Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Bayern Munich 2-0 Juventus

    Superioritas Bayern dan Kegagalan Juve Membangun Serangan

    Vetricia Wizach - detikSport
    REUTERS/Michael Dalder REUTERS/Michael Dalder
    Munich -

    Bayern Muenchen berhasil menundukkan tamunya, Juventus, dua gol tanpa balas. Wakil Jerman itu pun berhasil menunjukkan superioritasnya dengan membuat "Si Nyonya Tua" tak berkutik tanpa memberikan perlawanan.

    Saat menyaksikan pertandingan ini, Boris Becker melalui akun twitter-nya berkali-kali mengetikkan nama Arturo Vidal. Hampir sepanjang waktu mantan petenis top dunia itu menyorot permainan kasar Vidal dan mempertanyakan mengapa pemain tengah ini tidak mendapat kartu.

    Memang, dalam pertandingan tadi malam Vidal berkali-kali membuat pelanggaran pada Luis Gustavo, David Alaba, atau Franck Ribery. Bahwa Vidal kemudian jadi pemain terbaik Juventus, itu salah satu pertanda bagaimana tim yang berkostum hitam-putih ini kalah telak secara permainan, dan direduksi jadi tim bertahan tanpa menguasai bola.

    Semalam Vidal mencatatkan diri sebagai pemain dengan rating tertinggi karena ia melakukan 3 kali shot (2 on target), 8 tekel, 5 intercept, dan 5 kali melakukan foul pada pemain Bayern. Dengan energi dan kecepatanya di sayap kanan, ia berhasil membantu Liechtsteiner untuk menahan gempuran dari Gustavo, Alaba, dan Ribery. Dengan 8 tekelnya, Vidal pun jadi pemain dengan defensive action tertinggi di pertandingan tersebut.

    Kontribusi Vidal tak hanya itu. Dua shot on target yang ia lepaskan pun jadi 2 shot on target yang Juventus bisa buat dalam 90 menit. Dalam laga ini Bianconeri hanya mampu 8 kali melepaskan tendangan, atau sundulan, ke arah gawang Manuel Neuer, dengan dua yang menemui target. Dari delapan attempts itu hanya satu yang sempat membahayakan gawang Bayern, yaitu saat sundulan Leonardo Bonucci tipis melewati mistar gawang.

    Padahal Juventus tercatat sebagai tim ketiga di Liga Champions (setelah Real Madrid dan Bayern Muenchen) yang paling sering melakukan attempts ke gawang lawan, dengan rataan 16,9 kali/game. Superioritas FC Hollywood, terutama dalam penguasaan bola dan mengendalikan permainan, berhasil membuat Juventus jarang bisa memasuki areal pertahanan tuan rumah untuk melakukan attempts.

    Sejajarnya Matri - Quagliarella

    Antonio Conte hanya melakukan dua perubahan dalam starting line-up yang ia gunakan saat mengalahkan Inter Milan akhir pekan lalu. Kedua wing-back ia ganti dengan Liechsteiner dan Peluso, sementara duet Matri dan Quagliarella dipertahankan.

    Namun, Salah satu faktor gagalnya Juventus dalam membangun serangan dan memasuki area pertahanan Bayern adalah karena adanya gap terlampau besar antara trio lini tengah Pirlo-Vidal-Marchisio dan dua striker di depan Matri-Quagliarella.

    Hal ini dikarenakan kedua striker acap kali bermain sejajar, tepat berada di depan duet center-back Bayern, Van Buyten dan Dante. Keduanya pun jarang menjemput bola ke tengah lapangan atau bergerak melebar. Ini berbeda dengan saat Juventus bertemu dengan Inter, yaitu kala Quagliarella lebih sering bergerak ke samping untuk membuka ruang pertahanan lawan.

    Dengan adanya gap ini, baik Vidal-Pirlo-Marchisio otomatis harus berhadapan dengan Schweinsteiger-Luis Gustavo terlebih dahulu untuk mengalirkan bola kedepan. Apalagi kedua pemain tengah ini memang memiliki kemampuan bertahan yang baik. Kombinasi Schweinsteiger-Gustavo dalam pertandingan tadi menghasilkan 7 tekel, 2 intercept, dan 3 cleareance.



    Bayern Terorganisir

    Gol cepat dari Alaba sempat membuat Juventus bereaksi dan berusaha untuk merebut bola. Namun, rapatnya antarlini Bayern serta pressing-pressing ketat yang dilakukan baik lini tengah mau lini depan membuat permainan Juventus tidak berkembang.



