Liga Italia: Udinese 0-1 AS Roma
Dalam Kondisi Pincang pun Roma Masih Bisa Menang
Seolah tak terbendung, invasi AS Roma di Serie A kembali menelan korban. Tadi malam (27/10), seisi stadion Friuli seolah tak percaya bahwa serigala yang datang pincang dan nyaris mati di babak pertama, malah mampu bangkit melawan dan membunuh sang tuan rumah.
Di awal musim Dewi Fortuna seolah selalu berpihak kepada Roma. Bagaimanapun juga, kemenangan beruntun dengan hanya kebobolan 1 gol adalah suatu prestasi yang sulit berulang. Ujian itu datang tadi malam, saat Rudi Garcia diminta Romanisti untuk memperpanjang rekor manis tersebut.
Dengan sedikit keberuntungan, ternyata Garcia dapat merealisasikan mimpi tersebut. Kemenangan tipis atas Udinese tersebut membuat I Lupi kian nyaman duduk sebagai capolista.
Serigala yang Pincang
Bertamu ke Stadio Friuli, Roma sesungguhnya tampil pincang. Absennya Francesco Totti dan Gervinho akibat cedera amat berpengaruh. Terlebih kedua pemain itu menjadi tulang punggung Roma saat melakukan serangan. Total 6 gol dan 9 assist dibukukan keduanya dalam 8 pertandingan terakhir.
Absennya mereka mau tak mau membuat Garcia melakukan sedikit perombakan di starting line up. Posisi yang semula ditempati Totti dan Gervinho diberikan kepada Marco Borriello dan Adem Ljajic dan selebihnya posisi pemain inti tetap sama.
Menghadapi Strootman dengan Sayap Bertahan
Sementara itu di kubu tuan rumah, untuk meredam Roma pelatih Francesco Guidolin memasang beberapa pemain inti di posisi yang tak lazim. Memainkan pola 3-5-1-1, Guidolin tak memasang seorang wingback murni di barisan sayap kiri. Pemain yang diturunkan malam tadi di posisi ini yaitu Roberto Pereyra, seorang gelandang bertahan.
Sepanjang pertandingan Pereyra selalu bergantian posisi dengan Emmanuel Agyemang-Badu yang menjadi motor penggerak serangan. Kedua pemain ini memang memiliki dua kesamaan: mampu ditempatkan sebagai gelandang serang dan gelandang bertahan di posisi kanan. Lihat grafik line up berikut ini:
Di pasangnya seorang gelandang bertahan di sayap kanan menjadi sebuah penanda bahwa absennya Totti dan Gervinho membuat Guidolin terfokus menahan laju Roma di lini itu. Ia paham betul selama ini Roma selalu mengeksploitasi serangan di lini ini melalui duet Totti-Gervinho-Strootman. Kehadiran Strootman cukup diwaspadai Guidolin karena pemain Belanda itu sudah membuat 5 assist untuk timnya.
Percobaan yang dilakukan Guidolin dengan tak memasang wingback di kanan mengubah drastis pola pertahanan Udinese. Meski memakai pertahanan 3 bek pada formasi awal, kenyataanya saat pertandingan berlangsung yang lebih kentara terlihat adalah pola 4 bek sejajar. [Lihat grafik di atas, tentang posisi pemain Udinese di babak pertama.]
Guidolin menggeser 3 center bek di belakang ke posisi yang agak lebih ke kanan, ruang kosong di kiri diisi oleh Gabriel yang posisinya mundur ke dalam menjadi sejajar dengan Thomas Heurtaux-Danilo-Naldo.
Sebagai seorang pemain bertipikal centerback yang dipasang di fullback, otomatis Heurtaux tak pernah naik ke depan. Begitupun dengan Gabriel yang diintruksikan tak keluar dari posisinya di lini pertahanan. Peran mereka jelas, untuk menahan dua fullback Roma yang kerap menusuk ke dalam yaitu Balzaretti dan Maicon.
Hal inilah yang diinginkan Guidolin. Melawan Roma ia mematikan seluruh fungsi penyerangan sayap Udinese dan mengubahnya jadi lini pertahanan pertama. Udinese pun lebih memilih bersabar, dan menunggu momen serangan balik yang dilakukan dari tengah.
Udinese Memanfaatkan Maicon dan Balzaretti
Menarik dicermati di babak pertama adalah pola serangan Udinese yang memanfaatkan overlapping Maicon dan Balzaretti.
Saat menyerang Udinese memakai pemain tak lebih dari empat orang. Guidolin menempatkan Di Natale sendirian di depan, yang biasanya dijaga oleh Leandro Castan. Dengan cerdik Di Natale selalu menggiring Castan bermain melebar.
Lalu, dari belakang Lazzari selalu mendekat kepada Benatia dan melakukan seperti yang dilakukan Di Natale. Taktik ini terjadi ruang kosong di depan area final third Roma, saat itulah peran Luis Muriel bekerja.
[Pola serangan Udinese Babak I]
Kendati diposisikan sebagai penyerang yang berdiri di belakang Di Natale, pergerakan Muriel bersifat tak statis alias acak. Kecepatan dan dribbling menusuknya dari tengah sering membuat De Rossi kelabakan.
[Posisi Pemain AS Roma dan Udinese di Babak Pertama]
4-4-2 Garcia yang Tak Berjalan Efektif
Kehilangan Totti membuat Garcia melakukan eksperimen baru. Ia kemudian menggunakan seorang targetman yang diperankan Borriello. Pola 3 striker yang diadopsi Roma pun berubah dengan menempatkan penyerang tengah sebagai ujung tombak, bukan yang bergerak mundur alias false nine seperti yang biasa dilakukan Totti.
