Match Analysis
Liga Italia: Fiorentina 4-2 Juventus
Perubahan Taktik Montella Benamkan 'Si Nyonya Tua'
Jakarta - Di kandangnya sendiri di Stadio Artemio Franchi, Fiorentina berhasil membalas kekalahan dari Juventus di musim lalu, sekaligus memberikan kekalahan pertama buat sang juara bertahan di musim ini (20/10/2013).
Kemenangan 4-2 tersebut sempat membuat was-was suporter Fiorentina. Wajar, laga baru turun minum ruh Gariel Batistuta seakan mengoyak hati fans tuan rumah lewat dua gol selebarasi Paul Pogba dan Carloz Tevez.
Namun siapa sangka keajaiaban itu terjadi di sana. Butuh waktu 15 menit buat Fiorentina untuk membalilkan kedudukan dan mengantar Antonio Conte dan pasukannya pulang dengan tangisan kesedihan.
Eksperimen Montella
Sudah hampir sebulan lebih Fiorentina kehilangan Mario Gomez akibat cedera lutut yang ia dapat saat menghadapi Cagliari 19 September silam. Hilangnya Gomez amat berdampak pada performa tim karena kemudian mereka menang sekali, kalah sekali dan imbang dua kali dalam empat pertandingan di Serie A.

Menghadapi Juventus kemarin, pelatih Vicenzo Montella memang terlihat sedang mencari formula yang pas untuk keberlanjutan Fiorentina di laga-laga selanjutnya. Absennya Gomez membuat ia harus memikir ulang formasi dasar tim.
Saat Gomez masih ada, ia biasa menduetkan pemain Jerman itu dan Giuseppe Rossi di depan dengan memakai pola 3-5-2. Tetapi setelah Gomez cedera, alhasil terbentuklah pola 4-3-2-1 dengan Rossi sendirian di depan. Montela pun merombak lini belakang, dari tiga menjadi empat bek.
Perubahan inilah yang membuat Fiorentina menurun. Tetapi berkat perubahan ini pula, pelatih Conte dibuat pusing keliling dan dipaksa harus berderai air mata di depan katedral Artemio De Franchi.
Tak Turun dengan Skuat Utama
Di laga tadi malam Juve memang tampil tidak komplit dari menit-menit awal. Setelah kehilangan Stephan Lichsteiner dan Mirko Vucinic akibat cedera, pemain tengah Arturo Vidal pun dipaksa Conte duduk di bangku cadangan. Vidal dihukum karena tidak mengikuti sesi latihan. Mencermati permainan Quagriella yang tak begitu bagus saat melawan AC Milan di laga sebelumnya, Conte akhirnya memilih Llorente untuk mendampingi Tevez.
Sementara itu di kubu Fiorentina, faktor yang menarik dicermati adalah keputusan Montella memasang tiga pemain bertipikal centerback di belakang. Padahal, Fiorentina memakai formasi back-four 4-3-2-1. Montela mengorbankan posisi fullback kanan kepada Facundo Roncaglia, yang di pertandingan tadi malam posisinya bukan naik ke depan melainkan bergeser ke tengah.
Conte Memancing Montella
Saat menghadapi tim-tim kuat, sudah dapat ditebak jika di menit-menit awal Juventus pasti memainkan pertahanan yang amat dalam serta mengandalkan serangan balik semata. Namun Montella masih bingung apakah Juve akan menerapkan pola ini atau tidak.
Dimainkannya pemain bertipikal defensive midlfieder seperti Massimo Ambrosini dari menit-menit awal menjadi pembuktian keraguan Montela itu. Ini karena di musim lalu sudah jadi kebiasaan Montella untuk tidak memainkan pemain yang bertipikal murni bertahan di tengah. Dari keputusan memainkan Ambrossini, terlihat jika Montella takut Juventus akan total menyerang.

[Grafik Area Aksi Juventus menit 1-15. Sumer: squawka.com]
Nyatanya sampai menit 20, Juve bermain bertahan (lihat chalkboard). Mereka membentuk garis pertahanan di luar area final third dan selalu memberikan ruang kosong di garis tengah. Ini karena Pogba-Marchisio-Pirlo agak sedikit mundur menjaga kerapatan dengan tiga bek Bonucci-Barzagli-Chiellini.
