Copa America: Argentina 1-0 Uruguay
Tim 'Tango' Menang Meski Bermain Biasa Saja
Argentina meraih kemenangan tipis di pertandingan kedua mereka di Copa America 2015 dengan skor 1-0. Gol tunggal tim "Tango" baru tercipta di menit 56 melalui sundulan Sergio Aguero.
Seperti kita ketahui, Uruguay selaku juara bertahan tidak dapat membawa ujung tombak andalan mereka, Luis Suarez, akibat hukuman yang diterimanya di Piala Dunia 2014. Absennya Suarez berdampak buruk bagi lini depan Uruguay. Dalam dua pertandingan yang telah dilakoni Uruguay, mereka baru mengemas satu gol. Itu pun melalui pemain sayap, Cristian Rodriguez.
Selain itu laga antara Argentina dan Uruguay juga diwarnai kartu merah kepada Gerardo Martino pada menit ke-33. Pelatih Argentina itu diusir wasit Sandro Ricci lantaran melakukan protes, sesaat setelah pemain Uruguay, Nicolas Lodeiro, dikartu kuning. Kendati tanpa sang pelatih selama sisa pertandingan, Argentina tetap bisa tampil dominan atas Uruguay.
Mengubah Formasi di Pertandingan Kedua
Di pertandingan kedua ini Uruguay menerapkan formasi berbeda. Oscar Tabarez tidak lagi menerapkan formasi 4-4-2 seperti di laga pertama saat mengalahkan Jamaika 1-0. Untuk meredam kekuatan serangan Argentina, Tabarez lebih memilih menggunakan formasi 4-2-3-1. Hal yang sama terjadi dengan Argentina. Mereka tidak menggunakan formasi 4-3-3 seperti di pertandingan pertama saat menghadapi Paraguay yang berakhir dengan skor 2-2.
Dalam formasi tersebut Tabarez meletakkan Egidio Rios dan Alvaro Gonzalez sebagai gelandang bertahan untuk meredam serangan Argentina yang mahir menusuk ke sisi tengah pertahanan lawan. Edinson Cavani pun dibiarkan berada di depan sendirian untuk memanfaatkan serangan balik melalui bola-bola panjang.
[Formasi Argentina dan Uruguay. Sumber: whoscored.com]
Secara keseluruhan sesungguhnya pilihan taktikal yang dilakukan Tabarez berjalan baik. Mereka mampu membuat Argentina kesulitan menembus permainan bertahan Uruguay, yang terlihat sangat rapat antara lini tengah dan belakang. Mereka juga tidak mudah untuk terpancing naik meninggalkan pertahanan.
Dengan begitu opsi Argentina untuk menembus pertahanan Uruguay hanya tersisa melalui sisi lapangan. Namun itu juga terkadang menemui jalan buntu. Sisi kanan dan yang dominan diisi oleh Lionel Messi dan Pablo Zabaleta hanya sibuk bermain-main di area tersebut tanpa memberi ancaman.
Rios dan Alvaro Pereira, yang menempati sisi kiri Uruguay, mampu bermain apik hingga menyulitkan Messi dan Zabaleta. Kedua pemain tersebut setidaknya mampu merebut penguasaan bola Argentina sebanyak 10 kali di sisi mereka. Bahkan Alvaro Pereira tampil begitu agresif dengan berhasil memotong laju bola (intersep) sebanyak empat kali di wilayahnya.
Argentina justru terlihat lebih baik di sisi kiri yang ditempati duet pemain Manchester United, Marcos Rojo dan Angel Di Maria. Kedua pemain dengan pas bisa saling mengisi kekosongan di daerah pertahanan Uruguay. Hanya saja, mereka juga tidak terlalu berhasil memberi ancaman nyata bagi pertahanan Uruguay. Di Maria dan Rojo lebih banyak mengutak utik bola ketika berada di sisi kanan pertahanan Uruguay.
Tidak Ada Pemain Argentina yang Mencoba Membuka Ruang
Ada hal yang sangat disayangkan dalam kejelian para pemain tipikal menyerang di kubu Argentina, yaitu dalam hal membuka ruang. Di tengah kebuntuan dalam membongkar pertahanan rapat Uruguay, tidak satu pun anak asuh Martino yang mencoba membuka ruang. Setiap pemain cenderung pasif saat ada rekannya sedang menguasai bola.
Javier Pastore dan Messi yang saling bergantian menjadi pengatur serangan, tidak mendapat dukungan dari rekan-rekannya. Sangat sering saat Pastore atau Messi menguasai bola, para pemain Argentina yang lain tidak maksimal membuka ruang dengan pergerakan-pergerakan tanpa bola. Setiap pemain cenderung statis dengan posisinya. Dan hanya dari sisi full-back sajalah yang cenderung aktif bergerak di kedua sisi untuk sedikit memberi tekanan dan membuka ruang.
