Liga Inggris: Tottenham 1-1 Chelsea
Kemunculan Mata Mematahkan Dominasi Spurs
Derby London yang mempertemukan "guru" dan "murid", Sabtu (28/9/2013) malam, berakhir imbang. Dalam laga yang berlangsung di White Hart Lane ini, sang guru Jose Mourinho justru kerepotan menghadapi taktik mantan asistennya, Andre Villas Boas.
Spurs unggul terlebih dahulu melalui gol Gylfi Sigurdsson di babak pertama, sebelum disamakan oleh John Terry di babak kedua, hasil umpan matang Juan Mata melalui tendangan bebas.
Kedua pelatih sama-sama memainkan formasi 4-2-3-1, namun Spurs yang lebih mendominasi permainan. Setelah Mata masuk menggantikan John Obi Mikel-lah, baru Chelsea bisa mengimbangi tuan rumah.
Chelsea Rentan Terkena Offside Berkat Taktik Bertahan Spurs
Pujian khusus patut disematkan pada pertahanan Spurs. Kuartet Walker, Dawson, Vertonghen dan Naughton mampu bermain apik pergerakan di area yang sejajar dengan trio gelandang Chelsea. Alhasil, dengan situasi tersebut Spurs dengan leluasa mampu melakukan pressing dengan cepat pada trio gelandang dan striker Chelsea.
Total 10 kali pemain Chelsea terjebak offside. Bandingkan dengan Spurs yang hanya 2 kali sepanjang pertandingan. Garis pertahanan Spurs memang tidak naik terlalu tinggi atau turun terlalu rendah. Di sinilah terletak kecerdikan Villas Boas. Motor serangan Chelsea melalui gelandang mereka, langsung dihadapkan pada kuartet bek dengan dukungan dari 2 gelandang bertahan, yaitu Paulinho dan Dembele.
Bahkan gol balasan Chelsea oleh John Terry berawal dari gagalnya lini pertahanan Spurs melakukan jebakan offside. Meskipun gol yang terjadi bukan dari skema open play melainkan berawal dari umpan set piece.
Kondisi demikian diperparah dengan tidak maksimalnya peran Fernando Torres di depan. Strategi Villas Boas di atas jelas berpengaruh pada posisi Torres sebagai striker tunggal di depan, yaitu sulit menembus kotak penalti Spurs. Alih-alih mencetak gol, Torres hanya berhasil mencatatkan 1 kali attempt dan 2 kartu kuning yang membuatnya harus terusir dari lapangan.
Bek Spurs Kewalahan Melawan Gelandang Chelsea
Gol yang dicetak oleh John Terry berawal dari pelanggaran yang dilakukan oleh Jan Vertonghen terhadap Juan Mata ketika Chelsea sedang melakukan inisiasi serangan balik. Hal ini terjadi akibat efek dari pressing ketat yang dilakukan para pemain bertahan Spurs. Banyak pelanggaran yang terjadi akibat bek Spurs yang sebenarnya kewalahan menghadapi gelandang Chelsea.
Salah satu penyebabnya adalah Dawson dan Vertonghen yang tidak terlalu cepat dalam menutup pergerakan penyerang Chelsea. Kedua bek ini jelas kalah cepat jika harus diadu oleh Oscar, Hazard, maupun Juan Mata.
Meski terlihat kewalahan, namun Spurs tertolong oleh rapinya sistem pertahanan mereka. Dembele dan Paulinho yang menjadi poros halang bagi pertahanan, terlihat padu dan menambal kelemahan kecepatan para bek Spurs.
(Grafik passing Chelsea babak pertama – Kotak Kuning adalah Area Frank Lampard. Sumber: FourFourTwo.com)
Poros serangan Chelsea memang lebih banyak terletak pada Frank Lampard. Ia menjadi playmaker saat menyerang sekaligus gelandang bertahan saat diserang. Oscar dan Hazard justru tidak berkutik atas pressing yang dilakukan pemain bertahan Spurs.'
Kembalinya Juan Mata Sebagai Faktor Pembeda
Memasang Ramires sebagai starter di flank kanan dan mencadangkan Juan Mata jelas bukan pilihan baik bagi Mourinho untuk menyerang. Banyak yang menyangka bahwa karakter permainan Mou yang statis dan mengandalkan kecepatan transisi dalam serangan balik, tidak cocok dengan gaya main Mata.
Namun selepas pertandingan melawan Spurs, tampaknya Mou harus berpikir kembali untuk memberikan peran lebih pada Mata. Masuk selepas turun minum, Mata memang benar menjadi faktor pembeda permainan Chelsea.
Serangan Chelsea di babak pertama jelas membuktikan bagaimana Ramires tidak bermain baik sebagai flank kanan, terutama dalam menyerang. Terlihat perbedaan mencolok arah serangan Chelsea, di mana flank kiri yang diisi oleh Hazard jauh lebih dominan.
