Liga Europa: Tottenham 3-0 Inter
Umpan Silang Spurs yang Membungkam Nerazzurri
Badai cedera yang menghampiri lebih dari sepuluh pemainnya membuat Inter Milan tak mampu menghadang Tottenham Hotspur di White Heart Lane. Tim asuhan Andre Villas-Boas pun sukses menyarangkan tiga gol tanpa balas dan memperbesar peluang mereka untuk lolos ke fase selanjutnya di Liga Europa.
Spurs sebenarnya juga kehilangan beberapa pemain intinya karena cedera, seperti Emmanuel Adebayor, Younes Kaboul, Sandro, Tom Huddlestone dan Clint Dempsey. Bahwa mereka mampu mengalahkan Inter secara telak tentu jadi satu bukti atas adanya skuatyang lebih dalam dan berkualitas.
Gareth Bale, yang namanya mulai menjulang secara internasional berkat hattrick-nya ke gawang Inter Milan di Liga Champions dua musim lalu, kembali tampil gemilang. Satu gol dan satu assist ia ciptakan untuk membantu kemenangan timnya semalam. Inter sendiri seolah tak punya jawaban atas kecepatan, kekuatan, dan kemampuan para pemain Spurs untuk mengekploitasi ruang.
4-2-3-1 vs 3-4-3
Untuk mengantisipasi kecepatan Spurs, terutama di sisi sayap, Andrea Stramaccioni menurunkan lima pemain belakang. Ia menempatkan Zavier Zanetti untuk mengawal Ranocchia untuk menghadapi Assou-Ekotto dan Sigurdson. Sementara Pereira dan Juan Jesus diplot untuk menghadang kecepatan Lennon-Walker di sayap kanan lapangan.
Hal ini berarti saat Spurs menyerang lewat sayap, Chivu dapat berkonsentrasi menjaga poros tengah, sementara Juan dan Ranocchia melebar ke sisi lateral lapangan. Chivu sendiri akan mendapat proteksi dari duet Cambiasso-Gargano yang memang memiliki kemampuan bertahan yang baik.
Namun hal ini harus dibayar dengan kurangnya kendali di lapangan tengah Inter Milan. Gargano yang berperan sebagai penghubung antara lini belakang dan lini depan tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Inter pun terpaksa mengalirkan bola melalui umpan panjang dari kaki Cambiasso dan Chivu.
Di sisi Spurs, sama seperti mengalahkan Arsenal, Bale kembali memainkan peran playmaker di belakang Jermaine Defoe. Ia berhadapan dengan Cambiasso dan Chivu yang sesekali naik untuk menghalau bola.
Berhadapan dengan lini pertahanan Inter yang tidak diorganisir Walter Samuel, dengan memainkan trio Lennon-Bale-Sigurdsson, Villas-Boas mampu mengacaukan lini pertahanan Nerazzurri. Terutama karena karena pemain-pemain ini sering berlari menusuk ke kotak penalti di sela-sela pemain Inter untuk menyambut bola.
Gagal Menghentikan Umpan Silang
Walau telah menggunakan 5 pemain bertahan untuk menahan serangan Spurs lewat sayap, tiga gol yang bersarang ke gawang Samir Handanovic tetap saja dimulai dari umpan silang.
Di gol pertama, Sigurdsson yang lepas dari kawalan Ranocchia dan Zanetti, berhasil menemukan ruang dan waktu untuk mengirimkan crossing indah dengan kaki kanannya. Di gol kedua, Lennon menerima umpan Dembele dan memanfaatkan ruang yang cukup luas di sisi kanan pertahanan Inter untuk melepaskan umpan silang mendatar. Sementara gol ketiga berawal dari sepak pojok Bale yang kemudian dikonversi jadi gol oleh Vertonghen melalui sundulan.
Untuk gol pertama dan kedua, Inter sebenarnya mengulangi dua kesalahan yang sama: memberikan ruang terlalu luas bagi pembawa bola di sisi sayap lapangan dan tidak memperhatikan pemain yang berlari menyambut bola. Perhatikan gol kedua: jika umpan Lennon tidak dipotong oleh Defoe, maka Sigurdsson yang berlari dari belakang akan siap menyambar bola. Karena pergerakan ini lah maka Sigurdsson juga siap menyambut bola muntah hasil tendangan Defoe dan menceploskan gol. 
(Gambar 1. Prosesi gol pertama Spurs. Bale dan Lennon yang berlari dari belakang pemain belakang Inter mendapatkan cukup ruang untuk menyambut umpan silang Sigurdsson.)
