Match Analysis
Liga Inggris: Manchester United 1-0 Tottenham Hotspur
Hanya Bola Panjang yang Bisa Menembus Lini Tengah Man United
Manchester - Manchester United setidaknya bisa memimpin klasemen sementara Liga Primer Inggris selama dua jam. Early kick-off melawan Tottenham Hotspur di Old Trafford membuat keduanya memiliki kesempatan mencicipi poin perdana.
Faktanya United memang bisa memimpin 1-0 dari menit ke-25, tapi mereka melakukannya tanpa satupun tendangan ke arah gawang. Bisa dibilang Setan Merah sedang beruntung.
Seperti yang sudah kami prediksikan pada pratinjau, Spurs sering kehilangan bola dan United selalu berusaha lebih menguasai penguasaan bola. Hanya saja United selalu gagal mentransformasikan penguasaan bola tersebut menjadi peluang mencetak gol.

Susunan pemain Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Sorotan utama sejak awal pertandingan adalah pada pertahanan kedua kesebelasan. Dari United, penjaga gawang anyar asal Argentina, Sergio Romero, dimainkan menggantikan David de Gea yang kata Louis van Gaal sedang tidak fokus. Begitupun dengan bek tengah yang diisi oleh Daley Blind.
United juga menurunkan tiga debutan lainnya, yaitu Matteo Darmian sebagai bek kanan, Morgan Schneiderlin sebagai gelandang, dan Memphis Depay, yang jadi pemilik baru seragam nomor 7.
Dari kubu Mauricio Pochettino, Hugo Lloris yang diragukan tampil digantikan oleh Michel Vorm. Sementara Toby Alderweireld juga menjadi starter mendampingi rekan senegaranya asal Belgia, Jan Vertonghen.
Berikut kami akan mencoba menganalisa pertandingan pembuka Liga Primer semalam dengan singkat dan padat.
Tottenham kesulitan menembus lini tengah United
Sama-sama menurunkan formasi 4-2-3-1, lini tengah seharusnya menjadi pertarungan yang seimbang. Tapi pada prakteknya di atas lapangan, Tottenham selalu kehilangan bola ketika mereka mencoba mengalirkan bola dengan operan datar.
Lini tengah Spurs yang dimotori oleh Eric Dier dan Nabil Bentaleb dinilai tidak mampu mengontrol permainan Spurs. Tercatat Dier melakukan salah oper sebanyak 9 kali, sementara Bentaleb 8 kali.
Selain Dier dan Bentaleb, beberapa kali operan datar para pemain The Lillywhites yang lain juga di-intersep oleh para pemain United. Peluang dan gol United pun tercipta karena berawal dari kesalahan ini.

Grafik intersep Manchester United melawan Tottenham Hotspur – sumber: Squawka
Sebanyak 18 kali Setan Merah mampu melakukan intersep, 11 di antaranya terjadi pada babak pertama, dan hampir semuanya selalu terjadi di lini tengah.
Garis pertahanan Spurs yang terlalu tinggi
Ini yang menjadi pekerjaan rumah utama Pochettino dari pertama kali ia menukangi Spurs. Dari mulai Vertonghen, Dier, Federico Fazio, Younes Kaboul, sampai Vlad Chiricheș, garis pertahanan Spurs dinilai terlalu tinggi.
Naiknya garis pertahanan ini otomatis membuat mereka sering terlambat ketika Spurs kehilangan bola di tengah. Ketika mereka terlambat ini lah United malah sudah siap melakukan counter attack.

Rata-rata posisi pemain Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Hal ini juga disebabkan oleh Spurs yang selalu menekan (pressing) sampai ke pertahanan United. Mereka sadar distribusi Sergio Romero (back pass ke kiper) seringkali gugup, sehingga beberapa kali lini belakang United panik ketika menerima bola di belakang.
United Terlalu Mengandalkan Carrick dan Schneiderlin
Dari dua pembahasan sementara di atas, tampaknya bukan hanya lini tengah Spurs saja yang kurang apik, sehingga membuat mereka selalu mengalami kebuntuan di tengah lapangan.
Adalah kehadiran Michael Carrick dan Schneiderlin, dua gelandang bertahan United, yang lebih sit back melindungi keempat bek di belakangnya yang kemudian bisa membuat Spurs kesulitan menembus lini tengah United dengan operan datar.
Grafik 18 intersep pada halaman awal analisis ini mungkin merupakan hal yang menggembirakan, tapi malah secara tidak langsung merefleksikan bahwa Van Gaal belum sepenuhnya percaya kepada bek United, terutama bek tengahnya.
Idealnya, Carrick seharusnya lebih berperan statis (sit back) di belakang, sementara Schneiderlin bisa agak lebih leluasa sebagai box to box. Namun, semalam keduanya malah lebih statis.

