Match Analysis
Liga Italia: Juventus 3-0 AS Roma
Ketika Conte Memenangi Adu Taktik dengan Garcia
Jakarta - Lewat tiga gol yang dicetak oleh Arturo Vidal, Leonardo Bonucci, dan Mriko Vucinic, Juventus menang dari pesaing terdekatnya, AS Roma. Dengan raihan ini, selain memperlebar keunggulan dari Roma menjadi delapan poin, "Si Nyonya Tua" juga mencatatkan kemenangan kesepuluh beruntunnya semenjak dikalahkan Fiorentina pada 20 Oktober 2013.
Sejatinya grande partita Senin (6/1/2014) dinihari tadi menghasilkan laga ketat dengan intensitas gol yang tak terlalu timpang. Sebabnya, kedua tim bermain dalam keadaan komplit. Keduanya pun tampil dengan pemain-pemain dan pola utama sepanjang musim.
Bianconeri bermain dengan skuat terbaiknya saat ini, dengan kembalinya Stephan Lichsteiner di sayap kanan untuk menambah daya serang Juve. Andrea Pirlo, sang pengatur serangan dari lini tengah, pun membuat daya gedor Juventus semakin optimal. Di lini depan, kendati Vucinic telah sembuh dari cedera panjang, Antonio Conte tetap memilih Fernando Llorente sebagai pemain utama mendampingi Tevez.
Sementara itu, sang penantang AS Roma pun tampil penuh setelah sekian lama pincang akibat ditinggal Totti dan Gervinho.

Sebenarnya, kondisi full team ini sudah terjadi saat Roma melawan Catania di laga sebelumnya. Tapi ketika itu Luis Garcia membuat terobosan baru dengan memakai pola 4-2-3-1, sebuah pola yang lain dari biasanya. Peran Totti dikembalikan lagi menjadi seorang treaquatista yang berposisi di belakang striker tunggal (Mattia Destro). Hasilnya, Roma menang 4-0.
Namun pola itu hanya digunakan sesaat, karena di laga tadi malam coba-coba itu urung dilakukan. Roma kembali ke pola asalnya 4-3-3 yang tanpa striker serta memfungsikan Totti sebagai falsenine. Roma yang tampil semalam adalah skuat yang mampu mempertahankan rekor 10 kemenangan beruntun.
Cara Conte Meredam Roma
Antonio Conte tahu bagaimana cara meredam Roma. Saat menghadapi tim-tim besar, seolah sudah jadi kebiasaan, Roma selalu memberi keleluasaan bagi lawan untuk menyerang. Ini dilakukan sembari Roma mencari celah untuk melakukan serangan balik. Lazio, Napoli dan Inter Milan adalah korban dari mereka.
Mengetahui kebiasaan ini, di awal babak pertama Juventus lebih menahan diri untuk melakukan serangan -- dan lebih memilih bertahan.
Garis pertahanan mereka dimundurkan hingga sedemikian mungkin dekat dengan kiper. Dua wingback, Kwadwo Asamoah dan Lichsteiner, diposisikan agak cenderung bertahan ketimbang didorong ke depan. Posisi PauloPogba dan Vidal pun lebih sejajar dengan Pirlo yang menjaga kerapatan dengan tiga bek (Barzagli-Bonucci-Chiellini).

Sayap Juve lebih bersabar untuk memancing dua full-back Roma, Maicon dan Dodo, lebih maju. Conte membiarkan hal itu terjadi karena itu bagian dari taktik mengelabui Garcia.
Sementara ituTotti berfungsi sebagai false nine. Otomatis, saat menyerang posisinya lebih cenderung mundur ke belakang. Perannya pun lebih banyak sebagai pemantul kepada Gervinho atau Ljajic, yang berlari diagonal menusuk ke tengah.
Tapi di laga tadi malam, pertahanan berlapis yang dilakukan Juve membuat Totti mati kutu. Beberapa kali ia kesulitan balik badan, sehingga ia hanya bisa memantulkan bola kembali ke belakang dan bukan mengalirkannya ke depan (lihat chalkboard grafik passing Totti di bawah)