Tak hanya itu, secara bergantian Tevez dan Llorente mundur ke tengah. Kondisi ini membuat serangan Juve dilakukan dengan umpan-umpan panjang.
Kedua tim memang bermain tak terbuka dan berhati-hati di awal babak pertama. Sama seperti Juve, Fiorentina pun sebenarnya tak menyerang total. Karena kesulitan menembus barisan pertahanan Juve, alhasil bola pun banyak bergulir di area pertahanan sendiri.
Peran penyerang Giuseppe Rossi sebagai targetman tak termaksimalkan. Ia lebih banyak sering mundur ke tengah. Sebabnya, dua pemain di belakang Rossi, yaitu Borja Valero-Cuadrado pun lebih bersifat melebar ke sayap. Sebenarnya ada Aquillani yang posisinya free role.
Ditariknya Ambrosini, La Viola Keropos di Tengah
Ditariknya Ambrosini di menit 27 membuat skema pertandingan menjadi sedikit berubah. Tumpulnya lini depan Fiorentina tak mampu memanfaatkan Juventus yang bertahan. Karenanya Montella mengganti Ambrosini dengan Mathias Fernandez, seorang pemain tengah yang bertipikal menyerang.
Conte berhasil memancing Montela untuk kembali ke pola lamanya dengan tak memakai DM. Dengan pola itu Montela dan Fiorentina berhasil dihancurleburkan di Artemio di Franchi setahun silam dengan skor telak 5 gol tanpa balas. Hal itulah yang ingin ditiru Conte.

[Perubahan Formasi Fiorentina]
Kendati formasi awal memakai empat bek, kenyataan di lapangan Fiorentina hanya memakai 3 bek. Hal ini terjadi karena fullback kiri Fiorentina, Manuel Pasqual, posisinya teramat jauh di depan. Ia jarang mundur dan bahkan selalu terlihat seperti seorang penyerang sayap. Fiorentina seolah ingin mengeskploitasi kelemahan sisi kanan Juventus dengan absennya Lichsteiner.
Naiknya Pasqual, otomatis menggeser posisi Roncaglia ke tengah. Patut diketahui, Roncaglia adalah seorang centerback bukan fullback. Karena itu pergeseran ini tak masalah baginya.
Dominasi Pirlo
Namun bergesernya Roncaglia berimbas pada lemahnya sayap kanan Fiorentina. Untuk membatasi serangan di lini ini, dengan cerdik Montella meminta Cuadrado menjadi seorang wingback yang lebih banyak beroperasi menyerang. Alhasil Asamoah pun jarang naik ke depan.
Lalu muncullah sosok Andrea Pirlo. Absennya Vidal yang bersifat box to box mau tak mau membuat Pirlo harus menggantikannya. Di pertandingan itu Pirlo lebih dinamis selalu naik dan mundur, tak hanya semata berperan sebagai deep lying mieldfider.
Sebelumnya, untuk menghentikan Pirlo, Montela menggunakan pertahanan dua lapis: Aquilani di lini depan dan Ambrosini di tengah. Tapi dengan ditariknya Ambrosini otomatis Fiorentina keropos di lini tengah. Terlebih dengan tak adanya pemain DM dan sayap kanan.
Kekosongan di kanan sebenarnya dengan baik mampu ditambal oleh Cuadrado, meskipun sesekali kalah cepat oleh Asamoah saat serangan balik.
Juventus Tempatkan Dua Pemain di Antara Lini Fiorentina
Masalah besar muncul saat Fiorentina tak memakai DM, Juventus selalu menempatkan dua orang diantara Pizzaro dan lini belakang Fiorentina. Yang memegang peran ini biasanya Tevez dan Pogba saat ada serangan balik dari Juventus.
Dua orang ini dengan leluasa menusuk ke kotak penalti untuk menerima umpan pantulan dari Llorente. Proses gol yang dicetak Pogba di menit 40 berawal dari proses seperti ini (lihat gambar di bawah):

[Awal Mula Gol Pogba]
Patut menuai sorotan adalah tiga bek Fiorentina, Sering terlihat mereka mengalami kebingungan. Apalagi support dari rekan-rekan mereka saat menerima serangan balik amatlah minim.
