Final Piala AFF U-19: Indonesia 7 (0) vs 6 (0) Vietnam
Strategi Pergantian Pemain dan Inversi Serangan Indonesia
Indonesia jadi juara. Lewat adu tendangan penalti, Indonesia akhirnya mencicipi gelar juara di turnamen major kawasan Asia Tenggara setelah 22 tahun puasa gelar. Kemenangan atas Vietnam itu sekaligus jadi gelar pertama Indonesia sepanjang gelaran Piala AFF (dulunya Piala Tiger) di semua kelompok umur.
Anak asuhan Indra Sjafri ini menyempurnakan perjalanan panjang mereka yang sudah bersama-sama selama hampir 2 tahun. Beberapa pemain memang keluar masuk, tapi kerangka inti tim ini praktis tak berubah. Sebelum menjuarai Piala AFF U-19, Indra Sjafri sudah lebih dulu mempersembahkan gelar juara di HKFA International Youth Football Invitation Tournament secara berturut-turut pada 2012 dan 2013.
Kemenangan lewat adu penalti memang menandakan bahwa Vietnam bukanlah tim yang lebih buruk dari Indonesia. Tapi suguhan permainan Indonesia semalam menjelaskan kemenangan ini bukan kebetulan atau keberuntungan semata. Faktor stamina yang stabil, pergantian pemain yang tepat serta perubahan taktik di tengah pertandingan menegaskan Indra Sjafri dan anak asuhnya memang pantas menangkat piala.
High-Pressing Vietnam Sampai Final Third
Vietnam memulai pertandingan dengan sangat menjanjikan. Mereka menampilkan permainan seperti yang dilakukan saat mengalahkan Indonesia di babak grup: tempo cepat, pressing yang tinggi, menekan sejak wilayah pertahanan Indonesia, melakukan umpan satu dua saat memasuki wilayah Indonesia, dikombinasikan dengan umpan-umpan panjang yang selalu diarahkan ke sisi lapangan.
Dengan cara itulah Vietnam sangat merepotkan Indonesia sepanjang babak I sampai setidaknya pertengahan babak II. Indonesia seperti tak diberi kesempatan untuk menguasai bola atau menyusun serangan secara rapi dari bawah, ke tengah lalu ke depan. Mereka menekan tidak membiarkan Indonesia menguasai bola berlama-lama bahkan walau pun masih di daerah pertahanan sendiri.
Pressing Vietnam di Pertahanan Indonesia
Ini memaksa poros ganda Indonesia, Zulfiandi dan Hargianto, sibuk memagari rekannya yang menjadi back-four. Akibatnya, Evan Dimas pun harus turun ke bawah untuk menjemput bola. Dalam banyak momen, trio gelandang tengah ini bahkan sering berdiri sejajar di depan back-four dan meninggalkan trio lini serang [Ilham Armayn-Muchlis Hadi-Dinan Javier] terisolasi di depan.
Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana trio lini tengah Indonesia [dalam lingkaran merah] berdiri nyaris sejajar saat Vietnam mulai memasuki final third. Bagusnya lagi, Vietnam tidak mudah kehilangan bola kendati 7 pemain Indonesia [4 back-four, 3 gelandang] berada di final third. Mereka dengan baik menjaga possission dengan bergerak dalam jarak yang dekat dan tidak berlama-lama menguasai bola.
Evan Dimas-Hargianto-Zulfandi turun ke pertahanan
Pola Serangan Vietnam
Turun dengan formasi 4-2-3-1, dengan menempatkan top skor AFF U-19 Nguyen Van Toan di depan, Vietnam menyerang dengan dua kecenderungan.
Pertama, mereka tidak selalu membangun serangan dengan bola-bola pendek dari bawah merayap sampai ke depan. Cukup sering mereka membangun serangan dengan langsung mengirimkan long-ball ke sisi kanan dan kiri lapangan. Hanya saja, setelah long-ball itu sampai ke sisi lapangan, mereka jadi lebih sabar dan tidak membuat long-ball. 
Umpan Vietnam di Final Third Indonesia
Chalkboard umpan di atas memperlihatkan bagaimana Vietnam bermain di final-third. Sangat jarang mereka bermain bola-bola panjang. Dikomandoi oleh kapten Nguyen Tuan Anh, lini tengah mereka berani merengsek masuk ke dalam kotak penalti. Ini yang memungkinkan mereka mendominasi final-third dengan umpan-umpan pendek. Seringkali terjadi head to head 3 v 3 di antara para gelandang dari kedua tim tepat di depan kotak penalti.
