Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Classic Game

    Final Piala Dunia 1958: Swedia vs Brasil

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images Getty Images
    - -

    Jika Piala Dunia 1954 akan dikenang [salah satunya] berkat kehadiran salah satu tim terbaik sepanjang sejarah sepakbola, tim nasional Hongaria, Piala Dunia 1958 bisa dipandang sebagai awal dimulainya dominasi Brasil di kancah sepakbola dunia -- sampai hari ini.

    Brasil pada 1958 memang bukan anak gawang, tapi jelas bukan [atau belum] kekuatan superior. Pada 1950, Brasil sudah berhasil menembus final Piala Dunia sebelum dikalahkan secara tragis oleh Uruguay di kandangnya sendiri di Stadion Maracana. Berikutnya, saat Piala Dunia 1954 digelar di Swiss, Brasil kandas lebih dini di perempatfinal oleh The Greatest Hongaria dengan skor telak 2-4.

    Di Piala Dunia yang digelar di Swedia kali inilah Brasil akhirnya mulai menancapkan kuku dominasinya. Mereka datang dengan skuad yang kekuatannya amat lengkap. Mereka bukan hanya diperkuat oleh pemain muda yang baru berusia 17 tahun kelak akan mengguncang dunia, Pele, tapi juga diperkuat si flamboyan nan hedonis Garrincha, Mario Zagallo, sampai pengatur serangan brilian pada sosok Didi.

    Skuad inilah yang membuat banyak orang, termasuk maestro Brazil lain yang sedihnya gagal meraih gelar Piala Dunia, Zico, sampai menyebutnya sebagai kesebelasan terbaik sepanjang masa. Kelemahan barangkali hanya terletak di pertahanan mereka yang masih belum bisa mengimbangi "nafsu" menyerang kesebelasan yang kali ini dibesut Vincente Veola.

    Di sisi lain, tuan rumah Swedia juga bukan sekadar tuan rumah. Mereka juga turun dengan skuad yang kualitasnya mungkin hanya(sekali lagi "hanya"]) bisa didekati oleh skuad mereka di Piala Dunia 1994. Mereka sayangnya tidak diperkuat oleh Gunnar Nordahl, satu dari trio Gre-No-Li yang berkibar di Italia bersama AC Milan. Gre-No-Li adalah akronim untuk Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm.

    Milan mulanya hanya mendatangkan Nordhal pada musim 1948. Musim berikutnya, datang Gren dan Liedholm. Saat itu, banyak klub Eropa yang memalingkan perhatiannya pada Negara-negara Skandinavia. Maklum, wilayah Skandinavia ini praktis tidak ikut-ikutan hancur oleh Perang Dunia II. Karena itulah di sana infrastruktur, kompetisi dan pembinaan pemain bisa berjalan normal. Sayang sekali, Nordahl yang merupakan top skorer Olimpiade 1948 itu memutuskan untuk tidak lagi memperkuat Swedia.

    Jangan lupa, Swedia adalah peraih medali emas sepakbola di Olimpiade 1948. Itulah ajang akbar sepakbola level dunia yang pertama kali digelar lagi setelah dua Piala Dunia (1942 dan 1946) harus dibatalkan karena Perang Dunia II.

    Dengan Hongaria yang sudah rontok kekuatannya, praktis laga final tuan rumah Swedia dan Brasil memang menjadi final impian. Ya, Hongaria memang sudah tak bisa diharapkan. Mayoritas anggota kesebelasan Hongaria yang memukau di Piala Dunia 1954 sudah hengkang dan pindah kewarganegaraan. Hanya tiga pemain utama di Piala Dunia 1954 yang masih bermain, yaitu Gyula Grosics, Jozsef Bozsik and Nandor Hidegkuti, tandem Ferenc Puskas yang saat itu sudah hijrah ke Spanyol.

