Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Italia: Juventus 3-1 Inter Milan

    Bagaimana Juventus Tiga Kali Memancing Kesalahan Bek Inter

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    AFP/Marco Bertorello AFP/Marco Bertorello
    Jakarta - Sebulan lebih Inter Milan tak pernah mengecap kemenangan. Terakhir kalinya mereka meraih tiga poin terjadi pada 22 Desember lalu, yaitu pada derbi Milan. Setelah itu Dewi Fortuna seolah enggan hinggap pada skuad Nerazzurri. Lima laga selanjutnya, Inter hanya bisa imbang 2 kali dan kalah 3 kali.

    Di hadapan sang rival Juventus, ada asa bahwa laga ini jadi titik kebangkitan Inter. Tapi apa daya, tadi pagi Inter malah jadi bulan-bulanan Si Nyonya Tua. Setelah sempat tertinggal 3-0 melalui gol Stephan Lichtsteiner, Giorgio Chiellini, dan Arturo Vidal, beruntung Inter dapat menambah satu gol lewat Rolando, hingga pulang dengan tak malu-malu amat.



    Inter sendiri datang ke Juventus Stadium dalam kondisi sedikit pincang setelah gelandang mereka Esteban Cambiasso mengalami cedera paha. Ketidakhadirannya mau tak mau sedikit merubah formasi yang dipakai pelatih Walter Mazzari.

    Salah satu caranya adalah dengan menarik satu striker di depan, yang biasanya diisi Diego Millito, dan menggantinya dengan seorang gelandang. Eksperimen kali ini menjadikan Inter bermain 3-5-1-1.

    Sebenarnya ini adalah pola lama Inter. Tapi, pada 3 pertandingan sebelumnya, Mazzari lebih memilih 3-4-2-1 dengan memainkan trisula Pallacio-Alvares-Millito di lini depan. Dalam pertandingan semalam, trisula di depan ini “diturunkan” dan digantikan oleh tiga gelandang Kuzmanovic-Kovacic-Saphi Taider. Taktik ini dilakukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Cambiasso.

    Utak atik formasi ini tak harus dilakukan Juventus. Menghadapi Derby d’Italia jilid dua, Si Nyonya Tua tampil komplit. Hanya kiper Gianluigi Buffon yang harus absen karena kartu merah yang didapatnya saat melawan Lazio, Minggu lalu (26/1). Sang pengganti Marco Storari pun naik posisi sebagai pemain inti.

    Beda Cara Menyerang

    Pada awal babak pertama, Juve dan Inter lebih bermain menunggu ketimbang menyerang secara frontal. Saat bertahan, para gelandang kedua tim akan sama-sama menjaga kerapatan dengan tiga bek di belakang. Tetapi saat menyerang keduanya melakukan cara yang berbeda. Inter akan menyerang dengan cepat saat mendapat bola, mengingat mereka menempatkan Pallacio dan Alvarez jauh di depan.

    Namun, hal ini tidak bisa dilakukan Juventus, karena posisi dua striker mereka, Llorente dan Tevez, dikunci oleh tiga gelandang dan tiga bek Inter (lihat gambar di bawah).



    Saat diserang, Campagnaro-Rolando-Juan memang langsung menutup ruang gerak para striker Juventus dengan kerapatan yang tipis . Diantara tiga pemain itu, dua diantaranya pun bertugas melakukan man to man marking kepada Tevez atau Llorente.

    Mazzari paham bahwa tipikal serangan Juve selalu berawal dari gelandang seperti Pogba-Vidal. Untuk menutupnya, ia menginstruksikan Taider-Kuzmanovic-Kovacic untuk menjaga jarak dengan tiga bek di belakang mereka.

    Wingback vs Wingback

    Kelemahan dari pola tersebut adalah Inter bermain menyempit dan memiliki titik lemah pada posisi sayap. Ini adalah sebuah perjudian Mazzari dengan Conte. Ia mengadu secara langsung bek sayapnya dengan kepunyaan Juventus. Sebuah pertarungan yang akan menentukan wingback terbaik. Hasilnya? Asamoah-Lichtsteiner yang keluar sebagai pemenang.

    Dari gol pertama bisa tergambarkan bagaimana taktik Conte mengerjai Mazzari. Semuanya dilakukan hanya dalam lima menit, dari menit ke-5 hingga ke-10, yang berlangsung dalam tiga fase.

    Fase pertama adalah Juve menarik mundur semua pemainnya, dan bermain bertahan saat mendapat bola. Namun, Juve lebih memilih menyerang secara perlahan. Saat Inter mendapat bola, maka Juventus akan melakukan pressing ketat dengan garis pertahanan yang dinaikkan setinggi mungkin, bahkan hingga masuk area pertahanan Inter (lihat grafik heat map dua bek Juve di bawah).



    Setelah Inter tertekan, pada fase kedua, Juventus bebas mengatur arah serangan yang akan dilakukan. Kebebasan itu teramat besar mengingat posisi Juventus yang menguasai hampir ¾ lapangan.

