Liga Italia: Juventus 1-0 Milan
Perang di Lini Tengah, Penalti Penentunya
Juventus semakin dekat dengan gelar juara setelah mengalahkan rivalnya AC Milan di Juventus Stadium, Senin (22/4/2013) dinihari WIB. Satu-satunya gol yang tercipta dalam pertandingan ini dicetak oleh Arturo Vidal melalui titik putih.
Juventus tampil komplit karena tak ada pemain inti yang absen akibat cedera atau akumulasi kartu. Sama seperti kala mengalahkan Lazio 2-0 di Olimpico minggu lalu, tak ada yang berubah dari nama-nama yang diturunkan Antonio Conte. Hanya saja Juventus agak lebih bermain rapat di tengah. Ini dibuktikan dengan Marchisio yang posisinya di pasang di belakang Vucinic.
Sementara itu di kubu lawan, Milan terpaksa kehilangan dua pemain inti mereka Mario Balotelli dan Matteo Flamini. Ballotelli masih terkena sansi akibat ulahnya saat menghadapi Fiorentina. Sementara itu Flamini masih menjalani hukuman kartu merah yang ia terima saat melawan Napoli minggu lalu.
Melawan Juventus, Pelatih Massimiliano Allegri ingin tampil ngotot. Tak tanggung-tanggung, ia memasang 4 striker sekaligus: Boateng, El Sharaawy, Pazzini dan Robinho.
Semula banyak orang mengira absennya Flamini akan digantikan oleh Muntari. Namun Allegri malah menarik mundur Boateng ke tengah di belakang El Shaarawy yang berada di sayap kiri. Nantinya dua pemain ini akan saling tukar posisi saat bertahan maupun menyerang. Dengan memasang El-Shaarawy Allegri ingin meredam serangan Juventus yang biasa dioptimalkan melalui wingback kanannya, Stephan Lichtsteiner.
Sementara itu, kehadiran Ambrossini pasca sembuh dari cedera membuat peran Montolivo lebih dominan di tengah. Dengan leluasa ia mampu naik dan mundur secara cepat untuk menghambat aliran bola yang diatur oleh Andrea Pirlo dan Pogba.
Perang di Lini Tengah
Pertandingan tadi malam boleh dikatakan sebagai pertarungan di lini tengah. Bagaimana tidak, di area tengah Juve menurunkan 6 pemain sementara Milan 5 pemain. Dengan pola 3-5-1-1, Marchisio lebih banyak bergerak mundur alih-alih naik untuk membantu serangan.
Hal serupa terjadi pada Milan. Pola 4-3-3 terkadang berubah jadi 4-5-1 dengan mundurnya Robinho dan El Shaarawy, meninggalkan Pazzini di depan sebagai ujung tombak.
Dalam head-to-head Montolivo kontra Pogba-Asamoah, jelas terlihat Montolivo lebih unggul. Tekanannya kepada Asamoah membuat barisan kiri Juve sama sekali jarang melakukan serangan. Bahkan, Juve sama sekali tak pernah melakukan tusukan melalui sayap kiri.
Peran Montolivo sendiri tak lepas dari stabilnya performa Ignazio Abate. Melihat Montolivo yang mematikan barisan kiri Juve, Abate tak tinggal diam. Ia berusaha mempertahankan posisinya sebagai fullback dengan terus bergerak naik mendekati garis tengah lapang.
Sayangnya penguasaan bola oleh Milan di sepertiga lapangan akhir tak dapat dimaksimalkan oleh Robinho secara baik. Ia lebih sering berkutat mencari bola di lini tengah ketimbang membuka ruang kosong di sayap kiri. Robinho pun kurang berani menusuk ke dalam kotak penalti dan lebih sering melakukan shooting dari luar kotak 16 meter.
Terlebih lagi setelah Ambrosini keluar digantikan oleh Muntari. Untuk memperkuat lini tengah, Allegri memplot Muntari untuk menggantikan Montolivo yang posisinya bergeser ke tengah.
Kuatnya Milan di lapangan tengah tak lepas dari peran Ambrosini yang mampu menahan pergerakan Andrea Pirlo.Terlihat dari grafik di bawah passing yang dilakukan Pirlo di babak pertama lebih banyak dilakukan di daerah pertahanan sendiri. Jikapun dilakukan di daerah milan, ia lebih banyak melakukan backpass ketimbang passing ke depan.