    Road to the Final

    Tuan rumah Swedia sampai ke final dengan capaian yang meyakinkan: memenangkan 4 laga dan hanya sekali seri. Di babak grup, mereka mengalahkan Mexico (3-0), menumbangkan Hungaria (2-1])dan ditahan seri oleh Wales (1-1) di laga terakhir babak grup yang sudah tidak menentukan lagi karena mereka sudah memastikan lolos.

    Di babak perempat-final dan semifinal, langkah Swedia malah jauh lebih meyakinkan. Di perempatfinal, mereka menyingkirkan Uni Soviet yang beberapa pemainnya pada 2 tahun sebelumnya di Olimpiade Melbourne berhasil meraih medali emas. Kedigdayaan kiper legendaries, Lev Yashin, yang juga ikut di Olimpiade Melbourne, tak sanggup menahan 2 gol Swedia yang dicetak Hammrin dan Simmonson.

    Di semfinal, langkah Swedia bahkan tak bisa dihentikan oleh juara bertahan Jerman Barat yang diperkuat Ewe Seeler dan beberapa veteran saat mereka menjuarai Piala Dunia 1954, termasuk Helmut Rahn yang mencetak gol di final 1954. Swedia dengan meyakinkan menumbangkan Jerman Barat dengan skor 2-0 lewat gol yang dicetak Liedhom dan Simmonson.

    Brasil tak kalah meyakinkan. Di babak grup, mereka hanya gagal meraih nilai sempurna saat ditahan imbang oleh Inggris dengan skor 0-0. Laga babak grup lainnya mereka sapu bersih, dengan mengandaskan Austria 3-0 dan Uni Soviet 2-0.

    Di babak perempatfinal, Brasil mengalahkan Wales dengan skor tipis 1-0. Itu bukan hanya menjadi laga terakhir Wales di Piala Dunia -- sejak saat itu, Wales belum pernah lagi lolos ke Piala Dunia --, tapi menjadi laga pertama di mana Pele yang masih berusia 17 tahun untuk pertama kalinya mencatatkan namanya di papan skor Piala Dunia.

    Di semifinal, Pele melanjutkan kesuksesannya. Berkat 2 gol yang dicetak Pele, dan 2 gol lain yang masing-masing dicetak Mario Zagallo dan Vava, Brasil pun sukses melaju ke laga puncak dengan mengalahkan Prancis yang hanya bisa membalas lewat 2 gol yang dicetak duet penyerangnya, Just Fontaine dan Roger Piantoni. Perlu dicatat, gol Fontaine ke gawang Brazil adalah golnya yang ke 8 di turnamen tersebut. Di perebutan tempat ketiga, Fontaine mencetak 4 gol dan sukses mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam sejarah Piala Dunia dengan 13 gol.

    Dengan catatan seperti itu, maka laga puncak Piala Dunia 1958 menemukan bentuk idealnya: mempertemukan dua tim yang sejak babak grup memeperlihatkan performa sangat menjanjikan.

    Match Analysis

    Susunan pemain

    Swedia: Svenson [GK], Bergmark, Axbom, Liedhom, Parling, Hamrin, Gren, Simmonson, Skoglund,Gustavsson, Borjesson

    Brasil: Gilmar [GK], Bellini, Djalma Santos, Didi, Zagallo, Pele, Garrincha, Nilton Santos, Orlando, Zito, Vava.

    Pencetak gol: Liedholm [menit 4], Vava [9], Vava [32], Pele [55], Zagallo [68], Simmunson [80], Pele [90].


    Vicente Feola yang mengandalkan skema 4-2-4 mengandalkan kekuatan di kedua sayapnya pada sosok Mario Zagallo di kiri dan Garrincha di sisi kanan, tentunya dengan bantuan fullback di belakang mereka. Formasi dasar yang mereka gunakan seperti di laga-laga sebelumnya 4-2-4. Jantung permainan diserahkan pada duet Zito dan terutama Didi sebagai pengatur serangan. Penyerang berpengalaman, Vava, berduet dengan Pele.

