Liga Inggris: Arsenal 1-0 Tottenham Hotspur
Pertarungan Lini Tengah di London Utara
Derby North London telah usai dengan kemenangan tipis Arsenal 1-0 atas Tottenham Hotspur di Emirates Stadium. Sejatinya derby ini selalu panas dan seru dan diwarnai dengan banyak gol dan kartu. Namun hal itu tak terjadi di pertandingan semalam.
Boleh dibilang petandingan ini adalah pertarungan taktik kedua tim di areal tengah. Tottenham misalnya. Untuk memperkuat lini ini, serta menghambat alur serangan lawan, Spurs memberikan tiga pemain bertipikal pemecah serangan sekaligus. Tugas man to man marking diserahkan kepada Paulinho, Mousa Dembele, dan Etienne Capoue.
Untuk memaksa defensive line tetap di dalam, serta membuat kerenggangan antara barisan tengah dan depan Arsenal, Paulinho diminta menahan Aaron Ramsey dan Dembele menjaga Jack Wilshere. Semula Spurs meggunakan double pivot di depan baris pertahanan. Namun taktik ini diubah dengan Dembele dan Paulinho menjadi dua sejajar di depan, meninggalkan Capoue yang diminta menjaga Tomas Rosicky.
Menarik dicermati adalah Paulinho, sebagai defensive midfielder, yang amat rajin membantu serangan. Ada 3 attempt dan 2 key-passes yang berhasil ia lakukan semalam. Ia pun jadi pemain dengan performa menyerang terbaik ketimbang pemain Spurs yang lain.
Hal ini terjadi karena saat menyerang, Paulinho sering berlari diagonal. Posisinya mengalami inversi, dari semula left midfielder jadi right midfielder. Paulinho sendiri memiliki tugas jadi pengalir bola dari belakang ke depan, khususnya kepada flank kanan Spurs yaitu Andros Townsend.
Tottenham di laga tadi malam memang bermain melebar. Ini terlihat dari pergerakan Thowsend [kanan] dan Chadli [kiri] yang sering berlari menyisir garis tepi lapang ketimbang memotong kedalam. Namun penampilan full back kiri Arsenal, Kieran Gibs, membuat Towsend agak kesulitan. Gibs berhasil melakukan 3 clean tackle, 3 intercept dan 1 clearence kepada Towsend.
Kehadiran Paulinho sedikit membantu serangan Spurs yang memang selalu mengeksploitasi barisan kiri Arsenal. Bekerja sama dengan Kyle Walker, beberapa kali Paulinho melakukan pergerakan tanpa bola dengan berlari dari kanan ke kiri. Ini dilakukan untuk menunggu bola matang dari Townsend atau Walker di depan kotak pinalti, sebelum melakukan shooting keras dengan kaki kanannya. Tiga attempt yang ia lakukan berdasarkan dari skema ini.
Lini Tengah Spurs yang Minim Kreativitas
Kehadiran pemain baru di Tottenham Hotspur belum terlihat begitu padu dalam skema taktik yang diinginkan oleh Villas Boas. Terlebih dalam soal urusan menyerang. Trio gelandang tengah Spurs Paulinho-Dembele-Capoue kurang kreatif dalam menyerang.
Lini tengah Lilywhites padu dalam bertahan, tetapi minim kreativitas dalam menyerang. Alhasil suplay bola terhadap Soldado pun sangat sedikit. Di babak pertama, Soldado malah lebih banyak berkutat di lini tengah. Sepanjang pertandingan hanya 2 attempt yang bisa ia lakukan. [Grafik area aksi Soldado, yang banyak berkutat di tengah, lihat di bawah ini. Sumber squawka.com:]
Dembele dan Capoue memang memiliki presentase passing success yang cukup bagus, yaitu Capoue 95 % dan Dembele 88%. Tapi passing yang diberikan jarang diarahkan untuk memulai serangan. Jadi, meskipun menguasai ball possession, wajar saja Spurs selalu gagal menembus area pertahanan Arsenal.
Keberadaan Chadli memang belum bisa menggantikan Gareth Bale. Patut menuai sorotan adalah presentase passing success-nya di area sepertiga lapangan akhir. Dari 12 kali percobaan, 6 di antaranya gagal dan 4 diantaranya passing ke belakang. Ketidakpresisian passing ini karena jarak antar Chadli dan pemain lain terlampau jauh sehingga mudah diintersepsi Arsenal. Dembele-Paulinho jauh di belakang, sementara Soldado berada di poros tengah.
