Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Football Story

    Materazzi, Rui Costa, dan Asap yang Mengepul di San Siro

    Doni Wahyudi - detikSport
    Rui Costa dan Marco Materazzi (REUTERS/Stefano Rellandini) Rui Costa dan Marco Materazzi (REUTERS/Stefano Rellandini)
    Jakarta - Marco Materazzi menyandangkan lengannya ke bahu Rui Costa, menatap kepulan asap pekat di San Siro. Mereka (bisa jadi) lupa tengah menjalani salah satu derby paling sengit di dunia.

    Beberapa situs olahraga dunia menempatkan foto di atas sebagai salah satu foto paling ikonik sepanjang sejarah sepakbola. Bersanding bersama, di antaranya, tangan tuhan Diego Maradona, perayaan Pele saat jadi juara dunia 1970, atau pose Nelson Mandela bersama trofi Piala Dunia.

    Sebenarnya ada beberapa rangkaian seri foto Rui Costa dan Materazzi dari momen yang sama. Namun foto di atas, yang menunjukkan keakraban serta selayaknya persahabatan antara kedua pemain, dianggap meninggalkan kesan paling dalam.

    [Gambas:Sportradar]

    San Siro Malam Itu

    San Siro malam itu (13/4/2005) memanggungkan Derby Della Madoninna dengan Inter menjadi tuan rumah. Duel itu merupakan leg kedua babak perempatfinal Liga Champions musim 2004/2005.

    Milan datang bertamu dengan keunggulan 2-0. Di leg pertama, skuat besutan Carlo Ancelotti menundukkan anak didik Roberto Mancini dengan skor 2-0 berkat gol yang dilesakkan Jaap Stam (45+1) dan Andriy Shevchenko (73). Keunggulan dua gol kandang membuat Rossoneri bertamu saudara sekotanya dengan kepercayaan diri tinggi.

    Dipimpin wasit Markus Merk, pertandingan sudah berjalan panas sejak awal. Di 11 menit pertama Merk sudah mengeluarkan tiga kartu kuning untuk pemain kedua tim: Kily Gonzalez, Massimo Ambrossini, dan Ivan Cordoba.

    Setelah itu Milan punya kesempatan memperbesar keunggulan agregat saat tendangan bebas Andrea Pirlo tipis melenceng dari sasaran. Inter membalas melalui tendangan keras Juan Sebastian Veron yang dengan sudah payah diblok Nelson Dida.

    Di menit 30 Milan membungkam pendukung tuan rumah. Dari tepi kotak penalti, Shevchenko melepaskan tendangan melengkung terarah dengan kaki kirinya. Francesco Toldo mencoba merentangkan tubuh dan tangannya sejauh mungkin, tapi itu tak cukup menghindarkan bola dari masuk ke gawang. Milan unggul 1-0 (agregat 3-0).

    Mancini melakukan tiga pergantian di enam menit pertama babak kedua. Sinisa Mihajlovic masuk untuk Javier Zanetti, Cruz menggantikan Kily Gonzalez, dan Adriano digantikan Obafemi Martins. Tertinggal 0-1 di kandang, Inter wajib bikin empat gol untuk membalikkan keadaan.

    Upaya Inter membuat gol baru berhasil di menit 70 melalui Cambiasso. Tapi wasit membatalkan gol tersebut karena sang gelandang dianggap melakukan dorongan terhadap pemain Milan sebelum. Memprotes wasit dengan keras, Cambiasso akhirnya dapat kartu.

    Momen tersebut menyulut kemarahan suporter Inter. Flare mulai dinyalakan di tribun penonton, botol-botol plastik berterbangan ke dalam lapangan, termasuk payung. Benda-benda tersebut dilempar pendukung Inter yang berada tepat di belakang gawang Milan.

    Salah satu flare tersebut mengenai bahu Dida, membuatnya cedera dan harus diganti Cristian Abbiatti. Kekacauan itu memaksa wasit Merk menghentikan pertandingan, di saat bersamaan lemparan flare dan benda-benda asing lain tidak berhenti.

    Materazzi, Rui Costa, dan Asap yang Mengepul di San SiroFoto: Mike Hewitt/Getty Images


    Dari periode jeda itulah lahir momen romantik antara Materazzi dan Rui Costa. Menunggu apapun nantinya keputusan wasit, kedua pemain menikmati pemandangan yang sungguh tak umum tersaji di depannya.

    Banyak flare dilempar hingga ke tengah lapangan. Pemadam kebakaran pun harus masuk lapangan mencoba memadamkan sekaligus mengamankan flare yang berserakan.

    Inter Kalah, Tersingkir, dan Dihukum

    Merk kemudian memutuskan kalau pertandingan benar-benar dihentikan. UEFA lantas menganggap Inter bersalah atas serangkaian persitiwa tersebut dan dinyatakan kalah 0-3.

    "Saya benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi dan menyebabkan pertandingan berakhir. Saya tidak akan menyalahkan pemain dan saya tidak mau berkomentar soal suporter," ucap Mancini usai pertandingan pada situs resmi UEFA.

    Sehari setelah insiden di San Siro, Inter dijatuhi hukuman berat dari UEFA. Inter diharuskan menjalani enam pertandingan kandang di kompetisi Eropa tanpa penonton, di mana dua laga di antaranya merupakan hukuman ujicoba jika mengulang kesalahan yang sama dalam periode tiga tahun. UEFA juga menjatuhkan denda 132.000 pound sterling.

    Meski dapat hukuman berat, banyak yang menilai sanksi untuk Inter sebenarnya tergolong ringan. Sebabnya empat tahun sebelumnya Inter juga terlibat masalah dengan fans saat menjamu Alaves pada ajang Piala UEFA. Ketika itu Inter didenda 35.000 poundsterling dan larangan bermain di kandang untuk kompetisi Eropa.

    Di sisi lain, Milan akhirnya berhasil melangkah sampai ke final. Namun kemudian kalah dramatis dari Liverpool.




    (din/mrp)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    football-story