Match Analysis
Liga Inggris: Tottenham 2-2 Man United
Mempertahankan Rekor Tak Terkalahkan di White Hart Lane
Jakarta - Bertandang ke stadion White Hart Lane, Manchester United mampu menahan imbang Tottenham Hotspur. Tim asuhan David Moyes sempat dua kali tertinggal sebelum Wayne Rooney mencetak gol-gol penyama kedudukan.
Timpang di Sayap
Menggunakan formasi 4-2-3-1, MU mengandalkan Antonio Valencia dan Danny Welbeck di kedua sayapnya. Akan tetapi, kedua sayap tersebut menjalankan peran yang berbeda. Di kanan, Valencia didelegasikan sebagai pemain sayap murni yang sering menyisir lapangan, sementara Welbeck mengemban tugas sebagai pemain sayap yang melakukan cutting inside ke area kotak penalti. Praktis, pada sayap kiri MU hanya mengandalkan Evra.
Dengan kondisi tersebut maka terdapat ketimpangan di antara kedua sayap Red Devils. Sisi kanan menjadi sektor yang terus dieksploitasi. Crossing yang berasal dari sisi kanan pun tidak dapat dikatakan sedikit. Sebanyak 23 kali percobaan dari total 27 crossing MU berasal dari sisi tersebut.

[Crossing Manchester United - Menumpuk dari Sayap Kanan. Sumber: fourfourtwo.com]
Menunggu Blunder Spurs
Meskipun MU mampu melakukan crossing dari sisi kanan sebanyak 23 kali, hanya tiga umpan silang yang berhasil diteruskan menjadi peluang di depan gawang.
Kejanggalan tersebut terjadi bukan karena MU yang tidak memiliki variasi serangan lain. Akan tetapi, mereka mengharapkan suatu scrimmage di depan gawang yang bisa menyebabkan pertahanan Spurs melakukan blunder. Gol pertama MU dapat dikatakan berasal dari skema yang telah diterapkan ini.
Crossing Phil Jones gagal diintersepsi dengan baik oleh Kyle Walker. Rooney yang lepas dari pengawalan pemain belakang Spurs langsung menyambar bola liar tersebut. Gol yang mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Mikro Taktik MU
Mengandalkan serangan dari kanan, MU bertumpu kepada triangular yang dibangun oleh Chris Smalling, Phil Jones, Valencia dan Rooney. Formasi 4-2-3-1 memang membuat MU lebih mudah untuk menjalankan skema tersebut.
Tugas utama serangan sendiri jatuh pada pundak Valencia. Ketika pemain asal Ekuador tersebut menguasai bola, maka akan ada dua pemain yang mendekati dan membentuk pola triangular.
Dari lini pertahanan, triangular sudah terbentuk yaitu melalui kombinasi antara Smalling, Jones dan Valencia. Triangulasi ini lalu naik ke area gelandang, yang dijalankan oleh Jones, Valencia dan Rooney. Di ujung serangan, lagi-lagi Valencia jadi tumpuan, yaitu dengan melancarkan crossing ke area kotak penalti.

[Kombinasi passing pembentuk priangular. Sumber: fourfourtwo.com]
Di area kotak penalti, Kagawa, Welbeck dan Rooney didelegasikan untuk memanfaatkan bola crossing tersebut. Sementara itu Jones dan Cleverley diposisikan di sekitar area luar kotak penalti. Mereka bertugas untuk memungut bola apabila pertahanan Spurs melakukan clearance dari umpan silang yang dilakukan oleh Valencia.
Di sisi kiri serangan, Patrice Evra pun kerap melakukan overlapping guna menghidupkan serangan dari sisi kiri. Melalui skema dengan mengurung pertahanan Spurs, MU benar-benar berusaha untuk menguasai bola.
Menyulitkan dengan Serangan Balik
Namun, kenyataannya taktik yang diterapkan tersebut tidak selalu berjalan dengan lancar. Pertahanan Spurs yang rapat membuat MU cukup kesulitan untuk menembus lini pertahanan. Ditambah lagi gelandang yang kurang agresif dalam memungut bola liar hasil intersepsi. Hal ini membuat MU rentan terhadap serangan balik.
Terlalu naiknya poros ganda MU juga membuat Spurs dengan mudah mampu menggencarkan serangan balik. Bahkan, Spurs pun akhirnya lebih sering melakukan umpan panjang langsung ke area sepertiga lapang serangan. Dengan kondisi tersebut, praktis lini serang Spurs juga hanya akan langsung berhadapan dengan lini pertahanan MU tanpa gangguan dari gelandang.

