Football Story
Welcome to The Jungle, Simone
Foto: Getty Images/Tulio M. Puglia
Roma - Kita pertama kali mengenalnya sebagai adik Filippo Inzaghi yang mencuat bersama Piacenza. Kini, kita mengenalnya sebagai pelatih SS Lazio.
Simone Inzaghi berulang tahun yang ke-40 pada hari Selasa, 5 April 2016. Kata orang, life begins at 40. Lima hari kemudian, ia melakoni debut sebagai pelatih Lazio.
Simone berusia 22 tahun ketika ia menjalani musim terakhirnya bersama Piacenza, klub kota kelahirannya. Dalam satu musim terakhirnya itu, ia mencetak 15 gol dalam 30 laga. Para penggemar Serie A pun tahu bahwa Inzaghi bukan hanya Filippo saja, yang namanya melambung usai menjadi bomber haus gol bersama Atalanta.
Jika sang kakak langsung digaet Juventus setelah tampil apik bersama Atalanta, Simone digaet oleh Lazio. Ia datang ketika Lazio sedang dilanda kegalauan.
Pada musim sebelumnya, tepat di hari terakhir, tim berlambang burung elang itu harus menerima kenyataan gelar juara Serie A terbang ke tangan AC Milan.
Untuk menjadi juara, Lazio wajib menang atas Parma sembari mengharapkan Milan dijegal oleh Perugia. Marcelo Salas membawa Lazio unggul lebih dulu di menit ke-27, sebelum Parma menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat gol Paolo Vanoli di menit ke-54.
Gli Aquilotti bisa sedikit bernapas lega ketika Salas mencetak gol keduanya di menit ke-76 dan membawa Lazio unggul 2-1. Namun, Lazio belum bisa lega sepenuhnya. Di pertandingan lainnya, Milan juga sedang unggul 2-1 atas Perugia, di mana dua gol dari Andres Guglielminpietro dan Oliver Bierhoff hanya bisa dibalas oleh penalti Hidetoshi Nakata.
Pertandingan Lazio berakhir lebih dulu. Aura cemas pun menyeruak di seantero Olimpico. Pelatih Lazio ketika itu, Sven Goran Eriksson, hanya bisa menyeka dahinya. Boleh jadi karena cuaca gerah, boleh jadi karena tensi di sekelilingnya sedang naik.
Kabar buruk kemudian datang: Milan berhasil mempertahankan keunggulan. Dengan begitu, Rossoneri tetap memimpin klasemen dengan nilai 70, sementara Lazio harus puas mengakhiri musim di posisi kedua dengan nilai 69. Milan keluar sebagai juara.
Sesungguhnya, musim itu bukanlah musim yang kelewat jelek untuk Lazio. Kendati pun gagal menjadi juara Serie A, Lazio masih bisa merengkuh gelar juara Piala Super Italia dan Piala Winners. Namun, presiden Lazio waktu itu, Sergio Cragnotti, kecewa bukan main.
Cragnotti sampai sakit gara-gara memikirkan kegagalan Lazio menjadi juara liga. Ia sudah menggelontorkan banyak uang, terutama untuk membeli Christian Vieri dari Atletico Madrid --yang waktu itu dibeli dengan harga 16 juta poundsterling.
Vieri adalah seorang journeyman. Ia jarang tinggal di satu klub lebih dari satu musim. Tepat setelah musim berakhir, tawaran sebesar 30 juta pounds datang dari Inter untuknya.
Dengan sejarah Vieri sebagai petualang plus kegagalan Lazio menjuarai Serie A, Cragnotti sadar bahwa dirinya sulit menahan bomber timnas Italia itu. Cragnotti akhirnya menerima pinangan Inter untuk Vieri dan uangnya ia gunakan untuk membeli Simone, Juan Sebastian Veron, serta Diego Simeone.
Siapa sangka, kemalangan di hari terakhir musim 1998/1999 itu menjadi berkah di kemudian hari. Kedatangan Simone, Veron, dan juga Simeone melengkapi skuat Lazio. Di akhir musim 1999/2000, mereka keluar sebagai juara Serie A dan Coppa Italia.
Simone mencetak 19 gol dalam total 39 pertandingan di musim perdananya bersama Lazio. Di lima musim berikutnya setelah musim itu, ia tidak pernah lagi mencapai jumlah gol serupa. Kendati begitu, Lazio adalah takdir buat Simone.
Selepas bergonta-ganti klub dan pensiun bermain, Simone kembali bersama Lazio dan didapuk untuk menjadi pelatih tim Primavera. Setelah dinilai oke menangani tim Primavera, Simone pun ditunjuk menjadi caretaker Lazio menggantikan Stefano Pioli yang dipecat pada 4 April silam.