Wajar saja hal demikian bisa terjadi, Ramires memang lebih berkarakter bertahan. Kontribusinya dalam menyerang juga hanya sedikit. Tercatat dalam 45 menit tampil sebagai flank kanan, Ramirez hanya melakukan 1 kali crossing ke dalam kotak penalti. Permainan Chelsea juga menjadi terlihat kaku. Hasilnya, Spurs mampu unggul 1-0 di babak pertama.
Masuknya Mata membuat penampilan Chelsea lebih fluid di babak kedua. Dalam 45 saja Mata mampu memberikan 3 crossing, 2 key-pass, dan 4 long-ball. Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Ramires di babak pertama.
Satu hal yang menarik dari penampilan Mata sendiri adalah area aksinya. Acap kali Mata berdiri sejajar dengan Lampard seolah Chelsea memainkan dua playmaker (lihat chalkboard di bawah). Mata sering kali mengirimkan umpan secara cepat dari tengah lapangan sebelum para gelandang Spurs melakukan pressing. Dengan cara ini lah Chelsea mampu mengimbangi kekuatan lini tengah Spurs, karena sebelumnya Ramires tak memiliki kecepatan baik dalam mengumpan maupun saat membawa bola.
(Passing Juan Mata di Babak Kedua. Sumber: FourFourTwo.com)
Tidak hanya mengubah gaya bermain Chelsea, Mata juga memberikan kontribusi langsung melalui proses gol balasan Chelsea. Dilanggar oleh Jan Vertonghen, bola mati langsung dieksekusi sendiri oleh Mata. Hasilnya umpan akurat ke dalam kotak penalti mampu diselesaikan dengan baik oleh John Terry.
Chelsea dan Spurs Kesulitan Masuk Ke Area Kotak Penalti
(Grafik Area Attempt Spurs (kiri) dan Chelsea (kanan). Sumber: whoscored.com)
Grafik shoot area di atas terutama Spurs jelas menunjukan bagaimana kedua tim kesulitas memasuki kotak penalti. Hal ini tidak lepas dari gaya permainan kedua tim.
Memasang Soldado sendiri di depan, Spurs justru melakukan banyak attempt melalui para gelandang mereka. Paulinho menjadi pemain paling banyak melakukan tembakan ke gawang, dengan 3 kali percobaan yang salah satunya membentur mistar gawang.
Soldado justru tidak melakukan attempt sama sekali. Namun, satu assist ke Sigurdsson yang dilakukanya mampu membawa Spurs unggul terlebih dahulu. Soldado dan Torres sendiri memiliki peran yang hampir sama, yaitu sebagai false 9 dalam formasi 4-2-3-1. Inilah yang membuat Spurs dan Chelsea tidak banyak masuk ke dalam kotak penalti.
Spurs mengawali serangan melalui Christian Eriksen dan akselerasi Sigurdsson, dengan cara umpan panjang dari pertahanan hingga ke depan. Meski terkadang bola juga melewati kaki Dembele maupun Paulinho.
Hal ini berbeda dengan Chelsea yang melakukan inisiasi serangan melalui sayap. Namun justru lebih banyak mengarahkan umpan crossing di depan kotak penalti menjelang area final third. Umpan-umpan seperti ini sangat mudah dipatahkan para pemain bertahan Spurs yang melakukan marking ketat pada para gelandang Chelsea.
Permainan Cemerlang Mousa Dembele
Dengan akursi umpan selama bermain 90 menit mencapai 90%, dan kemampuan dribbling yang baik pula (100% keberhasilan pada 8 kali take on yang dilakukan), Dembele memang layak diberikan gelar sebagai Man of The Match.
Dominasinya terhadap permainan Spurs juga terlihat pada statistik touch ball-nya yang merupakan paling tinggi di antara semua pemain. Kesulitan Chelsea dalam memasuki kotak penalti Spurs juga dikarenakan peran baik Dembele dalam duetnya bersama Paulinho di lini tengah.
Kesimpulan
Taktik yang diperagakan Mourinho jelas sangat mudah di-counter oleh sang mantan asistennya, Andre Villas Boas. Hal ini dibuktikan dengan dominannya Spurs dalam pertandingan, ditambah dengan kartu merah yang diterima Fernando Torres. Namun, seperti biasa, Mourinho selalu tidak mau banyak berspekulasi terhadap taktik dan lebih memilih untuk bermain aman. Hasilnya, satu poin berhasil didapatkan Chelsea.
Namun pekerjaan rumah yang besar juga masih ada pada Villas Boas. Semenjak Gareth Bale berkostumkan Real Madrid, permainan Spurs memang menurun. Taktik yang diterapkan, terutama dalam menyerang, memang masih mudah ditebak.
===
* Akun twitter penulis: @mildandaru dari @panditfootball








