Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Chelsea 3-1 Southampton

    Chelsea Membalikkan Keadaan dengan 4-4-2

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Mike Hewitt Getty Images/Mike Hewitt
    Jakarta -

    Chelsea mampu memperpanjang rekor tidak terkalahkan di kandang, setelah menaklukan Southampton 3-1. Saat bertanding di Stamford Bridge, terhitung sebelum Mourinho pergi, Chelsea belum terkalahkan dalam 67 pertandingan.

    Sementara itu, kekalahan ini jadi kekalahan kedua Southampton secara beruntun. Pekan sebelumnya mereka takluk dua gol dari Arsenal.
    Kekalahan ini menyebabkan Southampton turun ke peringkat ketujuh, dengan raihan 22 poin, sedangkan Chelsea naik ke peringkat kedua dengan 27 poin. The Blues hanya berjarak empat poin dengan sang pemuncak klasemen, Arsenal.


    Line-up Chelsea–Southampton (sumber: WhoScored)

    Southampton Menekan Sejak Detik Pertama

    Hanya butuh waktu 14 detik bagi Southampton untuk mencuri satu gol di Stamford Bridge. Meski sejatinya gol Jay Rodriguez merupakan "assist" Michael Essien, namun skema menekan sejak kick-off ini memang sudah terlihat sejak awal.

    Saat peluit wasit pertama kali berbunyi, lima pemain Southampton sudah berada di garis paling depan. Setelah peluit wasit dibunyikan, salah satu poros ganda Southampton ikut juga naik untuk memberikan tekanan. Jadilah enam pemain Southampton naik untuk menekan.

    Kesalahan Essien sendiri juga bukan tanpa alasan atau kebetulan. Backpass tidak sempurna Essien juga akibat dari upaya overtake pemain depan Southampton.


    Capture setelah kick-off, enam pemain Southampton naik menekan

    Transisi Bertahan-Menyerang Southampton

    Unggul terlebih dahulu tidak membuat Southampton bermain bertahan. Gelandang mereka mampu membuat skema berjalan secara baik: bertahan dengan baik sepanjang babak pertama, dan upaya serangan balik dillakukan tanpa terburu-buru.

    Kredit tersendiri patut diberikan kepada gelandang Southampton, Morgan Schneiderlin. Gelandang satu ini mampu membuat ritme permainan tetap terjaga. Schneiderlin sendiri bertugas sebagai pemain pembawa bola awal ketika Southampton melakukan perpindahan, dari posisi bertahan ke menyerang.

    Keleluasaan pemain Southampton membawa bola ke pertahanan Chelsea sebenarnya juga disebabkan kedua double pivot Chelsea yang sering terlambat turun. Meski begitu, sebenarnya terlihat bahwa upaya ini dilakukan untuk menjaga agar garis pertahanan Chelsea tidak terlalu rendah.

    Dengan garis pertahanan yang tidak terlalu rendah, pemain Southampton sukar untuk masuk kotak penalti. Jadi, meski dengan mudah dan leluasa membawa bola ke pertahanan Chelsea, Southampton hanya mampu melakukan tembakan dari luar kotak penalti.


    Grafik Attempts Southampton (Sumber: FourFourTwo)

    Penyelesaian Akhir Buruk dan Pergantian Formasi Chelsea

    Berbeda dengan Southampton yang kesulitan memasuki kotak penalti, tidak demikian dengan Chelsea. Kreativitas trio gelandang tengah Chelsea tidak bisa diragukan. Oscar, Juan Mata, dan Eden Hazard memberikan banyak opsi dalam variasi serangan.

    Naiknya kedua double pivot Chelsea sepanjang babak pertama ini juga membuat tempo serangan menjadi terjaga. Penguasaan bola juga berhasil dikuasai oleh anak asuh Mourinho. Seakan-akan gol hanya sedang menunggu waktu saja. Namun penyelesaian akhir yang buruk membuat gol tidak kunjung datang.


    Grafik attempts Chelsea
     
    Kalah dalam waktu setengah pertandingan membuat Mourinho harus memutar otak. Ia harus mampu menembus pertahanan Southampton.

    Beralih ke 4-4-2

    Memasukan Demba Ba di menit ke-45 dengan menarik Essien, membuat skema Chelsea berubah, dari sebelumnya 4-2-3-1 berganti ke 4-4-2. Meski demikian, pada jalannya pertandingan, kedua striker ini juga lebih banyak membuka ruang, dengan bermain melebar.

