Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Spanyol: Barcelona 2-1 Real Madrid

    Neymar Beri Dimensi Baru Penyerangan Barca

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta -

    Beberapa bulan yang lalu, saat berita tentang kepindahan Neymar berhembus, banyak fans Barcelona yang tidak menyetujui pembelian ini. Neymar dikatakan sebagai pemain memiliki banyak trik tapi tidak sesuai dengan skema dan filosofi Barcelona.

    Bermain dalam debut El Clasico-nya, Sabtu (26/10/2013), Neymar mencetak satu gol dan membuat assist untuk membawa Barcelona menang 2-1. Ditempatkan sebagai sayap kiri, ia menunjukkan peran pentingnya dalam skema baru Barcelona di bawah Tata Martino. Neymar mampu membaca permainan dan mengambil keputusan yang benar: apakah akan cutting inside, atau tetap bergerak melebar.

    Di gol pertama Neymar dengan sabar menjaga kecepatannya, dan baru menusuk masuk saat Carvajal-Varane bergerak mendekati Iniesta dan ruang untuknya menembak tercipta. Sementara di gol kedua, Neymar bergerak hingga ke poros tengah lapangan, dan menerima umpan lambung untuk memberikan assist pada Alexis Sanchez.

    Tanpa Striker

    Baik Tata maupun Carlo Ancelotti sama-sama tidak menggunakanstriker murni sebagai starter. Ancelotti memilih untuk memainkan ketiga pemain sayap sekaligus, dengan Ronaldo berada di area tengah, Bale di kanan, Angel Di Maria di kiri, dengan Luka Modric sebagai penopang alur serangan. Namun, sepanjang pertandingan, posisi ketiga pemain sayap ini pun sering kali bertukar.

    Dalam skema awal Ancelotti menurunkan formasi 4-2-3-1, dengan poros ganda Ramos-Khedira untuk mem-back-up pertahanan. Namun, sepanjang babak pertama Modric lebih turun ke area tengah, sehingga Real praktis bermain dengan 3 garis dalam formasi 4-3-3. Di 45 menit pertama, Real memang terlihat berkonsentrasi dalam bertahan, dengan garis pemain tengah dan garis pertahanan yang rapat.

    Sementara di kubu Barcelona, Martino menurunkan Messi di kanan, Neymar di kiri, dan Fabregas sebagai penyerang tengah dalam formasi 4-3-3. Meski demikian, Neymar jadi pemain yang berposisi paling depan diantara ketiganya, dan Fabregas lebih ditarik mundur untuk memberikan umpan-umpan vertikal.

    Statis dan Pragmatisnya Leo Messi

    Dengan menempatkan Messi langsung berhadapan dengan Marcello, ada kekhawatiran bahwa Messi akan bergerak ke area tengah dan memberikan Marcello ruang saat adanya serangan balik. Dari keenam pemain Real yang berada di daerah pertahanan sendiri (keempat bek + Ramos-Khedira), memang Marcello yang memiliki potensi ancaman dalam serangan balik. Apalagi Messi juga sudah lama tidak berperan sebagai winger kanan dan lebih sering mengambil peran sebagai false-nine yang kali ini dimainkan Fabregas.

    Namun, dua hal bisa mereduksi hal tersebut.

    Pertama adalah Barcelona menempatkan Neymar sebagai sentral serangan. Dari grafik di bawah terlihat bahwa di babak pertama, hampir semua passing di sepertiga lapangan akhir akan diberikan pada Neymar, dan pemain ini seolah-olah menjadi targetman di sayap.

    Messi memang bergerak ke tengah, terutama ke area garis luar kotak penalti, namun ia cenderung statis berada di antara Varane dan Pepe. Messi dan Fabregas bergantian naik dan memberi tekanan pada dua centerback Real.