Pertahanan Berlapis untuk Menghadang Umpan Silang
Conte juga memperkuat barisan pertahanan di dalam kotak penalti. Ia lebih memilih penjagaan zonal ketimbang man to man semata. Tiga bek sejajar mereka disiplin di belakang, merapat di dalam kotak penalti. Tugasnya jelas, mencegah serangan Roma yang didominasi dari sayap.
Dengan garis pertahanan rendah dan rapat, Juve mampu membendung gelombang serangan Roma. Cara ini terbukti berhasil. Walaupun menguasai 56% penguasaan bola di babak pertama, Giallorossi jarang masuk ke sepertiga akhir pertahanan Juve.
Untuk membongkar pertahanan Juventus, Garcia lalu mengintruksikan Dodo dan Maicon untuk naik ke depan. Peran kedua pemain ini sejatinya untuk membantu Gervinho-Totti-Ljajic, membongkar pertahanan Juve. Tapi hasilnya? Nihil.
Saat tusukan lewat flank gagal dilakukan, otomatis sayap-sayap Roma tersebut akan memilih opsi melakukan crossing ke kotak pinalti. Dan inilah yang diinginkan Conte.
Pertahanan berlapis di tengah yang diterapkan Juve tentunya menghambat Totti dan pemain Roma untuk merangsek masuk menyambut umpan silang tersebut. Maka wajar saja jika dari 20 kali percobaan umpan silang yang dilakukan Roma, 17 di antaranya mengalami kegagalan.

Rencana Cadangan Roma
Garcia sebenarnya jeli dan peka melakukan perubahan untuk membongkar pertahanan Juve. Misalnya dengan memberikan Adem Ljajic dan Gervinho keleluasaan untuk memilih daerah operasi. Mereka berdua kerap berada di sayap kanan, kiri maupun bergantian sendirian di depan sebagai target man. Rotasi ini mampu menutupi kekurangan Totti yang terlalu statis di tengah.
Ljajic sendiri selalu menjaga kerapatan dengan Totti. Ke manapun Totti berlari, selalu ada Ljajic yang menguntitnya. Poros dua pemain ini mampu membuat Roma unggul di lini tengah (Lihat chalkboard - Passing Juve bolong di tengah)

Juventus Memanfaatkan Tingginya Posisi Full-back Roma
Masalah muncul karena taktik Garcia membuat adanya ketidakseimbangan antara kedua sayap Roma. Ini disebabkan oleh posisi Ljajic yang lebih cenderung ke tengah.
Untuk mengisi posisi Ljajic, biasanya full-back Roma berdiri sejajar dengan Ljajic dan Totti. Hal inilah yang dimanfaatkan Juve untuk menciptakan peluang bahkan mencetak gol: memancing full-back Roma naik setinggi mungkin.
Posisi full-back yang overlapping otomatis membuat posisi De Rossi tertahan di belakang (lihat grafik posisi pemain saat Roma menyerang di atas). De Rossi sendiri kerap berada sedikit di depan duet bek tengah, Benatia dan Castan. Saat menerima serangan balik cepat, otomatis Roma hanya mengandalkan 3 pemain. Kelemahan Roma ini yang membuat Conte mengoptimalkan Vidal. Saat Juve mulai melakukan serangan, pola berganti menjadi 3-4-3 dengan mendorong Vidal agak lebih depan. Jumlah 3 vs 3 di dalam kotak ini yang terkadang membuat AS Roma kelabakan.
Roma Bersabar
Terus menuai kebuntuan, Garcia pada akhir babak pertama mulai lebih sabar. Roma pun berusaha untuk menarik para pemain Juve keluar dari sarangnya. Mereka tak terburu-buru memainkan bola di tengah. Roma juga mengubah gaya bermainnya dengan memainkan bola-bola panjang memanfaatkan lebar lapangan.
Situasi ini ditanggapi Juve dengan mengubah gaya bermainnya. Mereka kemudian dengan aktif melakukan pressing ketat mulai dari pertahanan Roma. Hal inilah yang menjadikan garis pertahanan Juve begitu tinggi di akhir babak pertama.
Di awal babak kedua, Rudi garcia menarik Pjanic dan memasukan Mattia Destro. Kepekaan Garcia akan tumpulnya lini depan direspons dengan berubahnya formasi Roma menjadi 4-2-3-1.
Mengandalkan Destro sebagai penyerang tunggal, yang didukung Totti, Gervinho dan Llajic, Garcia mencoba menumpuk pemain di tengah untuk membendung Juve yang mulai berani bermain terbuka.
Akibat pola ini, saat menyerang Roma menumpuk enam pemain mereka di tengah. Selain dua full-back yang naik, Strootman pun didorong ke depan. Keenam pemain ini menyapu lebar lapangan tengah Juve.

