Match Analysis
Liga Italia: Roma 2-1 Fiorentina
Giallorossi Menang Berkat Kuasai Penuh Lini Tengah
Jakarta - Setelah empat kali imbang berturut-turut di laga Serie A, akhirnya pasukan serigala AS Roma mampu memetik kemenangan. Di kandang sendiri, anak-anak asuh Rudi Garcia menaklukkan Fiorentina 2-1.
Tak hanya mendapat tiga poin, kemenangan ini juga memberikan beberapa pendorong bagi Roma. Pertama karena gol penentu kemenangan Roma dicetak oleh Mattia Destro di menit 67. Gol ini sarat emosional karena Destro mencetak gol perdana pasca sembuh dari cedera hampir sepanjang tahun. Selain itu Roma juga mendapatkan spirit baru. Ini karena sang pangeran, Francesco Totti, juga sudah keluar dari meja perawatan, meski hanya duduk di bangku cadangan.
Fiorentina sendiri bukannya bertandang tanpa perlawanan. Sepanjang 90 menit pertandingan berlangsung dengan kedua tim yang saling jual beli serangan. Hanya saja, kali ini anak asuh Montella memang harus mengakui keunggulan Roma karena kalah dalam duel lini tengah. Akibatnya, meski sempat mengurung pertahanan lawan, Fiorentina cenderung sulit untuk masuk ke dalam kotak penalti.

[Starting line-up. Sumber: whoscored]
Fiorentina Bertumpu Pada Cuadrado dan Vargas
Mengandalkan kedua sayap sebagai serangan utama serangan, La Viola memang mengisi banyak pemain di kedua sisi garis lapangan. Cuadrado dan Vargas dijadikan sebagai tumpuan utama dalam menyerang, dibantu oleh kedua fullback yang kerap ikut maju membantu serangan.
Namun, sebenarnya kedua pemain ini tidak banyak melakukan umpan silang ke kotak penalti AS Roma. Terlebih lagi Cuadrado yang lebih sering melakukan cutting inside ke tengah. Tugas melakukan umpan silang lalu diserahkan kepada kedua fullback.
Skema ini terlihat pada kejadian gol balasan Fiorentina. Adalah bek kanan, Nenad Tomovic, yang melakukan overlap dan memberikan assist kepada Vargas yang menusuk ke dalam kotak penalti.
Ketiga gelandang Fiorentina memang tidak banyak melakukan kontribusi dalam pertandingan, baik dalam bertahan maupun menyerang. Mereka seakan harus terisolir dengan lini tengah Roma yang memang memiliki skema perpindahan yang apik.

[Passing final third Fiorentina. Sumber: Statszone Four Four Two]
Kinerja Transisi Bertahan Lini Tengah AS Roma
Kevin Strootman dan Daniele de Rossi yang berdiri hampir sejajar di lini tengah, menjadi salah satu kunci dari penguasaan pertandingan Roma. Kedua pemain ini berperan penting baik dalam menyerang maupun bertahan. Sedangkan Miralem Pjanic lebih leluasa bergerak dibandingkan dengan kedua pemain tadi dengan lebih banyak berperan sebagai pengisi celah kosong ketika menyerang.
Salah satu alasan sulitnya Fiorentina masuk melalui tengah dan cenderung bermain melebar, juga berkat kinerja apik Strootman dan De Rossi. Keduanya berhasil membentuk benteng tangguh di depan kotak penalti. Maka tidak ada jalan lain bagi Fiorentina untuk menyerang, selain menyisir lapangan.
Selain menutup jalan tengah, para gelandang Roma juga tidak membuka jalur crossing menuju lini kedua. Akibatnya, meski Fiorentina mampu masuk ke final third di sayap, namun mereka tidak mempunyai kesempatan umpan tarik ke tengah. Seperti halnya satu-satunya gol Fiorentina, yang berasal dari terbukanya celah bertahan ini.
Sebenarnya De Rossi dan Strootman tidak sering melakukan aksi bertahan langsung. Namun berkat kemampuan penempatan posisi yang tepat, celah dari tengah Roma pun menjadi tertutup rapat. Aksi bertahan apik justru banyak dilakukan oleh kedua center back, terutama Mehdi Benatia, yang menjadi aktor utama pertahanan AS Roma.
Memanfaatkan Semua Lini dan Posisi Untuk Menyerang
Dominasi penguasaan lini tengah AS Roma tidak hanya terjadi saat bertahan, namun juga menyerang. Berbeda dengan Fiorentina yang hanya mempunyai pilihan menyerang melalui sayap, Roma lebih banyak memiliki variasi menyerang.