(Gambar 2. Prosesi gol kedua Spurs. Lennon menerima umpan Dembele mendapatkan ruang untuk melakukan crossing mendatar (gambar 1). Sigurdsson berlari dari belakang tanpa dikawal pemain Inter Milan. Sebelum dipotong oleh Defoe, umpan Lennon ditujukan untuk Sigurdsson.)
(Gambar 3. Prosesi gol ketiga Spurs. Vertonghen berlari dari belakang Cambiasso dan dengan mudah menerima tendangan pojok Gareth Bale di ruang kosong depan gawang.
Spurs cukup cerdas untuk mengekploitasi kelemahan dari sistem bertahan secara zona (zonal marking). Dengan menempatkan bola di antara pemain, mereka membuat para pemain belakang Inter kebingungan akan batas zonanya masing-masing, sehingga baik Lennon, Bale, atau Sigurdsson mampu menyerang ruang tak bertuan tersebut.
Superioritas Lini Tengah Spurs
Unggul dengan pemain sayap tak membuat peran poros tengah Spurs berkurang. Scott Parker tampil dominan di pertandingan ini baik dalam mengalirkan bola maupun menahan serangan balik Inter Milan. Tercatat 6 kali tekel dan 4 intersepsi ia lakukan untuk mematikan pergerakan Cambiasso.
Parker dan Dembele juga tampil sebagai penyumbang passing terbanyak di kubu Spurs, yaitu masing-masing dengan 79 dan 55 kali. Parker memiliki akurasi passing senilai 87% sementara Dembele lebih superior yaitu 96%.
Dengan passing-passing pendek antarkeduanya, Dembele dan Parker pun acap kali menarik Gargano dan Cambiasso untuk keluar dan bermain lebih tinggi. Hal ini menimbulkan adanya ruang antara lini tengah dan lini belakang Inter, karena ketiga center-back Inter memang diinstruksikan untuk bermain lebih dalam dan menunggu serangan.
Selain itu, Parker dan Dembele pun apik dalam membagi peran dalam mengatur ritme serangan. Jika Parker lebih sering bermain umpan satu-dua dengan Gareth Bale, maka Dembele mengalirkan bola ke arah Lennon atau Sigurdsson dengan umpan-umpan panjang.
Substitusi yang Tak Mengubah Apapun
Stramaccioni menarik Juan Jesus di awal babak kedua dan menempatkan Palacio di depan sebagai ujung tombak. Sementara Pereira ditarik ke belakang dan menggantikan peran Juan. Di kubu Spurs pergantian yang cukup berarti adalah memasukkan Lewis Holtby untuk menggantikan Sigurdsson.
Namun pergantian pemain ini tidak mengubah baik gaya bermain maupun jalannya pertandingan. Walau mengurangi kecepatan bermain, Spurs tetap menguasai permainan. Parker dan Dembele pun semakin nyaman mengendalikan lini tengah dan mengalirkan bola ke depan.
Bagi Inter, hilangnya Diego Milito sangat kentara terasa. Dua kali Inter mendapatkan peluang emas, yaitu saat Ricky Alvarez (menit 42) dan Palacio (73) berhadap-hadapan dengan Brad Friedel. Namun kedua striker ini mampu menjebol gawang Spurs sehingga peluang Inter untuk lolos pun semakin kecil.
Kesimpulan
Spurs lebih superior dari Inter Milan baik di lini tengah maupun sayap lapangan. Pergerakan yang cepat, akurasi passing, serta mampu membaca kelemahan lawan dengan baik telah dilakukan oleh anak-anak didik Villas Boas. Selain gembira karena kemenangan ini, para suporter Spurs pun bisa menarik nafas lega karena hal lainnya. Penampilan Spurs semalam bak prototipe puncak permainan yang akan hadir di tahun-tahun berikutnya lewat tangan Villas Boas.
Sementara untuk Stramaccioni Dua kesalahan berulang membuat Inter harus membayar dengan harga mahal. Mencetak 4 gol melawan Spurs saja akan jadi hal yang sulit, namun untuk melakukannya tanpa Diego Milito akan jadi tantangan yang sangat berat.
Spurs sendiri akan kehilangan Gareth Bale di pertandingan selanjutnya karena akumulasi kartu kuning. Menarik untuk ditunggu apakah Stramaccioni akan coba mengejar laga selanjutnya ini atau lebih memfokuskan pada posisi ketiga di Serie-A.
===
* Penulis: Vetricia Wizach. Akun twitter: @vetriciawizach