Lagi-lagi, jalan Simone mirip dengan kakaknya. Filippo juga begitu. Ia dinilai oke ketika membesut tim Primavera Milan hingga akhirnya dipromosikan menjadi pelatih tim utama.
Filippo mengawali pekerjaannya di Milan dengan baik. Empat kemenangan dan hanya satu kali kalah dalam tujuh pertandingan pertama di Serie A bukanlah catatan buruk, terlebih Milan mengawalinya dengan dua kemenangan beruntun.
Semuanya tampak cerah untuk Filippo. Kegemarannya bermain ofensif dan formasi 4-3-3 miliknya berjalan mulus. Sampai kemudian Milan seret kemenangan. Dari pekan kedelapan hingga pekan ke-27, mereka hanya mampu meraih empat kemenangan. Posisi Filippo goyang, dan akhirnya dipecat di akhir musim.
Apa yang terjadi dengan Filippo sepatutnya memberikan gambaran pada Simone betapa kejamnya belantara kepelatihan. Apalagi di Serie A, di mana hasil adalah segala-galanya. Namun, Simone tidak gentar. Usai pertandingan pertamanya, ia mengaku bermimpi untuk tetap menjadi pelatih Lazio musim depan.
Simone mengawali dengan baik semalam. Lazio menang 3-0 atas Palermo. Kendati bermain bagus, ia tetap merendah dan mengatakan bahwa dirinya sedikit dinaungi keberuntungan.
"Saya beruntung. Saya bertanding melawan (Walter) Novellino, yang dulunya adalah pelatih saya di Sampdoria. Saya paham betul caranya mempersiapkan tim untuk pertandingan," ujarnya kepada La Gazzetta dello Sport.
Munculnya Simone sebagai pelatih, tentunya, juga menjaga tradisi di tanah Italia, di mana banyak eks pemainnya begitu bersemangat untuk terjun ke dunia kepelatihan. Sebelum ini, kita sudah melihat bagaimana mereka yang pernah bermain di zaman yang sama dengan Simone, seperti Antonio Conte, Vincenzo Montella, Eusebio di Francesco, hingga Filippo sendiri terjun ke dunia kepelatihan. Ini sungguh berbeda dengan Inggris, yang mantan pemainnya lebih banyak menjadi pundit.
Baik Conte, Montella, hingga Filippo punya nasib yang berbeda. Conte sukses besar bersama Juventus, sementara yang lainnya naik-turun. Bagaimana dengan Simone? Yah, biarkanlah dia menentukan jalannya sendiri.
(roz/fem)
Simone Inzaghi berulang tahun yang ke-40 pada hari Selasa, 5 April 2016. Kata orang, life begins at 40. Lima hari kemudian, ia melakoni debut sebagai pelatih Lazio.
Simone berusia 22 tahun ketika ia menjalani musim terakhirnya bersama Piacenza, klub kota kelahirannya. Dalam satu musim terakhirnya itu, ia mencetak 15 gol dalam 30 laga. Para penggemar Serie A pun tahu bahwa Inzaghi bukan hanya Filippo saja, yang namanya melambung usai menjadi bomber haus gol bersama Atalanta.
Jika sang kakak langsung digaet Juventus setelah tampil apik bersama Atalanta, Simone digaet oleh Lazio. Ia datang ketika Lazio sedang dilanda kegalauan.
Pada musim sebelumnya, tepat di hari terakhir, tim berlambang burung elang itu harus menerima kenyataan gelar juara Serie A terbang ke tangan AC Milan.
Untuk menjadi juara, Lazio wajib menang atas Parma sembari mengharapkan Milan dijegal oleh Perugia. Marcelo Salas membawa Lazio unggul lebih dulu di menit ke-27, sebelum Parma menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat gol Paolo Vanoli di menit ke-54.
Gli Aquilotti bisa sedikit bernapas lega ketika Salas mencetak gol keduanya di menit ke-76 dan membawa Lazio unggul 2-1. Namun, Lazio belum bisa lega sepenuhnya. Di pertandingan lainnya, Milan juga sedang unggul 2-1 atas Perugia, di mana dua gol dari Andres Guglielminpietro dan Oliver Bierhoff hanya bisa dibalas oleh penalti Hidetoshi Nakata.
Pertandingan Lazio berakhir lebih dulu. Aura cemas pun menyeruak di seantero Olimpico. Pelatih Lazio ketika itu, Sven Goran Eriksson, hanya bisa menyeka dahinya. Boleh jadi karena cuaca gerah, boleh jadi karena tensi di sekelilingnya sedang naik.
![]() |
Kabar buruk kemudian datang: Milan berhasil mempertahankan keunggulan. Dengan begitu, Rossoneri tetap memimpin klasemen dengan nilai 70, sementara Lazio harus puas mengakhiri musim di posisi kedua dengan nilai 69. Milan keluar sebagai juara.
