Match Analysis
Playoff Piala Dunia 2014: Portugal 1-0 Swedia
Ketika Ronaldo Jadi Pembeda
Jakarta - Meski Portugal mampu meraih kemenangan atas Swedia, dapat dikatakan penampilan skuat asuhan Paulo Bento ini tampil dengan performa tidak istimewa. Hal yang sama juga setidaknya ditunjukkan oleh Swedia. Kedua tim tampil dengan skema yang tidak jelas.
Banyaknya through pass, umpan silang, dan tembakan dari luar kotak penalti yang terkesan dipaksakan membuat usaha kedua kesebelasan sia-sia. Tempo serangan cepat yang diterapkan pun menjadi terlihat membosankan, karena permainan cenderung terburu-buru.

Ibra yang Terlambat Naik
Tampil dengan formasi 4-4-1-1, Swedia menempatkan Ibrahimovic sebagai ujung tombak serangan. Akan tetapi, peran mantan pemain Ajax Amsterdam tersebut tidak terlalu menonjol dalam pertandingan ini. Ibrahimovic kerap terlambat naik untuk menerima umpan silang dari sayap.
Memang, Ibra sendiri menjalankan dua fungsi. Selain berperan sebagai penerima crossing, peran sebagai pemantul bola pun turut dijalankannya. Untuk peran sebagai pemantul, ia mampu menjalankan dengan baik dengan memantulkan bola pada Kacaniklic di sayap kiri, ataupun Sebastian Larsson di sayap kanan.
Namun, peran lainnya, yaitu sebagai penerima umpan, tidak sempurna. Kecepatan kedua sayap memasuki area sepertiga serangan tidak mampu diimbangi oleh Ibra. Oleh karena itu, serangan yang dibangun Swedia kerap mampu diantisipasi barisan pertahanan Portugal.
Bertumpu Pada Nani dan Skema Portugal di Final Third
Dengan formasi 4-3-3 yang digunakan Portugal, praktis akan ada 3 pemain di depan. Portugal mengenakan pakem dasar Nani di kanan, Postiga di tengah, dan Ronaldo di kiri. Namun, pada prakteknya ketiganya juga sering bertukar posisi dan peran.
Tumpuan serangan berada pada Nani di sisi kanan, yang bertugas membawa bola masuk ke area final third. Saat bola ada di kaki Nani, Ronaldo akan masuk ke dalam kotak penalti. Formasi Portugal kemudian jadi tidak simetris, dengan Ronaldo dan Postiga sejajar dan saling berdampingan layaknya skema 2 striker. Pola hampir sama juga terjadi saat bola berada di kaki Ronaldo (sisi kiri).
Namun, saat bola bukan pada Nani maupun Ronaldo, skema penyerangan jadi sedikit berbeda. Salah satu dari ketiganya akan sedikit turun, dan dua lainnnya tetap masuk ke dalam kotak penalti. Itu artinya bahwa instruksi yang diberikan adalah tetap meninggalkan hanya dua orang pemain sebagai targetman. Ini untuk memanfaatkan bola crossing yang diarahkan ke kotak penalti.
Sebenarnya dua targetman di kotak penalti juga tidak sendirian. Akan ada salah satu gelandang lain yang biasanya ikut naik ke dalam kotak penalti. Sementara itu, sisa pemain menunggu bola pantulan atau hasil clearance bek Swedia.

Grafik arah serangan Portugal (credit: whoscored)
Bermain Melebar Namun Gagal Memanfaatkan Ruang
Meski ditempatkan pada posisi tepat di belakang Ibrahimovic, Johan Elmander sendiri sering beroperasi pada sayap kanan serangan Swedia. Hal ini karena Coentrao yang mengisi pos full-back kiri Portugal kerap melakukan overlapping. Celah ini lah yang berusaha dimanfaatkan oleh Elmander.
Namun, dengan tidak adanya aliran bola ke lini depan, usaha Elmander dalam mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Portugal kerap gagal. Bahkan, lebih parahnya lagi Elmander malah sering terlihat membantu lini pertahanan karena minimnya serangan ke lini depan.

