Liga Inggris: Liverpool 4-0 Everton
Strategi Kejutan Rodgers yang Menghancurkan Everton
Liverpool sukses menghancurkan saudara tuanya Everton dengan skor telak 4-0. Performa apik penggawa ‘Si Merah’ plus taktik kejutan Brendan Rodgers jadi alasan hadirnya tiga poin untuk tuan rumah.
Derby Merseyside jilid 222, berakhir dengan kemenangan besar 4-0 bagi Si Merah. Di luar dugaan, pertandingan antar tim sekota yang biasanya berlangsung panas dan sarat emosi berubah menjadi duel taktik antar kedua pelatih tim.
Jauh berbeda dengan derby pertama musim ini yang menyajikan pertarungan panas dengan 31 foul dan 7 kartu kuning, kali ini berjalan relatif "aman" dengan hanya 24 foul dan 3 kartu kuning.
Kedua tim sama-sama turun dengan skuad "seadanya" saja. Tujuh pemain dari Liverpool dan enam pemain dari Everton absen. Pemain-pemain muda pun harus dipanggil untuk mengisi posisi-posisi yang ditinggalkan para pemain utama yang cedera.
Tanpa Mamadou Sakho dan Daniel Agger, Liverpool tidak memiliki pilihan bek tengah selain Martin Skrtel dan Kolo Toure. Cederanya Glen Johnson dan Jose Enrique mengharuskan Aly Cissokho dan John Flanagan mengisi pos bek sayap.
Sektor tengah tidak kalah menghawatirkan, Lucas Leiva dan Joe Allen yang sedang cedera membuat sang kapten Steven Gerrard melakoni peran barunya sebagai gelandang bertahan di belakang Jordan Henderson dan Phillipe Coutinho. Beruntung, kali ini duet maut Luis Suarez-Daniel Sturridge bisa tampil bersama Raheem Sterling di depan tanpa halangan cedera.
Everton sebenarnya masih lebih beruntung karena pemain yang cedera bukan mereka yang memiliki peran krusial. Dari keseluruhan pemain, hanya posisi bek tengah dan bek kanan yang ditempati oleh pemain pelapis.
Posisi bek tengah kehilangan Sylvian Distin yang kemudian digantikan oleh Antolin Alcaraz dan bek kanan yang kehilangan Seamus Coleman sehingga membuat Roberto Martinez harus memanggil pemain 19 tahun, John Stones.
Sisanya Everton tetap menampilkan formasi utamanya dengan dua poros ganda di tengah, Gareth Barry dan James McCarthy, serta trio Ross Barkley, Kevin Mirallas dan Steven Piennar menyokong Romelu Lukaku di depan.

Skuad Liverpool (kiri) dan Everton (kanan). Sumber: Whoscored.com
Brendan Rodgers tidak mau melakukan kesalahan yang sama ketika pada pertandingan sebelumnya melawan Aston Villa. Ketika itu Rodgers menggunakan formasi 4-4-2 dengan duet Gerrard-Henderson di tengah dan Coutinho Sterling bermain melebar di sayap. Dengan jumlah yang sangat minim, lini tengah Liverpool dibuat tidak berdaya oleh lini tengah Aston Villa ketika itu. Sehingga aliran bola Liverpool dari belakang selalu gagal ketika mulai masuk ke lini tengah.
Pada pertandingan kali ini, Rodgers memerintahkan Sturridge untuk bermain lebih melebar ke sisi kiri. Hal ini membuat Coutinho dapat digeser ke tengah untuk membantu kinerja Henderson dan Gerrard menguasai lini tengah permainan. Suarez dibiarkan seorang diri di depan tanpa didampingi Sturridge.
Strategi Kejutan Brendan Rodgers
Tidak diduga Rodgers menunjukan permainan yang tidak seperti biasanya pada pertandingan kali ini. Sangat membutuhkan kemenangan sepertinya membuat Rodgers rela untuk sedikit menurunkan egonya. Permainan yang sangat mementingkan penguasaan bola kesukaannya sama sekali tidak diperagakan pada pertandingan kali ini. Everton dibiarkan untuk lama memegang bola sedangkan Liverpool mencari celah untuk menyerang balik dengan sangat cepat.
Liverpool hanya menguasai penguasaan bola sebanyak 39,4% dan membiarkan 60,6% sisanya dipegang oleh Everton. Permainan bola dengan operan-operan pendek dari kaki ke kaki yang biasanya diperagakan Liverpool pun tidak diperlihatkan pada derby kali ini. Hingga akhir pertandingan Liverpool hanya melakukan 267 operan, jauh di bawah Everton yang melakukan 437 operan.
Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal pertandingan. Liverpool tidak melakukan pressing tinggi di daerah pertahanan Everton. Everton dibiarkan menyusun serangannya tanpa gangguan dari Suarez, Sturridge, maupun Sterling.
Liverpool membentuk zonal marking ketat di belakang dengan garis pertahanan yang sangat rendah. Empat bek berdiri dalam jarak yang sangat sempit dengan kiper, dilapisi Steven Gerrard sebagai gelandang bertahan di depan keempat barisan pertahanan tersebut, serta empat gelandang sebagai tembok pertama yang berdiri tidak jauh dari daerah penalti.
Dengan pertahanan seperti ini, Liverpool berhasil mengunci rapat daerah kotak penalti. Formasi segitiga menghadap gawang sendiri yang dibentuk oleh ketiga pemain tengah Liverpool, Henderson, Gerrard, dan Coutinho sama sekali tidak membiarkan pemain-pemain Everton bergerak masuk ataupun memberikan operan ke daerah kotak penalti Liverpool.
Daerah kotak penalti Liverpool dibuat steril dari operan pemain-pemain Everton. Chalkboard umpan di final third Everton menunjukkan bagaimana sulitnya memasukkan bola ke kotak penalti Liverpool.
Chalkboard passing final third Everton. Sumber: Fourfourtwo.com
Menyerang dari sisi sayap pun tidak memberikan solusi yang berarti bagi Everton. Pertahanan berlapis juga sudah dibentuk Liverpool disana. Kedua penyerang sayap Liverpool, Sturridge dan Sterling dibuat turun jauh untuk membantu kedua bek sayap bertahan.
Everton benar-benar dibuat tidak dapat menyerang sepanjang babak pertama meski bola dikuasai lebih dari setengahnya oleh mereka. Total hanya sekali tendangan Everton mengarah ke gawang Mignolet pada babak pertama.
Sebaliknya, Liverpool yang terkesan merapatkan barisan pertahanan, justru jauh lebih sering mengancam gawang Everton. Dalam 20 menit pertama saja Liverpool sudah 7 kali melepaskan tendangan dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang.
Tidak berhenti hanya pada masalah barisan pertahanan, kejutan yang diberikan Rodgers pada Martinez juga pada masalah penyerangan. Setengah musim lebih Rodgers seolah-olah tidak memiliki rencana kedua selain permainan operan-operan pendek dari kaki ke kaki untuk menembus pertahanan lawan.
Pada pertandingan kali ini, Rodgers memutarbalikan semuanya 180 derajat. Tidak ada operan-operan pendek untuk membangun serangan secara perlahan dari daerah pertahanan pada pertandingan. Liverpool justru memperagakan serangan balik cepat dan tepat setelah serangan Everton berhasil dipatahkan.
Operan-operan lambung yang sepertinya pada pertandingan sebelumnya merupakan barang haram bagi seluruh pemain Liverpool kali ini justru banyak diperagakan pada pertandingan ini. Chalkboard operan pada final third kedua tim menunjukan bahwa liverpool sering melakukan operan-operan panjang langsung menuju pertahanan Everton.

