sigurdsson dkk. sebagai tim yang bakal lolos. Nyatanya lagi-lagi mereka memberikan kejutan.

    Islandia malah lolos sebagai juara grup, menyingkirkan Turki dan Ukraina yang bisa dianggap lebih matang dalam sepakbola. Mereka pun menatap debutnya di Piala Dunia. Setelah berbulan-bulan sempat tak diacuhkan, Islandia kembali menarik perhatian, kembali jadi topik pembicaraan.

    Di Indonesia, yang kemudian dibicarakan adalah bagaimana negara sekecil itu bisa lolos ke Piala Dunia. Sementara Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta untuk juara di Asia Tenggara saja susahnya bukan main.

    Justru menurut saya, perkara jumlah penduduk itu yang bisa jadi membuat perbedaan besar. Tiap-tiap warga Islandia barangkali punya rasa tanggung jawab lebih besar untuk bergerak memajukan negara ketimbang di Indonesia.

    Sementara di sini, rasa tanggung jawab itu mungkin terlalu banyak dioper-oper dari satu individu ke individu yang lainnya. Termasuk di sepakbola, meski tentu saja tak seluruhnya begitu. Ada semacam nuansa seperti, 'Ah, masih ada orang yang lain yang bisa mengemban tugas mulia itu.'

    Bukannya berprasangka buruk, namun ada banyak pemandangan yang mencerminkan dugaan itu. Dalam kehidupan umum salah satu misalnya, perkara buang sampah saja masih banyak yang melempar tanggung jawabnya. Di perkotaan sampai di pegunungan. Atau soal etika dan menaati aturan berkendara di jalan raya. Masih ada banyak contoh lainnya.

    Kalau bicara sepakbola, kompetisi di Indonesia jelas tak bisa dikatakan sudah dikelola dengan baik dan benar. Masih banyak ribut-ribut dan kekerasan, banyak yang mati di sana, pengembangan usia dini yang tak tertata, transparansi yang masih dipertanyakan, bahkan soal aturan head to head saja pemangku kompetisi tak bisa memahami dengan baik, yang akhirnya justru bikin ricuh seperti di kasus PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi.

    Sebut saya orang yang negatif dan berburuk sangka, tapi nyatanya sepakbola Indonesia lambat sekali pergerakannya kalau tak bisa dikatakan berhenti. Baik dari aspek lapangan hijau atau di luar lapangan. Memang ada banyak aspek yang memengaruhi itu, tapi izinkan saya menaruh sebuah kecurigaan bahwa ada terlalu banyak yang hanya main-main di sepakbola kita.

    ***

    Dibandingkan Islandia, kita bisa berbangga soal kehebohan dan kegilaan akan sepakbola. Tapi Islandia yang stadionnya paling-paling hanya sekitar 20 buah itu sampai ke putaran final Piala Dunia sementara kita susah payah menaklukkan Asia Tenggara.

    Jalan Sunyi IslandiaFoto: AFP PHOTO / Haraldur Gudjonsson


    Mereka yang jumlah penduduknya cuma 3,46% dari jumlah penduduk Jakarta itu sudah sampai ke perempatfinal Piala Eropa, mengangkangi tim-tim top. Tahukah Anda, Liga Islandia bahkan cuma berlangsung empat bulan saja dari Mei ke September?

    Dengan segala keterbatasan itu, Islandia membangun sistem yang tertata. Ada sekitar 20 ribu pemain yang terdaftar, juga 793 pelatih berlisensi. Ada 1 dari tiap 500 orang Islandia yang merupakan pelatih berlisensi UEFA. Dari hal-hal ini kita bisa melihat bahwa ada keseriusan dan rasa tanggung jawab besar dari mereka untuk memajukan sepakbolanya.

    Mereka mengerjakannya tanpa banyak bicara dan kehebohan, membiarkan hasil-hasil yang menjelaskan dengan sendirinya. Dalam sunyinya, Islandia mungkin sudah berjalan lebih jauh dari negara-negara lainnya yang mengaku gila sepakbola, termasuk Indonesia.


    =====

    Penulis adalah reporter detikSport. (raw/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider