Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Chelsea 2-1 Man City

    Pergerakan Torres dan Efektivitas Chelsea

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Shaun Botterill/Getty Images Shaun Botterill/Getty Images
    Jakarta -

    Satu kesalahan yang dibuat dapat berdampak pada berubahnya hasil pertandingan. Hal ini yang mencerminkan kondisi Manchester City kala menghadapi Chelsea pada gelaran Liga Inggris pekan ke-9, Minggu (27/10/2013) kemarin.

    Blunder yang dilakukan oleh barisan pertahanan City seakan mempersilakan Chelsea untuk mempersembahkan 3 poin untuk para fansnya di Stamford Bridge. The Citizens juga gagal mengantisipasi ancaman Chelsea yang kerap mencetak gol pada interval 15 menit akhir pertandingan. Faktanya, 6 dari total 14 gol yang dibuat The Blues lahir pada periode tersebut

    Bertumpu pada Gelandang

    Tampil dengan 5 gelandang di tengah, Chelsea menempatkan Ramires dan Lampard pada poros ganda. Sedangkan Schuerrle, Oscar, dan Hazard berada di belakang Torres yang menjadi penyerang tunggal.

    Hal yang sama pun diterapkan oleh Pellegrini kepada skuatnya. Javi Garcia dan Fernandinho berada pada posisi double-pivot dengan Nasri, Toure dan David Silva berada di depannya. Akan tetapi, meskipun City sama-sama menempatkan 5 gelandang di tengah peran mereka berbeda.



    Yaya Toure, yang bermain di belakang posisi Aguero, menjalankan fungsi dalam menekan pergerakan Ramires dan Lampard. Dengan kemampuan Nasri, Silva dan Aguero yang kurang baik dalam bertahan, Pellegrini menyeimbangkan lini tengahnya dengan menempatkan Toure sebagai pemain bertahan lapis pertamanya.

    Sedangkan peran dalam membagikan bola dibebankan kepada Fernandinho dengan Javi Garcia yang bertanggung jawab untuk membantu lini pertahanan City.

    Dengan skema tersebut setidaknya City mampu menguasai pertandingan dengan berhasil mendominasi ball possession. Akan tetapi, meskipun unggul dalam penguasaan bola bukan berarti City dapat melakukan penyerangan dengan mudah.

    Garis pertahanan dalam yang diterapkan oleh Mourinho menyebabkan passing yang dialirkan ke depan acapkali mampu diantisipasi oleh barisan pertahanan Chelsea.


    [Chalkboard clearance Chelsea]

    Eksploitasi Sayap

    Ditumpuknya gelandang City di tengah dan cukup disiplinnya pertahanan Chelsea menyebabkan penyerangan City buntu. Oleh karena itu, guna meningkatkan daya gedor serangan, Zabaleta dan Clichy dituntut guna membantu serangan.

    Akan tetapi, dengan kondisi tersebut, praktis City hanya menyisakan 3 pemain untuk fokus pada pertahanan dengan tugas yang dibebankan kepada Javi Garcia, Nastasic, dan Martin Demichelis.

    Dengan ruang kosong yang ditinggalkan berada di sayap, Chelsea dengan baik mampu mengeksploitasi area tersebut. Terlebih pada sayap kanan. Dengan Fernandinho yang jadi kreator serangan di lini tengah, Clichy bekerja sendirian dalam menahan serangan yang datang ke areanya.


    [Chalkboard crossing Chelsea]

    Ditambah lagi Torres bermain lebih dalam, bergerak melalui sayap, dan bertukar posisi dengan Schuerrle, praktis lini pertahanan City terpancing untuk turut maju dan membuka ruang di lini tengah. Ruang kosong itulah yang setidaknya dimanfaatkan oleh para gelandang Chelsea khususnya Schuerrle, yang berganti posisi dengan Torres.

    Gol yang lahir oleh Schuerrle pun tak lepas dari skema serangan yang berasal dari penetrasi Torres di sisi kanan penyerangan.

    Meski berperan sebagai targetman, Torres memang bergerak hampir ke semua lini. Mulai dari bertukar posisi dengan Schuerrle di sayap kanan, berlari ke arah bek City untuk berduel, atau merebut bola di area serang Chelsea, dilakukan oleh Torres. Ia tak pernah berdiam di satu area saja. Ini menyebabkan kedua bek City kesulitan untuk menjaganya.


