Copa America: Argentina 0-0 Kolombia
Argentina Mendominasi, Kolombia Bermain Tanpa Pola
Dalam laga yang dihelat di Estadio Sausalito, Vina del Mar, Chile, Argentina tampil mendominasi. Berdasarkan Whoscored, Lionel Messi dlkk. unggul penguasaan bola hingga 31%. Dalam agresivitas serangan pun Argentina unggul telak. 16 berbanding dua.
Terdapat perubahan mencolok dari gaya bermain Kolombia dibandingkan dengan gelaran Piala Dunia 2014 silam. Tidak ada lagi umpan-umpan panjang yang dipadukan dengan kecepatan. Kolombia lebih mengandalkan permainan fisik untuk membuat frustasi lawan.
Sial bagi Kolombia karena Argentina pun sudah berubah. Lewat pola 4-2-3-1 yang bisa berubah menjadi 4-3-3, permainan Argentina jauh lebih solid dan lebih cair. Duet poros ganda Javier Mascherano dan Lucas Biglia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Keduanya mampu menjadi penahan pertama serangan lawan dan memberikan suplai bola ke lini serang.
Di sisi lain, Kolombia bermain seperti tanpa pola. Berdasarkan Whoscored, Pelatih Kolombia, Jose Pekerman menerapkan formasi 4-2-2-2 yang lebih dinamis dengan dua gelandang mengisi pos sayap saat bertahan. Saat permainan bergulir, tidak begitu jelas posisi berdiri para pemain Kolombia. Ini yang menjadi alasan mudahnya Kolombia kehilangan bola saat menyerang.
Meski Argentina mendominasi, Pekerman tidak menginstruksikan anak asuhnya untuk menekan lebih kuat agar Argentina melakukan kesalahan. Dengan dibiarkan berlama-lama membawa bola, Argentina bisa menyusun rencana serangan yang lebih matang, diawali pergerakan Mascherano dan Biglia.
Penuhnya Lini Tengah

Formasi Argentina vs Kolombia (Sumber: Whoscored.com)
Lewat 4-2-2-2, Pekerman memaksimalkan pergerakan empat gelandang, Victor Ibarbo, Juan Cuadrado, James Rodriguez, dan Alexander Meija, untuk menghalau serangan dari lini tengah. Jika Argentina mengalihkan serangannya ke salah satu sisi, satu dari empat gelandang yang paling dekat bergerak untuk menutup pergerakan lawan sebelum berhadapan langsung dengan fullback Kolombia.
Pergerakan ini bisa dibilang berhasil karena setelah melakukan serangan dari sisi, Argentina kesulitan untuk memberi umpan maupun bergerak ke area tengah yang sudah dipenuhi oleh para pemain Kolombia. Namun, hingga menit ke-23, atau sebelum ditariknya Teofilo Gutierrez, sisi kiri Kolombia kerap kecolongan. Sisi yang dihuni Rodriguez dan Ibarbo tersebut kesulitan untuk menahan pergerakan impresif Lionel Messi.
Untuk menambal lubang tersebut, Pekerman mengganti Gutierrez yang memang bermain tidak efektif, dengan memasukkan Edwin Cardona. Pergantian ini pun menggeser posisi Rodriguez sebagai penyerang mendampingi Jackson Martinez.
Masuknya Cardona memegang peranan penting untuk mengganjal pergerakan Messi yang didukung Pablo Zabaleta. Hingga menit ke-30, Argentina melepaskan 8 tendangan dan tiga umpan silang dari sisi kiri pertahanan Kolombia. Dari menit ke-30 hingga menit ke-60, Argentina hanya melepaskan tiga tendangan dan dua umpan silang dari sisi kiri Kolombia.
Mengubah Pergerakan Messi
Pelatih Argentina, Gerardo Martino, mengubah pergerakan Messi yang pada awalnya selalu menyisir sisi kanan serangan Argentina, untuk lebih menusuk ke tengah. Sebagai gantinya, Aguero yang ditugaskan untuk menyisir area yang ditinggalkan Messi. Ini terlihat dari heatmap Messi yang lebih dominan berada di depan area penalti Kolombia ketimbang berada di sisi kanan.

Kiri: Heat Map Lionel Messi; Kanan: Heat Map Santiago Arias (Sumber: Whoscored)
Seperti halnya yang dilakukan Luis Enrique di Barcelona, perpindahan posisi Messi membuat fullback kiri Kolombia, Santiago Arias, kerap kehilangan posisi apakah harus menempel ketat Messi dan ikut ditarik ke tengah, atau tetap menjaga posnya.
Pergerakan Messi pun membuat bek Kolombia, Jeison Murillo, lebih sering terdorong ke depan untuk menghalau lebih dini pergerakan di sisi kiri Kolombia; berbeda dengan rekan duetnya di lini belakang, Cristian Zapata, yang lebih sering beroperasi di sekitar garis kotak penalti.
Dampak dari perubahan pergerakan Messi pun terasa di sisi kanan pertahanan Kolombia. Fullback kanan Kolombia, Juan Zuniga, sering lebih dekat dengan Zapata di dalam kotak penalti, yang membuat terbukanya celah di sisi kanan Kolombia untuk dieksploitasi Angel Di Maria. Ini pula yang menjadi alasan mengapa Argentina lebih banyak mengirim umpan silang dari sisi kanan pertahanan Kolombia dengan 13 umpan silang, berbanding enam umpan silang.
Buruknya Koordinasi Lini Pertahanan Kolombia

