Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Piala AFF: Singapura 1-2 Thailand

    Konsistensi Cara Menyerang Thailand

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    AFP/MOHD FYROL AFP/MOHD FYROL
    Jakarta -

    Tim nasional Singapura harus menanggung malu di hadapan pendukung mereka sendiri usai dikalahkan Thailand di laga pertama mereka di Piala AFF 2014 Grup B di Stadium of Singapura, Minggu (23/11/).

    Gol tunggal The Lions yang dicetak Khairul Amri tidak cukup membawa Singapura meraih angka, karena Thailand berhasil mencetak dua gol lewat Mongkol Tossakrai dan Charyl Chappuis.

    Kata indah rasanya tidak pantas mengawani kemenangan Thailand. Di banyak kesempatan mereka terlihat terburu-buru dan seringkali terpancing melepaskan umpan-umpan panjang yang monoton. Ketika berada dalam penguasaan para pemain Thailand, jarang sekali bola bergulir di atas permukaan lapangan dan menempuh jarak yang pendek dari satu kaki ke kaki lainnya.

    Kiatisuk Senamuang tampaknya tidak akan peduli terhadap seberapa pedas dan seberapa banyak cibiran yang dialamatkan kepada dirinya dan timnya. Yang ia tahu, pasukannya berhasil menjalankan strategi yang ia mainkan. Yang ia tahu, Thailand menang melawan tuan rumah dan si juara bertahan.

    Playmaker Singapura adalah Dua Bek Tengah Mereka

    Menyandang predikat juara bertahan rupanya tidak membuat Singapura tergesa-gesa. Pendekatan permainan dibangun secara perlahan, dimulai dari bagian per bagian. Sekilas, Singapura seperti membiarkan Thailand menguasai permainan di awal laga.

    Dengan tenang dan sabar Singapura bertahan, menunggu Thailand melakukan kesalahan untuk kemudian melancarkan serangan balasan. Akan tetapi taktik tersebut malah membawa petaka bagi Singapura. Thailand yang mendapatkan kebebasan untuk berkembang berhasil membobol gawang kawalan Hassan Sunny pada menit kedelapan.

    Kendati kecolongan, Singapura toh tidak tergesa-gesa mengganti skema permainan. Terus menerus mereka sabar menunggu kesalahan para pemain Thailand untuk melancarkan serangan dari lini belakang, langsung ke barisan depan.

    Jika salah satu dari Baihakki Khaizan dan Safuwan Baharudin mampu mencuri bola, hal pertama yang mereka lakukan adalah melepaskan umpan langsung ke wilayah pertahanan Thailand. Di sana Shahril Ishak maupun Khairul Amri sudah siap menerima bola.

    Penegasan tugas Baihakki Khaizan dan Safuwan Baharudin sebagai kurir umpan langsung terlihat jelas kala Hariss Harun berhasil mematahkan serangan Thailand di lini tengah. Olehnya, bola tidak langsung dikirimkan ke area pertahanan Thailand; namun justru disodorkan kepada salah satu dari Baihakki dan Safuwan.

    Inilah yang menyebabkan Safuwan, yang notabene seorang center back, justru menjadi pemain Thailand yang paling banyak memproduksi umpan sebanyak 39 umpan. Pemain Singapura berikutnya yang paling banyak memproduksi umpan justru Shahril Ishak (36 umpan) yang berada jauh di depan.

    Selain direct pass, Singapura acapkali mengancam lewat umpan silang ke jantung pertahanan Thailand. Strategi ini berbuah hasil ketika early cross Shaiful Esah Nain di menit 19 berhasil dikonversi menjadi gol oleh Khairul Amri. Kombinasi umpan silang dan sundulan kelas satu membawa Singapura menyamakan kedudukan, membuat Kawin Thammasatchanan terdiam tak berdaya di tempatnya berdiri.