Caranya adalah dengan memanfaatkan semua lini dengan menempati posisi yang tepat. Ketika bola berada di penguasaan AS Roma, maka ketiga gelandang tengah mereka akan membentuk pola agar mempunyai banyak pilihan memindahkan bola melalui passing pendek.
Sementara itu, kedua fullback akan naik ke atas, sehingga pilihan menyerang menjadi sangat terbuka. Bahkan Maicon mencetak gol pembuka berkat aksinya ikut menyerang hingga kotak penalti. Maicon juga berkali-kali merepotkan barisan pertahanan Fiorentina dengan strategi tersebut.
Namun, mesti dicatat jika hal ini terkadang membuat Roma harus tertinggal ketika Fiorentina menyerang melalui sayap. Beruntung karena serangan balik Fiorentina cenderung naik lambat dan tidak terlalu sporadis.

[Passing final third AS Roma. Sumber: Statszone Four Four Two]
Menukar Sayap
Selain melalui gelandang dan fullback, lini depan Roma juga pintar memanfaatkan situasi saat serangan balik. Dengan Cuadrado dan Vargas yang jadi tumpuan serangan, otomatis Fiorentina tinggal menyisakan tiga pemain di belakang yang langsung berhadapan dengan Llajic-Gervinho-Florenzi.
Rudi Garcia dengan cerdiknya membingungkan lini pertahanan Fiorentina dengan sering menukar Gervinho dan Florenzi, sementara Llajic statis di tengah. Akibatnya, ketiga bek Fiorentina kebingungan dalam mengawal lini depan Roma, karena hanya ada Llajic sebagai poin referensi di depan.
Dengan strategi ini, Gervinho bisa menyumbangkan dua assist, yaitu satu dari dribble dari kanan dan satu dari dribble sebelah kiri.
Pemain Fiorentina yang Terlalu ke Depan
Memasuki menit akhir pertandingan Fiorentina terus menekan pertahanan AS Roma, selain karena tertinggal satu gol Fiorentina juga unggul dalam jumlah pemain. Menyusul kartu kuning kedua yang diterima Pjanic di menit 88.
Terus ditekan, Rudi Garcia sadar bahwa lebih realistis jika dia mempertahankan keunggulan. Dengan menarik kembali Destro dan memasukan Bradley di akhir pertandingan, allenatore ini juga mengubah formasi AS Roma dengan lebih bertahan melebar untuk membendung sayap Fiorentina.
Dengan tertutupnya sayap Roma, Fiorentina memang mau tidak mau harus mencari celah lain ke tengah. Namun mereka tetap gagal mengirimkan bola ke tengah, karena sistem pertahanan Roma yang mumpuni. Selain itu, lini kedua Fiorentina justru terlalu memaksakan masuk ke kotak penalti.
Lini depan Fiorentina cenderung menunggu bola hasil kiriman sayap dengan berdiri di dalam kotak penalti. Apa yang dilakukan penyerang Fiorentina menjadi percuma karena bola sendiri memang sulit untuk diarahkan ke sana. Pilihanya Pilihannya hanya menjadi long-shot yang terus gagal.
Permainan Apik Gervinho
Gelar man of the match sepertinya layak disematkan kepada penyerang Pantai Gading ini. Meski tidak berhasil mencetak gol, namun peranya sangat vital dalam serangan AS Roma. Termasuk kontribusi assist–nya yang menjadi penentu pertandingan.
Dalam skema AS Roma, Gervinho menjadi pemain pertama pembawa bola dalam serangan. Berkat kecepatan dan kemampuan menggiring bolanya-lah serangan balik Roma menjadi sangat berbahaya.
Walaupun begitu, sebenarnya posisi Gervinho sendiri memang bukan sebagai seorang playmaker. Bola yang dibawanya lebih banyak didistribusikan kembali ke lini kedua maupun ke arah sayap. Sesekali juga ia memaksa masuk dengan cara melakukan dribbling, ketika pemain Roma lain "tertinggal" di belakang.
Kesimpulan
Roma mampu bangkit kembali pasca hasil imbang beruntun, serta kembali menemukan pola permainanya kembali. Kabar baik juga muncul berkat pulihnya kembali sang pangeran, Francesco Totti, meski belum bisa turun langsung ke lapangan.
Taktik Rudi Garcia juga mulai menemukan banyak variasi serangan, yang membuat Roma patut kembali ditempatkan sebagai calon terkuat menggeser Juventus dari singgasana puncak klasemen. PR (pekerjaan rumah) besar sang allenatore mungkin hanya penyelesaian akhir yang masih perlu ditambal.
Sementara bagi Vncenzo Montella, pertandingan melawan Roma kali ini juga seharusnya memberikan banyak pelajaran baginya. Bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dari timnya. Serangan yang bertumpu dari sayap yang dilakukan masih mudah untuk ditebak. Performa dari trio gelandang Ambrosini, Valero, dan Aquilani juga masih memerlukan penyesuaian dengan taktik Montella.