    Masuknya Demba Ba juga jadi jawaban atas Oscar yang harus keluar karena cedera. Kehilangan salah satu roh permainan membuat Mourinho akhirnya mengganti skema menjadi dua striker. Ini karena Torres seakan kehilangan penyokong di depan.

    Baik Torres maupun Demba Ba secara bergantian menjadi tembok pemantul, satu sama lain. Namun, rapatnya tembok yang dibangun oleh Southampton menjadikan keduanya lebih banyak gagal menciptakan peluang dengan cara ini.

    Meski tidak menciptakan peluang, sebagaimana diujarkan sendiri oleh Mourinho, memasang dua striker jadi strategi yang efektif melawan Southampton. Ini karena Southampton sering memulai serangannya dari belakang. Kehadiran dua orang striker membuat lini pertahanan Soton selalu awas dan tak bisa bermain-main dengan passing di belakang.

    "Southampton mulai memainkan bola-bola panjang, dan itu membuat tim saya lebih mudah untuk menciptakan peluang," ujar Mourinho.

    Keluarnya Boruc, Gol dari Set Piece

    Terus menyerang dua dari tiga gol balasan Chelsea justru berawal dari set piece. Wajar memang, karena Southampton sendiri bermain sangat buruk dalam duel udara. Dari 37 duel udara yang terjadi, hanya 11 kali dimenangkan oleh pemain Southampton.

    Gol balasan pertama Chelsea melalui Gary Cahill juga membawa petaka bagi Southampton. Kiper utama Artur Boruc harus ditarik keluar akibat cedera, setelah jatuh bangun menyelamatkan gawang pada saat proses gol Cahill. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.

    Tanpa kiper utama, Southampton menunjukan kelasnya sebagai salah satu kuda hitam EPL musim ini. Skor imbang 1-1 seakan bukan tujuan utama Southampton dalam pertandingan kali ini. Mereka justru bermain semakin menyerang.

    Tidak butuh waktu lama bagi anak asuh Mourinho ini untuk membalikkan kedudukan dengan cara menunggu momentum tepat dan menahan gempuran Southampton. Apalagi keluarnya Boruc berdampak besar pada mental bertanding Southampton. Terry mencetak gol tambahan bagi Chelsea, yang lagi-lagi berawal dari set piece.

    Nafas Southampton seakan memang habis di babak kedua. Apalagi pasca ditariknya andalan mereka di lini tengah Morgan Schneiderlin. Taktik Mourinho dengan memberi kesempatan Southampton menyerang, ternyata memang berhasil. Perlahan tembok pertahanan Southampton memunculkan celah karena kelelahan yang mampu dimanfaatkan The Blues.

    Kesimpulan

    Meski kedua pelatih menampilkan taktuk yang tergolong sederhana, pertandingan berjalan menarik untuk ditonton. Hal ini karena kedua tim memperagakan permainan yang cenderung menyerang, walaupun sudah unggul dalam angka.

    Kehadiran gol cepat Rodriguez juga semakin menyemarakan laga. Namun, meski Soton masih tetap menekan, kemampuan Chelsea menahan gempuran membuat mereka berhasil unggul di babak kedua.

    Menjadi tim kuda hitam di Liga Inggris, Southampton tetaplah tim yang patut diwaspadai dan menjadi ancaman bagi beberapa tim besar lainya. Transisi dari bertahan ke menyerang seolah menjadi senjata utama bagi Southampton. Bukan dengan counter attack cepat, tetapi kordinasi antar lini yang konstan dan rapi. Ditambah dengan skema bertahan yang lumayan solid.

    Hanya saja, upaya menghalau bola melalui umpan silang dan kemampuan duel udara masih terbilang buruk. Sementara Mourinho sepertinya masih harus memutar otak untuk mengatasi masalah lini depan mereka. Pertandingan melawan Southampton memberikan gambaran. Bahwa meski mampu menciptakan banyak peluang, penyelesaian akhir Chelsea masih membutuhkan tambalan.

    Apalagi ditambah cederanya Oscar, yang menjadi salah satu andalan tukang gedor Chelsea. Upaya mencetak gol melalui para gelandang sudah semakin tertebak. Mourinho harus memikirkan opsi lain. Apalagi saat ini Chelsea masih memiliki 3 striker yang mumpuni, yaitu Fernando Torres, Demba Ba, dan Samuel Eto'o.

    ====

    *akun Twitter penulis: @panditfootball

    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game