Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Kualifikasi Piala Asia 2015: Indonesia 0-2 Irak

    Keropos di Sayap yang Berujung Kekalahan

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    ANTARA/Ismar Patrizki ANTARA/Ismar Patrizki
    Jakarta -

    Laga perpisahan dengan Jacksen F. Tiago diwarnai oleh kekalahan 0-2 dari Irak, dan (lagi-lagi) kebobolan dari skema umpan silang. Hasil ini membuat timnas Indonesia harus berada di juru kunci Grup C dengan nilai satu poin. Harapan untuk lolos ke putaran final Piala Asia 2015, dengan cara peringkat ketiga terbaik, pun tertutup.

    Ubah Skema Lini Tengah

    Menjamu Irak, Jacksen melakukan rotasi di lini tengah dengan membangkucadangkan Ahmad Bustomi, dan menggunakan 3 striker: Boaz Solossa - Samsul Arif - Zulham Zamrun. Ini seakan menegaskan bahwa ia memang ingin menang atas Irak di Gelora Bung Karno. Dengan pola 4-3-3 yang diusungnya, diharapkan serangan timnas kepada Irak akan berjalan efektif. Namun apakah betul demikian?



    Pada menit-menit awal babak pertama, saat bertahan pola timnas seolah terlihat seperti 4-2-3-1 dengan double pivot M. Taufiq-Ahmad Jufriyanto di tengah. Posisi Raphael Maitimo naik ke depan sejajar Boaz-Zulham yang bermain melebar. Peran ketiganya adalah untuk memberikan pressing sekaligus menahan laju dua double pivot Irak.

     

    Kehilangan Bustomi sebagai seorang metronom terasa betul bagi timnas dengan jarangnya aliran bola dari belakang ke depan. Beruntung Indonesia masih memiliki Taufiq yang masih bisa mengambil peran itu. Terlihat dari grafik defensive action di atas, bahwa Indonesia sering kali menghentikan serangan Irak dari tengah, di area Taufiq. Dari area tersebut jugalah serangan Indonesia sering bermula.

    Solidnya Pertahanan di Poros Tengah

    Pertahanan lini tengah yang digalang duet Taufiq-Jufriyanto sendiri memang solid dan patut diacungi jempol. Di babak pertama, posisi mereka merapat lebih agak cederung ke tengah. Akibatnya serangan Irak pun berhasil dimentahkan dengan mudah. (Lihat kotak merah pada grafik passing di bawah).



    Timnas sendiri memainkan pertahanan yang amat dalam dan lebih terfokus di dalam kotak penalti. Di satu sisi, hal ini mampu menghentikan serangan Irak dari tengah. Namun masalah muncul saat sisi sayap timnas keropos.

    Kedua area sayap ini kerap digempur oleh Irak lewat dua winger dan dua fullback mereka yang kadang sangat jauh naik ke depan. Irak bermain melebar serta memanfaatkan betul posisi Taufiq-Jufriyanto yang merapat ke tengah.

    Irak kerap diberi kebebasan untuk melepaskan crossing tanpa adanya pressing di depan area final third. Terbukti, dua gol yang bersarang di gawang I Made Wirawan memanfaatkan kelengahan ini.

    Keroposnya Area Benny Wahyudi

    Patut menuai sorotan adalah area sisi kanan yang dijaga Benny Wahyudi. Pemain ini sering jadi bulan-bulanan Irak. Wajar memang, karena Taufiq yang agak bergeser ke tengah, hingga ia tak membantu Benny dalam bertahan. Saat ada Bustomi, Taufiq sebenarnya bisa bergeser ke kanan ke area Benny. Namun semalam, Taufiq mesti berada di tengah karena jadi playmaker satu-satunya.

    Masalah selalu muncul saat Benny menunjukkan sikap tanggung. Saat pemain bertahan lain mundur ke belakang menjaga kedalaman pertahanan, dia malah naik menghalau pemain yang akan melakukan crossing.

    Memang, apa yang ia lakukan tak salah. Tapi, terkadang ia telat mundur belakang. Saat tertinggal Benny juga malah melakukan tekel gagal. Tercatat, dari 5 tekel yang ia lakukan semuanya gagal.

    Saat naik ke depan melakukan pressing, Benny pun selalu gagal memblok umpan silang yang dilakukan Irak. Posisinya yang overlapping malah menimbulkan celah, sehingga M. Roby kadang tak sejajar dengan Fachrudin untuk menutup celah itu.

