Liga Italia: Milan 0-0 Roma
Lubang di Lini Tengah Milan dan Gemilangnya Abbiati
Laga Serie A pekan ke-37 yang mempertemukan AC Milan dan AS Roma berlangsung dengan tensi tinggi. Sayangnya, pertandingan ini tidak menghasilkan pemenang maupun gol, alias 0-0.
Pertandingan ini diwarnai dengan keluarnya dua kartu merah dari wasit Gianluca Rocchi. Sulley Ali Muntari harus keluar lapangan terlebih dahulu pada menit ke-41 setelah menerima dua kartu kuning secara langsung. Sementara Francesco Totti harus keluar di penghujung laga setelah menerima kartu kuning keduanya setelah menyikut Phillippe Mexes.
Di kubu Milan, absennya Riccardo Montolivo karena cedera tidak berdampak terhadap perubahan formasi yang diberlakukan oleh Massimiliano Allegri. Ia tetap menggunakan formasi 4-3-3, dengan Mathieu Flamini mengisi pos yang ditinggalkan Montolivo.
Di sisi Roma, Federico Balzaretti, Daniele De Rossi, juga Maarten Stekelenburg harus absen karena cedera. Ketidakhadiran ketiganya lalu digantikan oleh Dodo, Simone Perrotta dan Bogdan Lobont. Miralem Pjanic, yang belum dalam kondisi fit 100%, pun harus mengawali pertandingan dari bangku cadangan.
Meski demikian, absennya ketiga pemain yang biasa mengisi starting line-up Roma tersebut tidak berdampak langsung pada perubahan formasi pelatih Aurelio Andreazzoli. Ia tetap mengusung pakem 4-2-3-1.
Bertandang ke San Siro, Roma mencatatkan banyak peluang, yaitu berupa 8 shots on target, 6 shots off target dan 3 blocked shots. Ini berbeda sekali dengan tuan rumah yang hanya mencatatkan 4 shots on target, 4 shots off target dan 6 blocked shots.
Namun, dilihat dari angka penguasaan bola selama jalannya pertandingan, Milan tercatat unggul dengan presentase 54% berbanding 46% untuk Roma.
Determinasi Milan yang Gagal Dipertahankan
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan terusirnya Muntari, determinasi Milan berkurang. Sebelum bermain dengan 10 orang, statistik menunjukkan Milan dominan menguasai pertandingan. Mulai dari shooting, crossing, headed duel, hingga passing dikuasai oleh anak-anak Merah-Hitam itu.
Situasi berbeda ketika Milan mulai bermain dengan 10 orang. Milan nyaris kehilangan semua determinasi. Keunggulan atas shooting, headed duel dan passing berhasil dikuasai oleh Giallorossi. 
Lubang di Lini Tengah Milan
Ketimpangan terjadi di lini tengah. Di area ini Roma bisa menumpuk lima pemain, sementara Milan hanya mengandalkan 3 pemain. Akibatnya Milan pun kewalahan dalam menghalau pergerakan gelandang Roma. Hal ini kemudian diperparah dengan Milan yang menggunakan deep defensive line, seolah membiarkan pemain Roma untuk mengeksploitasi lini tengah.
Dengan dominasi di lini tengah ini, tak ayal banyak attempt Roma yang muncul dari area ini. Sebanyak 11 tembakan dilakukan di luar kotak penalti yang 6 di antaranya berhasil dikonversi menjadi tembakan kearah gawang. Namun aksi gemilang Christian Abbiati mampu menggagalkan usaha Roma. Lihat grafik attempts AS Roma di bawah ini: (kuning = blocked, merah = off target, ungu = saved)
Lamela dan Marquinho yang Memotong ke Dalam
Kekosongan pada lini tengah Milan terlihat begitu dimanfaatkan oleh Roma. Lewat formasi 4-2-3-1, kedua flank Roma yang diisi oleh Lamela dan Marquinho kerap memotong kedalam kotak penalti. Keduanya pun acap kali bertukar posisi dan memberikan ancaman pada barisan pertahanan Milan. Melalui kecepatan dan akselerasinya, Lamela dan Marquinho juga sering membuka ruang bagi pemain lain untuk mencetak gol.
Marquinho sendiri yang mengisi pos left attacking midfielder sukses melakukan 4 kali shots on target. Selain itu, area tempatnya melepaskan tembakan pun tidak hanya berkutat pada posisinya saja, namun juga merambah higga ke sayap kanan. Bahkan dari 5 tembakan yang ia lakukan 3 di antaranya muncul dari sisi kanan Roma.