Heatmap Johan Elmader (espnfc.com)
Triangular Portugal di Akhir Pertandingan
Cukup seringnya Elmander membantu lini pertahanan pun tak lepas dari faktor padunya triangular yang dibangun oleh Portugal dari sisi kiri serangan. Kombinasi segitiga sering digalang baik oleh trio Fabio Coentrao-Raul Meireles-Ronaldo ataupun Coentrao-Miguel Veloso-Meireles.
Meskipun Swedia bermain dengan menumpuk tiga pemainnnya di kanan, tetap saja Portugal mampu melakukan crossing dengan leluasa. Ini karena Sebastian Larsson dan Johan Elmander tidak melakukan pressing melainkan masuk ke area kotak penalti.
Kombinasi antara Coentro-Meireles-Ronaldo kerap terjadi ketika CR7 turun untuk menjemput bola. Sementara kombinasi Coentrao-Veloso-Meireles terjadi ketika Ronaldo telah siap dan berada pada kotak penalti.
Terlebih pada rentang waktu 15 menit akhir babak kedua. Coentrao, Veloso juga Meireles kerap bergantian melakukan penetrasi menuju area kotak penalti. Coentrao sendiri lebih sering melakukan cutting inside, yang disokong oleh kombinasi passing antara Veloso dan Meireles.
Sedangkan Veloso dan Meireles bertugas untuk melakukan umpan crossing langsung menuju area kotak penalti. Gol yang mampu diciptakan oleh Ronaldo pun tak lepas dari skema yang telah diterapkan. Crossing dari Miguel Veloso mampu dijadikan gol oleh Ronaldo, yang berujung pada gol tunggal Portugal.
Jarak Antarpemain Swedia yang Jauh
Tiga pemain depan Portugal memang aktif melakukan tekanan pada pemain Swedia sejak awal permainan. Ketiga pemain ini bertugas sebagai pertahanan lapis pertama. Ketika bola dikuasai oleh keempat bek Swedia, merekalah yang memberi tekanan, atau merebut bola sedini mungkin.
Meski sering gagal merebut bola secara langsung, dampak yang ditimbulkan sebenarnya sangat besar. Jarak antar lapisan lini Swedia menjadi lebih lebar, terutama bek dan gelandang. Karena adanya tekanan tadi, gelandang Swedia seakan menjadi kehilangan fungsi. Akhirnya pemain Swedia pun langsung menerapkan umpan jauh. Upaya tekanan ini juga didukung oleh para gelandang Portugal, bahkan hanya menyisakan Miguel Veloso sendiri yang membantu pertahanan.
Namun dengan hanya menyisakan Veloso di lini pertahanan, Portugal seolah sendiri memberikan kesempatan bagi Swedia. Maka, meski terkesan tidak efektif, namun praktek umpan jauh Swedia ini juga kadang menjadi sangat berbahaya.
Jarak antar pemain yang jauh juga memaksa Swedia untuk melakukan crossing dari dalam, yaitu umpan silang yang dilakukan sebelum memasuki area final third. Tidak ada penghubung antara sayap belakang dengan striker, sehingga bola lebih sering langsung dikirimkan ke depan.
Kesimpulan
Banyak yang menyayangkan kedua tim ini harus berada di fase playoff penentuan ke Piala Dunia. Namun melihat hasil semalam, keraguan tersebut nampaknya harus segera dihilangkan. Harus dikatakan bahwa keduanya memang layak bertarung di fase playoff.
Hanya faktor dua mega bintang dan kapten mereka, Ronaldo (Portugal) dan Ibrahimovic (Swedia), yang aksinya disayangkan jika tidak tampil di Piala Dunia. Performa keduanya sebenarnya juga tidak terlalu istimewa di tim nasional dan tidak superior seperti halnya saat membela klub masing-masing.
Permainan yang ditunjukan Swedia dan Portugal jauh dari kata efektif, dengan pola penyerangan yang terkesan buru-buru. Peluang yang ada juga lebih sering gagal dimanfaatkan. Maka, jika ingin menonton Piala Dunia yang lebih atraktif, sudah selayaknya memberi hanya satu slot bagi kedua tim ini untuk lolos di Brazil tahun depan.