Kedua, karena tumpukan pemain di depan kotak penalti itulah maka penyerang Nguyen van Toan sering membuat gerakan ke sisi lapangan, terutama ke sisi kiri [lihat gambar di bawah ini]. Toan kerap menyelinap di antara Putu Gede yang menjadi full-back kanan dan Hansamu Yama atau Syahrul Kurniawan sebagai duet center-back.
Pergerakan Nguyen Van Toan
Cara bergerak Toan ini yang membuat dominasi serangan Vietnam dari sisi kiri jadi lebih aktif menyerang dengan umpan-umpan pendek, sementara umpan-umpan pendek di depan kotak penalti lebih banyak dilakukan para gelandang mereka. Sementara sisi kanan praktis tidak terlalu aktif, dan lebih sering mengganggu dengan umpan-umpan panjang [lihat lagi chalkboard umpan Vietnam di final third di atas tadi].
Wajar jika mayoritas percobaan mencetak gol yang dilakukan Vietnam kebanyakan di lakukan dari sisi kiri penyerangan mereka atau dari sisi kanan pertahanan Indonesia seperti terlihat dalam chalkboard di bawah ini.
Chalkboard attempts Indonesia dan Vietnam di babak I
Cara Bermain Indonesia di Babak I
Indra Sjafrie sebenarnya sudah mengantisipasi Vietnam dengan memasang duet Zulfiandi dan Hargianto di belakang Evan Dimas dalam skema 4-2-3-1. Diharapan dengan memasang poros ganda seperti ini bisa membuat Indonesia cukup nyaman bertarung di lini tengah, mengantisipasi pressing ketat Vietnam, sekaligus memberi kesempatan Evan Dimas untuk bisa fokus menopang lini serang.
Karena rencana itulah tampaknya Indra Sjafrie tak merancang suatu skema serangan balik. Makanya Maldini Pali tidak diturunkan sebagai starter. Dinan Javier tidak secepat Maldini atau Ilham yang beroperasi di kiri. Dia cenderung lebih banyak berani menusuk ke dalam ketimbang menyisir sisi lapangan dengan kecepatan dan dribling seperti Maldini atau Ilham.
Menyadari rancangan itu tidak berjalan, seiring penguasaan bola Vietnam dan tekanan bertubi-tubi yang mereka berikan, Indra Sjafrie langsung menggantikan Dinan dengan Maldini pada menit 38. Dengan perubahan ini, Indonesia akhirnya bermain dengan dua sayap yang tipikalnya sama yaitu cepat dan “doyan” memegang bola sambil menyiri lapangan.
Tapi sampai babak I selesai, perubahan yang diharapan tak juga terlihat. Indonesia sangat kesulitan memasuki pertahanan Vietnam. Dominasi serangan masih terlalu berpusat ke sisi kiri melalui Ilham Armayn. Dengan Evan Dimas yang terlalu turun ke bawah, praktis Armayn tak bisa banyak berbuat. Jarak antar pemain saat menyerang terlalu jauh.
Chalkboard di bawah ini menjelaskan bagaimana serangan Indonesia memang terlalu banyak di kiri sekaligus memperlihatkan minimnya produksi umpan di final third.
Umpan Indonesia di final third Vietnam sepanjang babak I
Duet Center Back Indonesia Menunggu di Kotak Penalti
Akibat tekanan Vietnam yang terus merengsek sampai final-third, Indonesia pun bertahan dengan garis pertahanan yang dalam. Dua poros ganda Indonesia [Zulfiandi-Hargianto] juga ikut turun melapis. Ini menyebabkan seringnya Indonesia menumpuk 4 pemain di jantung pertahanan: duet Zulfiandi-Hargianto dan duet Hansamu-Syahrul.
Cara bertahan Indonesia di babak I
Dua gambar di atas menggambarkan bagaimana duet center back kita [lingkaran merah] bertahan di dalam kotak penalti dan membiarkan area di depan kotak dijaga oleh Zulfiandi-Hargianto [tanda silang]. Pada praktiknya, salah satu dari center-back biasanya bergerak ke kanan mendekati posisi Putu Gede untuk mengantisipasi pergerakan Nguyan Van Toan yang – seperti sudah dijelaskan sebelumnya—kerap bergerak ke kiri [dalam gambar 1 Toan dalam lingkaran putih].
