Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Pelajaran dari SEA Games 2019 untuk Indonesia yang Getol Jadi Tuan Rumah Ini Itu

    Randy Prasatya - detikSport
    Closing ceremony SEA Games 2019 Filipina di Clark. (Grandyos Zafna/detikSport) Closing ceremony SEA Games 2019 Filipina di Clark. (Grandyos Zafna/detikSport)
    Jakarta - SEA Games 2019 telah tuntas dan Indonesia sudah berencana untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Banyak pelajaran dipetik agar jangan sampai muncul tagar #fail saat Indonesia menjadi tuan rumah.

    Dua pekan sudah SEA Games yang resmi dibuka pada 30 November dan ditutup pada 11 Desember ditutup. Indonesia ada di posisi keempat dengan perolehan 72 medali emas, 84 perak, dan 111 perunggu.

    Tuan rumah Filipina menjadi juara umum dengan perolehan 149 emas, 117 perak, dan 121 perunggu. Vietnam di posisi kedua dengan 98 emas, 85 perak, dan 105 perunggu. Thailand duduk di posisi ketiga dengan 92 emas, 103 perak, dan 123 perunggu.

    Posisi Indonesia ini jauh dari target yang diharapkan Presiden Joko Widodo, yakni masuk dua besar. Meski dari posisi meleset, Indonesia berhasil melebihi target 60 emas.

    Sementara itu, sukses tuan rumah, termasuk mencatatkan sejarah meraih medali emas terbanyak sejak keikutsertaan di SEA Games tak betul-betul dirayakan oleh masyarakatnya sendiri. Belum lagi muncul banyak peristiwa yang menunjukkan mereka gagal menjadi tuan rumah, termasuk dugaan korupsi besar-besaran. Belum luntur ingatan tentang gaduhnya tagar #SEAGames2019Fail

    Indonesia yang sedang getol menjadi tuan rumah perhelatan olahraga bisa menjadikan itu sebagai sebuah pelajaran berharga. Soal lain, cabang olahraga siluman yang sepatutnya tak ditiru, juga organisasi sebagai tuan rumah.

    Ya, Indonesia memang berpengalaman menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan dinilai sukses. Tapi, bukan berarti tanpa catatan. Kekurangan di sana-sini saat Asian Games dimaklumi karena Indonesia hanya memiliki waktu singkat menyiapkan diri sebagai tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia itu. Indonesia menggantikan Vietnam, yang memutuskan mundur sebagai tuan rumah karena belum pulih usai terpapar krisis keuangan global dan resesi ekonomi sejak 2012. Masyarakat Vietnam menyambut keputusan pemerintah itu.

    Indonesia, yang sebelumnya turut bersaing dengan Vietnam dengan mengajukan Surabaya dan ditolak, kembali dilirik oleh Komite Olimpiade Asia (OCA). Dalam prosesnya, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dengan dua kota; Jakarta dan Palembang.

    Merujuk pengalaman Filipina menjadi tuan rumah itu, detikSport, yang berkesempatan meliput langsung, mencatat sejumlah fakta kurang sip yang jangan sampai ditiru oleh Indonesia yang sedang getol-getolnya menjadi tuan rumah baik single-event ataupun multi-event olahraga. Di antaranya, Kejuaraan Dunia U-20 2021, Piala Dunia FIBA 2023, dan sedang mengupayakan untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

    ***

    Akreditasi Belum Dicetak Saat Kontingen Sudah Tiba di Manila

    Filipina memulai perhelatan SEA Games 2019 dengan dengan menyuguhkan banyak 'kejutan'. Tak hanya kepada pewarta, namun kepada atlet, pelatih, dan ofisial. bahkan, bagi tim mereka sendiri.

    Penyelenggara belum siap betul dalam hal penyebaran akreditasi atau identitas untuk akses kontingen dan pewarta. Pada tanggal 22 November, awak media dari Indonesia kesulitan mendapatkan akreditasi yang sudah didaftarkan jauh-jauh hari. Sebagian besar belum tercetak saat media tiba di Manila, Filipina.

    Butuh setidaknya memakan waktu tiga hari untuk mendapatkan akreditasi media. Itu pun setelah menyerahkan data lagi. Data media yang sudah diserahkan beberapa hari lalu tak tersimpan oleh panitia.