Pada gambar di atas terlihat bagaimana rapuhnya pertahanan Kolombia. Sudah tidak terlihat empat bek sejajar di lini pertahanan Kolombia (gambar 3). Saat Pastore menggiring bola dari sisi, bek Kolombia tidak memerhatikan pergerakan Aguero (gambar 3 dan 4) yang memiliki ruang untuk menembak bola. Pertahanan Kolombia pun lengah karena membiarkan Messi (gambar 4) tidak terkawal.
Selain Messi, Di Maria pun memiliki ruang yang begitu terbuka untuk menuntaskan peluang. Namun. Pastore lebih memilih mengirimkan umpan pendek kepada Aguero dan mampu dihalau Ospina. Dari gambar di atas terlihat bagaimana acak-acakannya koordinasi pertahanan Kolombia. Tidak jelas penerapan formasi 4-2-2-2 yang diterapkan Pekerman.

Pada gambar di atas terlihat para pemain belakang Kolombia hanya menumpuk diri di area kotak penalti. Empat gelandang Kolombia yang semestinya menjadi tembok, nyatanya tidak terlihat dalam gambar di atas. Messi bebas bergerak di lini tengah dan dua pemain Argentina hanya dikawal oleh seroang pemain. Ever Banega pun berdiri tanpa terkawal di depan kotak penalti, serta Di Maria yang berada di ujung kanan kotak penalti Kolombia.
Permainan Kolombia Tidak Berkembang
Di Piala Dunia 2014, Pekerman memanfaatkan kedua sayap dalam membangun serangan. Dengan Martinez di lini serang, yang ditopang Rodriguez sebagai gelandang serang, serangan Kolombia begitu berbahaya karena mengandalkan efektifitas dan kecepatan.
Terjadi penurunan kualitas permainan yang ditunjukan Rodriguez dan kolega saat menghadapi Argentina. Pekerman terkesan menumpuk pemain dan bertahan sebaik mungkin agar pertandingan berakhir dengan adu penalti.
Tuduhan ini bukan tanpa dasar karena sepanjang pertandingan Kolombia hanya melepaskan dua tendangan, lima umpan silang, dan sekali tendangan sudut. Jumlah ini berbanding jauh dengan jumlah tekel Kolombia dengan 51 tekel, berbanding 21 tekel yang dilakukan Argentina.
Karena pertandingan hanya berlangsung selama 90 menit dan tidak ada babak perpanjangan waktu, Pekerman sepertinya bertaruh untuk menjaga hasil seri, karena presentase kemenangan jauh lebih besar dalam adu penalti.
Kesimpulan
Usai pertandingan, Pekerman menyatakan bahwa secara taktikal strategi mereka berhasil. "Tujuan kami adalah untuk menyerang lewat sayap dan melonggarkan permainan mereka," tutur Pekerman, "Kecuali kami terus-terusan kehilangan bola."
Jika melihat apa yang terjadi di atas lapangan, terlihat dengan jelas bagaimana Kolombia memang terlalu sering membiarkan Argentina berlama-lama dengan bola. Mereka tidak melakukan pressing yang memaksa Argentina melakukan kesalahan.
Saat menyerang, Kolombia terlalu mudah kehilangan bola. Berdasarkan Whoscored, Kolombia kehilangan bola sebanyak 25 kali.
Jarang terlihat umpan-umpan dari tengah yang dikirimkan ke kedua sisi. Dua fullback Kolombia pun terhitung jarang membantu serangan. Serangan Kolombia sporadis dan tidak terencana lewat permainan yang matang.
Di sisi lain Argentina bukannya bermain buruk. Lini tengah mereka solid baik dalam menahan serangan lawan, maupun memberikan suplai bola ke lini serang. Martino tidak menjadikan Messi sebagai sebuah ketergantungan, melainkan menjadikannya bagian dari taktik untuk memecah konsentrasi bek lawan.
Messi pun bermain baik meski belum diberikan keberuntungan mencetak gol. Sepanjang pertandingan, Messi melepaskan lima tembakan dan dua umpan kunci. Ia pun melakukan 22 dribel yang mampu mengecoh lini pertahanan Kolombia.
Kegagalan Argentina mencetak gol lebih karena agresifnya pertahanan Kolombia dengan 21 kali intercept, 18 clearences, dan 17 kali block. Ditambah lagi gemilangnya penampilan kiper Kolombia, David Ospina. Salah satu momen penting adalah penyelamatan jelang menit ke-30 saat ia melakukan penyelamatan dua kali secara beruntun. Ospina pun berulang kali keluar dari sarangnya untuk menghalau umpan silang. Buruknya koordinasi lini pertahanan Kolombia semestinya bisa menghadirkan petaka andai Ospina tak bermain gemilang.
Pertandingan semifinal menghadapi Brasil atau Paraguay akan menarik, terutama melihat pilihan Martino untuk menurunkan pemain di lini serang.
Di Maria di sisi kiri memiliki umpan akurat sedangkan Aguero memiliki kecepatan sebagai seorang ujung tombak. Namun, peran keduanya digantikan dengan baik oleh Ezequiel Lavezzi dan Carlos Tevez. Penampilan Ever Banega yang menggantikan Javier Pastore pun begitu impresif.
Jika Argentina bisa mempertahankan permainan yang mendominasi seperti menghadapi Kolombia, bukan tidak mungkin mereka akan melampiaskan kegagalan di Piala Dunia 2014, dengan merebut gelar juara Copa America.
===
Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(mrp/mrp)








