Liga Champions: City 1-2 Barcelona
Koordinasi Pertahanan Rapuh vs Penguasaan Lini Tengah
Barcelona berhasil meraih poin penuh dalam lawatannya ke Stadion Etihad, markas Manchester City, di babak 16 besar Liga Champions. Anak asuh Luis Enrique sempat unggul dua gol terlebih dahulu pada babak pertama melalui kaki Suarez. Sebelum akhirnya dibalas satu gol oleh Aguero selepas jeda. Barca sebenarnya mempunyai peluang untuk menambah keunggulan menjelang akhir pertandingan, namun tendangan penalti Messi berhasil ditepis Joe Hart.
Pellegrini menepati janjinya untuk bermain menyerang. Untuk itu ia memasang dua penyerang sekaligus, Aguero dan Dzeko, sebagai starter. Namun manajer asal Chile tersebut tidak dapat menurunkan pemain andalannya, Yaya Toure, karena masih terkena hukuman kartu. Hal ini sepertinya yang menyebabkan City akhirnya sering kalah perebutan bola di lini tengah dan sulit menyerang.
Keputusan tersebut akhirnya mendapat beberapa kritik. Kehilangan Toure, sang manajer justru tidak memperkuat lini tengahnya dan malah memasang Milner yang notabene berposisi asli sebagai pemain sayap. Padahal masih ada nama Frank Lampard di bangku cadangan.
Meski kalah, Pellegrini tetap melakukan pembelaan soal taktik tersebut. Menurutnya, Vincent Kompany dkk. sudah bermain baik terutama pada babak kedua.
Duel Di Lini Tengah
Alasan Barcelona mampu bermain dominan dalam laga kali ini adalah keberhasilannya menguasai lini tengah. Manchester City yang menggunakan formasi dasar 4-4-2 memang hanya menempatkan dua gelandang tengah saja. Taktik yang diterapkan Pellegrini ini sebenarnya mampu meredam lini tengah Barca, hanya saja pada prosesnya tak berjalan maksimal.
Ketika bertahan, The Citizens tetap memakai pola yang sama yakni 4-4-2. Ada dua lapisan pertahanan yang diterapkan yakni di tengah dan belakang. Sementara para penyerang hanya statis di depan untuk melakukan serangan balik. Dikombinasikan dengan garis pertahanan tinggi, duel di tengah menjadi seimbang.
Setiap area yang ada di dekat bola menjadi terisi oleh pemain City, termasuk sisi sayap. Akibatnya pemain Barcelona harus cepat melakukan umpan guna mengurangi resiko kehilangan bola. Tetapi anak asuh Luis Enrique tak kehilangan akal untuk mencari cara lain mengatasi hal ini.
Pertama mereka bermain lebih sabar dengan sesekali mengembalikan bola ke belakang. Memancing pemain City untuk bertahan lebih longgar sembari pemain lain mencari ruang. Lalu yang kedua adalah justru terus mendorong agar para gelandang dan bek tuan rumah semakin turun. Setelah lawan mundur ke belakang, mereka pun leluasa memainkan umpan-umpan pendek hingga mendekati area sepertiga akhir.
Kombinasi satu-dua dalam situasi itulah yang sesekali menghasilkan peluang yang mampu membahayakan gawang Joe Hart. Barcelona berhasil menemukan cara agar bisa memperlihatkan gaya main yang sudah mengurat-akar di nadi mereka: umpan-umpan pendek.
Grafis umpan sepertiga akhir Barcelona [statszone]
Terbongkarnya Sistem Pertahanan City
Melawan kesebelasan yang menggunakan kekuatan penguasaan bola matang seperti Barcelona ataupun Bayern harus diimbangi permainan yang disiplin. Satu hal yang sering dilakukan dan berhasil adalah membuat pertahanan rapat dan memanfaatkan momentum serangan balik.
Sayangnya hal ini tidak dimiliki oleh The Citizens, terutama pada babak pertama. Pertahanan dua lapis seringkali terbongkar karena zona yang ada ditinggalkan oleh pemain.
Contohnya adalah bek sekaligus kapten tim, Vincent Kompany. Ia seringkali ikut naik dan tak sejajar dengan bek lainnya karena terpancing berduel di lini tengah. Pemain asal Belgia ini juga bertanggung jawab terhadap dua gol yang bersarang, terutama pada proses gol kedua. Tak ada pergerakan yang dilakukannya ketika ada umpan silang yang datang, bahkan untuk hanya sekadar mengawasi penyerang lawan.
