Piala Supercoppa Italia: Juventus 2-0 Lazio
Skema Monoton Gagalkan Misi Balas Dendam Lazio
Sempat berjalan alot pada babak pertama, pada babak kedua Juve akhirnya mencetak dua gol lewat dua pemain baru mereka. Diawali oleh tandukan Mario Mandzukic pada menit-69, disusul oleh tendangan keras Paulo Dybala empat menit berselang.
Kekalahan ini terjadi akibat tak berkembangnya permainan Lazio sepanjang pertandingan. Tak seperti Juve yang memperbaiki penampilannya pada babak kedua dengan memasukkan Dybala, Lazio tetap bermain dengan pakem yang sama sepanjang 90 menit yang mana itu tak efektif membongkar pertahanan Juventus.

Skema Monoton Lazio
Pada dasarnya Lazio ingin mencoba memanfaatkan skuat Juventus yang tampil pincang pada laga ini. Pada laga ini, Juve sendiri memang harus tampil tanpa tiga pemain, yang dua di antaranya adalah pemain yang begitu diandalkan Juve pada musim lalu, Giorgio Chiellini dan Alvaro Morata.
Tak hanya itu, Lazio pun ingin menguji sejauh mana kekuatan Juventus saat ini yang ditinggalkan tiga pemain terbaiknya, Andrea Pirlo, Carlos Tevez, dan Arturo Vidal. Tampaknya karena asumsi inilah sang pelatih, Stefano Pioli, tetap menggunakan skema yang sama seperti musim lalu dan saat menghadapi Juve di babak final Coppa Italia yang berlangsung ketat dan berakhir dengan skor 2-1.
Lazio menggunakan formasi 4-3-3 dengan Felipe Anderson, Miroslav Klose dan Antonio Candreva di lini depan. Skemanya pun sama, memanfaatkan kecepatan dan kemampuan Anderson dan Candreva untuk memasuki area pertahanan Juventus.
Namun, Juve yang dibesut Massimilliano Allegri sepertinya sudah menyadari bahwa Lazio akan menggunakan skema ini. Formasi 3-5-2 yang dipilih eks-pelatih AC Milan itu pun dibuat menjadi 5-3-2 saat bertahan. Ini artinya, Stephan Lichtsteiner dan Patrice Evra yang ditempatkan sebagai wingback berdiri sejajar dengan trio centre back.
Memang, berdiri sejajarnya Evra dan Lichtsteiner dengan trio bek ini menciptakan adanya area kosong di pintu sepertiga akhir Juve. Tak hanya Anderson dan Candreva yang sering mendapatkan bola di area ini, pun begitu dengan dua bek sayap mereka yaitu Dusan Basta dan Stefan Radu.
Meskipun begitu, Lazio tetap minim peluang, di mana pada babak pertama tak mencetak satu tendangan ke gawang.
Itu dikarenakan skema sayap Lazio biasanya memanfaatkan lebar lapangan dengan memanfaatkan operan-operan terobosan lalu para pemain sayap melakuk penetrasi hingga ke ujung lapangan dan diakhir dengan umpan silang, cut back, atau melepaskan tembakan. Tapi skema pertahanan Juventus membuat Lazio tak mampu melakukan hal tersebut.
Lazio pun keukeuh dengan skema itu dengan mencoba memancing Lichtsteiner dan Evra keluar dari posisinya. Bola yang telah melewati garis tengah lapangan, kerap kali dikembalikan pada para pemain belakang. Karenanya tak heran, tiga dari empat top passer Lazio merupakan pemain belakang: Radu, Basta, dan Stefan de Vrij.
Radu menjadi pencetak operan terbanyak pada laga ini dengan 71 kali. Hal ini dikarenakan Lazio ingin sesegera mungkin mengirimkan bola pada winger terbaik mereka, Felipe Anderson. Namun Lichtsteiner yang disiplin menjaga area pertahanan berhasil empat kali melakukan intersep, kedua terbanyak dalam skuat Juventus.
Pada babak pertama, Juve terfokus menjaga pertahanan karena skema Lazio ini. Ini yang membuat Juventus pun kesulitan untuk menciptakan peluang sepanjang 45 menit pertama. Umpan-umpan panjang dari lini pertahanan atau dari Marchisio, seringkali berhasil dipatahkan lini pertahanan Lazio. Alhasil tempo pada babak pertama berjalan lambat karena Juve memilih bermain aman sementara Lazio terus mencoba memancing keluar para pemain sayap Juve.
Perubahan Skema Juventus
Lazio sebenarnya menguasai pertandingan sepanjang 90 menit. Whoscored sendiri mencatatkan operan yang dilakukan Lazio mencapai 543 kali di mana Juventus hanya 372 kali. Dengan menguasai jalannya pertandingan inilah Lazio tak mengubah skema permainannya, meski tak efektif membongkar pertahanan Juventus.
Tapi tak seperti Pioli, Allegri menyadari perlunya ada perubahan dalam permainan skuatnya karena terus mendapatkan tekanan dari Lazio. Yang dilakukannya kemudian adalah memasukkan Dybala untuk menggantikan Kingsley Coman.