Sementara itu untuk Erik Lamela, ia lebih banyak menciptakan peluang lewat passing dan keypasses ke area tengah ketimbang melakukan attempt. Tercatat dalam pertandingan ini ia hanya melangsungkan 1 tembakan ke arah gawang, di menit 90. Namun, ini pun masih dapat diselamatkan oleh Abbiati.
Peran Minimal Totti, Kecemerlangan Mexes
Dalam pertandingan ini Totti berada dalam kondisi off-perform, berbeda jika dibandingkan dengan laga sebelumnya ketika melawan Chievo. Saat itu, Totti bermain apik dengan passing-passing-nya yang sempurna masuk ke area final third.
Ini berbeda dengan pertandingan tadi malam. Banyak passing maupun through pass-nya yang tidak tepat sasaran. Bahkan, dari 11 kali usahanya mengalirkan bola ke dalam kotak penalti, hanya 3 yang berhasil. Passing Totti lebih banyak sukses ketika bola dialirkan ke samping maupun ke belakang.
Performa apik Mexes yang sukses menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga Totti patut diacungi jempol. Dari 4 kali percobaan tekel yang dilakukan oleh Mexes, 2 di antaranya ditujukan kepada Totti. Dari 2 tekel itu pula Mexes berhasil mencuri bola dari 'Pangeran Roma' itu.
Performa ciamik lainnya yang ditunjukkan oleh Mexes adalah keberhasilannya dalam melakukan clearance. Tercatat dari 8 kali percobaan clearance, 5 di antaranya berhasil dikonversi jadi bola yang dikuasai oleh Milan.
Penampilan Apik Abbiati
Laga kali ini dapat dikatakan merupakan salah satu laga terbaik Abbiati. Terlihat pada dua laga sebelumnya (lawan Torino dan Pescara), ia hanya melakukan 3 kali penyelamatan tembakan dan 6 kali penyelamatan crossing. Berbeda sekali ketika laga melawan Roma. Ia menorehkan 8 kali penyelamatan tembakan dan 3 kali penyelamatan crossing.
Substitusi
Untuk meningkatkan daya serang, kedua tim benar-benar memaksimalkan kesempatan 3 kali pergantian pemain. Allegri memasukkan Robinho untuk menggantikan El Shaarawy, Gianpaolo Pazzini untuk Mathieu Flamini, serta Kevin-Prince Boateng yang ditarik keluar digantikan oleh Antonio Nocerino. Sedangkan di kubu Roma, Perrotta, Marquinho dan Pablo Osvaldo ditarik keluar dan disubstitusi oleh Pjanic, Florenzi dan Destro secara berturut-turut.
Dalam pergantian pemain tersebut, terlihat Milan begitu ingin memenangi pertandingan. Namun niatan yang diharapkan tidak berbanding dengan kontribusi yang diberikan. Dua striker yang masuk yaitu Robinho dan Pazzini, tidak memberikan kontribusi yang maksimal. Ini terlihat dari tidak adanya shooting dan key passes dari kedua pemain itu.
Robinho sendiri berperforma lebih baik dengan menyumbangkan 2 crossing dan mengambil 2 tendangan sudut. Namun, keempat percobaan tersebut tidak ada yang berhasil.
Di kubu Roma, masuknya Pjanic dan Florenzi cukup memberikan tambahan daya gedor terhadap Roma. Tiga key passes berhasil diciptakan dari kedua pemain tersebut. Ini berbeda ketika Perrotta dan Marquinho masih berada di lapangan, hanya tercipta 2 key passes [oleh Perrotta]. Tapi, dengan pertandingan yang tersisa 20 menit, dapat dikatakan Andreazzoli terlambat melakukan substitusi.
Kesimpulan
Milan berhasil menguasai pertandingan meskipun harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-41. Gaya bermain Milan yang acap kali menahan bola dan menunggu adanya ruang yang terbuka cukup berhasil merepotkan pertahanan Roma. Sedangkan determinasi Roma lewat kedua flank-nya cukup berhasil pula membuat pemain Milan mati-matian melakukan defensive actions.
Di samping itu, performa apik barisan pertahanan kedua kesebelasan cukup membuat barisan penyerang Milan maupun Roma menjadi buntu. Hasil seri merupakan hasil terbaik dalam laga ini.
Atas hasil ini Milan masih tetap harus berjibaku melawan Siena di laga terakhir Serie A guna mengamankan tiket ke zona Liga Champions. Sedangkan bagi Roma, peluangnya dalam mengambil jatah Liga UEFA melalui kompetisi Serie A praktis tertutup. Satu-satunya peluang Roma meraih jatah berlaga di Eropa adalah melalui Coppa Italia.
====
* Akun twitter penulis: @shralys dari @panditfootball