[Passing Spurs di area sepertiga lapangan. Sumber: fourfourtwo.com)
Taktik ini dilakukan dengan menempatkan Paulinho lebih dekat dengan Soldado, dan membiarkan lini tengah dikuasai Dembele-Sandro. Selain melalui sayap, Spurs memang berharap pada kombinasi passing Paulinho-Soldado untuk menembus kotak penalti. Soldado sendiri sempat menerima umpan terobosan Paulinho dan berhadapan langsung dengan David de Gea.
Namun minimnya kreativitas Paulinho membuat taktik ini tidak berjalan. Umpan terobosan pada Soldado itu jadi satu-satunya peluang yang Paulinho ciptakan di pertandingan ini. Akhirnya, Spurs pun meletakkan tumpuan serangan pada duet sayap Lenon-Chadli.
Sisi kiri pertahanan MU menjadi titik lemah yang dipilih Spurs untuk dieksploitasi. Evra, yang acap naik, gagal berduel dengan Aaron Lennon dalam mengadu kecepatan. Cleverley, yang juga terlalu maju dan terlambat untuk turun, turut memperparah kelemahan di sisi kiri tim tamu.
Akhirnya, Lennon sering lepas dari penguasaan dan mampu mendapatkan beberapa kali peluang matang.
Sayap Kanan yang Cukup Disiplin dalam Bertahan
Berbeda dengan sisi kiri, sisi kanan MUbaik dalam melakukan pertahanan, meski dijadikan tumpuan serangan. Kondisi ini tak lepas dari strategi triangulasi yang diterapkan oleh David Moyes.
Memang, dengan adanya triangular yang terbentuk baik di lini pertahanan ataupun di gelandang, Chris Smalling tidak perlu susah payah untuk melakukan overlapping. Smalling hanya cukup untuk fokus menjaga posnya dalam menahan gempuran.
Selain itu, sisi ini juga turut didukung oleh Phil Jones dalam menahan serangan lawan. Maka tak heran jika bola yang langsung dialirkan ke area kiri sepertiga lapang serangan Spurs, mampu digagalkan. Salah satu kuncinya adalah kedisiplinan Smalling dan cukup aktifnya Jones dalam membantu lini pertahanan.

[Tekel Manchester United -- Sisi Kanan Menjadi Sisi yang Paling Aktif]
Faktor triangulasi ini jugalah yang juga turut menyebabkan Spurs tidak mampu mengembangkan serangan di sisi kiri. Peran Nacer Chadli tampak tidak terlihat. Ini karena jangankan untuk membantu serangan, dalam menahan gempuran pun Chadli cukup kerepotan.
Kesimpulan
Secara taktikal MU patut bangga karena berhasil memperagakan taktik yang diterapkan oleh Moyes. Bentuk cemoohan karena tidak jelasnya taktik yang diterapkan, dapat terbantahkan apabila merujuk pada laga ini. Atas raihan ini pula, "Setan Merah" juga mampu mempertahankan tren yang tidak pernah terkalahkan dalam 11 laga terakhir di semua ajang.
Akan tetapi, dengan berhasilnya taktik yang diperagakan bukan berarti Moyes minim kelemahan. Masih terdapat kekurangan yang sebenarnya mampu dieksploitasi oleh Spurs. Lemahnya MU dalam menahan serangan balik merupakan salah satu kelemahan tersebut.
Bagi Tottenham, setelah tidak mampu mencetak gol pada 3 laga terakhir, The Lilywhites akhirnya berhasil memecahkan telur pada laga ini. Taktik Andre Villas-Boas yang mengandalkan serangan balik, dan memanfaatkan kelemahan MU, patut untuk diapresiasi.
Setidaknya, jika memang Spurs menghadapi masalah karena taktik yang kurang matang, bermain dengan memanfaatkan kelemahan lawan dapat menjadi solusi yang lebih baik. Dan apabila melihat pada jalannya pertandingan, skor imbang memang menjadi skor yang pantas bagi kedua tim.
===
* Dianalisis oleh @panditfootball . Profil lihat di sini
(a2s/roz)
Timpang di Sayap
Menggunakan formasi 4-2-3-1, MU mengandalkan Antonio Valencia dan Danny Welbeck di kedua sayapnya. Akan tetapi, kedua sayap tersebut menjalankan peran yang berbeda. Di kanan, Valencia didelegasikan sebagai pemain sayap murni yang sering menyisir lapangan, sementara Welbeck mengemban tugas sebagai pemain sayap yang melakukan cutting inside ke area kotak penalti. Praktis, pada sayap kiri MU hanya mengandalkan Evra.
Dengan kondisi tersebut maka terdapat ketimpangan di antara kedua sayap Red Devils. Sisi kanan menjadi sektor yang terus dieksploitasi. Crossing yang berasal dari sisi kanan pun tidak dapat dikatakan sedikit. Sebanyak 23 kali percobaan dari total 27 crossing MU berasal dari sisi tersebut.