    Bukan berarti Thailand juga tak melakukan hal yang sama. Mereka juga rajin membuat umpan silang, bahkan jumlahnya lebih banyak dari produksi umpan silang Singapura, hanya saja akurasinya lebih buruk. Dari 24 umpan silang yang dibuat Thailand, hanya 17 persen saja yang akurat. Bandingkan dengan Singapura yang memproduksi hanya 13 umpan silang, tapi akurasinya mencapai 31 persen.

    Itu bisa terjadi karena pemain Singapura lebih leluasa melakukan umpan silang. Ini disebabkan karena kedua bek sayap Thailand Artit Daosawang dan Peerapat Notchaiya kerap meninggalkan pos mereka untuk naik jauh ke depan membantu serangan. Itulah yang menyebabkan serangan Singapura melalui umpan silang terlihat sangat merepotkan untuk diantisipasi.

    Direct pass dan crossing bukan satu-satunya senjata Singapura. Ketika bola berada di kaki Shahril Ishak, Singapura menyerang dengan cara yang berbeda. Kecenderungan sang kapten ketika ia menguasai bola adalah memberikan umpan pendek kepada Amri, Sahil Suhaimi, maupun Faris Ramli yang kadang merengsek ke tengah. Setelah itu, Shahril akan tetap berdiri di belakang Khairul Amri, dan siap masuk ke jantung pertahanan jika ada ruang yang terbuka.

    Singapura Dipaksa Pasang Garis Pertahanan Rendah

    Gol penentu kemenangan Thailand memang dicetak dari titik putih pada menit ke-89, setelah Safuwan Baharuddin, pemain belakang Singapura, dinyatakan menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak penaltinya sendiri. Terlihat seperti sebuah hadiah, walau kontak antara bola dengan tangan Safuwan sendiri sejatinya adalah sebuah ganjaran untuk konsistensi Thailand, yang terus menekan sejak menit pertama hingga kemenangan benar-benar berada di tangan mereka.

    Turun dengan formasi 4-2-3-1, yang sewajarnya mendukung gaya bermain umpan pendek dari kaki ke kaki, pada praktiknya terlihat seperti sebuah tipuan saja. Ketika bola berada dalam penguasaan Thailand, duo penyerang sayap dengan segera berdiri sejajar dengan penyerang tunggal. Ketiga pemain tersebut, dengan bantuan salah satu gelandang tengah dan penyerang lubang, memastikan daerah sepertiga pertahanan Singapura terus-terusan mendapatkan tekanan.



    Grafis average position menjelaskan bagaimana Thailand menekan Singapura. Prakit Deeporm yang memulai pertandingan tepat di depan barisan pertahanan, bersama dengan Sarach Yooyen, tampak seperti duet dari Kirati Keawsombut sang ujung tombak. Mongkol Tossakrai dan Kroekrit Thaweekarn, duo penyerang sayap, mengapit duet dadakan Deeporm-Keawsombut sementara Charyl Chappuis selaku penyerang lubang berada sedikit di belakang keempat pemain tersebut.

    Saat menyerang, Thailand seperti bermain 4-2-4 atau bahkan 2-3-5. Selalu ada satu atau dua pemain Thailand yang siap menyambut bola muntahan atau bola liar di luar kotak penalti. Tidak perlu heran jika statistik percobaan mencetak gol Thailand dari luar kotak penalti terhitung tinggi. Dari 11 percobaan, 5 di antaranya dilakukan dari luar kotak.

    Mereka berani melakukan itu karena Singapura memang memilih bermain bertahan dan sabar menunggu di belakang. Dalam sejumlah kesempatan, ini mengakibatkan Thailand kadang unggul jumlah pemain di wilayah pertahanan Singapura.

    Sebagai hasilnya, dua gelandang tengah Singapura, Shahdan Sulaiman dan Hariss Harun lebih banyak menghabiskan waktu mereka di daerah permainan sendiri ketimbang menyokong serangan. Begitu pula dengan Ismadi Mukhtar dan Shaiful Esah, fullback kanan dan kiri Singapura.

    Gaya bermain Thailand, yang terus menerus mengirimkan umpan langsung ke area pertahanan Singapura, sejujurnya membuat Thailand pada awalnya terlihat seperti sebuah tim yang tidak memiliki tujuan jelas. Tanpa arah. Miskin strategi.