Taktik Garcia ini direspons oleh Conte dengan meminta tiga pemain di tengah bermain merapat ke dalam. Kedua wingback juga diminta untuk mundur jauh ke belakang dan dilarang untuk naik. Ini dilakukan untuk mengantisipasi pola serangan Roma lewat crossing, atau serangan dari flank. Apalagi ada kehadiran seorang Mattia Destro di lini depan, berbeda saat Roma memakai 4-3-3 di babak pertama.
Ketakutan Conte ini terlihat dari serangan balik Juve yang terfokus ke tengah. Tevez juga lalu ditarik dan digantikan oleh Vucinic agar serangan dari tengah tetap terus mematikan. Sementara itu wingback fokus bertahan.
Kesimpulan
Kecerdasan Conte menangkap taktik Luis Garcia memang tak perlu diragukan lagi. Conte tampaknya menikmati pertarungannya dengan Garcia, dengan beberapa kali merespons apa yang dilakukan Garcia terhadap Roma.
Namun, sejatinya pertandingan hanya menarik disaksikan hingga menit 75. Setelah keluarnya De Rossi dan Castan akibat kartu merah, Conte pun seolah tak ingin meneruskan ambisinya untuk mempermalukan AS Roma. Pada akhirnya, Conte tetap memilih anak asuhnya untuk bermain bertahan ketimbang menyerang total habis-habisan, meskipun ia sanggup untuk melakukan hal itu.
Kecakapan Conte dalam soal taktik di Italia memang tak perlu ditanya. Tapi, patut diingat bahwa kemenangan ini membuat dominasi Juventus di Italia semakin menjadi. "Membuat Liga Italia menjadi membosankan," ujar Marcello Lippi.
====
* Akun twitter penulis: @panditfootball . Profil lihat di sini
(/)
Sejatinya grande partita Senin (6/1/2014) dinihari tadi menghasilkan laga ketat dengan intensitas gol yang tak terlalu timpang. Sebabnya, kedua tim bermain dalam keadaan komplit. Keduanya pun tampil dengan pemain-pemain dan pola utama sepanjang musim.
Bianconeri bermain dengan skuat terbaiknya saat ini, dengan kembalinya Stephan Lichsteiner di sayap kanan untuk menambah daya serang Juve. Andrea Pirlo, sang pengatur serangan dari lini tengah, pun membuat daya gedor Juventus semakin optimal. Di lini depan, kendati Vucinic telah sembuh dari cedera panjang, Antonio Conte tetap memilih Fernando Llorente sebagai pemain utama mendampingi Tevez.
Sementara itu, sang penantang AS Roma pun tampil penuh setelah sekian lama pincang akibat ditinggal Totti dan Gervinho.