Masuknya Jermain Defoe dan Lamela di pertengahan babak kedua memang mengubah skema pertandingan. Hanya saja pergantian ini sudah terlambat, karena Arsenal sudah terlanjur bertahan. Bahkan The Gunners sampai menggunakan 5 bek sekaligus, yaitu Monreal-Koscielny-Gibbs-Jenkinson-Mertesacker.
Pergeseran Cazorla yang Mengubah Pertandingan
Pertarungan 3 vs 3 di tengah menjadi tak imbang saat Cazorla bergeser ke tengah. Ini menjadikan pertempuran jadi 4 lawan 3. Peran Cazorla, sebagai gelandang tengah keempat, membuat Arsenal tak terlalu bermain menguras tenaga.
Kehadirannya di tengah juga mengacaukan srategi man-marking yang dilakukan oleh Spurs. Beberapa kali trio Paulinho-Capoue-Dembele selalu dipancing keluar dari posisinya. Ini menyebabkan Cazorla, atau Rosicky, memiliki ruang yang cukup luas mengalirkan bola ke Walcott yang di laga tadi malam posisinya memang berada jauh di depan Giroud. [Lihat chalkboard di bawah ini, tentang posisi rata-rata Arsenal].
Arsenal memang lebih membangun serangan melalui serangan balik dengan tempo yang teramat cepat. Dan Cazorla-lah yang biasanya ditugasi untuk menjadi penentu ke mana bola akan dialirkan.
Risiko memasang Cazorla di tengah membuat permainan Arsenal menjadi menyempit sehingga lini kiri Arsenal amatlah rapuh, terutama di awal babak pertama. Itulah alasan kenapa Spurs selalu mengekploitasi serangan melalui Townsend dan Walker. Masuknya Flamini menggantikan Wilshere mengubah ini. Saat bertahan, Cazorla kadang kembali ke posisi semulanya membantu Gibbs.
Salah Komunikasi Barisan Pertahanan Spurs
Pada babak pertama, biasanya bola dialirkan kepada sisi kanan Arsenal. Kecepatan yang dimiliki Walcott membuat jadi nilai plus tersendiri. Ia sukses membuat Danny rose sering terkecoh.
Menilik barisan pertahanan Spurs, duet centerback mereka, yaitu Jan Vertonghen dan Michael Dawson, memang kerap salah komunikasi saat menjalankan sistem zonal marking.
Ini terlihat melalui gol tunggal yang dicetak oleh Arsenal. Saat Rosicky mendapat bola, Walcott dengan sengaja berlari ke dalam. Ia memancing Rose untuk menutup aliran bola dari Rosicky sehingga tak ada throughball kepada Giroud-Walcot yang berdiri sejajar.
Kemudian, secara bersamaan Walcott berlari ke arah sayap dan Giroud juga menjauh dari pengawalan Vertongen. Giroud dengan sengaja berlari diagonal ke arah Dawson yang memang memiliki kelemahan dalam urusan kecepatan. Skema ini dilakukan secara berulang-ulang oleh Arsenal, dan mampu menghasilkan banyak peluang di babak kedua. Motor utama skema ini biasanya adalah Cazorla.
Agresivitas Cazorla tak lepas dari penampilan Ramsey yang cukup impresif. Di babak pertama misalnya. Ia berhasil mendorong Paulinho mundur ke belakang, memutus aliran bolanya kepada Towsend. Ada 7 tekel dan 3 intersep yang ia lakukan dan semuanya sukses.
Dalam masalah bertahan, pujian memang mesti diberikan pada lini tengah dan lini belakang Arsenal. Total 28 tekel berhasil dilakukan oleh para gelandang dan bek Arsenal. Selain Ramsey, Gibbs juga tampil impresif dan mencatatkan 6 tekel dan 4 intersep. Agresivitas Arsenal dalam memotong dan merebut bola dari Spurs ini menjadikan Spurs tak bisa mengembangkan permainan.
====
* Tentang @panditfootball dapat dilihat di sini








