Liga Italia: Napoli 1-1 Juventus
I Partenopei Mengejar Bianconeri
Terpaut enam angka dari pemimpin klasemen, lewat pertandingan ini Napoli coba memperkecil jarak dengan Juventus dan menjaga peluang juara tetap ada.
Selama lima tahun terakhir, setelah terpuruk karena masalah finansial, Napoli jadi tim yang menunjukkan perkembangan pesat secara gradual. Setiap musim mereka sedikit demi sedikit memperbaiki kualitas skuat dan meningkatkan permainan. Musim 2012/2013 ini boleh dikatakan puncak penampilan mereka. Selama 26 pekan, Napoli tidak pernah terlempar dari 3 besar dan berhasil menempel ketat Juventus. Di musim kompetisi ini lah untuk kali pertama Napoli terlihat sebagai penantang serius kejayaan si "Nyonya Tua".
Bermain di hadapan pendukungnya sendiri tentu jadi suatu keuntungan yang seharusnya mereka manfaatkan. Apalagi di awal pekan legenda terbesar mereka, Diego Armando Maradona, kembali datang mengunjungi kota ini setelah 8 tahun tertahan karena masalah penyelesaian pajak. Ia Seolah menunjukkan "restu dan berkatnya" agar tim asukan Walter Mazzari ini dapat menyaingi Juventus dan mengulangi keajaiban yang ia lakukan 24 tahun silam.
Lalu apalagi yang ditunggu oleh Napoli?
Formasi Awal
Laga ini dikatakan sebagai pertarungan antarpengusung formasi yang mengandalkan 3 bek di belakang. Antonio Conte, sang pelatih Juventus, mendapatkan gelar juara dengan menggunakan strategi 3-5-2, sementara perkembangan gradual yang ditunjukkan Napoli pun diperoleh dengan 3-4-2-1. Selain itu, perbedaannya terletak di gaya bermain. Juventus dengan passing-passing pendeknya lebih berinisiatif untuk menguasai bola dan menyerang lawan, sementara Napoli mengandalkan kecepatan untuk melakukan serangan balik. Ya, 3-5-2 sendiri bisa dimainkan dengan nafas yang berbeda.
Di kubu Napoli, Mazzari kembali mengandalkan trio Britos, Cannavaro, dan Campagnaro sebagai pilar di lini belakang. Sementara di lini tengah Gokhan Inler yang bertugas untuk mengatur penyerangan disandingkan dengan Behrami yang dengan tekel-tekelnya fasih menahan gempuran lawan. Hamsik yang performanya sedang menaik di musim ini, kembali diturunkan untuk membantu mengalirkan bola pada Cavani dan Pandev.
Sementara itu Conte melakukan perubahan kecil pada line-up awal. Sebastian Giovinco yang biasanya masuk sebagai pemain substitusi dipasang dari menit pertama untuk menggantikan Matri. Hal ini dilakukan untuk mengganggu pergerakan Inler. Demikian pula dengan Peluso yang bermain menggantikan Asamoah, yang semenjak pulang dari Piala Afrika belum menemukan performa terbaiknya.
Juventus Menggebrak di Awal
Dalam dua puluh menit pertama, praktis Juventus menguasai bola dan permainan. Inler yang bertugas untuk mengatur serangan balik Napoli, bermain jelek sehingga acap kali Napoli sudah kehilangan bola bahkan sebelum mencapai sepertiga daerah pertahanan lawan. Strategi Mazzari yang menyuruh pemain depannya untuk menekan bek-bek Juventus, sebagai pembawa awal serangan Juventus, pun kurang efektif karena bola praktis dikuasai oleh lini tengah Juventus.
Selain itu, Juventus pun menguasai area di dekat luar kotak penalti Napoli. Hal ini dikarenakan dua gaya bertahan yang diterapkan oleh lini tengah dan lini belakang Napoli. Di tengah, Mazzari menginstruksikan Inler, Behrami, Maggio, dan Zuniga untuk menekan ketat setiap pemain Juventus yang sedang membawa bola. Sementara para pemain belakang Napoli lebih menunggu dan mengundang para pemain Juventus ke dalam kotak penalti. Baik Britos, Cannavaro, dan Campagnaro memilih untuk membuang bola atau intersepsi dibandingkan menekan lawan dan merebut bola.
Akibatnya, ada ruang yang tercipta antara lini tengah dan lini belakang Napoli, sehingga Juventus bebas untuk mengalirkan bola di sepertiga daerah pertahanan Napoli. Pada 20 menit pertama saja enam kali Juventus melakukan attempt baik melalui Sebastian Giovinco maupun Mirko Vucinic. Salah satunya berhasil membuahkan gol, yaitu saat crossing kaki kiri Pirlo berhasil dikonversi jadi gol oleh Chiellini melalui sundulannya.