    [Grafik area aksi Fernando Torres]

    Aguero Bergerak Sendirian

    Meskipun City menumpuk gelandangnya di tengah, Sergio Aguero kesulitan dalam melakukan penetrasi serangan. Jarak yang cukup jauh antara dia dengan gelandang, dan tidak adanya pemain City yang turut maju untuk membangun serangan, menyebabkan pergerakan Aguero berhasil diredam oleh barisan pertahanan Chelsea.

    Memang, Pellegrini tampak mengandalkan kecepatan Aguero dalam mengeksploitasi lini pertahanan Chelsea. Aguero pun hanya ditugaskan untuk mencari ruang. Tujuannya agar penguasaan bola oleh lini tengah City dapat dikonversi jadi umpan terobosan untuk Aguero.

    Usaha tersebut pun akhirnya membuahkan hasil. Melalui bola yang langsung dialirkan lewat pemain bertahan ke gelandang ke arah depan, Aguero mampu memanfaatkan celah antara full-back dan centre-back. City pun menyamakan kedudukan.

    Meredam Sayap Chelsea

    Menyadari lemahnya sisi sayap City, di babak kedua Pellegrini pun akhirnya merespons dengan memasukkan Jesus Navas dan Kolarov untuk menggantikan Samir Nasri dan Javi Garcia. Navas dan Kolarov yang notabene pemain sayap natural setidaknya mampu menahan pergerakan Chelsea, yang awalnya cukup dominan menguasai area tersebut.

    Dengan masuknya Kolarov, seorang defensive winger, Chelsea tak lagi dapat berbuat banyak di area kanan penyerangan. Ini terlihat pada grafik di bawah ini:


    [Chalkboard passing Chelsea di babak kedua]


    Dengan tidak banyaknya pergerakan sayap kanan Chelsea, Mourinho mengubah pola serangannya dengan menggunakan sayap kiri. Akan tetapi, Chelsea juga kesulitan untuk masuk ke area tersebut.

    Dengan ditariknya Javi Garcia, Yaya Toure kemudian jadi gelandang yang berperan dalam meredam pergerakan pemain Chelsea di sayap. Hasilnya, Chelsea pun kesulitan untuk masuk ke area penalti City.

    Pressing Ketat Chelsea

    Chelsea menerapkan pressing ketat di seluruh area lapang. Ini yang jadi alasan City tak dapat menguasai bola dengan leluasa.



    Pressing ketat yang dilakukan Chelsea pun bisa memaksa lini pertahanan City melakukan kesalahan. Ini yang jadi awal dari gol kedua Chelsea. Ini terjadi saat Torres menekan Nastasic, saat Nastasic hendak mengamankan umpan panjang dari Willian. Akibatnya, Nastasic malah mengirimkan bola ke area depan gawang. Dengan posisi Joe Hart yang terlanjur maju ke depan, Torres pun akhirnya mampu mencetak gol ke gawang yang telah kosong.

    Kesimpulan

    Chelsea berhasil meraih kemenangan dengan mengandalkan ciri khas permainannya: tidak mengandalkan penguasaan bola, tidak mengandalkan intensitas serangan, akan tetapi mengandalkan efektivitas serangan.

    Catatan rataan 17 tembakan per game pun menunjukkan Chelsea bermain cukup baik dalam serangan meski tidak terlalu mengandalkan penguasaan bola. Dari 4 besar klub di klasemen, Chelsea hanya kalah atas Tottenham Hotspur dalam catatan rataan shot per game.

    Sedangkan di pihak City, setidaknya tim mereka boleh berbangga dengan banyaknya variasi formasi dan metode yang berbeda di setiap pertandingannya. City tidak hanya bergantung pada 4-4-2, akan tetapi formasi 4-2-3-1 pun kerap menjadi andalan bagi Pellegrini.

    Tapi, meskipun banyak variasi skema yang diterapkan, Pellegrini pun kembali menunjukkan inkonsistensinya dalam mempersembahkan kemenangan. Bertengger pada posisi 7 tentu bukan harapan bagi mereka, apalagi jika masih ingin bersaing dalam perebutan gelar juara Premier League.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball

    (krs/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game