Sebenarnya, kondisi full team ini sudah terjadi saat Roma melawan Catania di laga sebelumnya. Tapi ketika itu Luis Garcia membuat terobosan baru dengan memakai pola 4-2-3-1, sebuah pola yang lain dari biasanya. Peran Totti dikembalikan lagi menjadi seorang treaquatista yang berposisi di belakang striker tunggal (Mattia Destro). Hasilnya, Roma menang 4-0.
Namun pola itu hanya digunakan sesaat, karena di laga tadi malam coba-coba itu urung dilakukan. Roma kembali ke pola asalnya 4-3-3 yang tanpa striker serta memfungsikan Totti sebagai falsenine. Roma yang tampil semalam adalah skuat yang mampu mempertahankan rekor 10 kemenangan beruntun.
Cara Conte Meredam Roma
Antonio Conte tahu bagaimana cara meredam Roma. Saat menghadapi tim-tim besar, seolah sudah jadi kebiasaan, Roma selalu memberi keleluasaan bagi lawan untuk menyerang. Ini dilakukan sembari Roma mencari celah untuk melakukan serangan balik. Lazio, Napoli dan Inter Milan adalah korban dari mereka.
Mengetahui kebiasaan ini, di awal babak pertama Juventus lebih menahan diri untuk melakukan serangan -- dan lebih memilih bertahan.
Garis pertahanan mereka dimundurkan hingga sedemikian mungkin dekat dengan kiper. Dua wingback, Kwadwo Asamoah dan Lichsteiner, diposisikan agak cenderung bertahan ketimbang didorong ke depan. Posisi PauloPogba dan Vidal pun lebih sejajar dengan Pirlo yang menjaga kerapatan dengan tiga bek (Barzagli-Bonucci-Chiellini).

Sayap Juve lebih bersabar untuk memancing dua full-back Roma, Maicon dan Dodo, lebih maju. Conte membiarkan hal itu terjadi karena itu bagian dari taktik mengelabui Garcia.
Sementara ituTotti berfungsi sebagai false nine. Otomatis, saat menyerang posisinya lebih cenderung mundur ke belakang. Perannya pun lebih banyak sebagai pemantul kepada Gervinho atau Ljajic, yang berlari diagonal menusuk ke tengah.
Tapi di laga tadi malam, pertahanan berlapis yang dilakukan Juve membuat Totti mati kutu. Beberapa kali ia kesulitan balik badan, sehingga ia hanya bisa memantulkan bola kembali ke belakang dan bukan mengalirkannya ke depan (lihat chalkboard grafik passing Totti di bawah)

Pertahanan Berlapis untuk Menghadang Umpan Silang
Conte juga memperkuat barisan pertahanan di dalam kotak penalti. Ia lebih memilih penjagaan zonal ketimbang man to man semata. Tiga bek sejajar mereka disiplin di belakang, merapat di dalam kotak penalti. Tugasnya jelas, mencegah serangan Roma yang didominasi dari sayap.
Dengan garis pertahanan rendah dan rapat, Juve mampu membendung gelombang serangan Roma. Cara ini terbukti berhasil. Walaupun menguasai 56% penguasaan bola di babak pertama, Giallorossi jarang masuk ke sepertiga akhir pertahanan Juve.
Untuk membongkar pertahanan Juventus, Garcia lalu mengintruksikan Dodo dan Maicon untuk naik ke depan. Peran kedua pemain ini sejatinya untuk membantu Gervinho-Totti-Ljajic, membongkar pertahanan Juve. Tapi hasilnya? Nihil.
Saat tusukan lewat flank gagal dilakukan, otomatis sayap-sayap Roma tersebut akan memilih opsi melakukan crossing ke kotak pinalti. Dan inilah yang diinginkan Conte.
Pertahanan berlapis di tengah yang diterapkan Juve tentunya menghambat Totti dan pemain Roma untuk merangsek masuk menyambut umpan silang tersebut. Maka wajar saja jika dari 20 kali percobaan umpan silang yang dilakukan Roma, 17 di antaranya mengalami kegagalan.

Rencana Cadangan Roma
Garcia sebenarnya jeli dan peka melakukan perubahan untuk membongkar pertahanan Juve. Misalnya dengan memberikan Adem Ljajic dan Gervinho keleluasaan untuk memilih daerah operasi. Mereka berdua kerap berada di sayap kanan, kiri maupun bergantian sendirian di depan sebagai target man. Rotasi ini mampu menutupi kekurangan Totti yang terlalu statis di tengah.
Ljajic sendiri selalu menjaga kerapatan dengan Totti. Ke manapun Totti berlari, selalu ada Ljajic yang menguntitnya. Poros dua pemain ini mampu membuat Roma unggul di lini tengah (Lihat chalkboard - Passing Juve bolong di tengah)