Sesungguhnya, musim itu bukanlah musim yang kelewat jelek untuk Lazio. Kendati pun gagal menjadi juara Serie A, Lazio masih bisa merengkuh gelar juara Piala Super Italia dan Piala Winners. Namun, presiden Lazio waktu itu, Sergio Cragnotti, kecewa bukan main.
Cragnotti sampai sakit gara-gara memikirkan kegagalan Lazio menjadi juara liga. Ia sudah menggelontorkan banyak uang, terutama untuk membeli Christian Vieri dari Atletico Madrid --yang waktu itu dibeli dengan harga 16 juta poundsterling.
Vieri adalah seorang journeyman. Ia jarang tinggal di satu klub lebih dari satu musim. Tepat setelah musim berakhir, tawaran sebesar 30 juta pounds datang dari Inter untuknya.
Dengan sejarah Vieri sebagai petualang plus kegagalan Lazio menjuarai Serie A, Cragnotti sadar bahwa dirinya sulit menahan bomber timnas Italia itu. Cragnotti akhirnya menerima pinangan Inter untuk Vieri dan uangnya ia gunakan untuk membeli Simone, Juan Sebastian Veron, serta Diego Simeone.
Siapa sangka, kemalangan di hari terakhir musim 1998/1999 itu menjadi berkah di kemudian hari. Kedatangan Simone, Veron, dan juga Simeone melengkapi skuat Lazio. Di akhir musim 1999/2000, mereka keluar sebagai juara Serie A dan Coppa Italia.
![]() |
Simone mencetak 19 gol dalam total 39 pertandingan di musim perdananya bersama Lazio. Di lima musim berikutnya setelah musim itu, ia tidak pernah lagi mencapai jumlah gol serupa. Kendati begitu, Lazio adalah takdir buat Simone.
Selepas bergonta-ganti klub dan pensiun bermain, Simone kembali bersama Lazio dan didapuk untuk menjadi pelatih tim Primavera. Setelah dinilai oke menangani tim Primavera, Simone pun ditunjuk menjadi caretaker Lazio menggantikan Stefano Pioli yang dipecat pada 4 April silam.
Lagi-lagi, jalan Simone mirip dengan kakaknya. Filippo juga begitu. Ia dinilai oke ketika membesut tim Primavera Milan hingga akhirnya dipromosikan menjadi pelatih tim utama.
Filippo mengawali pekerjaannya di Milan dengan baik. Empat kemenangan dan hanya satu kali kalah dalam tujuh pertandingan pertama di Serie A bukanlah catatan buruk, terlebih Milan mengawalinya dengan dua kemenangan beruntun.
Semuanya tampak cerah untuk Filippo. Kegemarannya bermain ofensif dan formasi 4-3-3 miliknya berjalan mulus. Sampai kemudian Milan seret kemenangan. Dari pekan kedelapan hingga pekan ke-27, mereka hanya mampu meraih empat kemenangan. Posisi Filippo goyang, dan akhirnya dipecat di akhir musim.
Apa yang terjadi dengan Filippo sepatutnya memberikan gambaran pada Simone betapa kejamnya belantara kepelatihan. Apalagi di Serie A, di mana hasil adalah segala-galanya. Namun, Simone tidak gentar. Usai pertandingan pertamanya, ia mengaku bermimpi untuk tetap menjadi pelatih Lazio musim depan.
Simone mengawali dengan baik semalam. Lazio menang 3-0 atas Palermo. Kendati bermain bagus, ia tetap merendah dan mengatakan bahwa dirinya sedikit dinaungi keberuntungan.
"Saya beruntung. Saya bertanding melawan (Walter) Novellino, yang dulunya adalah pelatih saya di Sampdoria. Saya paham betul caranya mempersiapkan tim untuk pertandingan," ujarnya kepada La Gazzetta dello Sport.
Munculnya Simone sebagai pelatih, tentunya, juga menjaga tradisi di tanah Italia, di mana banyak eks pemainnya begitu bersemangat untuk terjun ke dunia kepelatihan. Sebelum ini, kita sudah melihat bagaimana mereka yang pernah bermain di zaman yang sama dengan Simone, seperti Antonio Conte, Vincenzo Montella, Eusebio di Francesco, hingga Filippo sendiri terjun ke dunia kepelatihan. Ini sungguh berbeda dengan Inggris, yang mantan pemainnya lebih banyak menjadi pundit.
Baik Conte, Montella, hingga Filippo punya nasib yang berbeda. Conte sukses besar bersama Juventus, sementara yang lainnya naik-turun. Bagaimana dengan Simone? Yah, biarkanlah dia menentukan jalannya sendiri.
(roz/fem)