    Faktor inilah yang lalu dimanfaatkan Irak lewat umpan-umpan terobosan ke dalam kotak penalti Indonesia.

    Untuk menutupi kelemahan Benny, Jacksen menukar posisi antara Boaz dan Zulham. Posisi Zulham yang semula di kiri dipindah ke kanan, dengan area operasi yang lebih cenderung banyak beraksi di belakang. Pola ini membuat lini serangan Indonesia tumpul. Serangan lebih didominasi lewat umpan-umpan panjang.

    Tak Ada Penghubung

    Kehilangan Zulham di lini depan membuat pressing timnas kepada double pivot Irak, yaitu Arebat-Tareq, tak begitu ketat. Alhasil, dua pemain ini leluasa naik ke depan. Sebenarnya Maitimo mengisi zona di antara dan belakang Iraq, dan seharusnya menghambat Arebat-Tareq. Sayang ia bermain tak begitu baik.

    Absennya Bustomi mestinya ditutupi dengan baik oleh Maitimo karena tadi malam ia berperan sebagai penyalur bola dari tengah ke depan. Namun, jika dilihat perannya dalam tim, peran Maitimo nyaris tak begitu terasa.

    Terlebih lagi, saat bertahan ia sering terlambat bertahan dan tak melakukan gangguan pressing kepada lawan. Wajar saja Boaz kadang terlihat mundur ke sayap kiri membantu Ruben Sanadi.

    Saat menyerang, baik di babak pertama maupun kedua, ia lebih banyak melakukan pergerakan tanpa bola. Posisinya malah statis di tengah tak naik ke depan, kalah oleh Taufiq.
     
    Di awal babak kedua, Maitimo lebih bergeser ke posisi sayap kanan membackup Supardi yang posisinya overlapping ke depan. Namun, saat menerima serangan balik, ia selalu berhasil dilewati oleh pemain Irak.

    Skema Babak Kedua

    Masuknya Supardi dan Titus Bonai sedikit mengubah skema permainan timnas, terutama di awal babak kedua.



    Unggul dua gol membuat Irak menerapkan pola bertahan. Kondisi ini membuat timnas menerapkan garis pertahanan yang amat tinggi untuk memaksa semua pemain tengah berkutat di area final third lawan.

    Akibatnya dua fullback Supardi-Ruben Sanadi merengsek naik ke depan, sedangkan dua gelandang Taufiq dan Maitimo posisinya lebih melebar membantu sayap.

    Perbedaan lain dengan babak pertama adalah posisi trisula tiga ujung tombak di depan. Samsul yang semula disimpan di depan sendirian lebih agak mundur ke belakang dan menjadi pengalir bola dari tengah kepada Boaz.

    Jacksen memanfaatkan kekompakan antara Boaz-Tibo yang sudah terbina sekian lama. Saat mendapatkan bola, Boaz langsung melakukan umpan cepat ke arah kiri. Seolah ia tahu bahwa Tibo akan menusuk masih ke kotak penalti dari sisi tersebut. Kerja sama Tibo-Boaz, yang terkadang dibantu oleh Taufiq-Ruben, membuat Irak kerepotan.



    Di babak kedua, performa lini tengah memang berkembang secara signifikan dibandingkan babak pertama. Pressing ketat ditujukan kepada Irak saat mereka menguasai bola di area pertahanannya sendiri. Bahkan terkadang pressing sampai dilakukan oleh 3-4 orang sekaligus.

    Namun garis pertahanan yang begitu tinggi rentan saat menghadapi serangan balik. Inilah yang terjadi menjelang akhir pertandingan. Made pun sampai berhadapan one on one dengan salah satu pemain Irak ketika mereka melakukan serangan balik.

    Beruntung, Irak menempatkan semua pemainnya di area pertahanan sendiri karena sudah unggul dua gol. Dan keberuntungan pun tampaknya enggan mendatangi Indonesia. Kendati mendominasi babak kedua dan memiliki banyak peluang untuk berbuah gol, asa itu tak datang juga.

    Laga melawan Irak sendiri adalah laga terakhir Jacksen bersama timnas. Pelan tapi pasti Jacksen berhasil membangun fondasi kokoh di dalam tubuh timnas pasca konflik berkepanjangan PSSI belum lama ini. Entah usai kedatangan Alfred Riedl nanti. Apakah fondasi ini akan diteruskan atau dihancurkan untuk kemudian membangun dari nol lagi? Mungkin hanya pengurus PSSI dan Riedl yang tahu.

    (mfi/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game