    Dalam 16 menit pertama, yaitu saat Toni Kroos belum mengalami cedera, Pirlo pun tidak diberikan ruang sama sekali oleh pemain ini. Tanpa Pirlo, pemain Juventus lainnya kemudian seolah dipaksa untuk mengalirkan bola dengan cepat dan terburu-buru sehingga mudah untuk diintersepsi atau direbut oleh para pemain Bayern. Karena itu Juventus jarang sekali bisa memasuki area pertahanan Bayern.

    Di babak pertama, dari 296 sentuhan yang dilakukan oleh para pemain Juventus, hanya 33% yang berada di setengah lapangan pertahanan Bayern. Sementara Bayern memiliki jumlah sentuhan bola yang lebih sedikit (279) namun 49%-nya berada di area lawan.

    Juventus Tanpa Alternatif dalam Membangun Serangan

    Selain mampu menahan Juventus untuk bertahan, Bayern juga mampu menjaga agar aliran bola Juventus tidak mengarah ke area tengah lapangan, yang merupakan area favorit Juventus dalam menyerang.

    Dengan Pirlo yang bermain buruk (hanya mampu melakukan 37 kali passing), tugas untuk mengalirkan bola jatuh ke pundak Barzagli, Chiellini, dan Bonucci. Namun, dengan Ribery yang terus memberikan pressing pada Barzagli dan Mandzukic pada Bonucci-Chiellini, ketiga bek Juventus pun lebih sering memberikan umpan lambung ke arah sayap lapangan untuk mengalirkan bola.



    Saat melawan Inter, tiga bek yang mengalirkan bola ini sebenarnya menjadi kekuatan Juventus. Hal ini dikarenakan trio lini tengah mampu membuka ruang dengan berlari ke depan sehingga bola mudah didistribusikan dengan memberi umpan pada Pirlo-Vidal-Marchisio. Namun, dengan pressing-pressing ketat dari Bayern, ketiga pemain tengah Juventus ini tidak leluasa untuk bergerak karena akan meninggalkan ruang yang bisa dieksploitasi oleh Ribery-Mueller-Robben.

    Tapi hingga akhir permainan, Juventus seolah memaksa untuk membangun serangan lewat belakang. Akibatnya Bayern acap kali mendapatkan peluang hasil dari bola yang terebut berkat pressing-pressing di ruang antara trio lini tengah dan trio lini belakang Juventus.

    Peran Mandzukic

    Oleh Jupp Heyckness, Mandzukic ditempatkan berada di antara Bonucci dan Chiellini. Pemain ini memiliki peran yang berbeda saat Bayern menyerang maupun bertahan.

    Saat Juventus memegang bola, dengan pressing-pressing-nya Mandzukic berhasil meminimalisir peran Bonucci dalam mengalirkan bola. Ia tak memberikan ruang bagi lawannya itu untuk bergerak atau memberikan waktu untuk Bonucci berpikir. Tak heran, bek yang biasanya memiliki persentase passing akurat yang tinggi ini hanya mampu membuat 75% passing sukses. Selain itu, dengan kemampuan aerial duel-nya, Mandzukic pun kerap merepotkan Chiellini dalam mengejar bola-bola lepas di udara.

    Sementara saat menyerang, Mandzukic acap kali bergerak ke arah kanan sehingga menarik Chiellini menjauh dari Bonucci. Apalagi Claudio Marchisio bermain di bawah performa terbaiknya dan kurang memberikan proteksi baik baik Chiellini maupun Peluso. Duet Robben-Mandzukic kemudian membuka ruang untuk Mueller masuk ke dalam kotak penalti.

    Substitusi yang Terlambat

    Masuknya Sebastian Giovinco dan Mirko Vucinic mampu mengubah permainan Juventus. Vucinic bermain lebih dalam dan sering menjemput bola dari tengah. Sementara Giovinco yang ditempatkan lebih di depan, mampu memberikan pressing pada Van Buyten dan Dante. Namun substitusi ini datang terlambat, karena Bayern telah menambah keunggulan terlebih dahulu.

    Kesimpulan

    Dua striker yang bermain sejajar tanpa memberikan pressing apapun pada pertahanan lawan, serta gap yang terlampau jauh antarlini serangan membuat permainan Juventus tak berkembang. Sementara Bayern yang terorganisir dengan jarak antarlini rapat, melakukan pressing ketat, menunjukkan superioritasnya dalam menguasai pertandingan.

    Menghadapi laga selanjutnya, Bayern memiliki keuntungan karena Juventus tak berhasil mencetak gol tandang. Menarik untuk diamati taktik apa yang akan Conte untuk mengejar ketertinggalan ini di partai perempat final selanjutnya.



    ===

    * Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game