===
* Dianalisis oleh @panditfootball . Profil lihat di sini
(a2s/roz)
Tak hanya mendapat tiga poin, kemenangan ini juga memberikan beberapa pendorong bagi Roma. Pertama karena gol penentu kemenangan Roma dicetak oleh Mattia Destro di menit 67. Gol ini sarat emosional karena Destro mencetak gol perdana pasca sembuh dari cedera hampir sepanjang tahun. Selain itu Roma juga mendapatkan spirit baru. Ini karena sang pangeran, Francesco Totti, juga sudah keluar dari meja perawatan, meski hanya duduk di bangku cadangan.
Fiorentina sendiri bukannya bertandang tanpa perlawanan. Sepanjang 90 menit pertandingan berlangsung dengan kedua tim yang saling jual beli serangan. Hanya saja, kali ini anak asuh Montella memang harus mengakui keunggulan Roma karena kalah dalam duel lini tengah. Akibatnya, meski sempat mengurung pertahanan lawan, Fiorentina cenderung sulit untuk masuk ke dalam kotak penalti.

[Starting line-up. Sumber: whoscored]
Fiorentina Bertumpu Pada Cuadrado dan Vargas
Mengandalkan kedua sayap sebagai serangan utama serangan, La Viola memang mengisi banyak pemain di kedua sisi garis lapangan. Cuadrado dan Vargas dijadikan sebagai tumpuan utama dalam menyerang, dibantu oleh kedua fullback yang kerap ikut maju membantu serangan.
Namun, sebenarnya kedua pemain ini tidak banyak melakukan umpan silang ke kotak penalti AS Roma. Terlebih lagi Cuadrado yang lebih sering melakukan cutting inside ke tengah. Tugas melakukan umpan silang lalu diserahkan kepada kedua fullback.
Skema ini terlihat pada kejadian gol balasan Fiorentina. Adalah bek kanan, Nenad Tomovic, yang melakukan overlap dan memberikan assist kepada Vargas yang menusuk ke dalam kotak penalti.
Ketiga gelandang Fiorentina memang tidak banyak melakukan kontribusi dalam pertandingan, baik dalam bertahan maupun menyerang. Mereka seakan harus terisolir dengan lini tengah Roma yang memang memiliki skema perpindahan yang apik.

[Passing final third Fiorentina. Sumber: Statszone Four Four Two]
Kinerja Transisi Bertahan Lini Tengah AS Roma
Kevin Strootman dan Daniele de Rossi yang berdiri hampir sejajar di lini tengah, menjadi salah satu kunci dari penguasaan pertandingan Roma. Kedua pemain ini berperan penting baik dalam menyerang maupun bertahan. Sedangkan Miralem Pjanic lebih leluasa bergerak dibandingkan dengan kedua pemain tadi dengan lebih banyak berperan sebagai pengisi celah kosong ketika menyerang.
Salah satu alasan sulitnya Fiorentina masuk melalui tengah dan cenderung bermain melebar, juga berkat kinerja apik Strootman dan De Rossi. Keduanya berhasil membentuk benteng tangguh di depan kotak penalti. Maka tidak ada jalan lain bagi Fiorentina untuk menyerang, selain menyisir lapangan.
Selain menutup jalan tengah, para gelandang Roma juga tidak membuka jalur crossing menuju lini kedua. Akibatnya, meski Fiorentina mampu masuk ke final third di sayap, namun mereka tidak mempunyai kesempatan umpan tarik ke tengah. Seperti halnya satu-satunya gol Fiorentina, yang berasal dari terbukanya celah bertahan ini.
Sebenarnya De Rossi dan Strootman tidak sering melakukan aksi bertahan langsung. Namun berkat kemampuan penempatan posisi yang tepat, celah dari tengah Roma pun menjadi tertutup rapat. Aksi bertahan apik justru banyak dilakukan oleh kedua center back, terutama Mehdi Benatia, yang menjadi aktor utama pertahanan AS Roma.
Memanfaatkan Semua Lini dan Posisi Untuk Menyerang
Dominasi penguasaan lini tengah AS Roma tidak hanya terjadi saat bertahan, namun juga menyerang. Berbeda dengan Fiorentina yang hanya mempunyai pilihan menyerang melalui sayap, Roma lebih banyak memiliki variasi menyerang.
Caranya adalah dengan memanfaatkan semua lini dengan menempati posisi yang tepat. Ketika bola berada di penguasaan AS Roma, maka ketiga gelandang tengah mereka akan membentuk pola agar mempunyai banyak pilihan memindahkan bola melalui passing pendek.
