Copa America: Chile 1-0 Uruguay
Kartu Merah Cavani yang Mengubah Permainan La Celeste
Chile mampu menghapus mitos bahwa tuan rumah Copa America selalu kesulitan melaju hingga ke babak semifinal. Sebab, dalam lima edisi terakhir, hanya Kolombia yang jadi pengecualian ketika mereka bahkan jadi juara di tahun 2001.
Chile berhasil menembus babak empat besar setelah mengalahkan juara bertahan Uruguay dengan skor tipis 1-0 di Estadio Nacional, Santiago, Kamis (25/6) pagi WIB. Gol kemenangan tuan rumah dicetak Mauricio Isla di menit 81.
Langkah Chile dipermudah dengan kartu merah yang diterima penyerang Uruguay, Edinson Cavani, di menit 63. Sebaliknya, Uruguay kian kesulitan karena di menit 87 bek kiri mereka, Jorge Fucile, juga diusir dari lapangan.
Uruguay menggunakan formasi 4-4-2 dengan tetap mengandalkan Cavani dan Diego Rolan sebagai duet penyerang. Sementara Chile tampil tetap dengan formasi 4-3-1-2. Susunan pemain tidak berubah terlalu banyak, kecuali Eugenio Mena yang kali ini mendapat kepercayaan dari pelatih Chile, Jorge Sampaoli, setelah pada babak penyisihan posisinya tersebut mengalami dua kali pergantian.
Serangan Balik Uruguay Cuma Efektif 60 Menit
Sebelum Cavani diusir wasit, Uruguay bermain sangat solid di lini pertahanan. Lini serang Chile dibuat frustasi oleh pertahanan anak asuh Oscar Tabarez. Empat bek La Celeste (Biru Langit) ditumpuk di dalam kotak penalti. Padahal Uruguay tidak bisa memainkan bek kiri andalannya, Alvaro Pereira. Untungnya Fucile bermain cukup baik walau harus mati-matian.
Tabarez juga merancang kedua sayapnya untuk rajin melindungi pertahanan. Carlos Sanchez di kiri dan Cristian Rodriguez di kanan, bermain sedikit agak mundur guna meredam serangan sayap Chile. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi agresivitas serangan sayap Chile.
Selain meredam kedua sayap dengan meminta Sanchez dan Rodriguez rajin bertahan, Tabarez pun menginstruksikan dua gelandang tengah mereka, Egidio Arevalo Rios dan Alvaro Gonzales, untuk fokus melindungi area luar kotak penalti. Keduanya sering berbarengan berdiri di depan kotak penalti untuk menetralisir serangan Chile dari lini kedua. Bahkan Cavani dan Rolan sebagai penyerang pun beberapa kali berada di wilayahnya kesebelasannya untuk membantu pertahanan.
Dengan cara bermain seperti itu Uruguay memang bermain pasif dan defensif. Mereka membiarkan Chile mengendalikan permainan. Kendati mengendalikan permainan, Chile sangat kesulitan membongkar pertahanan Uruguay. Penumpukan pemain Uruguay di pertahanan jadi kendala terbesar Chile untuk mencetak gol.
Situasi itu pula yang membuat Chile kadang tidak sabar. Alih-alih memancing pemain Uruguay untuk keluar dengan mengatur tempo, Chile malah terus meningkatkan agresivitas. Mereka berani menjalankan pressing tinggi kepada Uruguay, sampai-sampai berani mencoba merebut bola sedini mungkin di pertahanan Uruguay sendiri. Untuk menambah daya dobrak, sangat sering beberapa pemain bertahan Chile juga ikut naik jauh ke wilayah Uruguay.
