Liga Inggris: Manchester City 0-1 Chelsea
Tak Ada Fernandinho, Rekor Kandang City pun Rusak
Laga melawan Chelsea memperlihatkan bagaimana peran vital sosok bernama Fernandinho untuk Manchester City. Tanpa kehadirannya, The Citizens dibuat takluk oleh The Blues sekaligus menodai kesempurnaan Etihad Stadium.
Rekor kandang Manchester City pecah. Meski tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan di Etihad, kali ini Manuel Pellegrini harus mengakui keunggulan Jose Mourinho dalam meramu taktik. Gol tunggal dari Branislav Ivanovic membuktikan bahwa City masih bisa ditumbangkan di kandang.
Tak hanya belum kalah dalam 11 partai kandang, City juga mencatatkan jumlah gol yang fantastis. Mereka mampu mencetak 42 gol dan hanya kebobolan sembilan, termasuk melawan Chelsea.

Line Up Kedua Tim [Whoscored.com]
Efek Kehilangan Fernandinho
Beberapa jam sebelum laga dimulai, kabar buruk menimpa tuan rumah. Salah satu gelandang kunci, Fernandinho, tidak dapat diturunkan karena mengalami masalah pada otot.
Sebagai gantinya Pellegrini menempatkan Martin Demichelis, yang notabene seorang bek, pada posisi Fernandinho. Tidak ada pilihan memang, karena pemain pelapis lain Milner dan Rodwell masih dalam tahap pemulihan.
Kehilangan Fernandinho sendiri berdampak banyak pada kerja lini tengah City. Sebagai tandem Yaya Toure, pemain Brasil tersebut turut menjadi mesin utama City.
Pada skema 4-4-2 yang biasa dipakai Pellegrini, Toure dan Fernandinho akan bermain sejajar, baik dalam menyerang atau bertahan. Satu hal yang membedakan keduanya adalah pembagian fungsi, dengan Fernandinho yang biasa jadi pembawa bola saat City menyerang.
Kehilangan Fernandinho berarti kehilangan kekuatan saat menyerang. Tugasnya memang diambil alih oleh Toure, namun Toure bermain tanpa tandem. Kondisi ini memberi dampak pada beberapa pos City lainnya. Karena biasanya komposisi ini dimainkan dengan kekuatan dan karakter Fernandinho.
Memaksa Demichelis untuk terus mendampingi Toure dalam menyerang memang bukan pilihan terbaik. Pada akhirnya Silva yang harus berpindah ke tengah agar permainan City di sepertiga lapangan akhir dapat tetap berjalan.
Sayap Timpang Citizens
Pada laga-laga sebelumnya, bukan hal yang aneh jika Silva sering berpindah ke area tengah lapangan meski ia adalah seorang sayap kiri. Tapi, kepindahannya ini biasanya dimaksudkan hanya untuk membantu Fernandinho-Toure dan bukan jadi pengatur di tengah. Karena itu, meski berpindah posisi, Silva masih dapat bertanggung jawab pada pos utamanya sebagai sayap kiri.
Ini yang berbeda pada pertandingan semalam. Kolarov sebagai bek kiri harus bekerja sendiri di sayap, untuk menyerang maupun bertahan, karena Silva lebih sering ada di tengah.
Ketimpangan sayap ini membuat aliran bola City tidak berjalan lancar. Silva seakan tidak sanggup untuk menjadi pengatur serangan seperti biasanya.