    Sementara Swedia turun dengan formasi 3-2-5 dengan variasi 3-2-2-3 [atau formasi WM]. Dalam formasi dasar itu, Raynor mengandalkan duet Nils Liedhom dan Gunnar Gren yang sudah menua tapi masih cemerlang [keduanya berusia 36 dan 38 tahun] sebagai duet di belakang penyerang tengah Agne Simmenson. Liedhom dan Gren bermain sebagai inner [kiri dalam/left inside dan kanan dalam/right inside]. Di barisan tukang gedor, Raynor mengandalkan penyerang Agne Simmonson dan winger kanan Kurt Hamrin. Duet Simmonson dan Hamrin di sepanjang turnamen ini total mencetak 8 gol.

    Raynor mengembalikan posisi Liedhom sebagai pengatur serangan. Di laga semifinal, guna mengantisipasi Soviet yang diduga akan mengunci Liedhom, Reynor menukar posisinya dengan Gren. Ketika itu Gren yang difungsikan sebagai pengatur serangan, sementara Liedhom lebih didorong ke dalam.

    Bermain di hadapan 50 ribu penonton yang hadir di Stadion Rasunda, Raynor memenuhi ucapan yang dilontarkannya sebelumnya pertandingan. Saat itu, Raynor berkata bahwa timnya akan mencetak gol dengan cepat. Dia berasumsi, jika Swedia berhasil mencetak gol dengan cepat, kemungkinan Brasil akan panik dan bermain dengan tergesa-gesa.

    Ucapan itu dipenuhi Liedholm. Pada menit keempat, bermula dari pergerakan Simmonson yang berhasil membawa bola di sisi kanan pertahanan Brasil, Liedholm yang datang dari tengah menerima bola di luar kotak penalti. Dengan brilian dia mengecoh dua center-back Brazil, Bellini dan Orlando, sebelum menceploskan bola ke tiang jauh gawang yang dijaga Gilmar. Gol itu menunjukkan betapa berkelasnya Liedholm yang saat itu sudah berusia 36 tahun, sekaligus menjelaskan satu-satunya kerapuhan di skuad Brasil 1958 memang ada di jantung pertahanan.

    Raynor memenuhi ucapannya, tapi hanya sebagian yang terbukti. Swedia memang mencetak gol secara dini, tapi Brasil -- tak seperti yang diduga Raynor sebelumnya-- malah memulai pertandingan dengan berkelas justru setelah gol Liedholm itu.

    Dikomandani oleh jenderal lapangan tengahnya, Didi, Brasil terbukti tak panik seperti yang dibayangkan Raynor. Setelah Liedholm mencetak gol, Didi sendiri yang membawa bola ke titik tengah. Dengan bola didekapnya di ketiak, Didi berjalan ke tengah lapangan sambil memberi isyarat pada rekan-rekannya agar tetap tenang.

    Raynor melupakan faktor Didi.

    Pertarungan di Flank

    Vicente Feola mempercayakan posisi sayap kanan kepada kepada Garrincha dan sayap kiri kepada Mario Zagallo. Terbukti di sepanjang pertandingan, dua pemain sayap Brasil ini berkali-kali berhasil mengeksploitasi pertahanan 3 bek swedia. Tentunya pergerakan mereka dibantu oleh dua fullback Nilton Santos dan Djalma Santos.



    Bagaimana dengan swedia? Posisi outside right [sayap kanan atau kanan luar] yang ditempati Kurt Hamrin dan out side left [sayap kiri/kiri luar] oleh Skoglund mendominasi serangan yang dilakukan swedia. Dengan dukungan Gunar Gren dan Niels Liedholm, pergerakan mereka lumayan merepotkan baris pertahanan Brasil.

    Tapi Brasil tak tertahankan dalam pertarungan di sisi lapangan ini, terutama melalui si flamboyan nan hedonis, Garrincha.