[Crossing Manchester United - Menumpuk dari Sayap Kanan. Sumber: fourfourtwo.com]
Menunggu Blunder Spurs
Meskipun MU mampu melakukan crossing dari sisi kanan sebanyak 23 kali, hanya tiga umpan silang yang berhasil diteruskan menjadi peluang di depan gawang.
Kejanggalan tersebut terjadi bukan karena MU yang tidak memiliki variasi serangan lain. Akan tetapi, mereka mengharapkan suatu scrimmage di depan gawang yang bisa menyebabkan pertahanan Spurs melakukan blunder. Gol pertama MU dapat dikatakan berasal dari skema yang telah diterapkan ini.
Crossing Phil Jones gagal diintersepsi dengan baik oleh Kyle Walker. Rooney yang lepas dari pengawalan pemain belakang Spurs langsung menyambar bola liar tersebut. Gol yang mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Mikro Taktik MU
Mengandalkan serangan dari kanan, MU bertumpu kepada triangular yang dibangun oleh Chris Smalling, Phil Jones, Valencia dan Rooney. Formasi 4-2-3-1 memang membuat MU lebih mudah untuk menjalankan skema tersebut.
Tugas utama serangan sendiri jatuh pada pundak Valencia. Ketika pemain asal Ekuador tersebut menguasai bola, maka akan ada dua pemain yang mendekati dan membentuk pola triangular.
Dari lini pertahanan, triangular sudah terbentuk yaitu melalui kombinasi antara Smalling, Jones dan Valencia. Triangulasi ini lalu naik ke area gelandang, yang dijalankan oleh Jones, Valencia dan Rooney. Di ujung serangan, lagi-lagi Valencia jadi tumpuan, yaitu dengan melancarkan crossing ke area kotak penalti.

[Kombinasi passing pembentuk priangular. Sumber: fourfourtwo.com]
Di area kotak penalti, Kagawa, Welbeck dan Rooney didelegasikan untuk memanfaatkan bola crossing tersebut. Sementara itu Jones dan Cleverley diposisikan di sekitar area luar kotak penalti. Mereka bertugas untuk memungut bola apabila pertahanan Spurs melakukan clearance dari umpan silang yang dilakukan oleh Valencia.
Di sisi kiri serangan, Patrice Evra pun kerap melakukan overlapping guna menghidupkan serangan dari sisi kiri. Melalui skema dengan mengurung pertahanan Spurs, MU benar-benar berusaha untuk menguasai bola.
Menyulitkan dengan Serangan Balik
Namun, kenyataannya taktik yang diterapkan tersebut tidak selalu berjalan dengan lancar. Pertahanan Spurs yang rapat membuat MU cukup kesulitan untuk menembus lini pertahanan. Ditambah lagi gelandang yang kurang agresif dalam memungut bola liar hasil intersepsi. Hal ini membuat MU rentan terhadap serangan balik.
Terlalu naiknya poros ganda MU juga membuat Spurs dengan mudah mampu menggencarkan serangan balik. Bahkan, Spurs pun akhirnya lebih sering melakukan umpan panjang langsung ke area sepertiga lapang serangan. Dengan kondisi tersebut, praktis lini serang Spurs juga hanya akan langsung berhadapan dengan lini pertahanan MU tanpa gangguan dari gelandang.