Grafik umpan sepertiga akhir Manchester City
Area sepertiga akhir adalah tempat yang nyaman bagi penyerang City musim ini. Semua pemain dapat bebas bergerak mencari ruang kosong dan tetap mendapat jaminan pasokan bola. Lagi-lagi ini yang tidak terjadi saat melawan Chelsea kali ini.
Kedua striker, Dzeko dan Negredo, minim mendapat pasokan bola. Padahal keduanya sering bergerak mencari ruang.
Bahkan Silva dan Toure beberapa kali harus menekan dan bermain sejajar dengan kedua striker tersebut agar dapat menembus pertahanan The Blues, yang sebenarnya juga tidak bekerja terlalu keras. Negredo harus ditarik pada awal babak kedua, digantikan oleh Stevan Jovetic.
Pellegrini sepertinya merasa bahwa kedua striker memang gagal mendapat asupan bola. Masuknya Jovetic membuat City dapat lebih menguasai pertandingan, dengan City menahan bola lebih lama dari sebelumnya.
Tidak Perlu Parkir Bis
Sebelum melawan Manchester City, Mourinho mengkritik West Ham yang dianggap bermain terlalu bertahan saat bertemu Chelsea. Komentar ini lalu ditimpali berbagai pihak dengan mengatakan bahwa permainan parkir bis juga kerap dilakukan The Special One.
Namun pada pertandingan kali ini, sepertinya praktek parkir bis tidak terjadi di Etihad. Mourinho tidak memarkir bis di depan gawang Cech, namun hanya menempatkan "mobil–mobil" yang tepat pada posisinya.
Lowongnya sayap kiri Citizens dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Chelsea. Ramires bermain nyaris tanpa kawalan. Ditambah lagi dengan pergerakan Eden Hazard dan Willian yang bergantian mengisi posisi.
Tidak hanya itu, Ivanovic juga masih memiliki kesempatan untuk maju membantu serangan. Bek kanan tersebut juga tidak perlu khawatir dengan area yang ditinggalkannya, karena Ramires sigap ikut turun membantu kala ada serangan balik.
Namun Ivanovic-Ramires juga sebenarnya dipusingkan, karena hanya ada Kolarov seorang diri di sisi itu. Tampaknya Mou tahu bahwa kesempatan seperti itu akan sia-sia jika hanya mempraktekkan gaya parkir bis.
Hal ini berbeda dengan bek kiri Chelsea. Cesar Azpilicueta diminta tidak ikut naik karena harus mengawal Jesus Navas. Sementara Hazard bisa membuat Pablo Zabaleta was-was, meski pemain Belgia ini tidak terlalu membantu pertahanan.
Bahkan dua poros ganda Chelsea juga bisa beberapa kali ikut naik hingga sepertiga lapangan akhir. Ini karena duet Matic dan David Luiz masih memiliki kesempatan dan tidak banyak menghadapi tekanan. Dengan Mou yang mengandalkan tiga gelandang serang dan satu striker ini, tak heran jika Joe Hart masih harus menerima tendangan David Luiz, Nemanja Matic, dan Ivanovic.
Tekanan yang dilakukan City pada menit-menit akhir pertandingan juga masih dapat dianggap wajar. Mereka memang tuan rumah yang sedang ketinggalan angka pada satu pertandingan besar.
Proses Gol Ivanovic

Dua poin utama yang menjadi kelemahan Manchester City kali ini, yaitu Silva dan
Demichelis, seakan terangkum dalam gol Ivanovic.
Silva yang terlambat turun saat bertahan membuat Kolarov bekerja sendiri untuk mengawal Ramires, Ivanovic, dan bahkan Hazard. Prosesnya adalah: Hazard yang menerima bola di sisi kiri, mampu melewati kawalan dua pemain sekaligus yaitu
Zabaleta dan Demichelis. Kemudian ia memindahkan bola ke tengah, yang lalu dialirkan oleh Ramires pada Ivanovic yang berdiri tanpa kawalan.
Terbiasa bermain sebagai bek sepertinya membuat Demichelis lupa pada posisinya sebagai gelandang. Demichelis membiarkan area depan kotak penalti terbuka.
Bahkan, saat dilewati Hazard, Demichelis hanya berjalan karena mungkin saja dia merasa posisinya sudah sejajar dengan para bek. Kolarov yang sendirian di sisi kiri akhirnya harus melawan tiga orang sekaligus.
Tidak teraturnya pertahanan City ini kemudian membuat Chelsea bisa menciptakan banyak peluang sepanjang pertandingan. Termasuk diantaranya gol dari Ivanovic.
Secara bergantian para pemain lini depan Chelsea dapat memilih arah bola harus diumpan. Pada akhirnya, bola muntah tendangan Samuel Eto’o pun mampu disambar sepakan kaki kiri Ivanovic
Kesimpulan
Hilangnya Fernandinho harusnya memaksa Pellegrini memutar otak guna menyiapkan taktik yang berbeda. Tapi, pengumuman tidak dapat diturunkannya pemain Brazil tersebut memang baru terjadi beberapa jam sebelum pertandingan.
Maka bisa saja Pellegrini tidak punya waktu cukup untuk mengganti skema baru.
Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya pelapis karena Milner dan Rodwell juga masih belum fit 100%. Terbukti bahwa Demichelis gagal menggantikan peran seorang Fernandinho sebagai gelandang tengah dengan baik.
Sementara bagi Mourinho hasil tiga poin ini jelas membawa angin segar dalam persaingan papan atas Liga Inggris. Apalagi poin penuh yang didapat adalah di Etihad, tempat saat para raksasa Inggris lain terpaksa bertekuk lutut.







