Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Football Story

    Band Tukang Protes Bikin Lagu untuk Timnas Wales

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Foto: Getty Images/Stuart C. Wilson Foto: Getty Images/Stuart C. Wilson
    Jakarta - Musik dan sepakbola seringkali bersinggungan. Contoh paling mudah: Lihat bagaimana perhelatan Piala Dunia memiliki lagu tema yang berbeda-beda.

    Kita pernah mengenal "La Copa de La Vida" milik Ricky Martin pada Piala Dunia 1998, lalu "Waka Waka" yang dinyanyikan Shakira untuk Piala Dunia 2010. Rata-rata lagu yang dibuat untuk Piala Dunia biasanya berirama cepat dan penuh gegap gempita. Biasanya lagu tersebut dibuat dengan nuansa meriah untuk merepresentasikan kesan 'festive' (penuh kegembiraan) yang dibawa tiap Piala Dunia.

    Band lokal, Padi, juga pernah masuk album kompilasi untuk Piala Dunia 2002. Berbeda dengan lagu bertema sepakbola kebanyakan, yang biasanya gemerlap, lagu "Work of Heaven" milik Padi berjalan amat lambat dan sedikit bernuansa mendung. Namun, jika ditelaah liriknya, Padi ingin menggambarkan bagaimana keteguhan seseorang (pemain) kendati diterpa berbagai kendala.

    Hingga kemudian pada bagian terakhir lagu, Padi menggeber habis instrumen-instrumen mereka sehingga nuansa lagu yang tadinya amat sendu berubah menjadi lebih bergairah. Seiring dengan itu, lirik yang didendangkan Fadly Arifuddin, sang vokalis, pun menjadi lebih menggugah:

    "From this moment on I'll live
    From this moment on I'll stand
    From this moment on I'll be the best I can be."



    Di Inggris sana, kita juga mengetahui bagaimana duo pentolan Oasis, Noel dan Liam Gallagher, begitu fanatik pada Manchester City. Sementara itu, band lain dari kota Manchester, The Stone Roses, nyaris seluruh personelnya adalah penggemar fanatik Manchester United.

    Baik Oasis (baca: Noel dan Liam) maupun The Stone Roses memang tidak pernah membuat lagu untuk klub kesayangan masing-masing. Tapi, lagu "Roll with It" milik Oasis kerap diputar di Etihad Stadium. Sedangkan lagu "This is The One" milik The Stone Roses diputar sebelum para pemain memasuki lapangan Old Trafford.

    Dari Skotlandia ada Del Amitri. Pada tahun 1998, Del Amitri pernah membuat lagu berjudul "Don't Come Home Too Soon" yang ditujukan untuk tim nasional Skotlandia, yang kala itu hendak bermain di Piala Dunia 1998.

    "Don't Come Home Too Soon" terbilang unik karena, sama seperti "Work of Heaven", bukanlah lagu sepakbola yang gegap gempita. "Don't Come Home Too Soon" adalah lagu melankolis yang mewakili perasaan Del Amitri (dan juga rakyat Skotlandia) yang kerap melihat timnas-nya pulang terlalu cepat dari turnamen besar.

    Oleh karenanya, lagu tersebut dijuduli "Don't Come Home Too Soon". Kurang lebih, Del Amitri ingin berkata: "Bermainlah sebaik mungkin. Jika akhirnya kalah, ya, sudahlah... Asal jangan pulang cepat-cepat."

    [Baca Juga: Balada ala Del Amitri]



    Tahun 2016 ini, band asal Inggris Raya lainnya, Manic Street Preachers, juga membuat sebuah lagu bertema sepakbola. Seperti dikabarkan oleh The Guardian, Manic Street Preachers, akan merilis lagu berjudul "Together Stronger (C'mon Wales)" yang ditujukan untuk timnas Wales, yang akan berlaga di Piala Eropa 2016.

    Lagu yang akan dirilis pada 20 Mei 2016 itu dibuat untuk memperingati timnas Wales yang akan berlaga di turnamen mayor perdana mereka dalam 50 tahun.

    Manic Street Preachers bisa dibilang berbeda dengan kebanyakan band-band alternatif atau britpop yang se-era. Besar di awal 1990-an hingga awal 2000-an, Manic Street Preachers, adalah band yang gemar menyuarakan protes. Jika Radiohead kerap menyuarakan protes dengan analogi atau cara yang subtil, Manic Street Preachers meneriakkan protes terang-terangan.

    Dalam lagu "Motown Junk", Manic Street Preachers dengan lantang meneriakkan "I laughed when (John) Lennon got shot!". "Motown Junk" adalah teriak sinis, sekaligus kegelisahan, dari Manic Street Preachers akan hidup sebagai kelas bawah. "We live in urban hell, we destroy rock and roll," demikian tutup lagu tersebut.

    Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur personelnya, lagu-lagu bikinan Manic Street Preachers menjadi jauh lebih lembut. Dalam versi live "Motown Junk" di kemudian hari, kalimat "I laughed when (John) Lennon got shot!" pun dihilangkan sama sekali.

    Meski begitu, bukan berarti protes berhenti. Lagu "If You Tolerate This Your Children Will Be Next" dibuat oleh James Dean Bradfield dan Nicky Wire, vokalis/gitaris dan bassis mereka, berdasarkan buku "Homage to Catalonia", yang merupakan catatan pribadi penulis George Orwell ketika menjadi tentara dan hidup di tengah perang sipil yang berkecamuk di Catalunya.

    "If You Tolerate This Your Children Will Be Next" juga menunjukkan Manic Street Preachers tidak melupakan isu-isu lampau yang dianggap sudah selesai. Pada tahun 2013, Manic membuat lagu balada berjudul "Anthem for A Lost Cause". Lagu tersebut berisikan cerita soal para pekerja tambang batu bara di Inggris Raya yang terpaksa menganggur karena banyak tambang ditutup oleh pemerintah Inggris di bawah arahan Margaret Thatcher.



    Maka, jadi menarik untuk dinantikan, bagaimana band yang sedemikian marahnya justru akan membuat lagu untuk sebuah ke-gegap-gempita-an.


    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    football-story