    Direktur Media PSSI, Gatot Widakdo, bahkan harus menggunakan id card harian selama di Filipina. Akreditasinya sama sekali belum tercetak.

    Tak Ada Shuttle Bus dan Kendala Makanan Halal

    Pelajaran dari SEA Games 2019 untuk Indonesia yang Getol Jadi Tuan Rumah Ini ItuFoto: Facebook Jacqueline Marzan Tolentino/Poch Jorolan

    Beberapa pekan sebelum SEA Games 2019 bergulir, tersebar kabar bahwa panitia penyelenggara menyediakan shuttle bus. Hal ini sedikit melegakan untuk pewarta mengingat venue-venue pertandingan sangat jauh.

    Pada kenyataannya, shuttle bus itu tak pernah ada. Alhasil, beberapa pewarta mengambil inisiatif untuk urunan menyewa kendaraan untuk menuju venue yang jauh, seperti halnya ke Philippines Arena dan ke New Clark.

    PSSI juga mengambil inisiatif menyediakan kendaraan untuk pewarta yang ingin meliput pertandingan Timnas Indonesia U-22. Kendaraan mereka sediakan saat Garuda Muda bertanding ke Binan dan Imus. Itu pun terbatas untuk media. Siapa cepat, dia dapat.

    Ada pula polemik terkait makanan halal. Hal ini sangat berpengaruh untuk negara-negara yang kontingennya mayoritas beragama Islam, seperti Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

    Panitia tak memberi petunjuk dengan jelas terkait makanan halal dan nonhalal. Minimnya petunjuk makanan halal atau tidak, membuat Gatot tanpa sengaja memakan daging babi.

    Singapura juga sempat melakukan protes ke panitia penyelenggara. Kontingennya dikabarkan tak bisa mengonsumsi makanan dari hotel.

    Chief de Mission Singapura, Juliana Seow, sempat mengaku sudah meminta kepada panitia untuk memasak makanan halal. Namun, permintaan itu tak dipenuhi. Nota protes pun dilayangkan.

    Akibat permasalahan itu, panitia akhirnya melakukan konferensi pers. Bruce Lim, yang menjabat sebagai Kepala Koki selama di SEA Games 2019, ambil tindakan dengan mengarahkan semua timnya untuk memisahkan makanan halal dan nonhalal.


    Kemacetan Filipina yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

    Filipina adalah salah satu negara yang lalu lintasnya sangat padat dengan kendaraan. Hal itu yang bikin memakan waktu lama untuk berpindah ke venue-venue lainnya.

    Sebagai contoh, saat detikSport butuh waktu hampir satu setengah jam untuk bergeser dari Rizal Memorial Stadium ke Mandaluyong.

    Berdasarkan pengukuran jarak dengan Google Map, kedua lokasi itu cuma berjarak 7 km. Jika dengan kecepatan 30 km/jam, seharusnya jarak itu bisa ditempuh dengan memakan waktu 14 menit atau selambat-lambatnya adalah 30 menit.

    Situasi serupa juga sempat menjadi kekhawatiran tersendiri saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Panitia penyelenggara (Inasgoc) meminimalkan macet dengan meliburkan sekolah di DKI Jakarta.

    Stadion Sepakbola dengan Ruang Ganti di... Kelas SMA

    Pelajaran dari SEA Games 2019 untuk Indonesia yang Getol Jadi Tuan Rumah Ini ItuFoto: Randy Prasatya/detikSport

    Laga Timnas Indonesia dan Laos di SEA Games 2019 Filipina berlangsung di tempat yang unik. Ruang ganti pemain pun menggunakan kelas Sekolah Menengah Atas (SMA).

    Duel antara Indonesia dan Laos berlangsung di lapangan Imus Grandstand, Imus, Filipina, Kamis (5/12/2019) sore. Lapangan ini tepat berada di samping SMA Gen. Pantaleon.

    Tak ada fasilitas ruang ganti dan media center di area lapangan. Tribune penonton pun cuma ada di satu sisi dan tiket dijual dengan satu jenis harga, yakni 50 peso.

    Celakanya lagi, pertandingan itu tak bisa disiarkan langsung dengan kualitas tayangan yang sip. RCTI sebagai media broadcaster bahkan menyiarkan secara estafet video streaming dengan kualitas ala kadarnya.

    ***

    Catatan dari reporter detikSport Randy Prasatya yang beredar di Twitter dengan akun @randyprasatya

    (ran/fem)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game