Akibatnya lini belakang menjadi kewalahan mengatasi trisula maut Neymar, Messi, dan Suarez. Tiga penyerang itu juga yang membuat para bek dipaksa terus bergerak dan meninggalkan ruang terbuka.
Terutama Messi punya peran penting dalam menyeimbangkan taktik tiki-taka Barcelona. Ia kerap turun untuk menambah opsi umpan di area sepertiga akhir sehingga penguasaan bola dapat terus terjaga.
Grafis area aksi Messi [Squawka]
Kegagalan penalti yang dilakukan Messi tak berarti apa-apa jika kita menghitung aksinya sepanjang 90 menit. Presentase keberhasilan umpannya mencapai 90% dalam laga kali ini. Bisa dibilang, Messi bermain baik, tapi hanya tak beruntung dengan sepakan penalti.
Perubahan Taktik Babak Kedua dan Insiden Kartu Merah
Manchester City kalah segalanya dari Barcelona pada babak pertama. Namun pada babak kedua keadaan berubah. Ada banyak perbaikan yang dilakukan Pellegrini di ruang ganti. Komposisi pemain yang kaya dan skuat yang dalam dimanfaatkan dengan sangat baik.
Aguero mulai aktif bergerak seiring dengan mobilitas para gelandang Manchester City. Milner dan Silva juga kerap bertukar posisi bergantian untuk mengisi sayap dan tengah lini tengah. Apalagi kinerja keduanya juga dibantu oleh Clichy yang aktif naik menyerang, membuat sisi kiri tuan rumah menjadi lebih hidup.
Pellegrini juga melakukan pergantian yang tepat kemudian dengan memasukan Fernandinho menggantikan Nasri. Sehingga kini ada dua pemain dengan kemampuan yang baik sebagai gelandang tengah dan cukup mempunyai kemampuan bertahan. Tapi sayangnya hal ini mengakibatkan kecepatan serangan balik menjadi menurun, padahal taktik ini adalah salah satu jalan yang cocok untuk menembus pertahanan Barca.
Menyadari anak asuhnya masih sulit menembus pertahanan lawan, Pellegrini memutuskan mengganti Dzeko dengan penyerang anyar, Wilfred Bony. Pemain asal Pantai Gading tersebut membuat permainan cepat Man City kembali terlihat.
Dampaknya langsung terasa dengan terciptanya gol Aguero pada menit 69. Menghadapi serangan cepat duet, Pique dan Mascherano terlihat kebingungan mengawal dua penyerang sekaligus, sehingga Silva dengan mudah mengirimkan assist menembus keduanya.
Sementara Barcelona tidak banyak melakukan perubahan pada babak kedua. Hanya saja Luis Enrique menurunkan intensitas serangannya dengan tidak lagi menempatkan Busquets jauh di depan. Gelandang bertahan timnas Spanyol ini justru banyak menunggu di area tengah lapangan, membuka kesempatan City untuk menyerang.
The Citizens sebenarnya punya kesempatan untuk paling tidak menyamakan kedudukan berkat perubahan taktik babak kedua tadi. Hanya saja kartu kuning kedua yang menimpa Clichy mengubah segalanya. Bermain hanya 10 orang dengan kondisi tertinggal adalah hal yang sulit.
Apalagi karena insiden tadi Pellegrini terpaksa menggunakan satu lagi jatah pergantian karena terpaksa. Sagna masuk menggantikan David Silva untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Clichy tadi. Padahal jika merujuk pada keadaan dan nama di bangku cadangan. City masih dapat memasukkan Frank Lampard untuk membuka kesempatan mencetak gol kedua. Tapi pilihan menjadi terbatas, memang, karena diusirnya Clichy.
Kesimpulan
Barcelona tampil dominan pada laga kali ini, mereka juga menggondol pulang kemenangan penting sebagai modal leg kedua. Absennya Yaya Toure mampu dimanfaatkan oleh Enrique dengan baik. Membongkar pertahanan City dengan cara memperkuat lini tengahnya. Salah satu taktik jitunya adalah melibatkan Messi bukan fokus pada mencetak gol tetapi terlibat langsung dalam duel lini tengah.
Sementara kerugian besar dialami Pellegrini setelah terusirnya Clichy. Padahal saat itu permainan mulai berjalan seimbang setelah gol Aguero. Terlihat para pemain City belum mampu mengatasi tekanan pertandingan dengan lawan sekelas Barcelona. Tugas berat harus dijalani City di leg kedua nanti, selain kalah agregat mereka juga harus mengejar gol tandang.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.