Pergerakan Toan yang banyak melebar yang diantisipasi oleh salah satu center-back dengan mengikuti pergerakannya inilah yang pada gilirannya menyebabkan sisi kanan pertahanan Indonesia jauh lebih sibuk. Seperti terlihat dalam chalkboard defensive-action Indonesia di bawah ini, sisi kanan Indonesia sangat banyak melakukan defensive-action. 
Defensive action Indonesia di babak I
Pada area yang lain, yaitu di depan kotak penalti, Indonesia selalu konsisten menjaga jantung pertahanan dengan 2 atau 3 orang sekaligus [jika Evan Dimas juga turun ke bawah]. Dengan banyaknya Toan bergerak ke kiri, praktis hanya gelandang serang Vietnam yang memberi tekanan. Dan ini membuat Vietnam, walau pun dominan di final third, sesungguhnya kesulitan memasuki kotak penalti dari tengah.
Chalkboard umpan Vietnam di final third di babak I
Jika memperhatikan umpan Vietnam di final third di atas, terlihat mereka memang dominan tapi tidak bisa memasuki kotak penalti dari tengah. Umpan-umpan pendek mereka tertahan tepat di depan kotak penalti.
Masuknya Hendra Sandi Membebaskan Evan Dimas dari Tekanan
Sanggup melewati babak I yang penuh tekanan tanpa kebobolan membuat Indonesia bisa menghadapi babak II dengan lebih siap. Tempo cepat dan tekanan tinggi yang diperagakan Vietnam sepanjang babak I memang membuat mereka terlihat menjanjikan, tapi di saat yang sama membuat stamina mereka lebih banyak terkuras. Dan ini akan mulai terlihat memasuki pertengahan babak II.
Indonesia juga mendapatkan keuntungan dengan terjadinya 2 pergantian pemain Vietnam yang dilakukan bukan karena kebutuhan taktik melainkan karena cedera. Bahkan saat laga baru berjalan 11 menit, Vietnam sudah harus menggantik gelandang Pham Trum Tinh. Di awal babak II, lagi-lagi Vietnam harus mengganti pemain karena faktor cedera yaitu Nguyen Phong Hong.
Phong Hong adalah tandem yang jadi sumbu penting dominasi Vietnam di lini tengah bersama sang kapten, Nguyen Tuan Anh. Hilangnya Phong Hong ini sepertinya terbaca oleh Indra Sjafri sebagai peluang mengembalikan kenyamanan lini tengah Indonesia. 5 menit setelah Phong ke luar, Hargianto digantikan oleh Hendra Sandi. Masing-masing tim melakukan pergantian gelandang, bedanya: Vietnam terpaksa, Indonesia sepenuhnya taktikal.
Hendra sendiri tidak sekokoh dan semobile Hargianto. Jika Hargianto cenderung jadi box-to-box, Hendra condong bermain sebagai central-midfielder yang lebih mengandalkan penguasaan bola. Agak mirip dengan Evan Dimas, juga sama-sama doyan merengsek ke final-third.
Dengan gaya bermain seperti itu, Evan Dimas kini punya partner untuk bertarung memperebutkan penguasaan bola dengan Vietnam. Pelan tapi pasti, seiring keletihan yang mulai mendera Vietnam, duet yang lebih segar ini pun mengambil alih lini tengah di pertandingan ini.
Formasi 4-1-2-3 Indonesia di babak II dengan Evan-Hendra sejajar
Saat Indonesia makin nyaman menyusun serangan, formasi di lapangan mulai berubah menjadi 4-1-2-3. Zulfiandi sendirian berpatroli di belakang Hendra dan Evan Dimas yang makin agresif menyerang. Gambar di atas sangat mengilustrasikan perubahan formasi itu.
Hasilnya pun mulai terlihat. Evan Dimas yang di babak I praktis sangat jarang mengirimkan umpan ke final-third, di babak II Evan bisa lebih maksimal membantu lini serangan. Dua chalkboard di atas menggambarkan produksi umpan Evan Dimas di babak I dan babak II. Di babak I, selain jarang mengirim umpan ke final third, mayoritas umpan Evan mengarah ke samping atau bahkan ke belakang. Hal sebaliknya terjadi di babak II.