    Lambat laun, Thailand berhasil meyakinkan penonton bahwa memang itulah arah yang mereka tuju. Seperti itulah strategi mereka.

    Cara itu sangat efektif, terlebih mengingat bahwa Singapura memiliki kelemahan yang dapat dieksploitasi oleh Thailand. Walaupun Singapura memiliki barisan pertahanan berlapis yang terorganisir dengan baik, mereka tetap membutuhkan waktu yang relatif lama untuk melakukan transisi dari menyerang ke bertahan.

    Gol pertama Thailand adalah bukti terbaik mengenai kelemahan Singapura. Dari sisi kanan permainan Singapura, Peerapat Notchaiya dengan cepat dan tepat mengirimkan bola kepada Prakit Deeporm, yang berhasil menemukan celah di antara para pemain belakang Singapura. Deeporm kemudian dengan leluasa mengirimkan umpan datar menyilang, yang kemudian dengan mudah disontek Mongkol Tossakrai yang mendapatkan ruang karena buruknya konsentrasi para pemain Singapura.

    Poros Yooyen dan Notchaiya

    Di sinilah peran penting Sarach Yooyen sangat dominan. Pemain Muangthong ini bermain lebih ke dalam, berada di depan duet center back Adison dan Praweenwat, dan dari posisi itulah dia banyak menerima umpan dari lini belakang dan kemudian mengirimkan umpan-umpan ke depan.

    Jangan heran jika dia menjadi pemain dengan produksi umpan terbanyak yaitu 62 umpan dari semua pemain kedua kesebelasan. Pemain kedua Thailand yang paling banyak memproduksi umpan adalah fullback kanan mereka, Peerapat Notchaiya, dengan 45 umpan. Sisa pemain lainnya, dari seluruh pemain kedua kesebelasan yang berlaga, tidak ada yang mampu membuat umpan lebih dari 40.

    Ini memperlihatkan dengan baik skema permainan Thailand, setidaknya bagaimana mereka membangun alur penyerangan. Bola tetap diarahkan lebih dulu ke lini tengah mereka, dalam hal ini Yooyen, sebelum kemudian didistribusikan ke depan atau lebar lapangan dengan umpan-umpan panjang.

    Penjaga gawang Thailand, Kawin Thammasatchanan, jarang sekali menendang bola jauh dari gawangnya. Wajar memang, karena jika ia melakukannya, titik terjauh yang bisa dicapai oleh bola adalah garis imajiner yang membatasi wilayah pertahanan Singapura dengan area netral. Sementara tujuan Thailand sendiri adalah mengirimkan bola ke area pertahanan Singapura secepat mungkin.

    Ketimbang menendang bola sekuat tenaga, sejauh mungkin dari gawangnya, Kawin mengumpan bola kepada Artit Daosawang atau Peerapat Notchaiya. Kedua fullback tersebut kemudian mendorong bola lebih dekat ke garis tengah sebelum mengirimkan umpan langsung ke area pertahanan Singapura ataupun memberikannya kepada gelandang tengah, Sarach Yooyen atau Prakit Deeporm.

    Kesimpulan

    Baik Singapura maupun Thailand sama-sama mengandalkan direct pass untuk menghadirkan ancaman secara cepat dan tepat. Perbedaan yang dimiliki oleh kedua tim adalah kemauan Singapura untuk lebih banyak memainkan bola-bola pendek, terutama saat masih berada di wilayahnya sendiri.

    Namun apalah arti semua itu jika pada akhirnya keteguhan hati Thailand untuk mempraktikkan cara yang sama secara terus menerus, yang terbukti mampu membuahkan tiga angka. Lambatnya transisi Singapura dari menyerang ke bertahan membuat mereka memiliki titik lemah yang dapat dieksploitasi dan memang itulah yang terus menerus dieksploitasi Thailand. Dan berhasil!


    ===

    * Ditulis dan dianalisis oleh @panditfootball . Profi lihat di sini



    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game