    Sementara itu, fase ketiga adalah memancing salah satu pemain di sisi sayap untuk out of position. Kali ini Conte memilih sayap kiri Inter, yaitu tempat Nagotomo berada. Ia memancing Vidal bergeser ke sayap, dengan Lichsteiner yang mundur ke belakang. Pada saat bola dialirkan ke area sayap kiri, maka Vidal otomatis ikut bergeser ke tengah.

    Bingo! Saat itulah Nagatomo terpancing mengikuti Vidal. Dengan mudah Lichsteiner pun beraksi bebas di area kiri pertahanan Inter. Hal ini dibaca oleh Pirlo dengan memberikan umpan matang kepada Lichsteiner. Gol pertama Juventus pun terjadi (lihat gambar di bawah).



    Lagi-Lagi Nagatomo?

    Usai gol pertama, Inter lebih bermain melebar. Tiga gelandang mereka tak merapat seperti pada awal babak pertama dan bergerak melebar menyisir lapang. Hanya saja, hal ini membuat mereka bermain aman dengan lebih mengandalkan serangan balik.

    Lagi-lagi strategi ini bisa manfaatkan Conte. Karena geladang Inter tak terburu-buru untuk naik, maka Juventus pun dapat terus mengurung Inter hingga babak pertama usai.

    Meski gol kedua Juventus lahir dari kemelut yang berawal dari bola mati, lini kanan Inter yang dijaga Nagatomo kembali menuai sorotan. Pasalnya gol kedua yang dicetak Chiellini pada menit ke-47 pun didasari oleh kelengahan Nagatomo. Ia gagal melakukan pengawasan di areanya sendiri.



    Kesalahan tentunya bukan di pundak Nagatomo semata. Tapi sikap Mazzari yang mengintruksikan tiga bek di belakang bermain merapat mungkin jadi penyebab utama.

    Kembali Memaksa Tiga Bek Inter Berdiri Rapat

    Untuk memperbaiki kesalahannya, pada awal babak kedua Mazzari pun mengintruksikan tiga bek dibelakang bermain sedikit melebar. Lalu, untuk mengisi celah-celah kekosongan, dua gelandang Taider atau Kuzmanovic kerap berdiri sejajar dengan 3 bek itu.

    Melihat hal ini, Conte pun menaikkan Vidal/Pogba sejajar dengan Teves dan Llorente. Alhasil pola 3-4-3 Juve membuat barisan tiga bek Inter kembali merapat seperti pada babak pertama.

    Setelah tertinggal 2-0, Inter memasukan Diego Milito menggantikan Kuzmanovic. Kondisi ini membuat Inter bermain 3-4-1-2 dengan menduetkan Palacio dan Milito di lini depan. Sayang, baru beberapa detik Milito masuk, Handanovic harus rela gawangnya dibobol Juve untuk ketiga kalinya. Proses gol ketiga Juve sendiri diawali oleh kesalahan pemain Inter yang membiarkan Pogba beraksi bebas di dalam kotak pinalti. Seperti dijelaskan pada awal tulisan, Juve memaksa bek-bek Inter bermain merapat setelah menempatkan tiga penyerang sekaligus di depan.

    Hal ini membuat 3 bek Inter diplot untuk masing-masing menjaga satu pemain. Namun cara ini amat rentan karena akan ada banyak ruang kosong di depan kotak penalti Inter. Dan benar saja, proses gol ketiga Juve pun terjadi karena hal itu.



    (Lihat gambar) Ketiga bek Inter di belakang terpancing untuk mengikuti tiga penyerang Juve yang bergerak ke sayap kiri. Ini tentu saja menyisakan ruang kosong di depan Handanovic sehingga Pogba berani menusuk berlari ke dalam.

    Telat dan buruknya gelandang Inter saat bertahan juga bisa dilihat dari proses gol ketiga ini. Bagaimana Vidal dengan bebas dapat berlari masuk ke dalam tanpa diantisipasi sama sekali oleh Taider.



    Kesimpulan

    Penampilan Inter Milan kian hari kian anjlok. Masalah kronis lini tengah Inter pun kini mulai merembet ke bagian pertahanan. Rapatnya jarak antar tiga bek di belakang nyatanya malah jadi blunder Inter. Dengan mudah taktik pertahanan Mazzari dibongkar oleh Conte.

    Absennya Cambiasso sendiri amat sangat berpengaruh bagi Inter. Taider dan Kuzmanovic ternyata tak begitu bisa diharapkan. Kedatangan Hernanes mungkin bisa sedikit membuka asa harapan bagi Inter. Apalagi sebagai gelandang ia memiliki kemampuan bertahan dan menyerang yang sama baiknya. Terlebih lagi Hernanes bisa diperankan sebagaimana seorang deep lying midfielder, satu peran yang tak dimiliki Inter saat ini.

    Namun, jika melihat antisipasi Mazzari yang cenderung bertahan dan reaktif pada laga tadi pagi, tak menutup kemungkinan Inter akan mengalami keterpurukan seperti saudara sekotanya, AC Milan.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini


    (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game