Kegagalan dan Keberuntungan Napoli
Mencoba mengejar ketinggalan, Napoli belum mampu kembali pada permainan terbaiknya. Hal ini dikarenakan Napoli gagal mengalirkan bola ke depan, baik melalui tengah (Inler dan Behrami), maupun melalui sayap (Zuniga dan Maggio). Memang, formasi 3-4-2-1 Napoli sendiri memiliki kelemahan berupa sempitnya permainan di lini tengah karena tidak memainkan wing-back dan praktis hanya Maggio yang membawa bola dari sisi lateral lapangan. 
(Area Aksi Napoli di Babak Pertama. Sumber: squawka.com)
Hal ini terlihat dari grafik area aksi di atas. Napoli hanya mampu mengalirkan bola sampai sepertiga lapangan terakhir melalui sisi tengah dan sayap kanan yang diisi oleh Christian Maggio.
Namun, Juventus mampu mengantisipasi serangan balik Napoli ini terutama melalui pressing ketat dan tekel-tekel yang dilakukan hampir di seluruh area lapangan. Tercatat 19 kali Juventus melakukan tekel di babak pertama ini, sehingga baik Hamsik, Pandev, maupun Cavani jarang mendapatkan bola-bola berkualitas. Dengan cerdiknya, Conte juga menempatkan Peluso, yang lebih defensif dibandingkan Asamoah, untuk mengantisipasi kekuatan dan kecepatan Maggio. 
Grafik Tekel Juventus di Babak Pertama (Sumber: squawka.com)
Grafik di atas menunjukkan area tekel-tekel Juventus dilakukan. Terlihat bahwa dengan kehadiran Peluso, Maggio mampu dihentikan di sayap kanan. Selain itu, Juventus tidak memberikan waktu sama sekali untuk pemain tengah Napoli merangsek ke depan. Begitu Inler maupun Behrami mendapatkan bola, walaupun masih di daerah pertahanan Napoli sendiri, baik Vidal maupun Marchisio akan langsung menekan ketat dan coba merebut bola. Di saat-saat seperti ini lah Napoli terlihat seperti kehilangan sosok Gargano (pindah ke Inter Milan) yang dengan kekuatan dan kecepatannya mampu melaksanakan serangan balik dengan efektif.
Dengan kondisi seperti ini, Napoli dipaksa untuk menguji Gianluigi Buffon yang mengawal gawang Juventus lewat tendangan-tendangan dari luar kotak penalti. Salah satunya membuahkan hasil. Tendangan keras Inler yang terdefleksi pemain Juventus tidak mampu dijangkau Buffon sehingga Napoli berhasil menyamakan kedudukan.
Napoli Bangkit di Babak Kedua
Setelah kehilangan Britos, yang bertabrakan dengan Inler, karena cedera, Mazzari lalu memasukkan Dzemaili sebagai pemain tengah. Zuniga dan Maggio kemudian beroperasi sebagai bek kanan dan kiri dalam formasi 4-3-1-2. Dengan formasi ini, secara perlahan Napoli mampu menguasi permainan.
Satu hal yang patut diamati dari permainan Napoli di babak kedua ini adalah pemain-pemain tengah dan belakang Napoli yang lebih aktif merebut bola dari tangan Juventus di daerah sendiri dibanding di babak pertama. Bahkan, dari 18 intersepsi yang dilakukan Napoli pada pertandingan ini, 16 kalinya dilakukan di babak kedua. 
Grafik Intersepsi Napoli di Babak Kedua (Sumber: squawka.com)
Dari grafik intersepsi di atas terlihat bahwa di babak kedua, Napoli tidak lagi membiarkan Juventus menguasai bola di sepertiga pertahanan Napoli. Dengan mengubah formasi, menambah jumlah bek, dan menginstruksikan Maggio dan Zuniga untuk lebih bertahan, Napoli pun mendapatkan keseimbangan sehingga serangan Juventus mudah dipatahkan.
Namun, Napoli yang semakin nyaman bermain dalam formasi 4-3-1-2 ini tidak mampu menambah jumlah gol. Masuknya Insigne menggantikan Pandev pun kurang mengubah permainan.
Konklusi
Dengan menyisakan 11 pertandingan, peluang Napoli untuk meraih scudetto sebenarnya masih tetap terbuka. Apalagi lawan berat yang akan dihadapi Mazzari dalam sisa-sisa pertandingan nanti terhitung hanya 3 tim, yaitu AC Milan, Inter Milan, dan AS Roma. Apalagi jika Juventus lolos dari babak 16 besar Liga Champion maka konsentrasi Bianconeri akan terpecah dua.
Namun, dalam lima pertandingan terakhirnya tim yang bermarkas di kota San Paolo ini gagal meraih kemenangan satupun dan menuai lima kali hasil imbang. Pertandingan melawan Juventus ini, yang sejatinya menjadi ujian apakah sebagai tim mereka mampu melangkah ke level selanjutnya, juga gagal diatasi.
Menarik untuk diamati langkah-langkah Walter Mazzari setelah hasil imbang tersebut. Karena ujian berat selanjutnya masih membayangi di akhir musim kompetisi nanti: kehilangan Edinson Cavani.
==
* Penulis: Vetricia Wizach. Akun twitter: @vetriciawizach