Pertarungan Portugal dan Swedia di leg kedua nanti semoga jadi lebih menghibur
====
*dianalisis oleh: @panditfootball
(roz/roz)
Banyaknya through pass, umpan silang, dan tembakan dari luar kotak penalti yang terkesan dipaksakan membuat usaha kedua kesebelasan sia-sia. Tempo serangan cepat yang diterapkan pun menjadi terlihat membosankan, karena permainan cenderung terburu-buru.

Ibra yang Terlambat Naik
Tampil dengan formasi 4-4-1-1, Swedia menempatkan Ibrahimovic sebagai ujung tombak serangan. Akan tetapi, peran mantan pemain Ajax Amsterdam tersebut tidak terlalu menonjol dalam pertandingan ini. Ibrahimovic kerap terlambat naik untuk menerima umpan silang dari sayap.
Memang, Ibra sendiri menjalankan dua fungsi. Selain berperan sebagai penerima crossing, peran sebagai pemantul bola pun turut dijalankannya. Untuk peran sebagai pemantul, ia mampu menjalankan dengan baik dengan memantulkan bola pada Kacaniklic di sayap kiri, ataupun Sebastian Larsson di sayap kanan.
Namun, peran lainnya, yaitu sebagai penerima umpan, tidak sempurna. Kecepatan kedua sayap memasuki area sepertiga serangan tidak mampu diimbangi oleh Ibra. Oleh karena itu, serangan yang dibangun Swedia kerap mampu diantisipasi barisan pertahanan Portugal.
Bertumpu Pada Nani dan Skema Portugal di Final Third
Dengan formasi 4-3-3 yang digunakan Portugal, praktis akan ada 3 pemain di depan. Portugal mengenakan pakem dasar Nani di kanan, Postiga di tengah, dan Ronaldo di kiri. Namun, pada prakteknya ketiganya juga sering bertukar posisi dan peran.
Tumpuan serangan berada pada Nani di sisi kanan, yang bertugas membawa bola masuk ke area final third. Saat bola ada di kaki Nani, Ronaldo akan masuk ke dalam kotak penalti. Formasi Portugal kemudian jadi tidak simetris, dengan Ronaldo dan Postiga sejajar dan saling berdampingan layaknya skema 2 striker. Pola hampir sama juga terjadi saat bola berada di kaki Ronaldo (sisi kiri).
Namun, saat bola bukan pada Nani maupun Ronaldo, skema penyerangan jadi sedikit berbeda. Salah satu dari ketiganya akan sedikit turun, dan dua lainnnya tetap masuk ke dalam kotak penalti. Itu artinya bahwa instruksi yang diberikan adalah tetap meninggalkan hanya dua orang pemain sebagai targetman. Ini untuk memanfaatkan bola crossing yang diarahkan ke kotak penalti.
Sebenarnya dua targetman di kotak penalti juga tidak sendirian. Akan ada salah satu gelandang lain yang biasanya ikut naik ke dalam kotak penalti. Sementara itu, sisa pemain menunggu bola pantulan atau hasil clearance bek Swedia.

Grafik arah serangan Portugal (credit: whoscored)
Bermain Melebar Namun Gagal Memanfaatkan Ruang
Meski ditempatkan pada posisi tepat di belakang Ibrahimovic, Johan Elmander sendiri sering beroperasi pada sayap kanan serangan Swedia. Hal ini karena Coentrao yang mengisi pos full-back kiri Portugal kerap melakukan overlapping. Celah ini lah yang berusaha dimanfaatkan oleh Elmander.
Namun, dengan tidak adanya aliran bola ke lini depan, usaha Elmander dalam mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Portugal kerap gagal. Bahkan, lebih parahnya lagi Elmander malah sering terlihat membantu lini pertahanan karena minimnya serangan ke lini depan.

Heatmap Johan Elmader (espnfc.com)
Triangular Portugal di Akhir Pertandingan
Cukup seringnya Elmander membantu lini pertahanan pun tak lepas dari faktor padunya triangular yang dibangun oleh Portugal dari sisi kiri serangan. Kombinasi segitiga sering digalang baik oleh trio Fabio Coentrao-Raul Meireles-Ronaldo ataupun Coentrao-Miguel Veloso-Meireles.