[Passing Spurs di area sepertiga lapangan. Sumber: fourfourtwo.com)
Taktik ini dilakukan dengan menempatkan Paulinho lebih dekat dengan Soldado, dan membiarkan lini tengah dikuasai Dembele-Sandro. Selain melalui sayap, Spurs memang berharap pada kombinasi passing Paulinho-Soldado untuk menembus kotak penalti. Soldado sendiri sempat menerima umpan terobosan Paulinho dan berhadapan langsung dengan David de Gea.
Namun minimnya kreativitas Paulinho membuat taktik ini tidak berjalan. Umpan terobosan pada Soldado itu jadi satu-satunya peluang yang Paulinho ciptakan di pertandingan ini. Akhirnya, Spurs pun meletakkan tumpuan serangan pada duet sayap Lenon-Chadli.
Sisi kiri pertahanan MU menjadi titik lemah yang dipilih Spurs untuk dieksploitasi. Evra, yang acap naik, gagal berduel dengan Aaron Lennon dalam mengadu kecepatan. Cleverley, yang juga terlalu maju dan terlambat untuk turun, turut memperparah kelemahan di sisi kiri tim tamu.
Akhirnya, Lennon sering lepas dari penguasaan dan mampu mendapatkan beberapa kali peluang matang.
Sayap Kanan yang Cukup Disiplin dalam Bertahan
Berbeda dengan sisi kiri, sisi kanan MUbaik dalam melakukan pertahanan, meski dijadikan tumpuan serangan. Kondisi ini tak lepas dari strategi triangulasi yang diterapkan oleh David Moyes.
Memang, dengan adanya triangular yang terbentuk baik di lini pertahanan ataupun di gelandang, Chris Smalling tidak perlu susah payah untuk melakukan overlapping. Smalling hanya cukup untuk fokus menjaga posnya dalam menahan gempuran.
Selain itu, sisi ini juga turut didukung oleh Phil Jones dalam menahan serangan lawan. Maka tak heran jika bola yang langsung dialirkan ke area kiri sepertiga lapang serangan Spurs, mampu digagalkan. Salah satu kuncinya adalah kedisiplinan Smalling dan cukup aktifnya Jones dalam membantu lini pertahanan.

[Tekel Manchester United -- Sisi Kanan Menjadi Sisi yang Paling Aktif]
Faktor triangulasi ini jugalah yang juga turut menyebabkan Spurs tidak mampu mengembangkan serangan di sisi kiri. Peran Nacer Chadli tampak tidak terlihat. Ini karena jangankan untuk membantu serangan, dalam menahan gempuran pun Chadli cukup kerepotan.
Kesimpulan
Secara taktikal MU patut bangga karena berhasil memperagakan taktik yang diterapkan oleh Moyes. Bentuk cemoohan karena tidak jelasnya taktik yang diterapkan, dapat terbantahkan apabila merujuk pada laga ini. Atas raihan ini pula, "Setan Merah" juga mampu mempertahankan tren yang tidak pernah terkalahkan dalam 11 laga terakhir di semua ajang.
Akan tetapi, dengan berhasilnya taktik yang diperagakan bukan berarti Moyes minim kelemahan. Masih terdapat kekurangan yang sebenarnya mampu dieksploitasi oleh Spurs. Lemahnya MU dalam menahan serangan balik merupakan salah satu kelemahan tersebut.
Bagi Tottenham, setelah tidak mampu mencetak gol pada 3 laga terakhir, The Lilywhites akhirnya berhasil memecahkan telur pada laga ini. Taktik Andre Villas-Boas yang mengandalkan serangan balik, dan memanfaatkan kelemahan MU, patut untuk diapresiasi.
Setidaknya, jika memang Spurs menghadapi masalah karena taktik yang kurang matang, bermain dengan memanfaatkan kelemahan lawan dapat menjadi solusi yang lebih baik. Dan apabila melihat pada jalannya pertandingan, skor imbang memang menjadi skor yang pantas bagi kedua tim.
===
* Dianalisis oleh @panditfootball . Profil lihat di sini
(a2s/roz)







