Liga Inggris: Liverpool 1-0 Man Utd
Bertumpu pada Poros Gerrard-Lucas untuk Kalahkan MU
Mengalahkan Manchester United di Anfield, Liverpool mengecap start terbaik di tiga laga pertamanya di awal musim dalam 19 tahun terakhir. Tampuk klasemen sementara pun dirasakannya lagi, setelah terakhir kalinya pada 4 April 2009.
Dengan hasil itu pula Liverpool mencatat keunikan, yakni mencetak tiga kemenangan beruntun di awal musim dengan skor 1-0, yang semua tercipta di babak pertama, dicetak Daniel Strurridge, dan kiper baru mereka, Simon Mignolet, clean sheet.
Bagi David Moyes, kekalahan ini memperburuk rekor pribadinya melawan Liverpool. Setelah laga tadi malam, dalam 13 pertemuan, Moyes membawa timnya sebelumnya, Everton, tujuh kali imbang dan enam kali kalah. Kegagalan dari segi hasil juga wujud dari kegagalan dari segi taktik Moyes di lapangan.
Aspas-Coutinho vs Cleverley-Carrick
Di kubu Liverpool, Martin Skrtel tampil untuk pertama kalinya di musim ini mengisi posisi yang ditinggalkan Kolo Toure karena cedera. Ashley Young juga tampil untuk pertama kalinya sebagai starter di kubu MU, setelah pada laga sebelumnya (melawan Chelsea) masuk sebagai pengganti.
Masing-masing tim memulai laga dengan formasi yang agak mirip, yakni 4-2-3-1, tapi dengan beberapa perbedaan yang cukup krusial. Moyes sebenarnya cenderung menggunakan 4-4-1-1 dengan menempatkan Danny Welbeck lebih banyak turun ke bawah di belakang Robin van Persie.
Sementara Brendan Rodgers cenderung menginversi 4-2-3-1 menjadi 4-3-2-1. Henderson di sisi kanan cenderung lebih aktif bertahan ketimbang menyerang. Di laga ini Henderson cenderung menjadi defensive-winger. Ini membuat posisinya kerap sejajar dengan Steven Gerrard dan Lucas Leiva. Dalam chalkboard yang dirilis whoscored.com, posisi Henderson bahkan hampit berhimpitan dengan Glen Johnsson yang seorang fullback.
Dengan Henderson lebih aktif bertahan, maka Iago Aspas dan Coutinho menjadi duet penghubung antara unit bertahan Liverpool dengan Sturridge yang diplot sendirian di depan. Posisi Aspas dan Coutinho berada di belakang Sturridge dan otomatis membuat keduanya berhadapan dengan poros ganda [double-pivot] MU: Tom Cleverley dan Michael Carrick.
Ini duel menarik dan ketat. Kendati demikian, duet poros ganda MU ini terlihat sedikit lebih baik dari Aspas-Coutinho.
Aspas, misalnya, lebih sibuk membuat gestur protes ketimbang membuat umpan akurat. Dalam 60 menit bermain, dia hanya membuat 20 umpan dengan akurasi hanya 60% -- akurasi umpan terburuk, dan hanya lebih baik dari Mignolet yang seorang kiper. Selama 81 menit bermain, Coutinho hanya membuat 24 umpan, jumlah yang sama dengan yang dibuat Mignolet. Selama 61 menit pertama saat Aspas maih main, Coutinho malah hanya membuat 10 passing akurat. Dari 10 umpan itu, hanya 4 yang dikirim ke depan, sisanya ke samping atau malah ke belakang. Tidak heran jika dua pemain ini tidak membuat 1 pun key-passes [umpan yang dikonversi jadi attempt].
Bandingkan dengan produksi umpan Cleverley dan Carrick yang mencapai 68 dan 63 kali. Jika MU terlihat unggul dalam penguasaan bola, salah satu penyebabnya adalah gagalnya Aspas dan Coutinho dalam pertarungan di final third dengan Carrick-Cleverley.
MU Sukar Menembus Gerrard-Lucas
Jika penguasaan bola di kedalaman ala MU ini gagal dikonversi menjadi penguasaan bola di final third, maka faktor penyebabnya adalah tidak ada pemain yang menjadi penghubung antara dominasi Carrick-Cleverley dengan Robin van Persie yang diplot sebagai pucuk serangan.