Dari situasi itulah Uruguay mencoba membangun serangan. Mereka memanfaatkan lubang-lubang di pertahanan Chile untuk memaksimalkan serangan balik. Ada empat kesempatan yang mereka dapatkan, dua di antaranya menjadi shot on target, walau tidak menghasilkan gol. Serangan balik itu sering berhasil masuk sampai sepertiga akhir pertahanan Chile karena adanya kekosongan sepeninggal bek kanan Isla dan bek tengah Gary Medel yang terlampau maju membantu serangan.
Chile mencoba menetralisir serangan balik Uruguay melalui peran yang diemban oleh Marcelo Diaz. Gelandang bertahan ini diinstruksikan berada di tengah lapangan dan tidak gampang terpancing naik ke pertahanan lawan. Posisi Diaz yang ajeg di tengah itulah yang beberapa kali berhasil menetralisir serangan balik Uruguay.
Cara Chile Kelabui Pertahanan Uruguay
Cara bertahan Uruguay berhasil membuat serangan Chile amat sering gagal melahirkan peluang. Dari 15 kali percobaan tembakan Chile ke gawang lawan, cuma tujuh yang berhasil on target. Bahkan sebelum Uruguay bermain dengan 10 pemain, cuma tiga kali tendangan tepat sasaran dari 11 kali percobaan.
Pertahanan Uruguay begitu rapat sehingga membuat striker Eduardo Vargas sangat sulit mendapatkan bola. Rekan-rekannya di lini tengah memang bisa menguasai permainan dan kadang jaraknya pun berdekatan. Tapi Vargas sulit sekali bergerak untuk mendapatkan ruang kosong. Si kulit bundar lebih sering dibawa berputar-putar di kedua sisi lapangan atau area luar kotak penalti, atau melepaskan tendangan jarak jauh yang tidak berdampak apa-apa.
Sesekali keberanian memainkan pressing yang tinggi jauh di pertahanan Uruguay membuahkan ruang-ruang kosong. Ketika seorang pemain Uruguay kehilangan bola, dengan sendirinya ada celah yang terbuka. Namun celah itu sering juga gagal dieksploitasi karena pemain Chile sering terlambat sehingga kehilangan momentum.
Pertahanan Uruguay menjadi lebih terbuka setelah Cavani diusir wasit pada menit 63. Entah kenapa barisan pertahanan Uruguay gampang terpancing mengikuti pergerakan pemain Chile. Dan anak asuh Jorge Sampaoli merespons situasi itu dengan mulai berlama-lama membawa bola. Para pemain Uruguay menjadi lebih rajin mengikuti bola di kaki Chile sehigga lupa akan kekosongan-kekosongan area sendiri.
Gol Isla pada menit ke-81 pun berawal dari terpancingnya dua pemain tengah Uruguay, Gonzales dan Rios, untuk masuk lebih dalam ke kotak penalti. Dampaknya, tidak ada pemain yang berjaga di depan pertahanan untuk melindungi serangan dari lini kedua. Gelandang serang Jorge Valvidia bisa bebas menguasai bola di depan kotak penalti. Kemudian pemain bernomor punggung 10 tersebut menyodorkan bola kepada Isla yang tidak berlama-lama langsung mengeksekusinya. Bola sepakan Isla menembus jala Musrela yang tampak seperti tertutup pandangannya karena terlalu padatnya pemain di depan gawangnya sendiri.
Penampilan Gemilang Selain Sanchez
Alexis Sanchez dinobatkan sebagai pemain terbaik pada laga ini karena bisa dibilang akselerasinya ketika membawa bola sangat baik dan cepat, dan berkali-kali memancing pemain lawan untuk mengikutinya. Tapi bukan Sanchez seorang yang bermain baik. Peran Valdivia, pembuat asisst, juga tak bisa diremehkan.
Pemain 31 tahun tersebut berperan besar dalam upaya Chile mengobrak-abrik pertahanan Uruguay. Memang ia tidak menyentuh bola sebanyak Isla (94), Vidal (92) dan Sanchez (80), tapi 71 kali sentuhannya sangat sering menghasilkan serangan efektif.
