Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Commnity Shield: Man Utd 2-0 Wigan

    Seperti Biasa, MU Tetap Menang Walau Bermain Jelek

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Jamie McDonald/Getty Images Jamie McDonald/Getty Images
    Jakarta -

    Meski menang dan memperoleh gelar Community Sshield, permainan Manchester United masih jauh dari harapan para pendukungnya. Seperti permainan saat pramusim yang masih angin-anginan, David Moyes seperti belum menemukan bentuk permainan MU.

    Wigan yang menjadi lawan mereka di pertandingan tadi malam, Minggu (11/8/2013), tampil lebih buruk lagi. Alhasil mereka pun tidak banyak memberikan tekanan pada sang juara bertahan Premier League.

    MU Belum Menemukan Formasi Terbaik

    Moyes sepertinya memilih bermain aman dengan tidak terlalu banyak melakukan eksplorasi taktik. Ia menurunkan Robin van Persie bersama Danny Welbeck di depan, dibantu dua gelandang Michael Carrick dan Tom Cleverley sebagai penyeimbang lini tengah.

    Hanya satu perubahan yang dilakukan Moyes yaitu dengan menurunkan Wilfried Zaha di sisi kanan ketimbang Antonio Valencia atau Luis Nani. Pilihan pada Ryan Giggs di sisi kiri pun masih melanjutkan "warisan" Fergie: membiarkan pemain paling senior itu untuk juga bebas bergerak di lini tengah ketimbang menyisir sisi kiri lapangan.



    Wigan yang bermain dengan pola 4-3-3 dengan cenderung bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik, membuat para pemain MU mampu menguasai penuh jalannya pertandingan. Meski begitu, "Setan Merah" yang relatif terlalu sering bergantung pada kinerja Zaha, tetap kesulitan menembus pertahanan Wigan.

    Cleverley dan Carrick sebenarnya mampu membuat lini tengah MU mendominasi pertandingan. Namun minimnya kreativitas membuat arah serangan mereka jadi monoton. Cleverley-Carrick sering bermain sejajar, sehingga jembatan yang menghubungkan lini tengah dan Van Persie di depan kerap dimainkan oleh Giggs. Kadang Van Persie terpaksa juga turun ke bawah.

    Perihal serangan MU yang monoton sebenarnya sedikit diperbaiki di babak kedua. Proses terjadinya gol pertama dan kedua Van Persie menjadi gambaran perbedaan permainan mereka.

    Van Persie Sebagai Motor Serangan

    Di babak pertama terlihat bagaimana top skorer musim lalu itu lebih sering menjemput bola daripada Welbeck. Kerapkali Van Persie bergerak mengeksplorasi ruang turun ketengah dan melebar ke kiri. Namun Welbeck yang lebih banyak menunggu di kotak penalti tidak punya inisiatif mencari ruang untuk menerima umpan. Akibatnya, tidak ada eksekutor di area final third MU. gol pertama jelas memberi gambaran bagaimana Van Persie menciptakan peluang untuk dirinya sendiri.



    Welbeck terlihat masih belum pas memerankan diri sebagai menjadi tandem Van Persie dalam skema 4-4-2. Pertukaran posisi antara keduanya belum berjalan lancar.

    Di babak kedua Moyes mengubah strategi. Welbeck akhirnya berganti turun menjemput bola. Hasilnya gol kedua tercipta melalui assist Welbeck yang diselesaikan kembali oleh Van Persie.



    Perubahan Sayap MU

    Sisi kanan Manchester United menjadi sisi paling aktif dalam pertandingan kali ini. Artinya, di sisi inilah mereka banyak melakukan serangan, dan di sisi ini pula kerap diserang. Kesempatan untuk menyerang sering hadir melalui kombinasi antara Zaha dan Phil Jones.

    Jones yang diawal bermain sebagai centre back lalu digeser menjadi full back kanan, karena Rafael harus ditarik keluar akibat cedera. Posisi center back kemudian diserahkan pada Chris Smalling.

