Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Membenci dan Mencintai Ronaldinho

    Yanu Arifin - detikSport
    Ronaldinho memutuskan pensiun pekan lalu (Pau Barrena/AFP) Ronaldinho memutuskan pensiun pekan lalu (Pau Barrena/AFP)
    Jakarta - Benci dan cinta adalah hal yang bertolak belakang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, benci adalah sebuah hal yang amat tidak disukai. Sementara cinta adalah sebaliknya, hal yang amat disukai.

    Menggabungkan dua hal itu tentu bukan perkara mudah. Sekalipun dipaksakan, itu harus berangkat dari hati yang paling dalam.

    Contoh sederhananya, kita bisa menyaksikan bagaimana Ronaldinho bermain.

    *****

    Ronaldinho lahir di Porto Alegre pada 21 Maret 1980. Ayahnya, Joao de Assis Moreira adalah seorang pekerja di pelabuhan, dan ibunya Dona Miguelina Eloi Assis dos Santos cuma mantan sales yang coba belajar menjadi perawat.



    Bakat Ronaldinho bermain sepakbola bisa dibilang turunan dari ayahnya. Joao, sebagai pekerja pelabuhan, juga merupakan pemain sepakbola tim Ezporte Clube Cruzeiro (bukan Cruzeiro yang kini tampil di Liga Serie A Brasiliero, lho).

    Sejak usia 8 tahun, tepat ketika Ayahnya meninggal, kemampuan olah bola Ronaldinho mulai terlihat. Panggilan Ronaldinho juga mulai diberikan kepadanya, sebab dia yang paling kecil dalam tim.

    Kegemarannya bermain futsal dan sepakbola pantai, membuat skill Ronaldinho terasah. Sampai akhirnya, pada usia 13 tahun, Ronaldinho menggemparkan dunia.

    Pada sebuah pertandingan melawan tim lokal, Ronaldinho yang ketika itu bermain untuk tim muda Gremio, membantu timnya menang 23-0. Selain skor yang mencolok, semua gol itu diborong dia seorang.

    Sejak saat itu, nama Ronaldinho mulai disebut-sebut. Usai tumbuh bersama Gremio, ia memutuskan hijrah ke Eropa pada 2001.

    Penyesalan Arsenal, Mengubah Wajah Barcelona

    Bakat Ronaldinho mulai terendus tim top Eropa. Salah satunya adalah Arsenal, raksasa Premier League yang ketika itu banyak melahirkan talenta-talenta hebat.



    The Gunners kala itu intens mengamati Ronaldinho sejak tahun 2000. Namun izin kerja menjadi penghalang Ronaldinho berkarier di Inggris.

    "Itu adalah aturan yang saya tidak saya sukai dan itulah mengapa saya pikir kami harus memiliki sistem kuota (pemain asing)," Arsene Wenger mengeluhkan kondisi tersebut seperti dilansir The Sun.

    Ronaldinho dalam seragam Paris Saint GermainRonaldinho dalam seragam Paris Saint Germain Foto: AFP PHOTO / JEAN-LOUP GAUTREAU


    Adalah Paris Saint-Germain yang akhirnya mendapatkan Ronaldinho. Dengan harga transfer mencapai 5 juta euro, Ronaldinho berseragam tim Eropa untuk pertama kalinya di Paris. Dua musim di sana, Ronaldinho kemudian pindah ke Barcelona.

    Bersama Barcelona, Ronaldinho tak cuma menjadi bintang. Ia mengubah wajah permainan raksasa Catalan itu, sebagaimana diungkap sang presiden saat itu, Joan Laporta.

    "Semua berubah untuk Barcelona. Ini menjadi tujuan kami membuat Barcelona yang berbeda, untuk meningkatkan tantangan ke Galacticos (Real Madrid) dan melakukannya dengan tim yang sangat muda untuk mengubah ceritanya. Saya tidak pernah khawatir," Laporta berucap dalam pidato kedatangan sang bintang.