Umpan, tekel dan intersep Evan Dimas di babak I
Umpan, tekel dan intersep Evan Dimas di babak II
Inversi Serangan Sayap Indonesia
Kecerdikan Indra Sjafri juga terlihat dalam memaksimalkan kedua sayap Indonesia. Setelah perlahan-lahan mulai mengambil alih possession, Indonesia kembali mencoba menggedor Vietnam lewat kedua sisi lapangan. 
Produksi umpan Indonesia dan Vietnam di babak II
Seperti terlihat di chalkboard di atas, sisi kiri yang ditempati oleh Ilham jauh lebih hidup dan agresif. Ilham banyak menerima pasokan bola dari Evan Dimas atau bahkan dari Hendra yang memang condong bergerak ke kiri mendekati area Ilham. Akan tetapi, serangan-serangan berbahaya yang melahirkan peluang justru banyak datang dari umpan dan kerja keras Maldini Pali di sisi kanan.
Inversi serangan sayap macam ini setidaknya menghasilkan dua peluang emas di babak II yang sayangnya tidak bisa dimaksimalkan oleh anak-anak Garuda Jaya ini.
Babak Perpanjangan Waktu
Memasuki perpanjang waktu, Indonesia semakin mendominasi jalannya pertandingan. Kadang bahkan berani menyerang dengan formasi 3-4-3. Putu Gede dan Fatchurrahman sebagai fullback berani masuk sampai ke final-third sejajar dengan Evan Dimas dan Hendra. Sementara Hansamu dan Syahrul di belakang dijaga oleh Zulfiandi yang konstan melindungi keduanya.
Sementara Vietnam yang makin lama kian kehabisan nafas terpaksa mundur jauh ke belakang. Poros ganda Vietnam, Nguyen Tuan Anh dan Huu Anh Thai, bahkan kerap harus mundur sampai ke dalam kotak penalti. Kerap terjadi mereka bertahan dengan 5 orang di dalam kotak penalti dan bermain dengan 5-4-1.
Dua gelandang Vietnam [dalam lingkaran] turun ke area center back
Apa yang terjadi dengan Zulfiandi dan Hargianto di babak I, kini terjadi pada Vietnam di babak perpanjangan waktu. Vietnam bertahan sangat dalam. Banyak sekali defensive action yang terpaksa mereka lakukan di dalam kotak penalti.
Terlihat dalam chalkboard di bawah ini, Vietnam hanya 2 kali membuat defensive action di luar area pertahannya sendiri. Banyak di antaranya bahkan harus dilakukan di dalam kotak penalti.
Defensive action Vietnam di babak perpanjang waktu
Adu Tendangan Penalti
Salah satu alasan penting kenapa laga ini akhirnya harus diselesaikan dengan adu penalti adalah karena kinerja gemilang kedua kiper. Ravi Murdianto sangat kerja keras di babak I, kedua kiper sama-sama bekerja keras di babak II, dan Le Van Truog banyak bekerja keras di babak perpanjangan waktu.
Di babak adu penalti, keduanya berbagi kredit: sama-sama menepis 2 tendangan penalti. Yang membedakan adalah salah satu penendang Vietnam, kapten tim Nguyen Tuan Anh, sepakannya melambung.
Catatan lainnya adalah: semua eksekutor yang gagal mengeksekusi tendangan penalti sama-sama mengarahkan ke sisi kanan kiper.

Kesimpulan
Indonesia akhirnya menjuarai Piala AFF U-19 untuk yang pertama kalinya. Dan untuk semua kejuaraan berlabel AFF, baik AFF U-16 maupun AFF senior, baru kali ini trofi AFF akhirnya berhasil kita dapatkan.
Laga melawan Vietnam ini, yang berakhir dengan adu penalti, menjelaskan satu hal penting: kita tak pantas berleha-leha. Jarak antara Indonesia dan Vietnam masih sangat tipis, bahkan secara organisasi permainan Vietnam sedikit lebih baik. Belum jika kita berbicara tentang Malaysia, Thailand atau bahkan Myanmar yang sangat merepotkan kita di babak grup.
Ya, seperti kata Chairil Anwar, “Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian!”
=====
* Akun twitter @panditfootball
* Tentang Pandit Football lihat di sini