Coman memang menjadi salah satu faktor buntunya serangan Juventus. Saat build-up serangan telah dibangun dengan baik dari belakang, ketika bola jatuh di kaki pemain asal Prancis tersebut, aliran serangan terputus. Coman mudah sekali kehilangan bola.
Allegri sempat mencoba cara lain dengan menjadikan Mandzukic sebagai tembok sehingga penyerang asal Kroasia tersebut rajin turun ke tengah lapangan. Namun dengan kecepatannya yang lambat, membuat serangan Juventus kembali gagal karena Coman tak cukup mampu berduel sendirian dengan lini pertahanan Lazio.
Berbeda saat Dybala masuk. Eks penggawa Palermo ini memiliki kemampuan individu yang mumpuni dalam melewati penjagaan pemain lawan. Saat menerima bola di tengah, ia bisa melewati satu dua pemain sebelum kemudian menggulirkan bola ke sisi sayap.
Sisi sayap sendiri tak diisi oleh pemain wingback saat menyerang, demi mengantisipasi serangan sayap Lazio. Alhasil, Pogba dan Stefano Sturaro-lah yang rajin bergerak ke sisi sayap saat Juve melakukan penyerangan.
Gol yang diciptakan Juventus pun hasil dari skema ini. Dari tengah lapangan, Marchisio mengirim umpan pendek pada Lichtsteiner yang diteruskan pada Sturaro. Sturaro pun kemudian memberikan umpan silang matang pada Mandzukic. Pemain yang musim lalu bermain untuk Atletico Madrid yang memang handal dalam duel-duel udara pun memanfaatkan dengan baik umpan silang Sturaro dan menaklukkan kiper Lazio, Federico Marchetti, dengan tandukannya.
Lazio tampaknya tak menyadari terdapat celah di sisi kiri pertahanan mereka. Karena gol kedua Juventus pun bermula dari area yang sama. Sturaro mengirimkan umpan terobosan pada Mandzukic yang diteruskan memberikan umpan silang ke tiang jauh pada Pogba. Pogba lantas memberikan umpan pendek pada Dybala yang berada di tengah dan tak terkawal.
Lazio Kehilangan Kreativitas di Tengah
Seperti yang sudah disinggung di atas, Lazio memang begitu mengandalkan serangan sayap pada laga ini. Namun tak seperti musim lalu yang berhasil membuat mereka merangsek ke peringkat tiga Serie A dan mencapai babak final Coppa Italia, serangan sayap Lazio kali ini agak berbeda.
Pada laga ini, serangan sayap benar-benar dibangun dari sayap. Misalnya dari Radu ke Felipe Anderson yang mengisi area kiri atau Basta ke Candrea di sisi kanan. Sementara pada musim lalu, bola ke sisi sayap tersebut dialirkan dari tengah.
Inilah persoalan yang dihadapi Lazio pada pertandingan ini. Setelah tak diperkuat oleh Stefano Mauri yang kontraknya tak diperpanjang, Pioli tak bisa menurunkan dua gelandang andalannya yang lain, Marco Parolo dan Senad Lulic, karena hukuman kartu dari musim lalu.
Parolo adalah salah satu sosok penting bagi skuat Lazio musim lalu. Parolo yang memainkan peran box-to-box musim lalu mencetak 10 gol serta dua assist. Dan memiliki tingkat akurasi operan hampir 80% dalam 34 pertandingan.
Pengganti Lulic dan Parolo pada laga ini adalah Ogenyi Onazi dan Danilo Cataldi. Namun permainan yang tak sesuai harapan ditunjukkan Cataldi. Pemain berusia 21 tahun ini terlalu bermain statis di tengah. Dari 74 menit bermain, sebelum digantikan Ricardo Kishna, Cataldi hanya mencatatkan 24 kali operan dengan tingkat akurasi hanya 74%.
Biasanya, Lucas Biglia bisa mengantikan peran pengalir bola ketika gelandang Lazio lain kesulitan. Namun pada laga ini, gelandang asal Argentina tersebut kerap off position. Bahkan gol Dybala pun merupakan kegagalan Biglia menempati posisinya saat bertahan.
Kesimpulan
Kecerdikan Allegri dalam mengubah strategi Juventus pada babak kedua menjadi kredit tersendiri atas kemenangan yang diraih Juventus. Memasukkan Dybala pada menit ke-60 menjadi langkah yang tepat dan membuat serangan Juventus lebih efektif.
Sementara di kubu lawan, Pioli tak bisa mengatasi kehilangan Lulic dan Parolo di lini tengah. Alternatif strateginya yang mencoba menyerang lewat sayap sendiri selalu berhasil digagalkan lini pertahanan Juventus dengan 3-5-2 yang berubah menjadi 5-3-2.
Ditambah lagi, Pioli tak mengubah strateginya hampir sepanjang pertandingan meski serangan demi serangan Lazio tak berhasil membongkar pertahanan Juventus. Ya, skema yang monoton menjadi faktor Lazio gagal membalaskan dendamnya pada Juventus.
===
Penulis bisa dihubungi di akun twitter @pandifootball
(mrp/mrp)








