Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Leicester 1-1 Spurs

    Penguasaan Bola Spurs Bukan Lawan Sepadan Bagi Leicester yang Disiplin

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Ross Kinnaird Getty Images/Ross Kinnaird
    Jakarta - Tottenham Hotspur masih belum mampu meraih kemenangan musim ini. Setelah kalah dari Manchester United di pertandingan pembuka, The Lilywhites yang sudah mengantungi keunggulan dua gol malah mengakhiri pertandingan melawan Stoke City dengan skor 2-2. Semalam, saat bertandang ke Leicester City, Tottenham kehilangan keunggulan dalam waktu 25 detik saja.
     
    Dele Alli, pemain berusia 19 tahun yang masuk sebagai pemain pengganti di pertandingan ini, mencetak gol Premier League pertamanya untuk Tottenham pada menit ke-81. Leicester City yang tampil di depan para pendukungnya sendiri di King Power Stadium tidak tinggal diam. Lewat Riyad Mahrez mereka menyamakan kedudukan dan meneruskan rekor positif tak pernah kalah.

    Karenanya, Leicester kembali duduk di puncak klasemen sementara Premier League, tepat di atas Manchester United dan Manchester City (City mungkin merebut posisi puncak dari tangan Leicester karena mereka baru bermain dua kali sementara Leicester sudah tiga). Tottenham, sementara itu, berada di peringkat ke-14 dan masih mungkin terlempar lebih jauh.

    Susunan Pemain

    Claudio Ranieri, manajer Leicester City, tidak mengubah formasi kesebelasan (4-4-2) dan pemain-pemain starter-nya. Kasper Schmeichel mengisi pos penjaga gawang sementara Robert Huth dan Wes Morgan bermain sebagai duet bek tengah. Ritchie De Laet dan Jeff Schlupp menjadi bek sayap kanan dan bek sayap kiri.

    Di depan barisan pertahanan, dari kanan ke kiri, ada Riyad Mahrez, Andy King, Danny Drinkwater dan Marc Albrighton. Jamie Vardy dan Shinji Okazaki bermain sebagai duet penyerang tengah.

    Di kubu Tottenham Hotspur pun, walau tanpa Christian Eriksen, tidak terjadi perubahan formasi. Mauricio Pochettino tetap memainkan para pemainnya dalam formasi 4-2-3-1. Hugo Lloris, kapten kesebelasan, mengawal gawang. Lini belakang, dari kanan ke kiri, berisi Kyle Walker, Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, dan Ben Davies. Eric Dier dan Ryan Mason menjadi duet penghubung lini belakang dan lini depan.

    Tanpa Christian Eriksen, Erik Lamela bermain di belakang Harry Kane. Di sisi kanan dan di sisi kiri lini depan Tottenham bermain duet Belgia: Mousa Dembele dan Nacer Chadli.

    Analisis Pertandingan

    Tak perlu rasanya kita mengecek statistik untuk mengetahui kesebelasan mana yang lebih banyak menguasai bola. Penguasaan bola Tottenham Hotspur yang jauh lebih banyak ketimbang Leicester City sangat jelas terlihat. Jika Anda memang membutuhkan statistik untuk konfirmasi, baiklah: Leicester 34,2% - 65,8% Tottenham.

    Jumlah umpan tepat sasaran pun dengan sendirinya menjadi berat sebelah. Jumlah umpan tepat sasaran Tottenham nyaris 2,5 kali milik Leicester: Leicester 181 – 434 Tottenham. Namun dengan semua kuasa yang mereka miliki, Tottenham tidak dapat mencetak lebih dari satu gol. Penyerang tengah mereka, Harry Kane, tak mendapat banyak peluang. Begitu pula dengan para pemain lain di lini depan.

    Pertahanan Leicester dalam formasi 4-4-2 membuat Kane terislorir. Pemain-pemain lain di lini depan pun tidak memiliki banyak peluang yang cukup baik untuk mencetak gol. Dari enam tembakan tepat sasaran, hanya satu yang cukup merepotkan Kasper Schmeichel, dan tembakan yang dimaksud adalah sundulan bebas jarak dekat Dele Alli.

    Entah ada hubungannya dengan ketidakhadiran Christian Eriksen yang menderita cedera lutut, Tottenham tampak kebingungan membongkar pertahanan Leicester. Dari 515 umpan (keseluruhan, termasuk yang tidak tepat sasaran) yang mereka lepaskan, lebih dari separuhnya adalah umpan-umpan middle third (umpan-umpan yang dilakukan di atau mengarah ke area sepertiga kedua, atau lini tengah). Dalam banyak kesempatan, Tottenham yang sudah memasuki area pertahanan Leicester melepas umpan ke belakang karena tidak melihat celah yang dapat dimasuki di barisan pertahanan Leicester.