    Pada menit 9, Garrincha membawa petaka bagi Swedia. Dengan drible bola yang maut, dia berhasil menyisir sisi kanan Swedia dan lantas mengirim umpan silang ke kotak penalti menuju Vava yang sudah menunggu di depan gawang. Gol. 1-1. Pada menit 32, Garrincha yang lagi-lagi mengawali terjadinya gol. Membawa bola di sisi kanan, dia berhasil mengirim umpan ke dalam kotak yang kembali dituntaskan Vava. Gol. 1-2.

    Kelebihan lain dari Brasil adalah peran Mario Zagallo di sisi kiri. Dia bukan hanya mencetak gol keempat, tapi dia mengimbangi agresifitas Garrincha di sisi kanan dengan rajin membantu Didi dan Zito di lini tengah. Ini membuat sisi sayap Brasil punya dimensi yang berbeda. Saat Brazil diserang, Zagallo satu-satunya kuartet penyerangan yang mau turun ke bawah.

    Zagallo inilah yang memungkinkan Brasil mengubah formasi dari 4-2-4 saat menyerang menjadi 4-3-3 saat diserang. Kelak, saat menjuarai Piala Dunia 1962, Brasil cenderung turun dengan formasi dasar 4-3-3, dan lagi-lagi itu dimungkinkan berkat karakteristik Zagallo.

    Trio Bek dan Lini Serang Swedia

    Keberanian George Raynor hanya memasang 3 bek dibantu 2 half back [gelandang tengah] menjadi buah masalah setelah 15-20 menit pertandingan berjalan. Menempatkan Borjesson sebagai center back, dia terlihat kelabakan harus mengawal pergerakan Vava dan Pele. Sedangkan posisi bek kanan dan kiri yang diisi Bergmark dan Axbom selain harus membantu Borjesson mereka harus menjaga daerah mereka dari serangan Brazil lewat Zagallo dan Garrincha.

    Yang jadi masalah ketika dalam posisi bertahan, ternyata Swedia seperti defisit pemain dalam melawan eksploitasi serangan Brasil. Di saat Axbom harus menjaga baik Garrincha , Pele/Vava dalam satu waktu dan juga Bergmark menjaga Zagallo Vava/Pele. Itu terjadi karena Vava-Pele sebagai duet penyerang juga rajin bergerak ke sayap. Di sinilah terlihat keunggulan formasi 4-2-4 saat menghadapi formasi 3-2-2-3 atau 3-2-5.

    Sementara saat menyerang, mereka sebenarnya punya lima pemain yang siap merengsek pertahanan lawan. Belum lagi mereka juga ditopang oleh dua full-back Gustavsson dan Parling. Saat menyerang, di atas kertas, mereka unggul jumlah pemain 5 vs 4. Namun yang jadi masalah, jarak yang terlampau jauh antara 2 half back mereka yang sibuk ikut bertahan menahan laju serangan 2 pemain tengah brazil, Zito dan Didi.

    Inilah yang akhirnya membuat keunggulan jumlah pemain 5 vs 4 praktiknya berubah menjadi 3 vs 4, karena duet Liedholm dan Gren sebagai pemain inner [kanan dalam dan kiri dalam] sering harus bergerak ke dalam. Malah Gren dan Liedholm lebih banyak membantu Hamrin dan Skoglund di sayap. Praktis, hanya penyerang tengah Simonsson saja yang sendirian di depan.

    Pele dan Garrincha

    Sampai beberapa menit setelah gol penyama kedudukan dari Vava, Swedia masih terlihat menjanjikan. Mereka masih sangat agresif, terutama karena Liedholm dan Gren masih leluasa memberikan sokongan yang memadai kepada Simmunson. Namun setelah 15 menit, justru Brasil memperlihatkan performa gemilang yang sudah mereka perlihatkan saat menghancurkan Perancis di semi-final.