Chalkboard passing final third Liverpool. Sumber: Fourfourtwo.com
Martinez yang sudah terlanjur salah mengira Liverpool akan bermain seperti biasa, memerintahkan pemainnya untuk melakukan pressing tinggi hingga ke daerah pertahanan Liverpool. Permainan yang memang terbukti ampuh untuk mengganggu aliran bola operan pendek Liverpool. Chelsea dan Manchester City sudah menunjukan cara ini mampu membungkam serangan Liverpool.
Namun, strategi Martinez ini menjadi hancur berantakan ketika Rodgers justru memperagakan permainan langsung ke pertahanan Everton. Garis pertahanan Everton yang sudah terlanjur naik jauh ke depan untuk menekan Liverpool, membuka ruang yang sangat lebar antara barisan pertahanan dengan Tim Howard.
Celah kosong inilah yang kemudian menjadi jalur masuk operan-operan langsung Liverpool yang dua diantaranya berbuah gol kedua dan ketiga Liverpool.


Pada gambar proses terjadinya gol kedua dan ketiga terlihat jelas bagaimana ruang terbuka lebar antara Howard dengan garis pertahanan Everton akibat pressing tinggi yang dilakukan.
Akibatnya tiga gol langsung tercipta bagi Liverpool sebelum jeda turun minum. Pada babak kedua, Everton tidak punya pilihan lain selain semakin gencar menyerang untuk mencoba membalikan keadaan. Namun permasalahan rapatnya pertahanan Liverpool yang tidak juga terpecahkan hingga akhir pertandingan membuat serangan Everton tidak menghasilkan apa-apa.
Liverpool justru dapat menambah satu gol kembali ketika operan Jagielka berhasil dipotong Suarez yang membuatnya tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Tim Howard. Hasil akhir 4-0 bagi Liverpool bertahan hingga akhir permainan.
Steven Gerrard Sebagai Gelandang Bertahan
Satu hal lain yang menarik dari pertandingan ini selain soal kejutan strategi dari Brendan Rodgers adalah Gerrard yang menjalankan peran barunya di Liverpool sebagai gelandang bertahan. Cederanya Lucas Leiva dan Joe Allen membuat stok gelandang bertahan Liverpool habis. Rodgers tidak memiliki pilihan lain selain menempatkan sang kapten untuk mengisi posisi ini.
Gerrard memang sudah mulai diarahkan Rodgers untuk tidak lagi menempati posisi gelandang serang sejak awal musim. Tipikal permainan Gerrard yang kurang bisa mengikuti permainan mengalir ala Brendan Rodgers sering membuat Gerrard terlambat menutup ruang setelah menyerang. Karena itulah Rodgers tidak terlalu suka menempatkan Gerrard di posisi gelandang serang Liverpool dan lebih memilih Coutinho dan Henderson.
Pada pertandingan kali ini Gerrard menempati posisi gelandang bertahan yang berdiri di depan 4 pemain bertahan, peran yang sudah banyak dibicarakan di kalangan fans Liverpool. Memainkan peran baru ini, Gerrard memang belum selugas Lucas ketika bertahan, namun hasil bahwa pada pertandingan ini pertahanan Liverpool tidak dapat ditembus dapat dijadikan catatan yang positif.
Gerrard juga sudah memberikan sinyal bahwa dia siap menempati posisi baru ini pada wawancara sebelum pertandingan. Dalam wawancara di situs resmi Liverpool Gerrard mengatakan:
"Peran ini sempurna bagi saya. Saya ingin bermain untuk klub ini selama saya mampu dan saat ini memiliki seorang manajer yang masih percaya pada saya serta menginginkan peran saya hingga beberapa tahun kedepan telah memberikan kepercayaan diri yang besar bagi saya."
(mrp/a2s)






