Piala FA: Arsenal 2-1 Liverpool
Membuang Peluang dan Kecerobohan Kedua Fullback
Minggu lalu fans Liverpool bersorak-sorai ketika tim kesayangan mereka menggasak Arsenal 5-1 di pertandingan Liga Inggris di Anfield. Tadi malam, giliran mereka dibungkam The Gunners.
Pada pertandingan babak ketiga Piala FA di Emirates Stadium, Minggu (16/2/2014), Arsenal berhasil membalas kekalahannya tersebut dan menyingkirkan The Reds dengan skor 2-1.
Susunan Pemain
Biasanya ajang piala adalah kompetisi untuk tim-tim papan atas merotasi skuat dan menurunkan pemain-pemain pelapis mereka. Bahkan ini juga dilakukan meski lawan mereka adalah tim papan atas juga.
Hal ini mungkin, well, sedikit terlihat tadi malam dengan turunnya beberapa pemain yang asing kita dengar selama ini di Premier League. Siapa saja mereka? Mari kita lihat sebentar gambar di bawah ini:
[Susunan pemain Arsenal dan Liverpool. Sumber: WhoScored.com]
Dari susunan daftar pemain di atas, mungkin ada sedikit memberikan penilaian negatif pada Arsene Wenger. Susunan pemain Liverpool memang terlihat lebih baik dengan adanya Luis Suarez, Daniel Sturridge, dan Steven Gerrard. Komplit! Satu-satunya pemain yang dirotasi hanya Simon Mignolet, yang digantikan Brad Jones di bawah mistar gawang.
Eits, tapi tunggu dulu! Susunan pemain di atas menggambarkan satu kelakar yang menarik: Arsenal sedikit menyimpan skuat utama mereka karena harus berlaga di Liga Champions, suatu hal yang tidak dimiliki Liverpool dalam beberapa tahun terakhir ini.
Wenger menurunkan pemain-pemain kombinasi antara pemain inti dan pemain cadangan. Posisi di bawah mistar, yang biasa diisi oleh Wojciech Szczesny, kali ini diisi oleh penjaga gawang yang sama-sama berkebangsaan Polandia dan memiliki hari ulang tahun yang sama pula dengan Szczesny, Lukasz Fabianski.
Lukas Podolski yang sudah lama tidak menjadi pilihan utama pun diturunkan di lini depan bersama dengan Yaya Sanogo.
Satu hal yang pasti, kedua tim sama-sama menurunkan duet bek tengah terbaik mereka. Arsenal masih dengan Laurent Koscielny dan Per Mertesacker, sementara Liverpool dengan Daniel Agger dan Martin Skrtel.
Jalannya Pertandingan
Sorakan gairah dari pendukung tuan rumah ketika peluit akhir dibunyikan mencerminkan betapa pentingnya kemenangan ini untuk Arsenal, yang belum memenangkan trofi sejak tahun 2005.
Arsenal butuh banyak usaha dan sedikit keberuntungan pada pertandingan ini. Dan kemenangan ini adalah kemenangan besar bagi tim asuhan Arsene Wenger karena akhir pekan nanti mereka harus bentrok di Liga Champions melawan Bayern Munich.
Alex Oxlade-Chamberlain dan Lukas Podolski mencetak gol bagi tim London tersebut, sementara Fabiański juga berjibaku untuk menghadang serangan-serangan Liverpool.
Tim tamu berhasil mencetak gol oleh Gerrard dari titik putih setelah sebelumnya Suarez dilanggar oleh Podolski. Pemain asal Uruguay itu pun seharusnya mendapat satu penalti lagi, tak lama setelah penalti pertama, ketika ia dijatuhkan oleh Oxlade-Chamberlain di kotak penalti. Namun Howard Webb tak bergeming dan menganggapnya bukan sebuah pelanggaran.
[Statistik ke dua tim. Sumber: WhoScored.com]
Dari angka-angka di atas, terlihat bagaimana laga sedikit dikontrol oleh Liverpool dengan unggul di jumlah penguasaan bola, tembakan ke gawang, dan persentasi operan sukses.
Liverpool Gagal Memanfaatkan Peluang Menit-Menit Awal
Tidak ingin berjudinya kedua pelatih, dengan menurunkan dua bek tengah utamanya, menunjukkan kedalaman skuat ke dua tim yang tidak terlalu dalam.
Menit-menit awal adalah ujian bagi duet Laurent Koscielny dan Per Mertesacker di jantung pertahanan Arsenal. Duet yang sudah terkenal padu ini terlihat belum konsentrasi penuh pada di awal laga. Dua peluang pun berhasil didapatkan Liverpool melalui Daniel Sturridge, meski gagal ia manfaatkan.
Kegagalan yang tentunya akan sangat disesali oleh para pendukung Liverpool pada akhir pertandingan.
