Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Experts

    Catatan Haryanto Arbi

    Di Balik Thomas Cup 1994

    Haryanto Arbi - detikSport
    Foto: Warren Little/Getty Images for Falcon Foto: Warren Little/Getty Images for Falcon
    Jakarta - Indonesia sukses merengkuh Piala Tim Thomas 1994 setelah paceklik sepuluh tahun. Hariyanto Arbi terpeleset, namun kemudian mampu membayar tuntas membawa Indonesia juara.

    Tak lama lagi, Indonesia bakal tampil di Piala Thomas 2018. Ajang beregu putra itu tinggal menunggu hari. Tepatnya, 20-27 Mei di Bangkok. Tim Indonesia yang masuk grup B akan bertemu lawan-lawan berat diantaranya Kanada, Korea Selatan dan tuan rumah Thailand.

    Saya berharap tentunya tim Indonesia bisa melaju ke babak selanjutnya untuk mewujudkan langkah bisa kembali mengangkat piala yang menjadi lambang supremasi bulutangkis beregu tersebut.

    Menjelang Piala Thomas tahun ini, ingatan Arbi menuju Piala Thomas 1994. Waktu itu, dia bukan tunggal terbaik Tanah Air. Masih ada Joko Supriyanto. Tapi, dialah yang dipercaya mengisi tunggal putra pertama di Piala Thomas 1994. Waktu itu, Arbi baru berusia 22 tahun. Dia berbekal dua gelar juara All England saat tampil dalam ajang tersebut. Pebulutangkis asal Kudus, Jawa Tengah itu memiliki kenangan Piala Thomas 1994 tersendiri.

    Berikut penuturannya.

    Di setiap gelaran Piala Thomas, ingatan saya melambung jauh di tahun 1994 ketika tim Indonesia sukses menjadi juara saat bertanding di Istora Senayan, Jakarta. Momentum tersebut bagi saya sangat berharga karena saya menjadi bagian dari tim. Ada kisah pribadi yang ingin saya ceritakan melalui tulisan ini.

    Piala Thomas 1994 juga menjadi semangat sekaligus beban yang berat karena tim Indonesia sudah sepuluh tahun lamanya tak mampu membawa pulang trofi tersebut. Paceklik panjang.

    Kali terakhir Timnas menang juara Piala Thomas di tahun 1984. Waktu itu, kakak saya, Hastomo Arbi, juga ikut merebut dan menyumbang angka kemenangan buat tim Indonesia.

    Di sektor tunggal putra pada Piala Piala Thomas 1994 itu, selain saya, ada pula nama Joko Supriyanto, Ardi B. Wiranata, dan Hermawan yang menjadi tulang punggung tim. Di bawah asuhan dua pelatih alm Indra Gunawan dan Alm Triadji, saat itu saya merasa tim ini begitu solid dan kompak.

    Haryanto Arbi mengangkat trofi Piala Thomas 1994.Haryanto Arbi mengangkat trofi Piala Thomas 1994. Foto: dok. pribadi

    Jauh hari sebelum gelaran Piala Thomas berlangsung, persiapan terus kami lakukan dengan intensif. Salah satunya adalah merancang strategi untuk memetakan siapa lawan-lawan yang akan dihadapi hadapi baik saat tunggal pertama, tunggal kedua, dan tunggal ketiga

    Tak hanya berlatih teknik dan fisik, pelatih juga sering mengajak para pemain berbincang-bincang untuk menyusun strategi yang pas saat kejuaraan berlangsung. Pelatih memberi penjelasan, di sisi lain pemain juga berkesempatan untuk memberikan masukan-masukan buat kebaikan tim. Hal inilah yang kemudian membuat suasana tim begitu nyaman dan adem.

    Hingga tiba saat kejuaraan digelar, tim Indonesia mampu melalui babak penyisihan dengan mulus. Saat itu, tim Indonesia mampu mencukur semua lawan-lawan seperti Finlandia, China, dan Swedia dengan skor sempurna 5-0.

    Namun, yang tak bisa saya lupakan seumur hidup adalah ketika babak semifinal saat Indonesia harus menghadapi Korea Selatan. Di saat itu, saya harus turun sebagai tunggal putra pertama. Lawannya, Park Soo Woo.

    Kemenangan sempurna yang kami raih di babak penyisihan seakan membuat saya over confidence. Dukungan 15 ribu penonton yang memenuhi Istora Senayan, membuat semangat saya begitu tinggi untuk menyumbangkan angka kemenangan buat tim Indonesia.

    Celaka. Tak mudah bermain di ajang beregu. Minimnya pengalaman bermain secara beregu, menjadikan saya bermain tidak dengan strategi matang. Saat itu saya terus berambisi untuk mengambil angka dengan terus menerus melakukan smash keras. Saat penonton meneriakkan 'sikat' saya langsung melakukan smash 100 watt sekuat tenaga. Akibatnya, cukup fatal lantaran tenaga saya terkuras habis. Dan akhirnya saya harus menyerah dengan skor cukup telak.

    Beruntung, kekalahan saya tersebut tidak berimbas pada penampilan pemain-pemain lain. Indonesia akhirnya tetap melaju ke final setelah menang dengan skor 4-1 atas Korea Selatan. Dan yang membuat saya sedih, hanya saya yang kalah di fase tersebut.