Grafik heat map Michael Carrick dan Morgan Schneiderlin – sumber: Squawka
Perlindungan ekstra terhadap empat bek di belakangnya ini lah yang membuat bek United merasa lebih aman.
Hal ini juga yang membuat gap yang terlalu besar antara lini tengah dengan lini depan United. Akibatnya, beberapa kali Depay yang berposisi di belakang striker, harus sering turun menjemput bola dan melakukan track-back, sehingga kreativitasnya pun di depan menjadi sangat terbatas.
Bola panjang menjadi cara Spurs menembus pertahanan United
Dengan sulitnya Spurs menembus lini tengah United menggunakan umpan pendek yang selalu mentah di kaki Carrick dan Schneiderlin, akhirnya mereka mengandalkan bola-bola panjang (bola lambung).
Cara ini terbukti efektif, seperti yang terlihat pada gambar di bawah, sebanyak 6 peluang Spurs tercipta melalui bola panjang. Blind dan Chris Smalling, dua bek tengah United, kurang bisa diandalkan dalam berkoordinasi menghadapi bola udara.

Grafik peluang Tottenham Hotspur (kiri) dan Manchester United (kanan) – sumber: Squawka
Berseberangan dengan Spurs, United praktis hanya mendapatkan peluang melalui kesalahan Spurs di atas. Hanya empat peluang yang berhasil mereka ciptakan. Tak heran juga, karena penguasaan bola mereka semalam ternyata kalah dari Spurs (47% berbanding 53%).
Sisi kiri United yang lebih sibuk
Semalam sisi kiri United adalah sisi yang paling sibuk. Arah serangan Spurs lebih banyak lewat kanan, yaitu menghadapi Luke Shaw dan Blind, daripada lewat kiri (menghadapi Darmian dan Smalling).
Begitupun United yang lebih banyak menyerang lewat kiri melalui Shaw dan Ashley Young, di antaranya karena Kyle Walker yang hampir selalu terlambat turun akibat terlalu sering naik (overlap).

Grafik arah serangan Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Satu hal yang disayangkan, serangan United melalui kiri sering tidak maksimal karena Young yang sering terpaku dan berlama-lama menguasai bola, padahal Walker beberapa kali selalu tertinggal.
Begitu juga Shaw yang sering terlambat ikut naik membantu Young. Dari sepanjang 90 menit, sekiranya ada rentang waktu 3-4 detik bagi Shaw untuk muncul di kamera televisi ketika bola sedang dikuasai oleh Young di sisi kiri sepertiga lapangan Spurs.
Berseberangan dengan Shaw, bek kanan United, Darmian, tampil apik dengan rajin naik dan turun. Ia bermain sangat disiplin.
Kesimpulan
Seperti musim lalu, United bisa menguasai pertandingan (dengan possession) tetapi tidak bisa memenangkan pertandingan (dengan sedikitnya shot on goal). Mereka hanya sekali melakukan tembakan ke gawang yang tepat sasaran, yaitu tendangan dari Young. Gol United pun tercipta akibat dari gol bunuh diri Walker.
Sejujurnya, pertandingan semalam bukanlah tipikal pertandingan pembuka Liga Primer yang wajar kita tunggu-tunggu. Kemenangan United lebih dicerminkan oleh sibuknya pertahanan mereka daripada penyerangan mereka.
Hal yang sama juga berlaku untuk Spurs, mereka mengalami kebuntuan sehingga seringkali melepaskan bola panjang. Andaikan pertandingan ini dilanjutkan 5-10 menit lagi, mungkin saja Spurs bisa memecah kebuntuan melalui gol yang dicetak dari umpan panjang.
Sedangkan bagi United, mereka harus bisa mencari bek tengah yang siap merajai duel bola udara, dan jawabannya pastinya bukan Daley Blind. Jika pertahanan Setan Merah seperti ini terus, mereka pasti akan kerepotan ketika menghadapi kesebelasan dengan bola panjang dan situasi bola mati yang mematikan seperti Crystal Palace dan West Bromwich Albion.
Meskipun semalam sedang berulang tahun, seperti yang kita lihat dari ekspresi wajah Van Gaal saat peluit full time dibunyikan, ia pastinya tidak puas dengan permainan United pada matchday pertama ini.
Namun, apapun yang terjadi, setidaknya ia mendapatkan kado ulang tahun berupa tiga poin yang akan menjadi modal berharga untuk 37 pertandingan ke depan.
===
Penulis adalah Pandit Football Indonesia. Bisa dihubungi lewat akun twitter @panditfootball
(mrp/mrp)
Faktanya United memang bisa memimpin 1-0 dari menit ke-25, tapi mereka melakukannya tanpa satupun tendangan ke arah gawang. Bisa dibilang Setan Merah sedang beruntung.
Seperti yang sudah kami prediksikan pada pratinjau, Spurs sering kehilangan bola dan United selalu berusaha lebih menguasai penguasaan bola. Hanya saja United selalu gagal mentransformasikan penguasaan bola tersebut menjadi peluang mencetak gol.