Hal itu juga yang menyulitkan Messi untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam hal menggiring bola. Dari 12 kali upayanya menggiring bola, hanya satu kali yang mampu masuk hingga ke dalam kotak penalti. Sisanya lebih dominan putus di area 2/3 pertahanan Uruguay. Itu semua terjadi karena Uruguay bisa fokus menghadapi Messi, karena pemain Argentina lain gagak membetot perhatian/konsentrasi pertahanan Uruguay dengan aktif bergerak untuk memberi jalan/ruang bagi Messi.
Begitupun jika merujuk ke data secara keseluruhan. Hanya ada 4 upaya melewati lawan dengan menggiring bola sebanyak 4 kali yang tercipta di dalam kotak penalti dari 31 upaya percobaan membongkar pertahanan Uruguay melalui aksi Individu. Seluruh upaya menggiring bola cenderung mengalami jalan buntu dengan tidak minimnya dukungan pemain lain yang ikut bergerak tanpa bola.
Proses Gol Argentina
Kesalahan yang menimpa Uruguay pun akhirnya datang juga. Gol yang tercipta untuk Argentina bisa dikatakan berawal dari kesalahan para pemain untuk tetap menjaga wilayahnya dengan hati-hati dan tidak gegabah untuk langsung melakukan perebutan bola.
Sebelum gol Aguero terjadi, nyaris tidak ada pemain Uruguay yang mencoba merebut bola dengan sekali tindakan. Sebelumnya mereka setidaknya mendekatkan diri terlebih dahulu kepada pemain lawan sebelum melakukan perebutan bola.
Pada gambar pertama kita bisa melihat betapa bebasnya Pastore yang berdiri lebih dekat dengan Messi. Alvaro Pereira yang sedikit mendapat perintah dari Rodriguez pun coba mendekati Pastore. Namun Pereira yang datang sedikit terlambat menjaga Pastore, harus mengalami kesulitan ketika Pastore melakukan gerakan berbalik arah ketika menerima umpan Messi.
Di situ pun kekacauan pertahanan Uruguay terjadi. Rodriguez dengan gegabah berusaha merebut bola dengan upaya tekel. Dengan gerakan cepat Pastore berhasil menyodok bola ke arah Zabaleta yang berdiri bebas tanpa pengawalan.
Aguero yang sebelumnya diapit dua pemain di dalam kotak penalti pun hanya tinggal menyisakan berduel dengan satu pemain belakang Uruguay. Godin yang sebelumnya ikut menekan Aguero pun harus lekas berlari menutup celah Zabaleta. Tapi upaya Godin terlambat, dengan cerdas Zabaleta mengirim umpan silang ke tiang dekat setelah terlebih dahulu melihat gerakan Aguero yang telah berlari ke arah tiang dekat. Ya, dengan cepat pun Aguero menyambar umpan dari Zabaleta dengan kepala dan membawa Argentina unggu 1-0.

Setelah tertinggal 1-0, Uruguay baru mulai memberanikan diri untuk berbalik menekan Argentina. Usaha mereka dalam membuat serangan balik yang cepat pun nyatanya tetap sama baiknya dengan bertahan. Seperti halnya yang dilakukan Uruguay di 10 menit awal pertandingan.
Namun secara keseluruhan upaya Uruguay untuk mencetak gol gagal karena penyelesaian akhir yang juga buruk. Mereka secara data memilik total tembakan yang lebih banyak ketimbang Argentina dengan 14 berbanding 12. Akan tetapi, dari 14 percobaan mencetak gol hanya 3 yang mengarah tepat ke gawang.
Kesimpulan
Secara keseluruhan Uruguay mampu bermain baik dalam hal bertahan. Mereka sabar untuk membiarkan para pemain Argentina menguasai bola di area 2/3 wilayah mereka.
Kekuarangan justru terjadi dalam hal daya gedor di lini depan. Di pertandingan ini Cavani sangat minim mendapatkan suplai bola. Ia seperti tidak dapat bekerja sendirian di barisan depan. Aksi individunya bahkan sangat mudah dipatahkan oleh pemain bertahan Argentina.
Kehilangan Suarez akhirnya pun terlihat sangat membebani kinerja lini depan. Selama dua pertandingan yang telah berjalan bagi Uruguay, mereka kehilangan sosok pemain yang mampu membongkar pertahanan lawan dengan aksi individu dan kecepatannya.
Sedangkan di kubu Argentina. Messi lagi-lagi mempertontonkan dirinya sebagai pemain yang kurang menggigit saat membela timnas. Hal ini seharusnya dapat ditangani andai setiap arah bola tidak serta merta diarahkan melulu kepada Messi. Namun andaikan memang serangan harus dimulai melalui Messi, setidaknya ada pemain yang mencoba berada di dekat Messi. Tentu dengan memberikan pergerakan aktif tanpa bola guna memancing pertahanan lawan untuk terbuka.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