Tak adanya DM sering membuat gerak bek Fiorentina saat diserang selalu mundur mendekati kiper dan bukan menutup pemain Juve yang membawa bola. Akibatnya Juventus mempunyai cukup ruang di pinggir kotak penalti mengutak-atik bola.
Untuk menahan laju bola, barulah Savic atau Rodriguez naik ke depan.
Kecerdasan Montella Mengatasi Conte
Adu taktik dan strategi amat terasa betul di pertandingan ini, terutama di babak kedua. Berbeda dengan babak pertama saat Fiorentina bermain lebih menyempit dengan membentuk pola diamond di lapangan tengah, pada babak kedua Montela melebarkan posisi keempat gelandangnya. Valero dan Fernandez ditempatkan di sayap kiri sementara Aquilani-Cuadrado di kanan. Sementara itu Pizzaro jadi satu-satunya gelandang yg dekat dengan lini pertahanan. (Lihat chalkboard sebelum Joaquin masuk).

Masuknya Joaquin di menit 56 membuat rotasi besar-besaran di dalam formasi Fiorentina. Montela menukar posisi Cuadrado dengan menempatkannya di sayap kiri, sementara Fernandez berganti ke sayap kanan. Pizzaro didorong agak sedikit naik ke depan dan posisi gelandang bertahan diemban Valero (lihat chalkboard setelah Joaquin masuk).
Posisi lini belakang Fiorentina tak serentan seperti babak pertama karena Pasqual sudah kembali turun ke belakang sejajar dengan 3 bek lainnya. Posisi backfour ini bermain mundur di belakang dan selalu sejajar.
Menarik diperhatikan adalah rotasi di sayap kiri Fiorentina, Cuadrado hampir selalu bergerak cutting inside, sementara Valera bergerak diagonal ke arah sayap saat Cuadrado bergerak ke tengah.
Dengan cara ini permainan seolah pindah ke sayap kiri dengan pemain Juventus dan Fiorentina yang mendekati Cuadrado. Bergesernya Cuadrado dari kiri ke kanan membuat Asamoah naik ke depan saat Juve menyerang, sesuatu hal yang jarang ia lakukan.
Kekosongan sayap kiri Juventus menjadi petaka saat La Viola melakukan serangan balik. Polanya sama, yaitu serangan berawal dari sayap kiri dan dengan cepat dipindahkan ke arah sayap kanan yang sering didapati ruang kosong di sana. Dari pergerakan seperti inilah Rossi dan Joaquin mampu berkali-kali menembus pertahanan Juventus.
Rapuhnya Pertahanan Juventus
Saat Fiorentina menyamakan kedudukan, Juventus tak sempat merapikan barisan pertahanannya. Tim yang hanya kebobolan 20 gol di musim lalu ini pun hanya dalam waktu 15 menit kemasukan 3 gol. Juventus baru mendapatkan stabilitas saat Padoin, yang areanya berulang kali dieksploitasi oleh Joaqin dan Rossi, digantikan oleh Motta.
Selain itu, dengan perubahan yang dilakukan Montella di babak kedua dengan melebarkan permainan, Fiorentina mampu memanfaatkan kelemahan Juventus, yaitu di area sayap. Ini karena Asamoah jarang turun hingga garis pertahanan, dan Padoin tak mampu menghadapi kombinasi Joaquin-Rossi. Apalagi ketiga center-back Juventus sering bermain rapat, sehingga Fiorentina mendapatkan ruang yang cukup luang di sayap.
Kesimpulan
Memulai pertandingan dengan terpancing taktik Juventus dengan mengganti Ambrosini, Montella dengan cepat memperbaiki kesalahannya. Dua perubahan taktik yang ia lakukan di babak kedua terbukti efektif untuk menembus pertahanan Juventus.
Sementara untuk Conte, pertandingan ini membuktikan betapa sulitnya musim ketiga bagi Si Nyonya Tua. Selain harus mengatasi masalah psikologis seperti lalai karena merasa di atas angin, tim-tim yang lain pun semakin kompetitif dan mulai bisa mengubah taktik untuk melawan permainan Juventus. Untungnya musim kompetisi baru berlangsung 8 minggu. Masih ada waktu untuk memperbaiki masalah ini.