Saat menghadapi Chelsea, peran ini dimainkan dengan sangat baik oleh Wayne Rooney. Dia bermain sangat menonjol menguasai lini kedua di area final third. Rooney bahkan didapuk sebagai man of the match oleh hampir semua media.
Tanpa Rooney, MU memang terlihat kesulitan semalam. Dengan formasi 4-4-1-1, Welbeck mestinya bisa lebih berperan menjadi penghubung. Tapi di laga ini, itu tidak dilakukan Welbeck. Atau, boleh jadi, Welbeck memang kalah bertarung di final third dengan duet poros ganda Liverpool, Gerrard dan Lucas.
Statistik menunjukkan bagaimana dominasi Gerrard-Lucas dalam mengamankan dan melindungi back four Liverpool. Dua poros Liverpool itu unggul dalam 2 tindakan defensif yang paling penting: tekel dan intersep. Gerrard dan Lucas membuat 5 dan 4 tekel [lebih banyak dari pemain MU mana pun] dan membuat 6 dan 4 intersep [terbanyak di Liverpool].
Penyebab lainnya adalah Moyes memang memilih untuk menghindari pertarungan dengan Gerrard-Lucas sehingga lebih suka memindahkan bola pada 2 sisi lapangan begitu MU memasuki final third. [Lihat grafik passing MU di sepertiga lapangan akhir di bawah ini]
Kualitas Sayap MU Buruk
Pilihan pada Young dari pada Antonio Valencia merupakan ide Moyes untuk membongkar pertahanan Liverpool lewat tengah. Moyes memasang Young di kiri dan Ryan Giggs di kanan yang merupakan inverted winger dengan tujuan cutting inside (memotong ke dalam). Nyatanya taktik ini tidak berkembang sesuai harapan, hanya di menit 11 permainan dari kaki ke kaki para pemain MU membuat Welbeck memiliki peluang dari dalam kotak penalti, namun tendangannya masih diblok oleh Glen Johnson.
Kegagalan ini salah satunya karena para pemain Liverpool terutama lini tengahnya cepat sekali melakukan tekanan. Tekanan itu terutama dilakukan oleh sisi kanan Liverpool yang ditempati Henderson dan Johnson. Dalam posisi pemain secara keseluruhan di lapangan, kedua pemain ini terlihat sejajar dan melakukan tekanan bersamaan.
Gol satu-satunya di laga tersebut merupakan buah dari tekanan yang dilakukan anak asuh Brendan Rodgers. Young kehilangan bola di daerah pertahanan MU setelah mendapat tekanan dari Henderson. Bola yang jatuh ke kaki Sturridge lalu berbuah sepak pojok yang kemudian dikonversi menjadi gol.
Tekanan yang dilakukan para pemain Liverpool membuat Young dan Giggs tidak banyak berkontribusi pada permainan timnya. Baik Young dan Giggs terbatasi geraknya hingga hanya di tengah lapangan. Umpan-umpan termasuk terobosan yang dilakukan oleh Carrick pun lebih banyak terpotong oleh lini tengah Liverpool baik oleh Gerrard maupun Lucas.
Kegagalan menembus pertahanan Liverpool lewat tengah, membuat MU melakukannya lewat sayap dengan menciptakan banyak crossing, meski catatan laga-laga sebelumnya memaparkan bahwa serangan sayap MU buruk. Pada laga vs Chelsea misalnya, mereka hanya membuat dua crossing yang berhasil dari 14 secara keseluruhan. Pada laga malam tadi, statistik semakin menegaskan bahwa kualitas serangan sayap Red Devils memang buruk. Secara total ada 32 crossing yang dilakukan namun hanya enam yang menemui sasaran. Rinciannya 12 crossing di babak pertama dan 20 lainnya di babak kedua. [Lihat grafik di bawah ini: kiri untuk babak I, kanan untuk babak II]
Buruknya statistik crossing bukan hanya karena kualitasnya, tetapi juga karena ketiadaan pemain yang menanti crossing itu di kotak penalti. Sang penyerang, Van Persie justru paling sering berada di sisi kiri penyerangan MU: 23,73% dihabiskan top skor musim lalu di area itu. Sedangkan Welbeck paling banyak berada di luar kotak penalti.
