Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Awas Keblinger! Panduan Suporter Liga 1 Mendukung Tim Idolanya

    Yanu Arifin - detikSport
    Shopee Liga 1 2020 sudah resmi dibuka. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat) Shopee Liga 1 2020 sudah resmi dibuka. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
    Jakarta -

    Pecinta sepakbola Indonesia akhirnya kembali dimanjakan akhir pekan ini. Kompetisi Shopee Liga 1 resmi bergulir lagi. Saban sore, hingga malam, akan ada laga-laga dari Persija Jakarta hingga Persipura Jayapura. Mau mendukung? Perhatikan hal-hal berikut ini, ya!

    Setelah Liga 1 2019 dijuarai Bali United, kick off musim baru resmi bergulir pada Sabtu (29/2/2020). Laga perdana sudah dilangsungkan antara Persebaya Surabaya vs Persik Kediri, yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

    Di media sosial, gegap gempita suporter menyambut Shopee Liga 1. Akun-akun penggila bola lokal sibuk mengulas data tim kesayangannya, sampai memprediksi kans juaranya.

    Euforia semacam itu yang memang diharapkan. Konteks suporter mendukung tim idolanya, memang harus tak lepas dari sepakbola itu sendiri. Atmosfer persaingan, wajib dan perlu dipupuk, namun juga harus berharap buahnya adalah sportivitas.

    Sayangnya, masih banyak kasus di mana suporter kebablasan, jika tak mau disebut keblinger, mencintai klub idolanya. Kebebasan berekspresi suporter hadir dalam bentuk yang kita semua sudah lihat saban tahun.

    Ujaran rasis misalnya, masih sempat terdengar di kompetisi Liga 2. Di Shopee Liga 1 2020, Bobotoh masih meneriakan 'wasit goblok, wasit goblok, saat Persib Bandung menjamu Persela Lamongan. Sementara di media sosial, ujaran-ujaran seksis masih banyak terlihat, baik yang gamblang dan tampak bias.

    Banyak kasus bisa dijadikan contoh. Meninggalnya almarhum Haringga Sirila diharapkan menjadi insiden terakhir yang menghilangkan nyawa suporter. Kurangi, lah, gontok-gontokan di media sosial.

    Alih-alih berseteru, alihkan paket data kalian, wahai suporter, guna mempelajari bagaimana para suporter Eropa, Casual, atau Ultras sekalipun bersikap. Jangan cuma petantang-petenteng di tribune dengan jaket parka, padahal di Indonesia tak ada salju.

    Tapi bebas, sih, soal bagaimana para suporter bergaya. Tapi jauh lebih dalam, maksud kalimat di atas adalah agar para suporter paham makna peranannya dalam mendukung tim kesayangannya.


    Ada banyak cara suporter bisa meluapkan amarahnya di jalur yang tepat. Misalnya bagaimana suporter mengkritisi PT Liga Indonesia Baru, yang kerap membuat jadwal seenak udel.

    Suporter bisa kecam PT LIB, atau jika perlu klub, yang kerap mempekerjakan pemain secara rodi. Jangan sampai malamnya membela Timnas Indonesia, dan langsung bermain membela klub esok sorenya.

    Suporter juga layak mengkritisi jadwal Shopee Liga 1, yang tentu akan berdampak pada penampilan pemain di Timnas Indonesia. Masalah stamina dan daya tarung pemain, menjadi salah satu yang disorot pelatih anyar Shin Tae-yong.

    PSSI terakhir berjanji akan berusaha membuat jadwal Shopee Liga 1 tak molor. Hal itu bisa dikritisi suporter, demi melihat utopia sepakbola yang profesional.

    Dan kalau perlu, masalah tiket yang masih menjadi perdebatan bisa saja kalian kritisi. Jika kalian tak mau terus-terusan jadi sapi perah klub untuk membeli tiket, ya bisa saja protes kalian lakukan. Tepat sasaran, kan?

    Terakhir, jika memungkinkan, para suporter bisa bergerak ke arah yang lebih positif. Aktivisme suporter harus banyak digalakkan agar peranan suporter kepada masyarakat lebih terasa.

    Beberapa suporter di Bandung, Jakarta, Bali, mulai aktif bersuara untuk masalah lingkungan dan politik. Saling membuat simpul dan jejaring membantu masyarakat yang terpinggirkan, akan menjadi nilai plus bagi suporter, khususnya pribadi masing-masing.

    Well, menjadi suporter bukan berarti bersikap bebas tanpa arah. Sekalipun memilih menjadi suporter anarki, tetap harus punya tujuan yang jelas.

    Di Jerman, ada sistem kepemilikan 50+1 agar fans bisa turut membangun klub. Banyak pula sejumlah suporter membuat klub guna menyaingi klub idolanya, yang hingga kini klub-klub buatan suporter terus tumbuh untuk mengadang penetrasi kapital di sepakbola.

    Tulisan di atas bukan semata-mata menggurui, cuma berharap suporter Liga 1 tak keblinger lagi, yang cuma tahu perkara menang kalah dan debat kusir soal tim idolanya. Ada banyak cara suporter bergerak dengan cara yang positif, yang lebih manusiawi.

    Sebab jika bukan bergerak dari diri sendiri, kepada siapa kita berharap sepakbola bisa lebih baik? Federasi?

    ===

    Penulis merupakan wartawan detikSport, biasa beredar di Twitter dengan akun @arifinyanu.

    Baca juga: Kapten Persela Ingin Ulangi Kenangan Manis Saat Hadapi Persib



    (yna/cas)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game