===
* Akun twitter penulis: @panditfootball
(a2s/krs)
Kemenangan 4-2 tersebut sempat membuat was-was suporter Fiorentina. Wajar, laga baru turun minum ruh Gariel Batistuta seakan mengoyak hati fans tuan rumah lewat dua gol selebarasi Paul Pogba dan Carloz Tevez.
Namun siapa sangka keajaiaban itu terjadi di sana. Butuh waktu 15 menit buat Fiorentina untuk membalilkan kedudukan dan mengantar Antonio Conte dan pasukannya pulang dengan tangisan kesedihan.
Eksperimen Montella
Sudah hampir sebulan lebih Fiorentina kehilangan Mario Gomez akibat cedera lutut yang ia dapat saat menghadapi Cagliari 19 September silam. Hilangnya Gomez amat berdampak pada performa tim karena kemudian mereka menang sekali, kalah sekali dan imbang dua kali dalam empat pertandingan di Serie A.

Menghadapi Juventus kemarin, pelatih Vicenzo Montella memang terlihat sedang mencari formula yang pas untuk keberlanjutan Fiorentina di laga-laga selanjutnya. Absennya Gomez membuat ia harus memikir ulang formasi dasar tim.
Saat Gomez masih ada, ia biasa menduetkan pemain Jerman itu dan Giuseppe Rossi di depan dengan memakai pola 3-5-2. Tetapi setelah Gomez cedera, alhasil terbentuklah pola 4-3-2-1 dengan Rossi sendirian di depan. Montela pun merombak lini belakang, dari tiga menjadi empat bek.
Perubahan inilah yang membuat Fiorentina menurun. Tetapi berkat perubahan ini pula, pelatih Conte dibuat pusing keliling dan dipaksa harus berderai air mata di depan katedral Artemio De Franchi.
Tak Turun dengan Skuat Utama
Di laga tadi malam Juve memang tampil tidak komplit dari menit-menit awal. Setelah kehilangan Stephan Lichsteiner dan Mirko Vucinic akibat cedera, pemain tengah Arturo Vidal pun dipaksa Conte duduk di bangku cadangan. Vidal dihukum karena tidak mengikuti sesi latihan. Mencermati permainan Quagriella yang tak begitu bagus saat melawan AC Milan di laga sebelumnya, Conte akhirnya memilih Llorente untuk mendampingi Tevez.
Sementara itu di kubu Fiorentina, faktor yang menarik dicermati adalah keputusan Montella memasang tiga pemain bertipikal centerback di belakang. Padahal, Fiorentina memakai formasi back-four 4-3-2-1. Montela mengorbankan posisi fullback kanan kepada Facundo Roncaglia, yang di pertandingan tadi malam posisinya bukan naik ke depan melainkan bergeser ke tengah.
Conte Memancing Montella
Saat menghadapi tim-tim kuat, sudah dapat ditebak jika di menit-menit awal Juventus pasti memainkan pertahanan yang amat dalam serta mengandalkan serangan balik semata. Namun Montella masih bingung apakah Juve akan menerapkan pola ini atau tidak.
Dimainkannya pemain bertipikal defensive midlfieder seperti Massimo Ambrosini dari menit-menit awal menjadi pembuktian keraguan Montela itu. Ini karena di musim lalu sudah jadi kebiasaan Montella untuk tidak memainkan pemain yang bertipikal murni bertahan di tengah. Dari keputusan memainkan Ambrossini, terlihat jika Montella takut Juventus akan total menyerang.

[Grafik Area Aksi Juventus menit 1-15. Sumer: squawka.com]
Nyatanya sampai menit 20, Juve bermain bertahan (lihat chalkboard). Mereka membentuk garis pertahanan di luar area final third dan selalu memberikan ruang kosong di garis tengah. Ini karena Pogba-Marchisio-Pirlo agak sedikit mundur menjaga kerapatan dengan tiga bek Bonucci-Barzagli-Chiellini.
Tak hanya itu, secara bergantian Tevez dan Llorente mundur ke tengah. Kondisi ini membuat serangan Juve dilakukan dengan umpan-umpan panjang.