Susunan pemain Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Sorotan utama sejak awal pertandingan adalah pada pertahanan kedua kesebelasan. Dari United, penjaga gawang anyar asal Argentina, Sergio Romero, dimainkan menggantikan David de Gea yang kata Louis van Gaal sedang tidak fokus. Begitupun dengan bek tengah yang diisi oleh Daley Blind.
United juga menurunkan tiga debutan lainnya, yaitu Matteo Darmian sebagai bek kanan, Morgan Schneiderlin sebagai gelandang, dan Memphis Depay, yang jadi pemilik baru seragam nomor 7.
Dari kubu Mauricio Pochettino, Hugo Lloris yang diragukan tampil digantikan oleh Michel Vorm. Sementara Toby Alderweireld juga menjadi starter mendampingi rekan senegaranya asal Belgia, Jan Vertonghen.
Berikut kami akan mencoba menganalisa pertandingan pembuka Liga Primer semalam dengan singkat dan padat.
Tottenham kesulitan menembus lini tengah United
Sama-sama menurunkan formasi 4-2-3-1, lini tengah seharusnya menjadi pertarungan yang seimbang. Tapi pada prakteknya di atas lapangan, Tottenham selalu kehilangan bola ketika mereka mencoba mengalirkan bola dengan operan datar.
Lini tengah Spurs yang dimotori oleh Eric Dier dan Nabil Bentaleb dinilai tidak mampu mengontrol permainan Spurs. Tercatat Dier melakukan salah oper sebanyak 9 kali, sementara Bentaleb 8 kali.
Selain Dier dan Bentaleb, beberapa kali operan datar para pemain The Lillywhites yang lain juga di-intersep oleh para pemain United. Peluang dan gol United pun tercipta karena berawal dari kesalahan ini.

Grafik intersep Manchester United melawan Tottenham Hotspur – sumber: Squawka
Sebanyak 18 kali Setan Merah mampu melakukan intersep, 11 di antaranya terjadi pada babak pertama, dan hampir semuanya selalu terjadi di lini tengah.
Garis pertahanan Spurs yang terlalu tinggi
Ini yang menjadi pekerjaan rumah utama Pochettino dari pertama kali ia menukangi Spurs. Dari mulai Vertonghen, Dier, Federico Fazio, Younes Kaboul, sampai Vlad Chiricheș, garis pertahanan Spurs dinilai terlalu tinggi.
Naiknya garis pertahanan ini otomatis membuat mereka sering terlambat ketika Spurs kehilangan bola di tengah. Ketika mereka terlambat ini lah United malah sudah siap melakukan counter attack.

Rata-rata posisi pemain Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Hal ini juga disebabkan oleh Spurs yang selalu menekan (pressing) sampai ke pertahanan United. Mereka sadar distribusi Sergio Romero (back pass ke kiper) seringkali gugup, sehingga beberapa kali lini belakang United panik ketika menerima bola di belakang.
United Terlalu Mengandalkan Carrick dan Schneiderlin
Dari dua pembahasan sementara di atas, tampaknya bukan hanya lini tengah Spurs saja yang kurang apik, sehingga membuat mereka selalu mengalami kebuntuan di tengah lapangan.
Adalah kehadiran Michael Carrick dan Schneiderlin, dua gelandang bertahan United, yang lebih sit back melindungi keempat bek di belakangnya yang kemudian bisa membuat Spurs kesulitan menembus lini tengah United dengan operan datar.
Grafik 18 intersep pada halaman awal analisis ini mungkin merupakan hal yang menggembirakan, tapi malah secara tidak langsung merefleksikan bahwa Van Gaal belum sepenuhnya percaya kepada bek United, terutama bek tengahnya.
Idealnya, Carrick seharusnya lebih berperan statis (sit back) di belakang, sementara Schneiderlin bisa agak lebih leluasa sebagai box to box. Namun, semalam keduanya malah lebih statis.