    Rapatnya pertahanan Leicester terlihat dari grafis interception (potongan) mereka sepanjang pertandingan. Para pemain Leicester menetralisir ancaman dengan melancarkan usaha memotong umpan sejauh mungkin dari lini pertahanan mereka. Jika usaha tersebut tidak berhasil, mereka menerapkan pertahanan zonal marking di sekitar kotak penalti dan menetralisir ancaman dengan melancarkan tackle. Baik dalam melakukan interception maupun tackle, para pemain Leicester memiliki satu kesamaan: selalu dilakukan di luar kotak penalti –area ini seolah menjadis tempat suci yang tidak boleh dimasuki oleh lawan. Jika diperhatikan, hanya ada satu tackle dan satu interception yang dilakukan Leicester di dalam kotak penalti.



    Tentu saja itu berarti dua hal: para pemain Tottenham tidak bisa memasuki kotak penalti Leicester, atau para pemain Leicester tidak berdaya jika para pemain Tottenham memasuki kotak penalti mereka. Keduanya benar: memasuki kotak penalti Leicester bukan tugas mudah bagi para pemain Tottenham, namun tak selalu mereka merepotkan Leicester walau sudah masuk ke dalam kotak penalti lawan. Selain ketika mencetak gol lewat sundulan Dele Alli (dalam sebuah momen langka di mana pertahanan Leicester yang rapat cukup terbuka bagi Tottenham; karena Tottenham melancarkan serangan balik dari gagalnya serangan Leicester), aktivitas-aktivitas para pemain Tottenham di dalam kotak penalti Leicester tidak begitu merepotkan. Kawalan para pemain Leicester membuat para pemain Tottenham tidak memiliki kebebasan dan karenanya tidak mampu melepas tembakan-tembakan yang mengancam.
     
    Lantas bagaimana Leicester, kesebelasan yang lebih banyak menghabiskan waktunya tanpa menguasai bola dan menghabiskan waktunya bertahan dari serangan-serangan Tottenham, mampu mencetak gol? Bagaimana kesebelasan yang hanya melepas dua tembakan tepat sasaran mampu mencetak gol dalam jumlah yang sama dengan kesebelasan yang melepaskan enam tembakan tepat sasaran?

    Sepanjang pertandingan, Leicester menebar ancaman mereka dengan satu cara: serangan balik cepat. Statistik mengonfirmasi kebenaran hal ini. Tepat separuh dari seluruh umpan Leicester adalah umpan-umpan mengarah ke depan. Tanpa penguasaan bola yang banyak, Leicester menciptakan peluang-peluang mereka lewat serangan balik, membuat lawan kerepotan sebelum menyelesaikan transisi dari menyerang ke bertahan. Cara menyerang yang Leicester pilih tidak menjamin tingkat keberhasilan tinggi (akurasi umpan mengarah kedepan Leicester hanya 60,26%), namun kekeraskepalaan Leicester terbukti membuahkan hasil.

    Dua puluh lima detik setelah Tottenham mencetak gol, Leicester mencetak gol balasan. Hanya tiga pemain yang terlibat langsung dalam proses ini: Wes Morgan, yang melepas umpan panjang dari lini pertahanan, Jamie Vardy, yang menerima umpan Morgan dan meneruskannya kepada Riyad Mahrez dengan satu sundulan, dan Mahrez sendiri, yang mengecoh Jan Vertonghen dengan satu gerak tipu sebelum melepas tembakan kaki kiri ke tiang jauh dari dalam kotak penalti Tottenham. Bola hasil tendangan Mahrez tak mampu dijangkau Hugo Lloris dan amanlah Leicester dari kekalahan.

    Kesimpulan

    Tanpa Christian Eriksen, Tottenham benar-benar kehilangan sosok kreatif yang mampu membongkar pertahanan rapat lawan. Erik Lamela, pemain yang diplot sebagai penggantinya, tak banyak terlibat dalam permainan (tak mengejutkan, karenanya, jika Lamela digantikan oleh Dele Alli).

    Leicester City sendiri, andai tidak terganggu oleh panas yang menyengat (ini menurut Claudio Ranieri) bisa saja bermain lebih baik: mereka mungkin akan mencetak lebih banyak gol dan bisa saja tidak kecolongan satu gol.

    Secara keseluruhan, 1-1 adalah skor yang adil bagi kesebelasan yang tidak mampu membongkar pertahanan lawan dan kesebelasan yang gagal mengancam lawan dengan cara andalan yang telah mereka latih setiap hari.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game