Kedua tim memang bermain tak terbuka dan berhati-hati di awal babak pertama. Sama seperti Juve, Fiorentina pun sebenarnya tak menyerang total. Karena kesulitan menembus barisan pertahanan Juve, alhasil bola pun banyak bergulir di area pertahanan sendiri.
Peran penyerang Giuseppe Rossi sebagai targetman tak termaksimalkan. Ia lebih banyak sering mundur ke tengah. Sebabnya, dua pemain di belakang Rossi, yaitu Borja Valero-Cuadrado pun lebih bersifat melebar ke sayap. Sebenarnya ada Aquillani yang posisinya free role.
Ditariknya Ambrosini, La Viola Keropos di Tengah
Ditariknya Ambrosini di menit 27 membuat skema pertandingan menjadi sedikit berubah. Tumpulnya lini depan Fiorentina tak mampu memanfaatkan Juventus yang bertahan. Karenanya Montella mengganti Ambrosini dengan Mathias Fernandez, seorang pemain tengah yang bertipikal menyerang.
Conte berhasil memancing Montela untuk kembali ke pola lamanya dengan tak memakai DM. Dengan pola itu Montela dan Fiorentina berhasil dihancurleburkan di Artemio di Franchi setahun silam dengan skor telak 5 gol tanpa balas. Hal itulah yang ingin ditiru Conte.

[Perubahan Formasi Fiorentina]
Kendati formasi awal memakai empat bek, kenyataan di lapangan Fiorentina hanya memakai 3 bek. Hal ini terjadi karena fullback kiri Fiorentina, Manuel Pasqual, posisinya teramat jauh di depan. Ia jarang mundur dan bahkan selalu terlihat seperti seorang penyerang sayap. Fiorentina seolah ingin mengeskploitasi kelemahan sisi kanan Juventus dengan absennya Lichsteiner.
Naiknya Pasqual, otomatis menggeser posisi Roncaglia ke tengah. Patut diketahui, Roncaglia adalah seorang centerback bukan fullback. Karena itu pergeseran ini tak masalah baginya.
Dominasi Pirlo
Namun bergesernya Roncaglia berimbas pada lemahnya sayap kanan Fiorentina. Untuk membatasi serangan di lini ini, dengan cerdik Montella meminta Cuadrado menjadi seorang wingback yang lebih banyak beroperasi menyerang. Alhasil Asamoah pun jarang naik ke depan.
Lalu muncullah sosok Andrea Pirlo. Absennya Vidal yang bersifat box to box mau tak mau membuat Pirlo harus menggantikannya. Di pertandingan itu Pirlo lebih dinamis selalu naik dan mundur, tak hanya semata berperan sebagai deep lying mieldfider.
Sebelumnya, untuk menghentikan Pirlo, Montela menggunakan pertahanan dua lapis: Aquilani di lini depan dan Ambrosini di tengah. Tapi dengan ditariknya Ambrosini otomatis Fiorentina keropos di lini tengah. Terlebih dengan tak adanya pemain DM dan sayap kanan.
Kekosongan di kanan sebenarnya dengan baik mampu ditambal oleh Cuadrado, meskipun sesekali kalah cepat oleh Asamoah saat serangan balik.
Juventus Tempatkan Dua Pemain di Antara Lini Fiorentina
Masalah besar muncul saat Fiorentina tak memakai DM, Juventus selalu menempatkan dua orang diantara Pizzaro dan lini belakang Fiorentina. Yang memegang peran ini biasanya Tevez dan Pogba saat ada serangan balik dari Juventus.
Dua orang ini dengan leluasa menusuk ke kotak penalti untuk menerima umpan pantulan dari Llorente. Proses gol yang dicetak Pogba di menit 40 berawal dari proses seperti ini (lihat gambar di bawah):

[Awal Mula Gol Pogba]
Patut menuai sorotan adalah tiga bek Fiorentina, Sering terlihat mereka mengalami kebingungan. Apalagi support dari rekan-rekan mereka saat menerima serangan balik amatlah minim.