    [Grafik passing di final third Barcelona Menit 0-45. Sumber: fourfourtwo.com]

    Dengan cara ini bola hampir selalu berada di area kanan pertahanan Real. Akibatnya Marcello tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan driblling melalui serangan balik, terutama di babak pertama.

    Cara kedua adalah dengan Messi yang cenderung bermain pragmatis dan meredam sisi serangnya. Meski bermain sebagai sayap kanan, Messi jarang melakukan tusukan diagonal ke dalam kotak penalti untuk menyambut umpan terobosan. Dibandingkan dengan Fabregas dan Neymar pun, Messi cenderung bermain lebih dalam untuk menambah jumlah pemain Barcelona di tengah.

    Bahkan, Messi juga jadi pemain yang memiliki jumlah tekel tertinggi di antara pemain Barcelona, yaitu sebanyak 5 kali. Dengan cara ini, praktis Marcello tidak mampu untuk merangsek naik karena tertahan oleh Messi.


    [Grafik aksi Messi menit 0-45. Sumber: fourfourtwo.com]


    Mempertanyakan Ramos Sebagai Gelandang

    Sebagaimana ditunjukkan oleh grafik di atas, di babak pertama Neymar memang jadi pusat serangan. Ia dibantu oleh Iniesta yang juga bergerak di area kiri.

    Ancelotti mengantisipasi hal ini dengan menurunkan 3 centerback sekaligus: Ramos, Varane, dan Pepe. Ini berarti ada dua pemain Real yang akan menjaga Neymar (Carvajal-Khedira atau Varane-Carvajal), sementara Ramos menutup kekosongan yang ditinggalkan Khedira atau Varane.

    Namun dengan pemilihan Khedira–Ramos, Modric yang bermain turun ke bawah, dan Marcello tertahan, ini berarti tidak ada satu pun pemain yang mengalirkan bola ke lini depan. Tidak ada seorang Xabi Alonso yang mampu memindahkan arah permainan, atau mendikte tempo permainan.

    Ramos sendiri terlihat kebingugnan dalam melakukan tugasnya, baik saat bertahan maupun menyerang. Bahkan, ia jadi gelandang yang membiarkan Iniesta menusuk hingga ke pinggir kotak penalti, sehingga Carvajal tertarik untuk menutup gerak Iniesta dan malah memberikan ruang pada Neymar.

    Unit yang Terpisah

    Tidak adanya yang mengalirkan bola ke depan juga diperparah dengan pemain-pemain Real yang di tiap lininya berdiri hampir sejajar, membentuk garis lurus (demi mempertahankan bentuk saat bertahan) sehingga sudut untuk melakukan passing pun tidak tercipta. Apalagi Ramos tidak memiliki kecepatan untuk melakukan serangan balik, sehingga ketiga pemain depan seolah menjadi unit terpisah.

    Karena itu, di babak pertama Ronaldo pun lebih sering turun ke tengah lapangan untuk menjemput bola, dan Di Maria yang jadi pemain paling depan. Bahkan, attempt pertama yang dilakukan Ronaldo pun baru bisa terjadi di menit-57.

    Dari tiga attempt yang dilakukan oleh Real Madrid di babak pertama, 2 di antaranya juga berasal dari tendangan spekulasi Bale dari luar kotak penalti. Ini membuktikan bagaimana kesulitannya Real mengalirkan bola di babak pertama.

    Transformasi El Real di Babak Kedua

    Memasuki babak kedua, Real Madrid mengganti pola bermainnya. Ini dilakukan dengan cara dua hal: mendorong Ronaldo-Di Maria-Bale untuk lebih maju dan melakukan pressing di area pertahanan Barcelona.

    Di babak pertama, saat bertahan Real lebih menjaga bentuk dengan membuat dua garis pertahanan. Namun Real tidak melakukan pressing. Ini diubah oleh Ancelotti di babak kedua. Mulai dari tengah lapangan (lihat kotak merah pada grafis), Real sering melakukan defensive action untuk merebut bola. Aksi ini dibantu juga oleh ketiga pemain depan memberikan tekanan pada keempat bek Real.