Tapi perlu juga dicatat bagaimana Liverpool juga bisa dibilang masih rapuh dalam mengantisipasi bola-bola crossing. Lebih dari 3 kali umpan silang MU bisa menerobos kaki dan badan para pemain Liverpool yang menumpuk di dalam kotak penalti. Beruntung para pemain MUselalu gagal merespons dengan cepat lengahnya cara pemain Liverpool mengantisipasi bola-bola crossing persis di depan Mignolet itu.
Liverpool Mencari Gol Lewat Set Piece
Pilihan taktik Liverpool untuk menekan, membuatnya tidak banyak menguasai bola, hanya menguasai 47% secara keseluruhan laga. Gerrard, Lucas, Henderson dan juga Aspas serta Coutinho secara keseluruhan lebih banyak mengganggu permainan para pemain MU dengan melakukan tekanan. Liverpool lalu berusaha memaksimalkan attempt dari set piece untuk mencetak gol.
Dari 11 attemp yang dimiliki Liverpool, 5 di antaranya berasal dari set piece dengan enam sisanya merupakan attempt dari permainan terbuka. Itu artinya, hampir setengah percobaan mencetak gol Liverpool dilakukan dengan mencoba memaksimalkan situasi bola mati. [Lihat grafik attempt Liverpool di bawah ini:]
Gol Liverpool sendiri lahir dari set piece sepak pojok. Kecerdikan Sturridge melepaskan diri dari pengawalan membuatnya sukses membelokkan sundulan Daniel Agger ke gawang yang dijaga David De Gea. Agger sendiri tidak mendapat pengawalan yang memadai dari Rio Ferdinand sehingga cukup leluasa menyundul bola terarah ke gawang yang lantas diteruskan Sturridge dengan cerdik.
Strategi ini boleh diulang kembali di laga-laga sebelumnya. Tapi ada catatan yang patut diperhatikan: beberapa kali Liverpool mendapat tendangan bebas di depan kotak penalti, dan tak ada satu pun yang membahayakan. Opsi memanfaatkan bola mati, terutama direct freekick, harus lebih diasah dengan lebih baik lagi.
Liverpool yang semakin pragmatis
Pertandingan melawan MU semakin menunjukkan sisi Liverpool yang semakin pragmatis. Liverpool memilih untuk bermain menunggu dan melakukan serangan balik setelah unggul.
Dalam dua laga sebelumnya, Gerrard cs juga memilih bertahan setelah unggul di babak pertama. Bahkan laga melawan Notts County di Piala Liga juga menunjukkan kecenderungan Liverpool untuk menunggu setelah unggul. Saat itu Liverpool yang sudah unggul 2-0 melepas kendali atas pertandingan yang kemudian dimanfaatkan Notts County untuk menyamakan kedudukan.
Rodgers tidak lagi mementingkan ball posession dan juga permainan indah untuk mendapatkan kemenangan. Ball possesion Liverpool menunjukkan tren penurunan, saat menang atas Stoke City adalah 52% sedang saat melawan Aston Villa ada di angka 51%. Bukti lain dari gaya defensif Liverpool adalah tingginya capaian tekel dari para pemainnya. Dalam laga tadi malam, Gerrard cs melakukan 31 tekel dengan 24 di antaranya berhasil. Jumlah ini jauh lebih banyak dari yang dilakukan lawannya yakni, 17 dengan 13 yang berhasil.
Area aksi Liverpool juga dominan terjadi di depan kotak penalti sendiri, yakni pada posisi yang diisi oleh Lucas dan Gerrard. Hal yang sama juga dilakukan pada laga tandang ke Villa Park. Ini menunjukkan bahwa Liverpool berinisiatif menunggu.
Kesimpulan
Rodgers menunjukkan konsistensi taktik permainannya, lebih banyak menunggu terutama setelah timnya unggul. Sejauh ini, taktik itu berhasil. Yang perlu dilakukan oleh Rodgers adalah memastikan bahwa semuanya didapat berkat kemampuan diri sendiri, bukan semata karena kegagalan lawan dalam mngekonversi peluang atas keroposnya pertahanan Liverpool saat (misalnya) mengantisipasi bola-bola silang.
Sedangkan Moyes trennya malah memperbanyak posession. Saat menang telak dengan Swansea, United malah lebih banyak ditekan sebelum akhirnya mencetak 2 gol lewat Persie dan Welbeck dalam interval waktu yang pendek. Saat ditahan oleh Chelsea, anak asuh Moyes juga unggul dalam posession dengan sangat jelas.
====
* Tentang @panditfootball dapat dilihat di sini