Grafik heat map Michael Carrick dan Morgan Schneiderlin – sumber: Squawka
Perlindungan ekstra terhadap empat bek di belakangnya ini lah yang membuat bek United merasa lebih aman.
Hal ini juga yang membuat gap yang terlalu besar antara lini tengah dengan lini depan United. Akibatnya, beberapa kali Depay yang berposisi di belakang striker, harus sering turun menjemput bola dan melakukan track-back, sehingga kreativitasnya pun di depan menjadi sangat terbatas.
Bola panjang menjadi cara Spurs menembus pertahanan United
Dengan sulitnya Spurs menembus lini tengah United menggunakan umpan pendek yang selalu mentah di kaki Carrick dan Schneiderlin, akhirnya mereka mengandalkan bola-bola panjang (bola lambung).
Cara ini terbukti efektif, seperti yang terlihat pada gambar di bawah, sebanyak 6 peluang Spurs tercipta melalui bola panjang. Blind dan Chris Smalling, dua bek tengah United, kurang bisa diandalkan dalam berkoordinasi menghadapi bola udara.

Grafik peluang Tottenham Hotspur (kiri) dan Manchester United (kanan) – sumber: Squawka
Berseberangan dengan Spurs, United praktis hanya mendapatkan peluang melalui kesalahan Spurs di atas. Hanya empat peluang yang berhasil mereka ciptakan. Tak heran juga, karena penguasaan bola mereka semalam ternyata kalah dari Spurs (47% berbanding 53%).
Sisi kiri United yang lebih sibuk
Semalam sisi kiri United adalah sisi yang paling sibuk. Arah serangan Spurs lebih banyak lewat kanan, yaitu menghadapi Luke Shaw dan Blind, daripada lewat kiri (menghadapi Darmian dan Smalling).
Begitupun United yang lebih banyak menyerang lewat kiri melalui Shaw dan Ashley Young, di antaranya karena Kyle Walker yang hampir selalu terlambat turun akibat terlalu sering naik (overlap).

Grafik arah serangan Manchester United dan Tottenham Hotspur – sumber: WhoScored
Satu hal yang disayangkan, serangan United melalui kiri sering tidak maksimal karena Young yang sering terpaku dan berlama-lama menguasai bola, padahal Walker beberapa kali selalu tertinggal.
Begitu juga Shaw yang sering terlambat ikut naik membantu Young. Dari sepanjang 90 menit, sekiranya ada rentang waktu 3-4 detik bagi Shaw untuk muncul di kamera televisi ketika bola sedang dikuasai oleh Young di sisi kiri sepertiga lapangan Spurs.
Berseberangan dengan Shaw, bek kanan United, Darmian, tampil apik dengan rajin naik dan turun. Ia bermain sangat disiplin.
Kesimpulan
Seperti musim lalu, United bisa menguasai pertandingan (dengan possession) tetapi tidak bisa memenangkan pertandingan (dengan sedikitnya shot on goal). Mereka hanya sekali melakukan tembakan ke gawang yang tepat sasaran, yaitu tendangan dari Young. Gol United pun tercipta akibat dari gol bunuh diri Walker.
Sejujurnya, pertandingan semalam bukanlah tipikal pertandingan pembuka Liga Primer yang wajar kita tunggu-tunggu. Kemenangan United lebih dicerminkan oleh sibuknya pertahanan mereka daripada penyerangan mereka.
Hal yang sama juga berlaku untuk Spurs, mereka mengalami kebuntuan sehingga seringkali melepaskan bola panjang. Andaikan pertandingan ini dilanjutkan 5-10 menit lagi, mungkin saja Spurs bisa memecah kebuntuan melalui gol yang dicetak dari umpan panjang.
Sedangkan bagi United, mereka harus bisa mencari bek tengah yang siap merajai duel bola udara, dan jawabannya pastinya bukan Daley Blind. Jika pertahanan Setan Merah seperti ini terus, mereka pasti akan kerepotan ketika menghadapi kesebelasan dengan bola panjang dan situasi bola mati yang mematikan seperti Crystal Palace dan West Bromwich Albion.
Meskipun semalam sedang berulang tahun, seperti yang kita lihat dari ekspresi wajah Van Gaal saat peluit full time dibunyikan, ia pastinya tidak puas dengan permainan United pada matchday pertama ini.
Namun, apapun yang terjadi, setidaknya ia mendapatkan kado ulang tahun berupa tiga poin yang akan menjadi modal berharga untuk 37 pertandingan ke depan.
===
Penulis adalah Pandit Football Indonesia. Bisa dihubungi lewat akun twitter @panditfootball
(mrp/mrp)







