Post Match Analysis: Everton 3-3 Liverpool
Duel Bola Mati di Derby Merseyside
Everton dan Liverpool harus puas bermain imbang 3-3 di laga Derby Merseyside yang banyak ditentukan lewat gol-gol dari eksekusi bola mati.
Derby Merseyside menyuguhkan pertarungan yang sesuai dengan harapan banyak orang: pertandingan keras, banyak peluang, kejar-kejaran skor, dan banyak gol. Total enam gol, 29 kali tembakan yang 17 di antaranya mengarah ke gawang, 31 kali pelanggaran dan 6 kartu kuning dapat menggambarkan tingginya tensi derby kali ini.
Dari segi permainan, sebenarnya tidak terlalu banyak kejutan yang terjadi. Kedua tim bermain dengan gaya khas masing-masing. Liverpool dengan umpan-umpan pendeknya dan Everton dengan serangan dari kedua sayap.
Pada dasarnya kedua tim sama-sama menerapkan formasi 4-5-1. Hanya saja, Everton kemudian bertranformasi menjadi 4-2-3-1 sementara Liverpool jadi 4-1-4-1. Everton bermain lebih menyerang dengan dua fullback yang aktif menyerang, sedang Liverpool bermain lebih sabar hanya meninggalkan Luis Suarez di depan.
Formasi Liverpool
Formasi Everton
Adu Set Piece
Meski menciptakan banyak peluang, kedua tim sepertinya sepakat untuk tidak mencetak gol dari open play. Tercatat Simon Mignolet 6 kali memenangkan duel 1 lawan 1 dengan striker Everton. Sementara itu 3 kali peluang bersih Liverpool di depan gawang Tim Howard gagal dimaksimalkan.
Keenam gol yang tercipta pada pertandingan kali ini diawali dari set piece. Tiga dari tendangan penjuru dan 3 dari tendangan bebas. Liverpool benar-benar memanfaatkan kecerdikan para pemain bintangnya. Pergerakan brillian tanpa bola Countinho pada gol pertama, tendangan melengkung Suarez pada gol kedua, dan umpan terukur Steven Gerrard untuk gol ketiga.
Terlihat pada grafik di bawah, bagaimana Coutinho bergerak dari ujung area kiper, untuk mencari ruang yang tak dijaga oleh pemain Everton satu pun. Dengan mudah, Coutinho pun menceploskan bola ke gawang Tim Howard.

Pergerakkan tanpa bola Coutinho di gol pertama
Sayangnya, Liverpool kemudian gagal mempertahankan keunggulan ini. Ketika menghadapi set piece, marking terhadap pemain Everton sangat lemah. Pada gol pertama, Steven Gerrard gagal mengawal Kevin Mirallas dengan baik, pada gol kedua Lukaku berdiri tanpa pengawalan di kotak penalti, sementara di gol ketiga Flannagan kalah duel udara dengan Lukaku.
Gol Everton: pertama (kiri atas), kedua (kanan atas), ketiga (bawah)
Saling Melumpuhkan Di Babak Pertama
Pertandingan berlangsung seimbang dengan masing-masing tim melakukan caranya sendiri untuk mematikan permainan lawannya. Sektor sayap praktis menjadi milik Everton. Leighton Baines dan Seamus Coleman berhasil menjalankan tugasnya dengan baik untuk menguasai pinggir lapangan. Kedua fullback ini membantu Pienaar dan Mirallas untuk meneror pertahanan Liverpool melalui sektor sayap.
Namun, sepertinya Liverpool tidak mau terlalu ambil pusing dengan kondisi ini. Liverpool lebih memilih untuk lebih mengamankan daerah tengah ketimbang mencoba merebut penguasaan sayap. Posisi Gerrard, Allen, dan Lucas yang membentuk segitiga menghadap gawang sendiri membuat aliran bola kepada Ross Barkley di tengah menjadi terhalang. Hal ini membuat Barkley tidak dapat menjalankan perannya untuk mengobrak-abrik daerah di depan kotak penalti Liverpool.
Everton kemudian hanya mampu masuk ke pertahanan Liverpool melalui crossing. Hasilnya pun nihil, Everton hanya berhasil membuat 1 crossing berhasil dari total 14 yang dilakukan di babak pertama.
Everton juga tidak mau membiarkan rival sekotanya menguasai pertandingan. Dengan pressing yang tinggi, Everton langsung mengganggu permainan Liverpool ketika masih di sepertiga daerah Liverpool. Hal ini membuat Gerrard, Lucas Leiva, dan Joe Allen tidak dapat dengan leluasa meracik serangan.