    Jones tidak sebaik Rafael di posisi full back kanan. Wigan pun menggencarkan serangan juga dengan menusuk sisi kanan pertahanan MU. Bahkan, tercatat kombinasi antara James McClean dan Stephane Crainey menghasilkan 9 crossing dari area yang dijaga Jones.

    Perbedaan lainnya terlihat saat Valencia menggantikan Zaha pada menit ke 61. Gaya Zaha yang kerap cutting inside dan mengandalkan tekniknya guna melewati pemain tentu berbeda dengan gaya permainan Valencia. Pemain asal Ekuador itu kerap bermain dengan gaya menyisir sayap dan melakukan crossing seperti hal yang lumrah dilakukannya.

    Zaha sendiri mampu menghasilkan catatan terbaik jika dibandingkan dengan rekan-rekannya dalam successful dribbling, yaitu sebanyak 2 kali dan turnover 4 kali. Hal tersebut jelas berbeda dengan Valencia yang tidak pernah mencatatkan successful dribbling dan hanya 1 kali melakukan turnover.

    Namun, sisi positif yang dimiliki oleh Valencia adalah Ia mampu menghasilkan catatan lewat 3 kali cross attempt dengan 2 kali cross completed. Hal yang tidak mampu dilakukan oleh Zaha.

    Perubahan lainnya adalah saat Welbeck menempati posisi sayap kiri, saat Giggs ditarik keluar dan digantikan Anderson. Ini pilihan yang dulu juga kerap diambil oleh Fergie. Dengan perubahan ini praktis MU bermain dengan skema 4-5-1 atau bahkan 4-2-3-1. Carrick-Cleverley bermain sebagai duet jangkar sementara Anderson sebagai gelandang serang.

    Lini Belakang Masih Perlu Penyesuaian

    Beberapa kali lini belakang MU mencoba menerapkan pressing tinggi dan membuat defence line lebih naik. Gaya yang sesuai dengan permainan Moyes ketika di Everton. Namun sepertinya hal ini tidak cocok diterapkan di MU -- setidaknya sejauh ini opsi taktikal itu belum berjalan bagus.

    Para bek lebih sering kecolongan dengan trough pass yang dikirimkan ke depan, seperti saat pertandingan pramusim di Jepang beberapa waktu lalu. Beruntung Wigan tidak banyak melakukan hal ini, karena memang hanya menyisakan Grant Holt didepan. Shaun Maloney dan McClean lebih sering menyisir sayap dari belakang.

    Isu transfer masuk MU memang lebih sering terdengar dari lini tengah, namun sebenarnya lini belakang juga masih rapuh dan butuh tambalan. Faktor cedera masih menghantui pertahanan mereka.

    Seperti musim lalu, tampaknya sulit mengharapkan konsistensi duet Nemanja Vidic-Rio Ferdinand. Menarik mencermati apakah Moyes akan melakukan hal yang serupa dengan Fergie yaitu terus "mengoplos" slot di posisi center back atau segera memutuskan duet yang akan jadi pakem. Ada banyak opsi di jantung pertahanan selain Vidic dan Rio, seperti Johny Evans, Chris Smalling atau Phil Jones.

    Kesimpulan

    Wigan tidak memberi banyak tekanan ke United, seperti halnya ketika mereka mengalahkan Manchester City di final Piala FA musim lalu. Namun pertandingan ini sudah dapat memberi gambaran bagaimana MU masih belum menemukan bentuk permainan.

    Moyes belum terlihat bisa membawa perubahan taktikal yang akan menjadikan timnya terbaik. Dan MU pun masih memerlukan tambalan untuk kembali bersaing meraih titel Liga Inggris.

    Tapi satu hal yang bisa dicatat dari laga ini adalah Moyes melanjutkan metode penting Fergie yang selalu membuat MU unggul dari rival-rivalnya: tetap menang walau bermain jelek sekali pun.


    ===

    * Tentang @panditfootball dapat dilihat di sini




    (mfi/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game