Selain karena Ambrossini, Milan mampu membatasi peran Pirlo dengan menjaga pemain Juventus lainnya yang akan menerima umpan. Dengan berkurangnya opsi pemain di depan yang dapat dikirimi umpan, maka tak heran lebih sering melakukan backpass atau sideway pass.
Matikan Pergerakan Sayap Kanan Juventus
Kekhawatiran Allegri terhadap Juventus yang memanfaatkan serangan dari sektor Lichtsteiner ternyata mampu ditepis oleh permainan Kevin Constant yang cukup baik. Di lini ini, Constant mampu melakukan passing 72 kali dengan presentase kesuksesannya mencapai 90 %. Ini berbeda jauh dengan Lichtsteiner yang hanya bisa passing 26 kali, itupun 31 % di antaranya gagal. Selain dapat menahan laju Lichtsteiner, Constant pun mampu membuat lawannya itu kesulitan dengan passing-passing-nya.
Di menit-menit awal babak pertama, Juve tampil dominan dan selalu mengeksploitasi serangan dari sisi Lichtsteiner. Hal ini terlihat dari crossing-crossing yang dilakukan Juve di babak pertama. Ada 9 umpan silang yang 2 di antaranya adalah keypass. Sayangnya lini serang mereka tak mampu memanfaatkan umpan silang ini jadi gol.
Tumpulnya Lichtsteiner dan Vidal membongkar barisan kiri Milan membuat Pirlo digeser posisinya ke kiri sejak menit 30. Namun Pirlo tak berani melakukan inisiatif serangan dan malahan lebih sering melakukan backpass ketimbang mengalirkan bola ke depan.
Selain karena Constant, matinya pergerakan sayap kanan Juventus juga diakibatkan oleh peran El Shaarawy dan Boateng yang terkadang bertukar posisi. Saat Juventus menyerang, El Shaarawy bertugas menahan laju Lichtsteiner sementara Boateng menjaga Arthuro Vidal.
Juve yang Pandai Bertahan
Kendati mampu mendominasi lapangan tengah dan menahan laju serangan sayap Juventus, Milan sendiri tak mampu membobol lini pertahanan tuan rumah lewat sayap.
Salah satu faktornya adalah karena saat bertahan Juventus memakai pola 4-4-2, dan meninggalkan pola 3-5-1-1. Formasi ini membuat ruang gerak Abate dan Constant semakin sempit. Perubahan formasi jadi empat bek ini didapatkan dari pergerakan Lichtsteiner atau Asamoah yang bergantian mundur dan berposisi sejajar dengan tiga bek Chiellini – Bonucci – Barzagli.
Tak berhenti sampai di situ, Juventus pun dengan cerdasnya mampu menutup pergerakan sang metronom Milan, Montolivo. Caranya adalah dengan lini pertahanan dan lini tengah yang seakan membentu segitiga untuk mengurung Montolivo. Lini belakang akan berdiri sejajar vertikal, sementara lini tengah membentuk garis diagonal (sisi miring segitiga). Dengan cara seperti ini, Montolivo akan kesulitan untuk mengalirkan bola karena ruang untuk mengumpan semakin sempit.
Kesimpulan
Kedua tim bermain dengan gaya yang hampir sama, yaitu mengandalkan satu playmaker di tengah (Pirlo dan Montolivo) untuk mengalirkan bola ke area sayap lapangan. Namun, masing-masing mampu menemukan rahasia untuk meredam permainan lawan. Milan dengan meredam sayap kanan Juventus dan memaksimalkan peran Ambrosini. Sementara Juventus dengan menggunakan empat bek sejajar saat bertahan dan mengurung Montolivo.
Dengan Milan dan Juventus yang sama-sama mematikan serangan satu sama lainnya, maka hasil pertandingan pun ditentukan oleh satu kesalahan saja -- Marco Amelia yang melanggar Kwado Asamoah. Penalti sempurna yang diambil oleh Vidal pun membawa Juventus semakin dekat dengan gelar juara liga.
===
* Akun twitter penulis: @aqfiazfan
* Sumber grafik: www.squawka.com