    Cara yang kedua adalah dengan memasukkan Asier Illaramendi dan menaikkan Modric semakin ke depan. Dengan Illaramendi yg memiliki kecepatan serta kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya, maka Modric bisa naik ke batas sepertiga lapangan akhir dan menjadi pengatur serangan (lihat kotak merah pada grafik Modric).



    Selain itu, Khedira pun lebih leluasa untuk bergerak masuk ke dalam kotak penalti Barcelona. Ini karena Khedira sering tidak terjaga karena memulai larinya dari daerah pertahanan sendiri, seperti halnya seorang centerback yang menyerang.

    Taktik ini terbukti efektif. Berulang kali Real mampu menembus kotak penalti Barcelona dan menciptakan peluang. Sayangnya ini masih bisa dimentahkan oleh Valdes, Pique, atau Mascherano. Ronaldo hingga menjelang akhir pertandingan masih merasa kesal karena tidak diberikan penalti, setelah Mascherano mendorongnya.

    Serangan Real kemudian jadi lebih tajam setelah Benzema masuk menggantikan Bale, karena ini berarti Ronaldo bisa bebas bergerak menusuk dari kotak penalti, baik melalui kiri atau kanan serangan. Benzema juga sempat menggetarkan mistar gawang Valdes setelah melakukan tendangan keras dari luar kotak penalti.

    Barcelona Beradaptasi

    Dengan Real yang terus melakukan pressing, maka Barcelona pun beradaptasi baik dalam bertahan maupun menyerang. Song masuk untuk menggantikan Iniesta dan berhadapan langsung dengan Modric.

    Sementara saat menyerang, Barca mengandalkan Dani Alvez yang bergerak naik, dan Sanchez yang masuk menggantikan Fabregas. Neymar sendiri lebih sering bergerak ke tengah saat adanya serangan balik dan berada sejajar dengan Messi.

    Saat ada serangan balik, maka bola dari tengah akan diarahkan dengan cepat ke arah Sanchez (lihat grafik di bawah). Ini dilakukan untuk memanfaatkan kecepatan Sanchez dan Alvez saat menyerang. Apalagi Marcello sering kali terpancing keluar dari areanya untuk ikut menyerang. Dengan skema inilah gol kedua Barca lahir.


    [Grafik passing di area final third Barcelona setelah Alexis Sanchez masuk]

    Kesimpulan

    Barca memenangkan El Clasico tanpa Messi yang fit 100% dan bermain cemerlang. Jika ada satu hal yang bisa ditarik dari pertandingan semalam, boleh jadi kesimpulan itu yang paling terlihat. Kehadiran Neymar mampu memberikan dimensi baru pada serangan Barcelona. Demikian pula dengan Lionel Messi yang mampu beradaptasi dengan peran baru, saat tidak berada dalam kondisi terbaik.

    Di sisi Real Madrid, terlihat jelas di babak pertama bahwa formasi bertahan yang diterapkan Ancelotti tidak bisa berjalan. Apalagi ini dicoba juga sekalian dengan memainkan 3 pemain sayap sekaligus. Setelah kembali pada dua gelandang di tengah dan menaikkan Modric, barulah Real bisa mengimbangi permainan Barcelona. Hal ini berarti Real Madrid belum menemukan pakem terbaiknya di bawah Ancelotti.

    Di awal-awal musim, baik Ancelotti maupun Martino menghadapi pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana menggabungkan 2 pemain terbaiknya dalam satu formasi. Ancelotti harus memadukan Ronaldo dan Bale, sementara Martino dengan Messi dan Neymar. Setelah El Clasico ini, terlihat satu pelatih yang sudah hampir menemukan jawabannya: Martino.


    ===

    * Akun twitter penganalisis: @panditfootball

    (/)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game