    Dominasi serangan Brasil banyak berasal dari Garrincha. Bahkan dia berani masuk sampai ke kotak pinalti untuk melakukan crossing atau tembakan langsung ke gawang. Garrincha ini menjadi pembeda penting dari cara menyerang kedua tim. Melalui Garrincha, Brasil punya opsi menyerang yang tak terduga. Skill Garrincha suka diantisipasi Raynor karena murni sepenuhnya inisiatif individual dan tak mempedulikan taktik.

    Jika melihat chalkboard di atas, terlihat bagaimana dominannya Garrincha. Dia sangat mendominasi di final-third. Dia membawa bola sampai ujung lapangan, dia kadang langsung menusuk ke dalam kotak penalti, dia mengirim crossing dan dia juga berupaya mencetak gol dengan tendangan-tendangan langsung ke gawang.

    Brasil Menahan Serangan Swedia

    Kuartet belakang Nilton Santos-Bellini-Orlando-Djalma Santos dalam final ini terhitung sukses menahan serangan yang dilakuan 5 pemain Swedia. Mengisolasi inside/outside left and right swedia dan membiarkan Simonsson sendirian di depan membuat skema George Raynor tidak berjalan baik.

    Gunnar Gren dan Nills Liedholm di posisi inside left dan right hanya terisolasi di depan kotak pinalti lawan. Tercatat, sepanjang pertandingan, duet ini hanya mampu memberi satu umpan sukses ke dalam kotak penalti. Umpan itu berasal dari Gunnar Gren dan menjadi assist atas gol kedua Swedia yang dicetak oleh Simonsson di babak ke 2.

    Liedhom dan Gren bekerja keras memasok bola sebanyak mungkin pada Simmonson, tapi mereka tak bisa beruat banyak. Banyak sekali umpan kedua pemain ini yang diblok atau di-intercept Bellini dan Orlando. Usaha lainnya memberi umpan ke kanan atau kiri luar yang ditempati Harmin dan Skoglund juga terhambat kinerja dua full-back Brasil [Nilton dan Djalma Santos] yang menampilkan performa sangat baik.

    Kedua pemain itu bahkan sangat rajin membantu penyerangan. Nilton bahkan mencatatkan namanya dalam proses salah satu gol terindah sepanjang masa yang dicetak Pele di menit 55. Dengan cantik, Nilton mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti. Pele menerima umpan dengan dada, lantas mencip bola melewati kepala Sigge Perling dan lantas melakukan tendangan voli sebelum bola menyentuh tanah. Gol. 3-1.

    Kesimpulan

    Pertarungan 2 skema 3-2-5 dan 4-2-4 antara George Raynor dan Vicente Feola mutlak dimenangkan Vicente Feola.

    Keunggulan flank Brasil mengeksploitasi pertahanan Swedia lewat Mario Zagallo dan Garincha melawan 3 bek Swedia terlihat jelas pada chalkboard. Dominasi dribble dan attempt yang dilakukan oleh Garrincha dari sisi kiri sukses menghadirkan 2 assist.

    Begitu juga Zagallo, meski tidak seagresif Garrincha, dia sukses membuat sebuah assist lewat umpan silang untuk gol terakhir Pele sekaligus mencetak satu gol dalam pertandingan ini. Praktis, empat dari lima gol Brasil berasal dari umpan dari sisi lapangan. Menilik gol Brasil keempat yang dicetak Zagallo juga dimulai dari tendangan pojok, maka bahkan bisa dikatakan semua gol Brasil saat itu berasal dari serangan yang dimulai dari sisi lapangan.



    Inilah awal dari dominasi Brasil dalam pentas sepakbola dunia. Dan Brasil melakukannya dengan cara yang brilian dan -- ini yang mungkin tidak terlalu menonjol pada generasi berikutnya -- serangan yang berporos dari kedua sisi lapangan.



    ==

    * Penulis: M. Fajar Hari. Akun twitter: @el__piji


    (a2s/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game