Tak adanya DM sering membuat gerak bek Fiorentina saat diserang selalu mundur mendekati kiper dan bukan menutup pemain Juve yang membawa bola. Akibatnya Juventus mempunyai cukup ruang di pinggir kotak penalti mengutak-atik bola.
Untuk menahan laju bola, barulah Savic atau Rodriguez naik ke depan.
Kecerdasan Montella Mengatasi Conte
Adu taktik dan strategi amat terasa betul di pertandingan ini, terutama di babak kedua. Berbeda dengan babak pertama saat Fiorentina bermain lebih menyempit dengan membentuk pola diamond di lapangan tengah, pada babak kedua Montela melebarkan posisi keempat gelandangnya. Valero dan Fernandez ditempatkan di sayap kiri sementara Aquilani-Cuadrado di kanan. Sementara itu Pizzaro jadi satu-satunya gelandang yg dekat dengan lini pertahanan. (Lihat chalkboard sebelum Joaquin masuk).

Masuknya Joaquin di menit 56 membuat rotasi besar-besaran di dalam formasi Fiorentina. Montela menukar posisi Cuadrado dengan menempatkannya di sayap kiri, sementara Fernandez berganti ke sayap kanan. Pizzaro didorong agak sedikit naik ke depan dan posisi gelandang bertahan diemban Valero (lihat chalkboard setelah Joaquin masuk).
Posisi lini belakang Fiorentina tak serentan seperti babak pertama karena Pasqual sudah kembali turun ke belakang sejajar dengan 3 bek lainnya. Posisi backfour ini bermain mundur di belakang dan selalu sejajar.
Menarik diperhatikan adalah rotasi di sayap kiri Fiorentina, Cuadrado hampir selalu bergerak cutting inside, sementara Valera bergerak diagonal ke arah sayap saat Cuadrado bergerak ke tengah.
Dengan cara ini permainan seolah pindah ke sayap kiri dengan pemain Juventus dan Fiorentina yang mendekati Cuadrado. Bergesernya Cuadrado dari kiri ke kanan membuat Asamoah naik ke depan saat Juve menyerang, sesuatu hal yang jarang ia lakukan.
Kekosongan sayap kiri Juventus menjadi petaka saat La Viola melakukan serangan balik. Polanya sama, yaitu serangan berawal dari sayap kiri dan dengan cepat dipindahkan ke arah sayap kanan yang sering didapati ruang kosong di sana. Dari pergerakan seperti inilah Rossi dan Joaquin mampu berkali-kali menembus pertahanan Juventus.
Rapuhnya Pertahanan Juventus
Saat Fiorentina menyamakan kedudukan, Juventus tak sempat merapikan barisan pertahanannya. Tim yang hanya kebobolan 20 gol di musim lalu ini pun hanya dalam waktu 15 menit kemasukan 3 gol. Juventus baru mendapatkan stabilitas saat Padoin, yang areanya berulang kali dieksploitasi oleh Joaqin dan Rossi, digantikan oleh Motta.
Selain itu, dengan perubahan yang dilakukan Montella di babak kedua dengan melebarkan permainan, Fiorentina mampu memanfaatkan kelemahan Juventus, yaitu di area sayap. Ini karena Asamoah jarang turun hingga garis pertahanan, dan Padoin tak mampu menghadapi kombinasi Joaquin-Rossi. Apalagi ketiga center-back Juventus sering bermain rapat, sehingga Fiorentina mendapatkan ruang yang cukup luang di sayap.
Kesimpulan
Memulai pertandingan dengan terpancing taktik Juventus dengan mengganti Ambrosini, Montella dengan cepat memperbaiki kesalahannya. Dua perubahan taktik yang ia lakukan di babak kedua terbukti efektif untuk menembus pertahanan Juventus.
Sementara untuk Conte, pertandingan ini membuktikan betapa sulitnya musim ketiga bagi Si Nyonya Tua. Selain harus mengatasi masalah psikologis seperti lalai karena merasa di atas angin, tim-tim yang lain pun semakin kompetitif dan mulai bisa mengubah taktik untuk melawan permainan Juventus. Untungnya musim kompetisi baru berlangsung 8 minggu. Masih ada waktu untuk memperbaiki masalah ini.
===
* Akun twitter penulis: @panditfootball
(a2s/krs)