[Heatmap Valdivia. Sumber : Whoscored]
Sentuhan-sentuhannya terhadap bola dilakukan tidak sembarangan. Sebab, keberadaannya di lapangan sangat jelas karena ia nyaris selalu ada di semua posisi ketika sedang menyerang. Pergerakannya yang sangat mobile dan menjelajahi berbagai sudut inilah yang memudahkan rekan-rekannya untuk melakukan umpan satu dua atau mengalihkan bola ke arah lain.
Ketika mendapatkan bola ia pun tidak lama-lama mengolahnya seperti Sanchez. Ia bermain simpel, bermain hanya beberapa sentuhan, kemudian disodorkan kepada rekan-rekannya di lini depan. Dari 61 operan yang dibuatnya, yang akurasinya mencapai 83 persen, setidaknya ia berhasil melahirkan lima oepran kunci – yang terbanyak di laga ini. Ia juga yang membuat assist untuk Isla.
Chile Hindari Duel Udara
Selain mengandalkan serangan balik, Uruguay juga mencoba mengincar peluang melalui duel udara melalui serangan balik. Bahkan ketika serangan balik pun pada akhirnya bola lebih sering dilepaskan melalui umpan lambung untuk dieksekusi Cavani sebagai penyerang dengan kemampuannya dalam duel udara yang baik.
Akan tetapi pertahanan Chile mampu mengatasi hal tersebut dengan cara menutup ruang gerak pengumpan agar tidak mendapatkan kesempatan melepaskan operan lambung. Alih-alih mengawal Cavani secara khusus, Chile lebih suka menekan si pengumpan agar sesedikit mungkin umpan yang bisa sampai ke Cavani.
Situasi bola mati untuk Uruguay pun menjadi kondisi yang paling diwaspadai Chile selama pertandingan. Ketika lawan mendapatkan tendangan bebas atau sudut, maka sedikitnya ada beberapa bek La Roja yang mengawal pemain-pemain Uruguay yang punya kemampuan bola udara bagus. Diego Godin yang sering mencetak gol lewat sundulan melalui proses bola mati tidak pernah lepas dari kawalan dua bek Chile tiap kali timnya mendapatkan bola mati.
Itulah sebabnya anak asuh Sampaoli juga menghindari melakukan pelanggaran di wilayahnya sendiri. Maka dari itu pressing tinggi dilakukan sejak pertahanan Uruguay agar lawan kesulitan membangun serangan balik dan menghindari situasi bola mati di sepertiga akhir pertahanan sendiri.

[Grafis pelanggaran Chile (merah) lebih sering terjadi di wilayah lawan. Sumber : Whoscored]
Kesimpulan
Kendati Uruguay hanya bisa mencoba memanfaatkan serangan balik, namun pertandingan berjalan cukup sengit karena Chile pun sangat sulit membongkar pertahanan Uruguay. Situasi di babak pertama malah lebih sulit bagi Chile karena lawan berkali-kali bisa memanfaatkan celah di pertahanan Chile.
Tapi perubahan terjadi ketika Uruguay terpaksa bermain dengan 10 orang akibat diusirnya Cavani sehingga Uruguay bermain lebih bertahan lagi. Kehilangan penyerang berpostur tinggi itu juga membuat Uruguay jarang melancarkan serangan balik. Keluarnya Cavani membuat opsi direct-ball ke depan menjadi praktis hilang. Uruguay kebingungan sendiri saat berhasil merebut bola karena tidak ada pemain yang bisa diandalkan untuk menerima bola jauh di depan. Akibatnya, Godin dkk. lebih mudah terpancing mengikuti alur permainan Chile.
Kekalahan tipis ini membuat Uruguay gagal mempertahankan predikat juara bertahan Copa America. Sementara itu Chile berhak melaju ke partai semifinal menunggu lawan antara Bolivia atau Peru yang akan bertanding besok, Jumat (26/6)..
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