Defensive Chalkboard Everton (sumber: fourfourtwo.com)
Everton terus mendesak hingga pemain Liverpool tidak memiliki jalan untuk memulai serangan. Bahkan, beberapa kali pemain Everton berhasil merebut bola dan langsung menyerang balik. Sayangnya peluang yang tercipta selalu gagal berbuah gol. Terlihat jelas pada chalkboard defensive area Everton yang tersebar hingga ke daerah pertahanan Liverpool.
Babak Kedua: Liverpool Mengendurkan Serangan
Pertandingan semakin memanas setelah memasuki babak kedua. Liverpool yang dalam kondisi unggul bermain lebih bertahan untuk mempertahankan keunggulan. Suarez di tinggal sendirian di depan untuk beberapa kali mencoba melakukan serangan balik.
Everton yang tidak diizinkan bermain di tengah oleh Liverpool pada babak pertama sedikit merubah komposisi pemain. Leighton Baines ditarik keluar dan digantikan Gerard Deulofeu. Deulofeu lalu mengisi posisi sayap kanan sementara Mirallas digeser ke tengah. Dengan kondisi ini, Everton memiliki 2 gelandang menyerang (Mirallas dan Barkley) dan 1 gelandang bertahan (McCarthy).
Pergantian taktik tersebut membuat Liverpool tidak lagi dapat mensterilkan area tengah dari serangan Everton. Aliran bola Everton mulai berhasil memasuki kotak penalti Liverpool dari tengah. Hal ini membuat serangan Everton menjadi bervariasi di babak kedua. Hasilnya, Everton melakukan 10 tendangan ke gawang Liverpool, dua diantaranya menjadi gol di babak kedua.
Reaksi Terhadap Gol Lukaku
Liverpool mulai kembali bermain menyerang setelah Lukaku mencetak gol kedua Everton. Brendan Rodgers sepertinya sama sekali tidak senang dengan hasil imbang. Daniel Sturridge dimasukan dan Lucas Leiva ditarik keluar.
Perubahan formasi ini memang membuat serangan Liverpool menjadi lebih berbahaya. Luis Suarez yang sebelumnya berjuang sendirian, kini mendapat bantuan dari Sturridge. Namun dampaknya, pertahanan Liverpool menjadi lebih terbuka. Daerah tengah Liverpool yang tadinya berisi 4 pemain, kini hanya tinggal menyisakan 2 pemain. Sebelumnya, Allen telah diganti oleh Victor Moses.
Jual beli serangan pun dilakukan oleh kedua tim pada 20 menit terakhir pertandingan. Dua tim sekota ini benar-benar tidak mau mengakhiri pertandingan dengan hasil imbang.
Pendukung tuan rumah kemudian bersorak ketika Lukaku berhasil membalikkan keadaan di menit ke-81. Namun, Daniel Strurridge kembali membungkam the toffees dengan sundulannya di menit 89.
Hasil imbang sepertinya cukup adil bagi kedua tim. Meskipun tidak bisa disembunyikan bahwa kedua tim kecewa dengan hasil ini. Terdapat banyak PR yang harus diselesaikan kedua pelatih jika ingin tetap bertahan di papan atas klasemen.
Bagi Brendan Rodgers sendiri memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki pertahanan saat ada set piece, dan pemilihan duet center back utama. Duet Skrtel – Agger mungkin dipilih karena sukses menghantarkan clean sheet saat menang dari Fulham 4-0, namun di pertandingan ini, keduanya jadi pilihan yang kurang pas.
Skrtel gagal mengawal Barkley yang memberikan assist pada Mirallas di gol pertama. Sementara kemampuan Agger untuk mendribble dan menjadi awal mula serangan seakan sia-sia dalam pertandingan dengan intensitas tinggi.
Gol ketiga Everton pun menunjukkan hal ini. Lukaku, yang notabene pemain terbaik Everton dalam hal aerial duel, hanya dijaga oleh Glen Johnson, bisa berduel di udara dengan John Flannagan. Dengan gaya Everton yang memang cenderung mengandalkan crossing, bukankah kehadiran Sakho lebih cocok?
Terlepas dari permasalahan tersebut, derby ke-221 antara Everton dan Liverpool ini memang menyuguhkan pertandingan menarik bagi fans kedua kubu. Bahkan, bisa dikatakan sebagai salah satu derby terbaik dalam beberapa tahun belakangan.