    Saat itu, suasana hati saya benar-benar berantakan. Saya bingung kenapa persiapan yang sudah bagus tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Perasaan saya campur aduk antara marah, sedih dan tidak enak terutama dengan teman-teman di sektor tunggal putera lainnya.

    Di sisi lain, di babak final nanti Indonesia juga harus menantang musuh bebuyutan yakni Malaysia yang sesuai prediksi memang bakal mencapai partai puncak. Namun, bagi saya saat itu, sudah tidak ada keberanian lagi untuk menatap babak final tersebut.

    Hingga malam harinya pelatih alm Indra Gunawan dan psikolog alm Singgih Gunarsa datang ke kamar saya. Bagi saya saat itu, kehadiran mereka seakan menjadi setetes air dingin yang membasahi tanah yang gersang. Dengan nasehat-nasehatnya, mereka berdua berusaha membangkitkan lagi mental saya yang saat itu terpuruk.

    Di saat itu, pelatih juga melakukan evaluasi dengan meminta saya menonton rekaman pertandingan saya saat lawan Park Soo Woo. Dengan menunjukkan kelemahan yang harus saya benahi, pelatih juga terus memompa semangat saya untuk bisa bangkit.

    Hingga akhirnya, satu pertanyaan muncul dari pelatih, "Siap tidak jika kamu main lagi di final lawab Malaysia?" katanya.

    Dengan penuh keyakinan saya jawab "Siap!".

    Saya siap dan sanggup mengambil tantangan untuk jadi tunggal pertama dan akan menebus kesalahan dan kekalahan saya!

    Tak hanya itu, saya juga dibebani tanggung jawab cukup besar dengan turun di partai tunggal pertama. Dengan segala resiko yang sangat berat, pelatih dengan didukung psikolog memberi kepercayaan tersebut pada saya.

    Perlu diketahui, tunggal pertama di event beregu seperti Piala Thomas sangat berdampak secara mental buat tim secara keseluruhan. Kemenangan di partai pertama, dipastikan akan membangkitkan semangat tim untuk memenangi partai-partai berikutnya.

    Padahal kalau mau aman, pelatih bisa saja memasang Joko Supriyanto sehingga jika kalah bisa beralasan kalau bilang kalau itu komposisi pemain tunggal terkuat kita. Dan pelatih mau ambil resiko dengan tetap memasang saya, dan tentunya kalau saya kalah siap-siap dipecat dan menghadapi caci maki banyak orang.

    Keputusan pelatih tersebut sempat diragukan banyak pihak. Kakak saya sendiri Eddy Hartono yang tahu kabar tersebut, sempat datang dan berusaha mempengaruhi keputusan pelatih dan meminta saya tidak diturunkan. Karena di tim beregu biasanya kalau pemain yg sudah pernah kalah, normalnya tidak akan diturunkan lagi untuk memulihan kondisi mentalnya

    Saya tahu saking sayangnya kakak saya, Eddy Hartono menyarankan saya tidak dipasang karena bebannya terlalu berat dan dia takut jika saya kalah lagi akan berdampak buruk bagi mental saya di masa datang, karena perjalanan karier saya masih panjang.

    Selain itu, Icuk Sugiarto yang menjadi komentator di televisi, juga melontarkan keraguan yang sama.

    [Gambas:Youtube]

    Dalam rekaman video, Icuk merasa bingung atas keputusan pelatih yang tidak menurunkan Joko di partai pertama, tapi lebih memilih saya.

    Namun, dengan keyakinan yang cukup kuat, saya pun berusaha membuktikan kepercayaan pelatih. Dengan beban yang cukup berat untuk bisa merebut kembali Piala Thomas yang 10 tahun tidak ada digenggaman, ujian pertama pun saya lalui dengan baik.

    Puji Tuhan dengan dukungan doa semua lapisan masyarakat baik yg di Istora maupun di rumah akhirnya saya bisa menuaikan tugas dengan baik dan melibas Rasyid Sidek dua set langsung 15-6 ,15 -11

    Setelah kemenangan itu saya merasakan hal yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Badan seperti terbang dan ringan sekali. Saya tidak tahu apakah ini karena beban berat yang semula ada di pundak sudah saya selesaikan dengan baik. Yang jelas, plong benar rasanya.

    Tim menyambut kemenangan saya dengan suka cita yang meluap-luap. Saya juga ingat raut muka pelatih dan kakak saya Eddy Hartono terlihat terharu, seperti menahan tangis gembira atas kemenangan saya ini.

    Dan benar juga, langkah tim Thomas Indonesia terus berjalan dengan mudah. Indonesia akhirnya bisa menumbangkan Malaysia dengan skor 3-0 dan Bendera Merah Putih berkibar serta lagu Indonesia Raya berkumandang di Istora Senayan. Kebahagiaan juga semakin lengkap karena Piala Uber juga sukses diraih Indonesia.

    Melalui tulisan ini, saya ingin kembali mengucapkan terima kasih yang terhingga pada alm Indra Gunawan dan Prof Singgih Gunarsa, yang mampu membangkitkan mental sekaligus memberikan kepercayaan yang pada saya.

    Salam hormat saya untuk kalian berdua.

    (fem/nds)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game