Juventus Memanfaatkan Tingginya Posisi Full-back Roma
Masalah muncul karena taktik Garcia membuat adanya ketidakseimbangan antara kedua sayap Roma. Ini disebabkan oleh posisi Ljajic yang lebih cenderung ke tengah.
Untuk mengisi posisi Ljajic, biasanya full-back Roma berdiri sejajar dengan Ljajic dan Totti. Hal inilah yang dimanfaatkan Juve untuk menciptakan peluang bahkan mencetak gol: memancing full-back Roma naik setinggi mungkin.
Posisi full-back yang overlapping otomatis membuat posisi De Rossi tertahan di belakang (lihat grafik posisi pemain saat Roma menyerang di atas). De Rossi sendiri kerap berada sedikit di depan duet bek tengah, Benatia dan Castan. Saat menerima serangan balik cepat, otomatis Roma hanya mengandalkan 3 pemain. Kelemahan Roma ini yang membuat Conte mengoptimalkan Vidal. Saat Juve mulai melakukan serangan, pola berganti menjadi 3-4-3 dengan mendorong Vidal agak lebih depan. Jumlah 3 vs 3 di dalam kotak ini yang terkadang membuat AS Roma kelabakan.
Roma Bersabar
Terus menuai kebuntuan, Garcia pada akhir babak pertama mulai lebih sabar. Roma pun berusaha untuk menarik para pemain Juve keluar dari sarangnya. Mereka tak terburu-buru memainkan bola di tengah. Roma juga mengubah gaya bermainnya dengan memainkan bola-bola panjang memanfaatkan lebar lapangan.
Situasi ini ditanggapi Juve dengan mengubah gaya bermainnya. Mereka kemudian dengan aktif melakukan pressing ketat mulai dari pertahanan Roma. Hal inilah yang menjadikan garis pertahanan Juve begitu tinggi di akhir babak pertama.
Di awal babak kedua, Rudi garcia menarik Pjanic dan memasukan Mattia Destro. Kepekaan Garcia akan tumpulnya lini depan direspons dengan berubahnya formasi Roma menjadi 4-2-3-1.
Mengandalkan Destro sebagai penyerang tunggal, yang didukung Totti, Gervinho dan Llajic, Garcia mencoba menumpuk pemain di tengah untuk membendung Juve yang mulai berani bermain terbuka.
Akibat pola ini, saat menyerang Roma menumpuk enam pemain mereka di tengah. Selain dua full-back yang naik, Strootman pun didorong ke depan. Keenam pemain ini menyapu lebar lapangan tengah Juve.

Taktik Garcia ini direspons oleh Conte dengan meminta tiga pemain di tengah bermain merapat ke dalam. Kedua wingback juga diminta untuk mundur jauh ke belakang dan dilarang untuk naik. Ini dilakukan untuk mengantisipasi pola serangan Roma lewat crossing, atau serangan dari flank. Apalagi ada kehadiran seorang Mattia Destro di lini depan, berbeda saat Roma memakai 4-3-3 di babak pertama.
Ketakutan Conte ini terlihat dari serangan balik Juve yang terfokus ke tengah. Tevez juga lalu ditarik dan digantikan oleh Vucinic agar serangan dari tengah tetap terus mematikan. Sementara itu wingback fokus bertahan.
Kesimpulan
Kecerdasan Conte menangkap taktik Luis Garcia memang tak perlu diragukan lagi. Conte tampaknya menikmati pertarungannya dengan Garcia, dengan beberapa kali merespons apa yang dilakukan Garcia terhadap Roma.
Namun, sejatinya pertandingan hanya menarik disaksikan hingga menit 75. Setelah keluarnya De Rossi dan Castan akibat kartu merah, Conte pun seolah tak ingin meneruskan ambisinya untuk mempermalukan AS Roma. Pada akhirnya, Conte tetap memilih anak asuhnya untuk bermain bertahan ketimbang menyerang total habis-habisan, meskipun ia sanggup untuk melakukan hal itu.
Kecakapan Conte dalam soal taktik di Italia memang tak perlu ditanya. Tapi, patut diingat bahwa kemenangan ini membuat dominasi Juventus di Italia semakin menjadi. "Membuat Liga Italia menjadi membosankan," ujar Marcello Lippi.
====
* Akun twitter penulis: @panditfootball . Profil lihat di sini
(/)