[Peluang pertama Daniel Sturridge]
Peluang di atas menunjukkan betapa lambatnya kecepatan ke dua bek tengah The Gunners. Baik Koscielny maupun Mertesacker memang bukanlah tipikal bek cepat. Meskipun mereka padu, mereka kerap keteteran dengan kecepatan pemain depan lawan.
Pada pertandingan ini, trio Suarez, Sturridge, dan Sterling adalah momok bagi pertahanan Arsenal. Dengan kecepatan-kecepatan yang mereka miliki, baik Koscielny, Mertesacker, Nacho Monreal di kiri, dan Carl Jenkinson di kanan, juga tak mampu membendung pergerakan penyerang-penyerang Liverpool.
[Peluang kedua Daniel Sturridge]
Sesekali lini pertahanan Arsenal mengakali pergerakan penyerang-penyerang The Reds dengan garis pertahanan yang tinggi. Tentu dengan harapan bahwa Liverpool akan terjebak pada posisi offside. Namun strategi ini hanya berhasil sebanyak 3 kali saja pada pertandingan ini.
Kalau bukan karena performa gemilang Fabianski, Arsenal bisa saja kebobolan lebih banyak pada pertandingan ini.
Kecerobohan Flanagan dan Cissokho
Ada yang berkata bahwa Jon Flanagan adalah pemain titipan di Liverpool. Benar ataupun tidak, performa Flanagan di atas lapangan bisa sedikit berbicara.
Beroperasi di posisi bek sayap kanan, Flanagan tampil pas-pasan untuk tim sekelas Liverpool. Ia kerap kali melakukan kecerobohan-kecerobohan mendasar pada sepakbola terutama pada positioning.
Kecerobohan dalam positioning ini terlihat pada peluang Mesut Oezil di babak ke dua.
[Peluang Mesut Oezil dan kecerobohan positioning Flanagan]
Pada peluang di atas, Flanagan seharusnya tetap menjaga pergerakan Oezil. Sedangkan tugas untuk menutup operan Podolski seharusnya dikerjakan oleh Skrtel.
Posisi Flanagan yang terlanjur tertarik menyebabkan menumpuknya pemain Liverpool di tengah dan Oezil yang mendapatkan ruang kosong lowong untuk menciptakan peluang. Beruntung baginya, Oezil gagal memanfaatkan peluang tersebut menjadi sebuah gol.
Selain positioning, keputusan yang diambil Flanagan pun kerap salah. Hal ini terlihat saat ia dengan ceroboh melakukan tekel yang tidak perlu dan lalu menghasilkan tendangan bebas yang berbuah gol pertama Arsenal oleh Oxlade-Chamberlain.
[Alex Oxlade-Chamberlain dibiarkan bebas pada gol pertama Arsenal]
Sorotan pada gol pertama ini, selain tekel Flanagan tersebut, adalah bagaimana tidak adanya pemain Liverpool yang menjaga pergerakan Oxlade-Chamberlain, yang dengan mudah bisa bebas menembak dari bola hasil muntahan Yaya Sanogo. Aly Cissokho-lah yang seharusnya menjaga pergerakan Oxlade-Chamberlain.
Kesalahan Cissokho kembali diulangi pada gol ke dua Arsenal. Cissokho yang memang gemar menyerang dan suka lupa bertahan membuat pertahanan Liverpool kewalahan.
Pada gol Podolski, Liverpool sebenarnya tidak sedang menyerang dan Arsenal pun tidak sedang melakukan serangan balik. Proses awalnya adalah berupa tendangan gawang yang diambil oleh Fabianski.
Tugas penjagaan Oxlade-Chamberlain yang seharusnya dibebani pada Cissokho malah "dioper"kepada Daniel Agger.
Cissokho yang terlambat mundur membuat Oxlade-Chamberlain dapat menusuk sesuka hati. Oxlade-Chamberlain pun kemudian mengoper bola kepada Lukas Podolski yang dengan mudah menaklukkan Brad Jones.
[Proses gol Lukas Podolski]
Lagi-Lagi "Tambang Emas"
Menjadi diskusi menarik publik Inggris terkait cederanya Theo Walcott, yang kemungkinan akan absen di Piala Dunia. Sejumlah pemain digadang-gadang akan mengambil tempat Walcott di dalam skuat Roy Hodgson, seperti Ross Barkley, Thomas Ince, dan Adam Johnson.
Sekarang hadir kembali seorang Alex Oxlade-Chamberlain yang mulai bermain apik. Pada pertandingan ini saja ia berhasil mencetak satu gol dan satu buah assist.
Selain Oxlade-Chamberlain, Raheem Sterling juga menarik perhatian kita dengan kecepatan pergerakannya dan cara ia mengolah bola. Sterling juga menunjukkan kemampuan bertahannya, ketika ia ditempatkan sebagai bek kanan, ketika Cissokho ditarik keluar (Flanagan mengisi pos bek kiri).
Siapa yang akan mengantikan Walcott di Piala Dunia nanti? Kita tunggu saja.
====
* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball







