Liga Italia: Juventus 1-0 Torino
Main Pragmatis di Babak Kedua, Kunci Kemenangan 'Si Nyonya Besar'
Juventus sukses memperkokoh posisi di puncak klasemen pasca kemenangan di laga derby Turin kontra Torino. Strategi bermain pragmatis di babak kedua jadi kunci keberhasilan 'Si Nyonya Besar'.
Secara umum, pada babak pertama Juve dapat dikatakan begitu aktif dalam menginisiasi serangan. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada babak kedua. Juve terlihat adem ayem dengan hanya mencetak satu gol dan cenderung cari aman dengan bermain tidak terlalu terbuka.
Oleh karena itu, secara tidak langsung Torino pun terkena dampak dari perubahan gaya bermain yang dilakukan Juve: bertahan pada babak pertama dan menyerang pada babak kedua.
Satu hal yang membedakan antara Juve dan Torino adalah penerapan taktik. Antonio Conte patut berbangga karena para pemain mampu menerapkan taktik sesuai dengan instruksinya.
Ini berbeda dengan Torino. Meski secara taktikal Giampiero Ventura mampu menggali kelemahan Juve namun instruksinya yang tidak ditangkap dengan baik oleh pemain membuat usaha itu menjadi sia-sia.
Mengandalkan Llorente Sebagai Pemantul
Satu hal yang menarik dari laga ini adalah Juve tidak memperlihatkan permainan yang biasanya mengandalkan umpan silang. Juve lebih sering menggunakan operan-operan pendek yang langsung mengarah menuju pemain di sepertiga area akhir.
Menariknya lagi, operan tersebut justru diberikan kepada Llorente yang berperan sebagai pemantul. Padahal biasanya pemain asal Spanyol itu lebih sering menjadi pemantul dengan mengandalkan keunggulannya dalam melakukan aerial duel.

Chalkboard Passing Juve di Babak I
(Dari Sepertiga Area Tengah Bola Kerap Langsung Dialirkan Ke Area Sepertiga Lapangan Akhir)
Jika melihat pada faktor jarak antar lini yang rapat dan garis pertahanan tinggi, tentu bermain dengan operan-operan pendek akan lebih mudah. Akan tetapi, bukan berarti Juve dengan mudah pula mampu melakukan ancaman ke gawang. Kinerja trio bek Torino dalam melakukan penjagaan terhadap Llorente membuatnya tidak mampu bermain maksimal.
Maka dari itu, pada pertengahan babak pertama, Conte pun langsung menginstruksikan Llorente untuk bermain melebar. Perubahan ini dalam artian tidak untuk melakukan umpan silang, namun melainkan masih menjalankan peran sebagai pemantul.
Chalkboard Aksi Llorente
(Area Pergerakan Llorente Tidak Hanya di tengah)
Hasilnya, selain sebagai pemantul, Llorente pun cukup berperan dalam memancing centre-back untuk keluar dari area kotak penalti. Namun, sayangnya ketika centre-back Torino telah terpancing, pemain dari lini kedua tidak melakukan penetrasi ke area kotak penalti. Padahal, para gelandang lah yang mestinya berperan dalam menerima bola hasil pantulan tersebut.
Melakukan tembakan langsung ke arah gawang jadi opsi yang sering dilakukan oleh barisan lini kedua Juve.
Skema 3-5-2 yang berubah menjadi 5-3-2 ketika bertahan pun membuat pertahanan Torino cukup sulit untuk ditembus Carlos Tevez, dkk. Bahkan, saking rapatnya, tidak hanya dua pemain sayap yang turun namun dua gelandang Torino pun turut membantu pertahanan.
Taktik Ventura yang menginstruksikan para pemainnya untuk melakukan man-to-man marking terhadap barisan penyerang Juve pun membuat passing yang diberikan kepada Llorente pun mampu dipentalkan.
Namun sayangnya, dalam menjaga barisan penyerang Juve para pemain Torino masih sering melakukan pelanggaran. Akibatnya, Juve pun acap menerima beberapa peluang set-piece.
Memanfaatkan Kelemahan Juve dengan Umpan Terobosan
Meski Juve mampu menguasai jalannya pertandingan pada babak pertama, namun bukan berarti Torino tanpa perlawanan. Pola serangan dengan mengandalkan umpan through pass menjadi senjata andalan. Bahkan, baik Ciro Immobile maupun Alessio Cerci kerap mendapatkan peluang matang yang berasal dari umpan through pass yang dialirkan ke tengah.
Pergerakan kedua pemain tesebut, yang cerdik bergerak diantara dua bek, membuat Torino kerap menyulitkan barisan pertahanan Juve. Bahkan, tercatat Torino mampu menghasilkan peluang matang dari 3 kali umpan terobosan.
Pola serangan tersebut pun mampu berjalan baik. Ini karena pemain Juve jarang melakukan pressing ketat meski kehilangan bola, meski bermain dengan garis pertahanan yang tinggi. Padahal, dengan kondisi tersebut, lini pertahanan Juve menjadi rentan terhadap serangan balik.

Torino Created Chances Chalkboard
(Aliran Bola Lebih Banyak Diberikan ke Tengah)
Menyadari cukup sulitnya menembus pertahanan Torino, Conte pun akhirnya menginstruksikan anak buahnya untuk bermain lebih cair lagi. Khususnya pada duet striker Carlos Tevez dan Llorente yang kerap bertukar posisi.
Mengganti Skema Pada Babak Kedua
Setelah unggul satu gol Juve pun menerapkan pola permainan yang cenderung bertahan pada babak kedua. Namun, meski bermain lebih defensive dan menerapkan garis pertahanan yang rendah, bukan berarti Torino mampu mengembangkan serangan.
Ini karena, Juve pun melakukan skema pertahanan yang sama dengan apa yang dilakukan Torino. Garis pertahanan dalam dan melakukan penjagaan ketat terhadap duet Ciro Immobile dan Alessio Cerci.
Hal yang membedakan antara Juve dan Torino adalah Juve masih cukup intens dalam menggalang serangan. Lini serang Juve yang fluid mampu membuat Torino cukup kesulitan.
Llorente yang bergerak menyamping, atau Pogba dan Vidal yang ikut pula mengacak-acak konsentrasi lawan, mampu membuat serangan Juve lebih mudah untuk dibangun. Ini lah yang membuat Juve tetap mampu mengembangkan permainannya meski dalam intensitas yang sedikit berkurang dari babak pertama.
Minim Serangan dari Lini Kedua
Walaupun Torino mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan permainan pada babak kedua, bukan berarti gawang Juve terancam. Ini karena, lini depan Torino yang bermain dengan memberikan umpan tarik (cut-back) tidak didukung oleh pemain dari lini kedua.
Begitu juga dengan skema alternatif yang tidak berjalan. Ketika hendak melakukan umpan silang, striker Torino sendiri tidak mendapatkan ruang. Akibatnya, bola yang pada awalnya berada di sayap dan siap untuk dikirimkan dengan crossing malah dikembalikan ke lini tengah. Dan lini kedua ini langsung memberikan umpan panjang kedepan.
Menumpuknya pemain Juve dengan intersep-intersep yang sangat baik menjadi faktor gagalnya Torino untuk masuk ke area kotak penalti.

Chalkboard Passing Torino di Sepertiga Area Lapangan
(Torino Minim Kreasi Serangan di Tengah)
Kesimpulan
Bagi Conte, meski terkesan pragmatis, setidaknya usaha dalam bermain aman telah berhasil diterapkan. Hal yang sangat wajar, mengingat Juve sendiri kerap kebobolan pada 6 laga terakhir secara berturut-turut di Serie A. Terakhir kalinya Juve mencetak cleansheet adalah pada 5 Januari 2014.
Secara garis besar, jika dilihat dari taktik yang diterapkan dan keunggulan materi pemain maka terasa wajar apabila Juve mampu meraih tiga poin di kandangnya sendiri.