    Benar saja, Ronaldinho memberikan sesuatu yang berbeda untuk Barcelona. Gocekannya di lapangan membuat Barcelona tak cuma semakin dibenci lawannya, tapi diam-diam juga dikagumi.

    Pada 2005, sebuah laga bersejarah terjadi di Santiago Bernabeu, kandang Madrid. Ronaldinho yang begitu on fire, mengoyak jala Iker Casillas dua kali lewat aksi solo. Barca menang 3-0 dan tentu fans tuan rumah begitu kesal.

    Tapi Madridista tak bisa menutupi kekaguman pada bakat Ronaldinho. Seisi stadion memberikan standing ovation untuk Ronaldinho lantaran permainannya begitu menghibur.

    "Saya tidak akan melupakan itu sebab sangat jarang ada pesepakbola mendapat applause dengan cara seperti itu dari pendukung lawan," kenang Ronaldinho.

    Dikaruniai bakat alami, Ronaldinho memperlihatkan sepakbola harus dimainkan dengan bahagia. Senyumnya ketika menggocek lawan, jelas membuat fans lain jengkel. Tapi bukankah hal itu mengasyikkan untuk ditonton?

    Terlebih Ronaldinho juga tidak cakap secara fisik. wajahnya pas-pasan dan punya senyum yang terkesan konyol.

    Bahkan ada cerita menarik soal Madrid tidak tertarik pada Ronaldinho. Seperti dilansir Guardian, wajah jelek Ronaldinho ketika itu membuat citranya dianggap buruk dan berpotensi meruntuhkan brand Los Blancos sebagai tim elit. Itulah alasannya Madrid mendatangkan David Beckham dari Manchester United, yang jelas lebih keren.

    Pada akhirnya, Madrid membuat kesalahan besar dengan tidak merekrut Ronaldinho. Pemain yang dibenci karena senyumannya itu, justru membuat publik Santiago Bernabeu jatuh hati pada permainannya.

    *****

    Usai dari Barcelona, Ronaldinho pindah ke Milan dan sempat menyumbang gelar Serie A. Kemudian ia menghabiskan kariernya di Brasil dengan membela sejumlah klub seperti Flamengo, Atletico Mineiro, Queretaro, dan Fluminense. Sampai akhirnya ia memutuskan pensiun.

    Ronaldinho memberi AC Milan satu titel ScudettoRonaldinho memberi AC Milan satu titel Scudetto Foto: AFP PHOTO / DAMIEN MEYER


    Semasa berkarier, Ronaldinho menjadi pemain yang komplet. Ia menjuarai Piala Dunia bersama Brasil pada 2002, Liga Champions bersama Barcelona, meraih Ballon d'Or, Serie A bersama Milan dan Copa Libertadores di Atletico Mineiro.

    Ronaldinho menjadi contoh bagaimana kebahagiaan bisa disaksikan lewat sepakbola. Kini selepas pensiun, senyum khasnya akan dikenang bersamaan dengan bagaimana dia memainkan si kulit bundar dengan penuh kegembiraan.

    Sulit untuk membenci Ronaldinho. Bahkan Casillas yang gawangnya berkali-kali dibobol, menyampaikan salam perpisahan yang begitu jantan saat Ronaldinho memutuskan pensiun.

    "Saya harus menderita, tapi sebagai pecinta sepak bola, Anda juga menikmati diri sendiri. Itu bagus @10Ronaldinho," Casillas mencuit di Twitter.

    Pada akhirnya, kita bisa belajar banyak dari Ronaldinho. Dari dialah, kita bisa sepuas hati membenci seseorang, namun dia mengingatkan bahwa cinta adalah hal terakhir yang harus diperlihatkan kepada sesama.

    Adios, Ronaldinho!



    =====

    Penulis adalah reporter detikSport. (yna/din)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game