Sementara itu, kedua fullback akan naik ke atas, sehingga pilihan menyerang menjadi sangat terbuka. Bahkan Maicon mencetak gol pembuka berkat aksinya ikut menyerang hingga kotak penalti. Maicon juga berkali-kali merepotkan barisan pertahanan Fiorentina dengan strategi tersebut.
Namun, mesti dicatat jika hal ini terkadang membuat Roma harus tertinggal ketika Fiorentina menyerang melalui sayap. Beruntung karena serangan balik Fiorentina cenderung naik lambat dan tidak terlalu sporadis.

[Passing final third AS Roma. Sumber: Statszone Four Four Two]
Menukar Sayap
Selain melalui gelandang dan fullback, lini depan Roma juga pintar memanfaatkan situasi saat serangan balik. Dengan Cuadrado dan Vargas yang jadi tumpuan serangan, otomatis Fiorentina tinggal menyisakan tiga pemain di belakang yang langsung berhadapan dengan Llajic-Gervinho-Florenzi.
Rudi Garcia dengan cerdiknya membingungkan lini pertahanan Fiorentina dengan sering menukar Gervinho dan Florenzi, sementara Llajic statis di tengah. Akibatnya, ketiga bek Fiorentina kebingungan dalam mengawal lini depan Roma, karena hanya ada Llajic sebagai poin referensi di depan.
Dengan strategi ini, Gervinho bisa menyumbangkan dua assist, yaitu satu dari dribble dari kanan dan satu dari dribble sebelah kiri.
Pemain Fiorentina yang Terlalu ke Depan
Memasuki menit akhir pertandingan Fiorentina terus menekan pertahanan AS Roma, selain karena tertinggal satu gol Fiorentina juga unggul dalam jumlah pemain. Menyusul kartu kuning kedua yang diterima Pjanic di menit 88.
Terus ditekan, Rudi Garcia sadar bahwa lebih realistis jika dia mempertahankan keunggulan. Dengan menarik kembali Destro dan memasukan Bradley di akhir pertandingan, allenatore ini juga mengubah formasi AS Roma dengan lebih bertahan melebar untuk membendung sayap Fiorentina.
Dengan tertutupnya sayap Roma, Fiorentina memang mau tidak mau harus mencari celah lain ke tengah. Namun mereka tetap gagal mengirimkan bola ke tengah, karena sistem pertahanan Roma yang mumpuni. Selain itu, lini kedua Fiorentina justru terlalu memaksakan masuk ke kotak penalti.
Lini depan Fiorentina cenderung menunggu bola hasil kiriman sayap dengan berdiri di dalam kotak penalti. Apa yang dilakukan penyerang Fiorentina menjadi percuma karena bola sendiri memang sulit untuk diarahkan ke sana. Pilihanya Pilihannya hanya menjadi long-shot yang terus gagal.
Permainan Apik Gervinho
Gelar man of the match sepertinya layak disematkan kepada penyerang Pantai Gading ini. Meski tidak berhasil mencetak gol, namun peranya sangat vital dalam serangan AS Roma. Termasuk kontribusi assist–nya yang menjadi penentu pertandingan.
Dalam skema AS Roma, Gervinho menjadi pemain pertama pembawa bola dalam serangan. Berkat kecepatan dan kemampuan menggiring bolanya-lah serangan balik Roma menjadi sangat berbahaya.Walaupun begitu, sebenarnya posisi Gervinho sendiri memang bukan sebagai seorang playmaker. Bola yang dibawanya lebih banyak didistribusikan kembali ke lini kedua maupun ke arah sayap. Sesekali juga ia memaksa masuk dengan cara melakukan dribbling, ketika pemain Roma lain "tertinggal" di belakang.
Kesimpulan
Roma mampu bangkit kembali pasca hasil imbang beruntun, serta kembali menemukan pola permainanya kembali. Kabar baik juga muncul berkat pulihnya kembali sang pangeran, Francesco Totti, meski belum bisa turun langsung ke lapangan.
Taktik Rudi Garcia juga mulai menemukan banyak variasi serangan, yang membuat Roma patut kembali ditempatkan sebagai calon terkuat menggeser Juventus dari singgasana puncak klasemen. PR (pekerjaan rumah) besar sang allenatore mungkin hanya penyelesaian akhir yang masih perlu ditambal.
Sementara bagi Vncenzo Montella, pertandingan melawan Roma kali ini juga seharusnya memberikan banyak pelajaran baginya. Bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dari timnya. Serangan yang bertumpu dari sayap yang dilakukan masih mudah untuk ditebak. Performa dari trio gelandang Ambrosini, Valero, dan Aquilani juga masih memerlukan penyesuaian dengan taktik Montella.
===
* Dianalisis oleh @panditfootball . Profil lihat di sini
(a2s/roz)