Tak adanya peran false nine dan pola pertahanan Udinese membuat serangan-serangan dari sayap yang selalu menjadi kunci gol-gol Roma tak terjadi tadi malam. Roma lebih memilih mengalirkan bola dari tengah ke tengah.
Namun, kehadiran tiga pemain gelandang yang dintruksikan bertahan (Badu-Pinzi-Pereyra) membuat aliran bola terhadap Borriello amat minim terjadi.
Saat diserang oleh Roma, 3 centerback Udinese bermain merapat di dalam kotak penalti mengapit Borriello dan Florenzi/Ljajic (lihat grafis posisi pemain Roma dan Udinese). Ini menyebabkan para gelandang tengah Roma kesulitan menembus barikade pertahanan berlapis Udinese, yang oleh Guidolin sengaja diposisikan rapat antara lini belakang dan tengah. Kerapatan ini mengurung dua striker Roma di dalam kotak pinalti, menjauhkan mereka dari para gelandang Roma.
Penjagaan ketat yang diberikan Udinese membuat peran penyerang-penyerang Roma yang beroperasi di kotak penalti seolah tak berguna. Di babak pertama, Balzaretti bahkan sama sekali tak melakukan passing di area final third lawan.
Kebuntuan ini membuat di pertengahan babak pertama, Garcia menarik Adem Ljajic lebih mundur ke belakang menjadikan formasi 4-4-3 berubah menjadi 4-4-2. Sayang, formula ini tak begitu berhasil.
Kartu Merah Maicon
Diusirnya Maicon akibat menerima akumulasi kartu kuning membuat kedua pelatih memutar otak mengganti taktik masing-masing. Beberapa menit pasca keluarnya Maicon, Udinese langsung bermain total menyerang. Gabriel yang semula selalu diam di belakang mulai berani naik kedepan untuk mengeksploitasi kosongnya sayap kanan Roma.
Untuk menciptakan keseimbangan di antara dua sisi sayap, Guidolin menarik Heurtaux menggantinya dengan seorang pemain sayap murni yaitu Dusan Basta.
Jika di babak pertama, Udinese hanya memakai satu fullback, setelah masuknya Basta, Udinese dapat lebih leluasa memakai dua fullback, baik itu kanan (Basta) maupun kiri (Gabriel). [Lihat grafik di bawah ini:]
Tak hanya di lini sayap, Guidolin pun melakukan rotasi di lini tengah. Posisi Emmanuel Badu yang sebelum jeda pertandingan dipasang agak tengah, pada babak kedua digeser ke posisi sayap kanan. Ia yang menahan laju Balzaretti saat serangan balik. Eksploitasi serangan ke sayap kanan Roma terus di optimalkan Guidolin di antaranya dengan memindahkan Pereyra sebagai flank kiri, alhasil Udinese bermain 4-3-3.
[Grafik Posisi AS Roma Setelah Bradley Masuk]
Ujian Untuk Garcia
Kendati terus menerus digempur dan kalah jumlah pemain, sangat terlihat jelas Rudi Garcia meminta anak asuhnya untuk terus berjuang untuk meraih kemenangan. Kecerdasan Garcia diuji betul di laga ini. Ia pun mampu lolos dari ujian itu. Kemenangan yang ia dapat atas Udinese tak berdasarkan keberpihakan Dewi Fortuna semata, taktiknya menghadapi perubahan Guidolin memang patut diacungi jempol.
Terlihat dari grafik di atas, bahwa pertahanan Udinese bukannya tanpa celah. Sisi sayap kiri mereka amatlah rapuh karena hanya mengandalkan kedisplinan Gabriel semata.
Sebelumnya, saat Maicon masih berada di lapangan, sisi ini tidak dapat dieksploitasi karena Florenzi bermain angin-anginan. Akibatnya performa Maicon pun tak maksima. Itu sebabnya Florenzi diganti Marquinho di menit 62. Pergantian ini membuat Maicon bermain sebagai pemain sayap, dan Marquinho sebagai fullback. Namun, baru beberapa menit taktik ini berjalan, Maicon terpaksa diusir wasit.
Bolong inilah yang terus menerus dieskploitasi oleh Udinese. Mengorbankan pergantian Pjanic dengan Torosidis adalah sebuah keputusan yang berat bagi Garcia karena membuat Roma bertahan penuh. Tetapi nyatanya, kehadiran Torisidis tak mengentikan gempuran Udinese.
Karenanya untuk menghentikan suplai bola ke arah tengah (lihat posisi gelandang pada grafik serangan Udinese sesudah Maicon out), Garcia memplot De Rossi-Strootman sebagai poros ganda. Posisi mereka amatlah rapat dengan keempat bek di belakang. Strategi ini terbukti efektif. Bahkan, Roma pun sesekali dapat melakukan serangan balik.
[Grafik Gol AS Roma]
Skema serangan balik yang disusun Garcia pun tergolong cukup cerdas yaitu dengan memancing pemain-pemain Udinese untuk menyempit ke tengah. Saat itulah biasanya muncul pemain dari belakang untuk melakukan shooting atau dribbling.
Pergerakan Marquinho mampu menarik ketiga bek Udinese, sementara Llajic juga memaksa salah satu bek Udinese untuk mundur. Akibatnya Michael Bradley yang tak terkawal mampu menceploskan bola ke gawang Udinese.
===
* Analisis oleh @panditfootball