Meskipun Swedia bermain dengan menumpuk tiga pemainnnya di kanan, tetap saja Portugal mampu melakukan crossing dengan leluasa. Ini karena Sebastian Larsson dan Johan Elmander tidak melakukan pressing melainkan masuk ke area kotak penalti.
Kombinasi antara Coentro-Meireles-Ronaldo kerap terjadi ketika CR7 turun untuk menjemput bola. Sementara kombinasi Coentrao-Veloso-Meireles terjadi ketika Ronaldo telah siap dan berada pada kotak penalti.
Terlebih pada rentang waktu 15 menit akhir babak kedua. Coentrao, Veloso juga Meireles kerap bergantian melakukan penetrasi menuju area kotak penalti. Coentrao sendiri lebih sering melakukan cutting inside, yang disokong oleh kombinasi passing antara Veloso dan Meireles.
Sedangkan Veloso dan Meireles bertugas untuk melakukan umpan crossing langsung menuju area kotak penalti. Gol yang mampu diciptakan oleh Ronaldo pun tak lepas dari skema yang telah diterapkan. Crossing dari Miguel Veloso mampu dijadikan gol oleh Ronaldo, yang berujung pada gol tunggal Portugal.
Jarak Antarpemain Swedia yang Jauh
Tiga pemain depan Portugal memang aktif melakukan tekanan pada pemain Swedia sejak awal permainan. Ketiga pemain ini bertugas sebagai pertahanan lapis pertama. Ketika bola dikuasai oleh keempat bek Swedia, merekalah yang memberi tekanan, atau merebut bola sedini mungkin.
Meski sering gagal merebut bola secara langsung, dampak yang ditimbulkan sebenarnya sangat besar. Jarak antar lapisan lini Swedia menjadi lebih lebar, terutama bek dan gelandang. Karena adanya tekanan tadi, gelandang Swedia seakan menjadi kehilangan fungsi. Akhirnya pemain Swedia pun langsung menerapkan umpan jauh. Upaya tekanan ini juga didukung oleh para gelandang Portugal, bahkan hanya menyisakan Miguel Veloso sendiri yang membantu pertahanan.
Namun dengan hanya menyisakan Veloso di lini pertahanan, Portugal seolah sendiri memberikan kesempatan bagi Swedia. Maka, meski terkesan tidak efektif, namun praktek umpan jauh Swedia ini juga kadang menjadi sangat berbahaya.
Jarak antar pemain yang jauh juga memaksa Swedia untuk melakukan crossing dari dalam, yaitu umpan silang yang dilakukan sebelum memasuki area final third. Tidak ada penghubung antara sayap belakang dengan striker, sehingga bola lebih sering langsung dikirimkan ke depan.
Kesimpulan
Banyak yang menyayangkan kedua tim ini harus berada di fase playoff penentuan ke Piala Dunia. Namun melihat hasil semalam, keraguan tersebut nampaknya harus segera dihilangkan. Harus dikatakan bahwa keduanya memang layak bertarung di fase playoff.
Hanya faktor dua mega bintang dan kapten mereka, Ronaldo (Portugal) dan Ibrahimovic (Swedia), yang aksinya disayangkan jika tidak tampil di Piala Dunia. Performa keduanya sebenarnya juga tidak terlalu istimewa di tim nasional dan tidak superior seperti halnya saat membela klub masing-masing.
Permainan yang ditunjukan Swedia dan Portugal jauh dari kata efektif, dengan pola penyerangan yang terkesan buru-buru. Peluang yang ada juga lebih sering gagal dimanfaatkan. Maka, jika ingin menonton Piala Dunia yang lebih atraktif, sudah selayaknya memberi hanya satu slot bagi kedua tim ini untuk lolos di Brazil tahun depan.
Pertarungan Portugal dan Swedia di leg kedua nanti semoga jadi lebih menghibur
====
*dianalisis oleh: @panditfootball
(roz/roz)







